Selasa, 17 Juni 2008

Doraemon Jadi Duta Animasi Dunia

Kementerian Luar Negeri Jepang menunjuk tokoh kartun asal Jepang Doraemon sebagai duta budaya animasi seluruh dunia. Penunjukan ini dilakukan atas dasar rapat dari Kementerian Luar Negeri Jepang, ahli budaya pop, ahli komik, kaum professional dan pihak Shogakkan Production selaku pemegang lisensi Doraemon di Jepang.

Tokoh berupa kucing dengan kantung ajaib ini telah dilantik sebagai Duta Besar Budaya Animasi pada bulan Maret 2008 di Jepang untuk memerkenalkan budaya dan adat istiadat masyarakat Jepang ke seluruh dunia. “Kunjungan Doraemon ke Indonesia sudah dua kali. Tapi kunjungan kali ini sangat spesial karena bertepatan dengan 50 tahun persahabatan Indonesia-Jepang,” sambut atase Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang Yukari Kaji saat jumpa pers di Jakarta, (17/6).


Keberadaan tokoh kartun yang sudah menyapa masyarakat Indonesia sejak 18 tahun lalu ini sudah dikagumi oleh masyarakat di seluruh dunia. Selama ini tokoh kartun yang diputar di RCTI tersebut memberikan inspirasi kepada anak-anak hingga orang tua. Lanjut Yukari, melalui film-filmnya Doraemon mampu memberikan gambaran tentang cara berpikir dan cara bertindak masyarakat Jepang.

Pemerintah Jepang telah membuka hubungan diplomatik kedua ke Indonesia mulai 20 Januari 1958. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri Jepang Aiichiro Fujiyama menandatangani perjanjian Perdamaian dengan Indonesia yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Dr.Soebandri. “Indonesia telah bersahabat dengan Jepang sejak 50 tahun lalu. Dengan penunjukan Doraemon sebagai Duta Besar Budaya Animasi ini semoga makin mengukuhkan persahabatan kedua negara dalam 50 tahun ke depan bahkan selamanya,” tegas Susi Luhulima, sekretaris Komite Budaya Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ).


Organisasi PPIJ sendiri adalah organisasi yang mengedepankan hubungan persahabatan dan saling pengertian kedua negara sejak 1981. Hubungan yang dimotori oleh  alumni pelajar Indonesia di Jepang ini telah mengadakan pertukaran bidang budaya, olahraga, pendidikan, teknologi, aktivitas sosial dan ekonomi, termasuk mendatangkan Doraemon ke Indonesia.  Dalam kunjungannya ke Indonesia ini, Doraemon akan mengadakan roadshow untuk film Doraemon the Movie, Nobita dan Dinosaurus yang akan tayang mulai 9 Juli 2008 ke Jabodetabek, Medan, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Palembang, Batam, Pontianak dan Tanjung Pinang.

Maya Barack, ketua pelaksana dari Go Ad Communication pun merasa bangga bisa menyelenggarakan kegiatan bersama Doraemon di Indonesia. Kegiatan terdekat ini adalah Doraemon Dreamland, sebuah atraksi permainan berupa 17 wahana yang diperuntukkan bagi anak usia TK hingga dewasa.  Selain itu, kegiatan yang akan bertempat di Kartika Expo, Balai Kartini Jakarta 20 hingga 29 Juni 2008 ini ada festival makanan Jepang, gambar asli kartun Doraemon dari pengarang aslinya, Fujiko Fujio serta penyediaan komik Doraemon jilid penuh dalam dua bahasa, Indonesia dan Jepang.

Apa tokoh kartun favoritmu??

Rabu, 11 Juni 2008

TIM Dulu dan Kini

Semalam aku lapar banget & pingin merasakan makanan di sekitar Teater Ismail Marzuki daerah Cikini. Biasanya di sekitar area pintu masuk maupun di dalam akan ditemukan banyak makanan. Mulai dari beragam soto, seafood, nasi gila, nasi bebek & minuman aneka macam bisa kamu jajal mulai dari petang hingga dini hari. Biasanya mereka senang makan di tempat ini karena menjanjikan suasana kenyamanan sekaligus bisa lesehan (seperti angkringan di Jogja). Tapi, semalam nihil.

