Rabu, 05 Agustus 2009

Berpetualang Sambil Membangun Pertemanan

JIKA Anda hobi berpetualang,komunitas ini sanggup menuntaskan dahaga untuk berkeliling gunung,gua,sungai,dan menaklukkan tantangan alam lainnya. Tidak hanya itu,jutaan teman dengan hobi yang sama juga siap menebar rasa kebersamaan sebagai pelengkap sukaduka kehidupan. Banyak sekali komunitas petualang di dunia maya ataupun yang bersifat offline.Salah satunya adalah komunitas Gabungan Pencinta dan Penggiat Alam Terbuka(Gappala).



Sebenarnya, komunitas ini sudah terbentuk sejak 1991 yang dikomandani Yanweka dan empat orang kawannya. Hanya, kegiatan baru dilakukan sebatas pertemuan langsung. Di awal 2008,komunitas ini sempat terpecah menjadi dua, yaitu yang bersifat memberikan informasi saja (www.- gappala.or.id) dan komunitas (www.gappala.com). Hingga saat ini, Gappala masih aktif dengan anggota fanatik masing- masing.

Di tahun yang sama, seiring dengan adanya akses internet yang kian mudah, komunitas ini (gappala. com) mampumenjaringjumlah anggota yang lebih banyak. Tercatat ada 1.112 anggota Gappala yang bergabung lewat milisdansekitar300orangyang aktif melakukan kegiatan secara langsung di lapangan.

Tak melulu soal adventure, komunitas Gappala atau akrab disebut Gappala Adventures Community juga memiliki variasi kegiatan yang beda dengan komunitas lain.Di antaranya adalah mendaki gunung, susur gua (caving), panjat tebing, arung jeram (rafting), navigasi, hingga fotografi dan baktisosial.

Bahkan,yanglebih menantang, kita akan mengetahui sifat masing-masing anggota saat pendakian.Tak ketinggalan bakal diajarkan pula strategi mempertahankan diri (dari makanan dan binatang buas), strategi membawa barang bawaan (carrier), dan strategi berkelompok.

”Kami menekankan rasa kebersamaan di setiap kegiatan yang langsung dikelola oleh masing-masing humas wilayah.Variasi kegiatan itu biasanya muncul dari masingmasing anggota dan langsung di-follow up di website,” kata Yanweka,salah seorang koordinator Gappala Adventures Community.

Untuk menghindari senioritas, Om Yan,sapaan akrabnya, hanya membuat sistem koordinasi di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, dan Bali. Tugas para koordinator wilayah hanya memonitor kegiatan masing-masing humas di wilayah itu. Kegiatan travelling Gappala rupanya tak hanya menarik minat para pelajar, juga karyawan swasta yang notabene sudah memiliki kecukupan dana untuk bisa berlibur ke luar kota.

Bahkan,mayoritas anggota komunitas ini adalah para karyawan swasta itu. ”Segala kegiatan diusulkan dan disetujui oleh anggota. Masalah dana pun akan ditanggung bersama. Bahkan, jika sampai ada anggota yang ingin ikut tapi dananya terbatas, akan dicoba untuk dicarikan solusinya bersama. Intinya bagaimana kami bisa menjalani suka dan duka bersama-sama,” timpal Aal Arsya Alamsyah, humas Gappala wilayah Jakarta.

Di Jakarta sendiri,Gappala Adventures Community mematok target untuk kopi darat satu bulan sekali di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Tepatnya tiap minggu pertama setiap bulannya. Sedangkan di level tiga bulanan bakal diusahakan agar dilakukan kopi darat bersama semua wilayah.

Pada Desember mendatang, Gappala Adventures Community dijadwalkan melakukan kopi darat di Jawa Timur. Yang seru, kalau biasanya anak muda zaman sekarang kerap apel ke rumah pacar tiap malam minggu,komunitas ini tak mau ketinggalan dengan menggelar acara nyaris serupa. Hanya, kegiatannya adalah chatting di dunia maya mulai pukul 19.00 WIB.

Gappala Adventures Community juga memberlakukan aturan ketat bagi tiap anggotanya. Meski terkadang aneh,namun hal kecil itu cukup mempengaruhi kondisi alam sekitar. Hal-hal kecil yang sifatnya merusak itu antara lain suka membuang sisa makanan di area pendakian,suka menebang ranting atau dahan seenaknya, bahkan suka memetik bunga edelweis. Ini yang dilarang keras oleh Gappala.

