Tampilkan postingan dengan label Martabak Iklan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Martabak Iklan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Iklan XL Kontroversial

Apakah Anda masih ingat dengan iklan manusia yang mau kawin dengan monyet pada iklan provider telekomunikasi,XL, beberapa waktu lalu? Atau perseteruan Baim dan Sule yang masih ngotot perang tarif antara Kartu AS dan XL?

Yap, iklan tersebut membuat publik tercengang dan beberapa kali diulas oleh beragam forum di dunia maya. Alhasil, dengan makin banyak digosipkan di dunia maya maka publik juga mendengarnya. Alhasil, iklan kontroversial itu justru membuat semakin banyak orang ingin tahu.

Trik yang sama sebenarnya juga dilakukan di film esek-esek yang melibatkan aktris panas yaitu Julia Peres dan Dewi Perssik. Film yang sampai sekarang belum diketahui judulnya itu menimbulkan ketertarikan banyak orang untuk mencari tahu dan ingin segera menontonnya. Halah..dasar orang kita memang suka ikut-ikutan.


Tapi, menurut pakar marketing Rheinald Kasali menjelaskan "semakin iklan itu kontroversial, maka brand awareness (rasa keingintahuan seseorang terhadap sesuatu) semakin besar." Lalu, apakah kita juga perlu ikut-ikutan posting di Youtube dan bikin video gokil biar ikutan terkenal??

Sabtu, 02 Oktober 2010

Perang Tarif Kartu AS VS XL

Akhir-akhir ini pemirsa tayangan iklan televisi pasti sering melihat aksi yang diperankan oleh Sule versus Baim. Sule yang notabene pemain Opera Van Java ini mewakili brand kartu AS dari Telkomsel, sementara Baim mewakili brand produk seluler dari PT Excelomindo Pratama (XL).

Awalnya, Sule dan Baim main bareng di iklan XL yang menyatakan produk XL merupakan brand dengan tarif termurah dari brand lainnya. Lambat laun, Sule digaet oleh kartu AS (segmen low end dari Telkomsel) untuk melawan produk XL.

"Jangan mau dibohongin ama anak kecil," ujar Sule dalam tayangan iklan kartu AS-nya. Atau versi terbarunya adalah ada anak kecil mirip Baim yang mengakui bahwa tarif kartu AS merupakan tarif termurahnya.

Di sini saya tidak akan membedakan tarif antara dua produk telekomunikasi tersebut. Namun dalam dunia marketing, itu merupakan adu perang tarif yang dijadikan senjata dari masing-masing operator untuk menjatuhkan lawan.

Sebenarnya, metode tersebut sudah dipakai dalam beberapa tahun lalu. Bahkan perang tarifnya tidak hanya dari dua operator.Masing-masing operator justru melakukan strategi menjatuhkan lawan lewat iklannya tersebut.

Dari kacamata CEO Virgin Groups Richard Branson, "berteman dengan salah satu musuh adalah taktik yang bagus untuk bisnis dan hidup.".

Namun cara yang digunakan itu, menurut Branson, merupakan cara yang kampungan. Seharusnya, masing-masing operator telekomunikasi ini menggunakan strategi untuk menjatuhkan lawan dengan cara lebih elegan, bukan dengan cara yang sama, hanya perang tarif semata.

Metode perang strategi ini pernah dilakukan di anak bisnisnya, yaitu ketika Sidney Airport Corporation (yang dimiliki oleh perusahaan paling sukses Macquarie Bank) memutuskan untuk menaikkan tarifnya. Lantas Branson beserta CEO Virgin Blue Brett Godfrey sepakat untuk memasang slogan di badan pesawatnya dan juga membuat sebuah papan iklan besar di tepi jalan menuju bandara,yang bertuliskan "Macquarie Dipenuhi oleh Para Bankir."

Aksi tersebut memiliki pesan yang jelas yaitu para bankir selalu mengejar keuntungan sebesar mungkin dengan biaya yang serendah mungkin. Alhasil, Macquarie setuju untuk mempertimbangkan ulang masalah tarif tersebut.

Dalam pandangan Branson, banyak perusahaan yang menginginkan agar merek dagang mereka mencerminkan gambaran ideal dan sempurnanya. Sebagai hasilnya,merek dagang mereka justru tidak terlihat nyata, tidak memperlihatkan karakter dan tidak dapat memenangkan kepercayaan publik.

Sebuah merek dagang akan menjadi identitas jatidiri kita, sehingga akan lebih baik jika kita terus mempertahankan yang sudah usang. So, kita lihat saja perkembangan iklan selanjutnya dari Sule dan Baim ini..toh, masyarakat juga sudah cerdas dengan adanya iklan-iklan tersebut.