Aku mulai curiga, pihak TIM atau pemerintah daerah setempat menertibkan pedagang liar ini. Bisa juga pedagang makanan yang ada di sebelah dalam protes karena dagangan mereka tidak laku akibat pedagang makanan liar di pintu masuk & pintu luar. Tak mau berprasangka, semalam mobil satpol PP lengkap dengan petugasnya berjaga-jaga di depan area ini. Mungkinkan mereka direlokasi? atau bahkan diusir saja?


Sempat aku diskusi dengan temanku, bisa saja mereka diusir karena menjual minuman keras. Pasalnya, temanku ini pernah melihat ada pedagang di TIM yang menjual minuman keras tapi tidak langsung dengan botolnya. Pedagang ini memindahkan isi minuman ke dalam teko dan menuangnya ke dalam gelas. Pantas saja, mereka melayani seperti biasa (seperti menuang teh atau kopi). Biasanya anak muda yang nongkrong sambil mendendangkan gitar di sudut pintu keluar ini minum di situ. Ini masih praduga. Entah benar atau salah. Tapi bisa saja.


Jakarta, dengan segala kemajemukannya telah mendatangkan rejeki bagi kaum rural. Walau BBM naik, mereka tetap berupaya survive berjualan apa saja, yang penting bisa menghidupi anak & istri atau minimal bisa untuk biaya makan sendiri. Tapi kasihan juga bagi pedagang di TIM tersebut, walau sebenarnya makanan di sini tidak terlalu enak, mereka hanya melihat peluang ada tempat bagi anak muda atau dewasa untuk nongkrong. Kesempatan tersebut ditangkap dengan membuka warung tenda yang menyediakan makanan (biasa) dengan suasana nyaman tadi.


Bisa saja, dalam rangka ulang tahun ini Jakarta akan menertibkan pedagang liar yang ada di pinggir jalan. Termasuk pedagang koran atau penutup hidung dari polusi yang biasa menjajakannya dagangan di sekitar Tugu Tani. Pagi tadi, ada mobil satpol PP yang berjaga di depan lampu merah. Dan penjual koran sepi. Tak ada satu pedagang pun yang nongol di sana.
Trus kemana mereka berjualan??


Akankah pemda memberikan lahan berjualan bagi mereka?
Kalau di Bali, ada semacam lahan khusus Food Court ( di depan Pantai Kuta atau sekitar jalan Sunset Road) yang menyediakan beragam penjual makanan. So, bagi mereka yang ingin makan, ya memang harus ke sini. Bukan di pinggir jalan. Apalagi bagi mereka yang suka makan dengan membawa mobil pribadi, bisa memacetkan jalan.Jalanan kian sumpek.

Rabu, 04 Juni 2008

Pengamen Bangsat

Kemarin waktu mau ke Planet Hollywood di kawasan Gatot Subroto untuk acara press conference film "Mengaku Rasul", aku sengaja naik P67 dari Salemba, kosku. Hal ini aku lakukan karena lebih menghemat waktu jika harus berangkat dari Sarinah naik 640. Meski ada tanda masuk yg ketinggalan di kantor, aku pilih langsung datang aja. Nanti jika ga boleh masuk, ya balik kanan aja!Beres!

Setelah bayar ongkos Rp2500 (sekarang naik jadi gopek setelah BBM naik), aku tidak menikmati suasana bis. Habis jalannya pelan banget. Ga tahu apa aku udah telat!! tadi bangunnya juga kesiangan lagi!! Huuuhhhh, sepanjang jalan aku ngedumel sendiri.