Menurut Aal, mahasiswa jurusan Akuntansi semester lima Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan, orang yang mendaki gunung belum tentu pencinta alam. Orang yang mencintai alam seharusnya tidak merusak ekosistem yang ada, meski itu hanya memetik bunga edelweis.

Terpeleset, Pingsan, hingga Bertemu Pocong

NAMANYA saja kegiatan petualangan bersama alam, tentu akan banyak ditemukan pengalaman seru, menggelitik, lucu,ataupun mengharukan. Ade Siti Fatimah, karyawati di sebuah travel agent di Jakarta misalnya.

Ia mengaku pernah pingsan saat mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur.Sebenarnya gadis jombloasli Jakarta ini sudah satu tahun mengidam-idamkan untuk bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Keinginan tersebut kerap kali tertunda lantaran status Semeru kadang aktif dan kadang mati. Lantas, bersama empat temannya, mahasiswi Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Manajemen Transportasi Angkutan Udara yang telah bergabung selama dua tahun di Gappala Adventures Community ini nekat mendaki Semeru.

Berhubung satu orang rekannya keseleo dan tak bisa ikut pendakian,Ade menitipkan tas ransel berisi bekal makanan kepada sang rekan, dengan alasan agar dirinya dapat lebih cepat sampai ke puncak Semeru karena tidak memanggul beban.Namun, 100 meter menjelang puncak, badan Ade malah lemas dan akhirnya jatuh pingsan.

”Saya sempat dipapah selama sembilan jam untuk turun ke bawah.Padahal,saya hanya kurang 100 meter lagi untuk sampai puncak.Namun, mau bagaimana lagi? Badan saya sudah tidak kuat. Sempat pula ada teman yang berbahasa Jawa nyeletuk,saya dianggap terlalu egois dan nekat,terlalu memaksakan diri untuk naik padahal tanpa persiapan makanan.Apalagi saat itu saya sedang datang bulan,”cerita Ade, yang masih terobsesi untuk naik kembali ke puncak Semeru.

Cerita berbeda datang dari Yanweka.Tahun 2000, saat pendakian ke Gunung Sumbing, Jawa Tengah, bapak satu anak ini sempat terpeleset ke tebing hingga tiga meter. Waktu itu Yanweka sedang mendirikan tenda dan harus menarik tali di masing-masing sudutnya agar tenda tegak. Namun nahas,salah seorang temannya melepaskan tali dan Yanweka harus terpental ke tebing.

Awalnya tidak terasa sakit apa-apa.Namun,saat perjalanan pulang hingga tiba di rumah, kondisi fisiknya malah semakin menurun. Setelah dicek di UGD rumah sakit, ternyata Yanweka mengalami infeksi pada lambung. Sebagai bentuk solidaritas, seluruh teman dari komunitas datang menjenguknya.

”Saya tidak terobsesi untuk naik gunung tertinggi, tapi bagaimana menikmati alam di sekitar gunung yang kita daki,”ujar Yanweka,yang masih terpesona akan keindahan panorama Gunung Cikurai,Lawu,dan Merbabu. Kejadian paling aneh ditemui oleh Aal Arsya. Humas Gappala Adventures Community wilayah Jakarta ini harus menerima kedatangan makhluk halus saat pendakian ke Gunung Ciremai,Jawa Barat,awal tahun lalu.

Memang saat pendakian terjadi hujan lebat dan para pendaki harus membuat tenda.Saat sedang ganti pakaian di dalam tenda sembari iseng memperhatikan hutan sekeliling, pria Betawi ini melihat pocong.Aal sempat menyampaikan ihwal keberadaan makhluk halus itu kepada seorang teman, namun sang teman mengaku tidak melihatnya.

”Karena berada di alam bebas, kita akan melihat berbagai hal, termasuk makhluk halus.Namun, saat ditemui oleh mereka, biasakan untuk tidak panik, histeris, dan berpikir positif saja.Yang penting adalah berdoa,”pungkas Aal,yang mengaku takut juga pada lintah.(didik purwanto)

SOURCE:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/180954/

cek juga di :
http://yanweka.wordpress.com/2009/08/05/berpetualang-sambil-membangun-pertemanan/