Daripada bete aku baca majalah Readers Digest edisi Juni yg hbs kubeli di Gramedia Matraman dua hari sebelumnya. Lumayan menarik. Pas ada pengamen datang, berdiri di depanku sekaligus membelakangi diriku. Kl suaranya bagus sih ga masalah!! kl ini nih udah suaranya cempreng, gitarnya ga enak, lagunya apalagi. Jadul banget & cengeng. Masa lagu Obbie Messakh yg jaya tahun 80-an dinyanyikan sekarang. Aku yg udah semangat 45 kembali down mendengar lagu cengeng khas air mata ini. Ga pantas bangsa ini disuguhkan lagu cengeng nangis-nangisan seperti itu. Gmn bangsa ini bisa maju kl disuguhkan lagu2 spt itu terus. Itupun jg berlaku pada lagu jaman sekarang, ga ada yg membangkitkan semangat!!!

Tiga buah lagu dinyanyikan, untung aja aku ga hafal lagu itu & ga ngeh lagu itu. Di sela2 lagu emang dia nyerocos kayak salesman. Bagus jg triknya. Biasanya kl pengamen cukup ngamen aja, bilang thanks ama supir, kondektur & penumpang. Atau hati2 dgn barang Anda, banyak pencopet!!

Seketika aku dibuat takjub dengannya!!

"Kita ini harus bisa menjadi bangsa yang bersyukur. Sekecil apapun nikmat yg kita terima haruslah kita syukuri. Allah swt telah mengingatkan,"Barang siapa yg bersyukur atas nikmatku maka aku tambah nikmatnya & barang siapa kufur thd nikmatku maka adzabku sangat pedih." Bapak Ibu dan adik2 semua pasti mengalami nikmat yang berbeda2. Para penumpang yang budiman pastilah bisa menikmati indahnya dunia ini dengan segala warna-warni kehidupan. Lagu-lagu "air mata" yang saya nyanyikan tadi hanyalah sekelumit dari pengalaman harian saya. Berbeda dengan saya dengan tanpa penglihatan ini......"

Seketika aku menghentikan mataku untuk membaca & mengalihkan pandanganku ke matanya. Ternyata matanya buta & sudah tidak ada korneanya lagi, hanya putih saja. Astaghfirullah. Aku telah memfitnah orang dengan segala umpatanku tadi. Ampuni ya Allah.

Bayangkan saja kalau kita hidup seperti dia & harus bekerja keras menyambung hidup. Sementara lapangan pekerjaan hanya untuk orang normal & punya pengalaman bagus saja!!

Aduuuhh..susah sekali hidup di di dunia ini. Langsung saja aku merogoh kocek seadanya di kantong. Untung pas dia menengadahkan tangannya aku bisa memberi "sesuatu". Ingat janji Allah saja, barang siapa menabur maka ia akan menuai. Buat sedekah saja!!

Senin, 26 Mei 2008

Naik Becak Keliling Kota

Tak banyak yang tahu jika akhir pekan lalu Atiek CB, penyanyi top era 80-an yang kini bermukim di Amerika, mudik ke Kediri. Dia memanfaatkan waktunya setelah manggung bersama dalam konser Vina Panduwinata di Jakarta, 17 Mei lalu.

Dia mudik bersama ibunya, Resmiati (kini tinggal di Makassar, Red), dan adiknya, Riris. Suami keduanya, Lawrence, serta kedua putrinya, Kendall dan Kyna, tak ikut. Mereka tetap tinggal di East Coast, AS dan harus berpisah selama satu bulan.

Selama dua hari di Kota Tahu, perempuan kelahiran Kediri, 25 Mei 1963 ini telah mengunjungi banyak tempat. Selain sowan ke rumah neneknya di Wates, Kabupaten Kediri, melepas kangen dengan keluarga dan kawan-kawan lama, juga berburu makanan favoritnya.

Pelantun lagu Terserah Boy, Maafkan, dan Terapung ini pun sengaja memilih naik becak untuk berjalan-jalan keliling kota tempat dia pernah dibesarkan. Selama di Kediri, dia menginap di Wisma Rias Adilla yang juga kediaman sang tante, Dian Istiar, di Jl Pahlawan Kusuma Bangsa.

Ditemui Sabtu (24/5) siang lalu usai berbecak keliling kota, ibu dua anak ini tengah sibuk mengepak oleh-oleh yang akan mereka bawa. Ada stik tahu, getuk pisang, dan oleh-oleh khas Kediri lainnya. Atiek tetap terlihat muda dengan paduan jeans, blus hitam, dan kaca matanya. Bahasa dan logat Kedirinya masih sering terlontar. Berikut petikan wawancara Radar Kediri dengannya, tiga jam sebelum kembali ke Jakarta.

Kapan terakhir kali mbak Atiek mudik ke Kediri?
Tahun lalu sempat ke sini juga. Itu kepulangan pertama setelah lima tahun di Amerika.

Bagaimana pendapat Mbak Atiek setelah keliling Kota Kediri? Apa yang membuat kangen?
Wah, pastinya beda banget dibandingkan dulu saat hijrah ke Jakarta, kayak bumi dan langit. Yang paling bikin kangen selain ketemu sama saudara ya pasti makanannya. Semua warung makanan yang tak suka tak datengin semua, tak puas-puasin mumpung di sini. (Atiek lalu menyebutkan tempat favoritnya berwisata kuliner dengan muka berbinar. Ada warung pecel depan Pasar Setonobetek, Soto Ayam Podjok dan soto daging di Jl Dhoho, rujak Mbok Mat, es Mbok Bo, jajanan cenil di Pasar Pahing, dan yang paling favorit nasi goreng Pak Man di Jl Stasiun. Semua tempat itu dikunjunginya selama dua hari di Kediri sejak Jumat lalu)

Kegiatannya sekarang apa di Amerika, masih sering nyanyi?
Nggak ya, aku nggak nyanyi lagi sekarang. Aku di sana ngopeni (ngurus) suami dan anak-anakku. Mereka masih umur 13 dan 11, jadi nggak bisa dilepas. Selain itu kerja part time juga.

Gimana kesannya kembali naik panggung di konser Vina Panduwinata lalu, masih ingin nyanyi lagi sehabis acara kemarin?
Seneng banget ya. Meskipun ada ganggunan gara-gara mic-nya mati, tapi secara emosional atau mood-nya dapet. Penonton juga seneng, itu yang penting. Apalagi bisa nyanyi sama temen-temen Rumpies, jadi reuni deh, hehehe… Kemarin sih seneng banget pas konser, tapi kalau nyanyi lagi kayaknya nggak ya. (Atiek CB pernah tergabung dalam grup vokal Rumpies bersama Vina Panduwinata, Trie Utami, dan Malida yang memopulerkan lagu Nurlela).

Banyak yang merindukan kemunculan artis-artis solo seperti Mbak di era 80-an di tengah tren grup band seperti sekarang. Apa pendapat Mbak?
Ini bukan fenomena Indonesia saja kok. Tapi, di Amerika trennya sekarang juga grup band. Meskipun, penyanyi-penyanyi solo tetap ada. Tapi, yaa.. aku melihat, semuanya cenderung punya warna yang sama. Jarang yang mempunyai karakter khusus. Aku hanya melihat satu dua grup band yang punya karakter seperti itu...

Bagaimana dengan banyaknya festival di Indonesia?
Aku pikir bagus ya untuk mencari orang-orang yang talented di bidang musik. Terutama di daerah-daerah yang mungkin selama ini mereka tidak terwadahi. Dulu, kalau bicara musik kan hanya Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Masih suka mengikuti perkembangan CB Band (band asal Kediri yang dipakai menjadi nama belakang perempuan bernama asli Atiek Prasetyawati ini, Red)? Apa yang Anda harapkan?
Wah, lama banget aku nggak ngikuti. Jadi, nggak banyak tahu yang sekarang. Tapi, aku tadi sudah ketemu teman-teman. Aku kira, banyak yang talented. Kalau ingin sukses, mereka harus mengikuti perkembangan musik sekarang.




Note: CB adalah kepanjangan dari Chanda Bhirawa. Nama tersebut adalah nama sebuah stadion di kota Pare yang sekaligus menjadi nama band Atiek CB. Bahkan inisial tersebut dibawa menjadi nama belakangnya.

Stadion tersebut hanya berjarak 500 meter dari SMA 2 Pare, almamater sekolahku. 50 meter dari sekolahku (yang notabene kata orang, bekas kamar mayat sebuah rumah sakit) adalah kampung bahasa Inggris. Di sini sudah banyak lembaga kursus bahasa Inggris dengan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia.

Jadi kangen ama Pare!!

Sabtu, 24 Mei 2008

Bebek Goreng Bali


BERKUNJUNG ke Bali, Anda harus mencoba hidangan khas daerah ini. Di Sanur,ada menu tradisional olahan koki asli pulau dewata, rasanya pasti "Mak Nyussss".

Bertempat di Sector Bar dan Restoran, kawasan Hotel Inna Grand Bali Beach di Sanur, penikmat masakan tradisional dapat mencicipi bebek goreng, bubur ayam bali, ikan masak cabe hijau, dan jus buah naga.

Meski sangat diminati oleh warga lokal, bule-bule dan ekspatriat pun selalu ingin mencicipi makanan khas tersebut. Salah satu menunya bebek goreng akan terasa beda bila dibanding dengan tempat lain. Jika lainnya memakai bebek, Sector Bar memilih entok (dalam bahasa Bali disebut "kuwir" atau "dolong").

Alasan pemilihan entok lebih pada daging yang lunak, tidak terlalu menyerap minyak dan bumbu lebih banyak meresap. Menu yang baru diluncurkan sekitar satu tahun itu sangat dige- mari pejabat, pengusaha, bahkan artis Ibu Kota. "Jay Subiyakto, Boy Noya, dan Krisdayanti sering mampir ke sini mencicipi bebek goreng hingga sop buntut," sebut Public Relations Sector Bar dan Restoran Sanur Grace Jeanie yang pernah rela mengantar menu dari restorannya ke tempat artis tersebut pentas di Bali.

Keunikan lebih terasa pada bebek goreng. Rasanya mirip roti cokelat,empuk dan renyah. Resepnya ada pada proses masak yang memakan waktu lebih dari tiga jam. "Bebek (Entok) tersebut hanya kita beli dari Pasar Badung (Kumbasari) Denpasar, bukan barang impor," kata Jeanie yang terkadang masih membeli sendiri barang masakannya itu.

Untuk teman sarapan pagi, bar yang sudah buka sejak pukul enam pagi ini menyiapkan bubur ayam bali. Awalnya, bar yang baru beroperasi sekitar tiga tahun itu langsung mendatangkan pedagang bubur dari Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Pedagang inilah yang mengajari secara detail cara memasak bubur ayam bali secara benar dan nikmat. "Kebetulan pemilik bar ini berasal dari Baturiti," tutur Head Chef Sector Bar dan Restoran I Nyoman Tantra Wijaya.

Bumbu kuah bubur tersebut sungguh meresap ke dalam ayam maupun sayuran lainnya. Tambahan taoge dan kacang panjang makin meramaikan bubur dan terasa lebih renyah. Beda dengan bubur lain, bubur ayam bali tanpa memakai kerupuk dan kuahnya terasa lebih gurih karena santan. Namun, jika salah mengaduk santan, rasa pun akan berbeda.

Begitu juga dengan ikan masak cabe ijo. Pemakaian ikan kerapu lebih pada rasa kekenyalan dan memberi rasa lebih enak dibandingkan dengan ikan lainnya. Bagi bule maupun masyarakat lokal yang tidak menyukai rasa pedas, bisa mengurangi cabai (cabe). Bahan yang ada pada resep lebih didominasi oleh penyuka rasa pedas.

Sebagai pelengkap, acara makan bisa ditemani dengan jus buah naga. Tak hanya dijadikan jus, buah yang berasal dari Meksiko itu juga diolah sebagai salad dan puding. Selain menghilangkan haus, jus buah naga maupun beberapa produk olahan lainnya sangat berkhasiat dapat menurunkan gula darah, mencegah kolesterol tinggi, dan kanker usus.

Cara membuatnya pun cukup sederhana. Cukup mengambil daging buah naga, diblender dengan jeruk nipis atau gula pasir. Untuk menambah kesegaran, bisa disertakan es. Saat perayaan Imlek, bar dan restoran yang spesial dengan menu Western Asia ini juga membuat menu khusus imlek terkait buah naga. Antara lain salad udang dan buah naga,tenggiri panggang dengan salad buah naga, serta puding buah naga. Beberapa sayuran dan beras di tempat ini telah memakai produk organik.

Grace Jeanie menuturkan produk organik lebih menyehatkan karena tanpa pestisida maupun pupuk kimia. Beberapa produk berupa sayur, padi, dan buah naga telah dibudidayakan sendiri,baik di lahan sekitar area golf maupun memiliki kebun baik di Negara Jembrana) dan tempat lain.

Menu bebek goreng, ikan masak cabe ijo, dan jus buah naga ternyata menjadi favorit Mindra Jaya. Wiraswastawan di Denpasar ini sudah menjadi langganan dan bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga kali seminggu untuk makan di resto yang terkenal dengan hiburan salsa ini. Tak hanya sendirian, Mindra juga membawa teman untuk menikmati makanan tradisional di Sanur tersebut. "Rasanya enak dan cocok di lidah. Selain itu jarang ada di tempat lain serta lebih sehat,"ujar Mindra.

Jumat, 23 Mei 2008

Melawan Lupa Tragedi Mei

Film menjadi media paling efektif untuk mengingat kembali apa yang telah berlalu. Termasuk kenangan tragis yang terjadi 10 tahun lalu di Indonesia, tragedi Mei 1998, Semanggi I dan Semanggi II. Rangkaian film pendek yang dibuat oleh 10 pekerja film dari beragam latar belakang (dokumenter, feature,film pendek, dll), musisi dan pekerja seni lainnya ini bergabung secara swadaya untuk memeringati satu dekade reformasi (1998-2008).

10 film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei ’98 ini ditujukan sebagai upaya membuka dialog terutama dengan kalangan muda (pelajar/mahasiswa, umum) mengenai penolakan untuk melupakan sejarah serta pemberdayaan masyarakat untuk menyampaikan sesuatu (dalam hal ini melalui medium audio visual).

“Dalam rekaman film ini kita dapat melihat dampak dari gerakan sosial demonstrasi mahasiswa, kerusuhan, penjarahan serta pembakaran ibu kota serta pelengseran mantan Presiden Soeharto tentang penuntutan reformasi di mana-mana. Ada orang yang cuek terhadap tragedi tersebut dan ada pula yang tidak ingin melupakannya,” ungkap Prima Rusdi, penggagas film pendek bersama tentang jejak reformasi 9808 di Kineforum, Studio 1 Teater Ismail Marzuki, (13/5).

Lanjut penulis skenario Garasi (2006), Banyubiru (2005), Eliana-Eliana (2002) dan salah satu penulis cerita “Ada Apa Dengan Cinta”(2002) ini berinisiatif untuk mengumpulkan pekerja film dalam kompilasi program 9808 yang secara khusus menceritakan kembali tentang peristiwa Mei 1998. Terlebih banyak di antara mereka yang baru pertama kali melakukan pemutaran bersama dan bertema sosial. Apalagi rangkaian film ini akan diputar di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang dan Kuala Lumpur.

Anggun Priambodo, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2002, jurusan Desain Interior ini menyuguhkan “Sedang Apa Saya Saat Itu?”. Pembuat klip musik Nidji “Arti Sahabat” tersebut menelusuri kisah sejumlah “orang biasa” setelah satu dekade reformasi berlalu. Ia bertutur melalui foto-foto mereka saat sedang berada dalam beragam kegiatan saat Mei 1998. Ariani Halim, lulusan School of the Art Institute of Chicago dengan latar belakang arsitektur dan seni murni ini banyak menyoroti tentang arti sebuah nama. Identitas Ariani yang keturunan Cina memberi cara pandang lain terhadap makna sebuah nama Cina. Dahulu presiden Suharto mengeluarkan Keppres nomor 127/U/Kep/1996 yang mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia, misalnya Liem menjadi Halim dan Lo, Loe atau Liok menjadi Lukito. Ariani yang banyak berpartisipasi di dalam sejumlah festival seni maupun film di Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan Australia tersebut memberikan film kocak namun penuh kontradiksi. Lewat film “Sugiharto Halim”, Ariani menceritakan perlukah seseorang memakai nama “asli”, bisa “dijual” serta menyamarkan identitas di balik sebuah nama.

Masih dengan nada “Cina”, Lucky Kuswandi mengajak penonton dengan tradisi imlek yang sempat dilarang di Indonesia. Dengan gaya bercerita dialog tanpa banyak gambar, Lucky yang sudah memutar film-film pendeknya di sekitar 30 film festival di manca negara seperti 59th Cannes Film Festival (Short Film Corner) dan 32nd Seattle International Film Festival  tersebut banyak mengingatkan tentang perjalanan personal keunikan tradisi imlek baik jeruk mandarin, barongsai serta “tanggal merah” yang selama ini dinantikan. Film “A Letter of Unprotected Memories” ini membidik Imlek yang sempat 33 tahun dilarang oleh pemerintah dan hingga kini malah menjadi salah satu hari libur nasional.

Ucu Agustin, lulusan IAIN Jakarta yang saat ini mengelola sebuah komunitas audio visual “GambarBergerak” menjadi salah satu pembuat film yang langsung bersinggungan dengan keluarga korban tragedi Mei 1998. Film “Yang Belum Usai” banyak mengangkat tentang kesibukan keluarga Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya yang tewas dalam penembakan tragedy Semanggi Mei 1998. Ucu berhasil menangkap perjuangan Ibu Sri Sumarsih, ibunda Wawan yang hingga saat ini terus menuntut keadilan dan terus bertekad melanjutkan perjuangan putranya demi supremasi hukum di negeri ini. Bahkan tanpa diduga, Arif Triadi, ayah Wawan sempat menyaksikan film tersebut.

Selain itu, masih ada Wisnu Suryapratama dengan “Kucing 9808, Catatan (Mantan) Demonstran”, Herman Kumala Panca dengan “Televisi”, “Kemarin” karya Otty Widasari, “Huan Chen Guang” dari Ifa Isfansyah, “Bertemu Jen” oleh Hafiz, “Trip To The Wound” garapan Edwin serta “Sekolah Kami, Hidup Kamii” tentang pembongkaran kasus korupsi yang dilakukan oleh pihak sekolah di sebuah SMA di Solo oleh murid-murid kelas tiganya.

“Dengan film ini, kita tidak hanya merawat ingatan akan kejadian-kejadian itu, tapi bisa juga menimbang ulang apa yang bisa kita perbuat dalam kerangka gagasan yang serupa,” sambut Lisabona Rahman, manajer program Kineforum.

Selasa, 20 Mei 2008

Tangga Cinta Menuju Eropa

Apa yang teringat di benak kita saat mendengar kata Eropa? Pasti tidak jauh dari kata Perancis, Eiffel dan kiblat fashion dunia. Tak mengherankan memang untuk salah satu negara di benua Eropa ini menjadi pusat perhatian dan menjadi inspirasi bagi semua orang.

Termasuk bagi grup vocal Tangga yang sengaja membawa nuansa Eropa di album ketiga. Di album yang didistribusikan oleh Sony BMG tersebut, Tangga menyuguhkan tiga buah single berbahasa Perancis yaitu “Proloque, Je Veux Qu’on Me Comprenne, dan Arretez Vouz”. Tiga buah single ini ditulis oleh salah satu personil Tangga, Mohammed Kamga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh temannya, Davina Aussiera.

Balutan khas lirik berbahasa Perancis ini seakan menjadi ciri khas bagi grup vocal yang terbentuk tahun 2003. Masih dengan perbedaan karakter yang dimiliki oleh masing-masing personil seakan malah makin menyelaraskan dalam satu kesatuan. Balutan musik tersebut tidak terlepas dari olahan tangan Harry Budiman yang sudah mengolah sejak album pertama Tangga.

Di album ketiga yang dipersembahkan untuk mengisi soundtrack film “Lost in Love” ini, grup vokal beranggotakan Chevrina Anayang, Mohammed Kamga, Nerra Marlin dan Tahir  “Tata” Hadiwijoyo tersebut memberi sentuhan warna lain dibanding dua album sebelumnya. Di album pertama yang bertajuk “Tangga” (2005), mereka lebih suka bermain dengan warna pop R&B dan pop dance serta cenderung ke nuansa Amerika. Sedangkan di album kedua yang keluar tahun 2007 berlabel “Cinta Begini” lebih mengedepankan corak Asia termasuk khas Korea dan ballad.

“Warna musik di album ketiga ini justru lebih slow medium dengan aransemen berbeda di setiap lagu. Tiga buah overture yang bernuansa pop Eropa akan memberi ciri khas baik di album Tangga sendiri maupun blantika musik Indonesia,” ujar Kamga saat peluncuran album Tangga beserta film “Lost in Love” di Kamasutra CafĂ©, Crowne Plaza, Jakarta (21/5).

Lagu “Kesempatan Kedua” sengaja dijagokan untuk menjadi single pertama. Lagu yang sudah wara-wiri di berbagai chart radio maupun televisi musik ini bercerita tentang penyesalan yang begitu nyata terhadap sang kekasih. Sentuhan lembut dari masing-masing vokalis dan diselingi dengan rap khas Tata justru menambah rasa romantis dan kadang malah bikin bulu kuduk merinding.

Single yang ditulis oleh Johandi Yahya, produser Tangga ini makin lengkap dengan intro seruling dari Bang Saat. Begitu juga dengan aransemen musik dari Harry Budiman yang makin komplet dibalut tekanan piano Dennis Nussy. Pun dengan lagu “O..Teganya” yang dinyanyikan secara bergantian oleh masing-masing personil.

Satu lagu berbahasa Inggris juga turut disertakan dalam album yang berisi 13 single termasuk tiga insert berbahasa Perancis. Suara Kamga yang menyanyikan “Be My Wife” menambah manis terlebih lirik yang begitu dalam dan membuat pasangan makin romantis. Tantangan cinta masih dijelaskan oleh Tangga dengan “Cinta Tak Pernah Salah”. Single yang menjadi opening film tersebut masih bercerita cinta yang datang tanpa terpikir. Walau terkadang getir, tapi yang namanya cinta tetap mengalir.

“Saya ngefans banget dengan Tangga dan chemistry cerita novel “Lost in Love” yang merupakan sekuel dari “Eiffel I’m in Love” ini sangat nyambung dengan lirik lagu mereka. Oleh karena itu, saya meminta secara khusus kepada mereka untuk mengisi lagu dalam soundtrack ini secara penuh,” tutur Rachmania Arunita yang menulis scenario sekaligus sutradaranya.

Grup vokal yang mengisi soundtrack film sudah lumrah berlaku di pasaran. Namun ini menjadi kelemahan Tangga yang menulis lirik berdasarkan cerita. Masih teringat dengan grup vokal D’Cinnamons yang memberikan singlenya menjadi soundtrack film Cintapuccino. Hal ini justru membuat nilai tawar sekaligus kualitas musiknya diperhitungkan oleh pasar sehingga patut mengiringi musik sebuah film. Namun, Tangga malah berbuat sebaliknya.

Beruntung Tangga telah memasukkan lirik mengesankan berbahasa Perancis. Sehingga memberi nilai lebih (value added) bagi musiknya. Mereka bahkan belajar mati-matian bahkan perlu waktu dua jam hanya untuk melafalkan kalimat dalam beberapa baris saja. Salut!!