Minggu, 24 April 2011

Just in Bibir

Kemarin, penyanyi yang ngetop via akun media sosial Justin Bieber datang ke Jakarta untuk memuaskan penggemarnya di Indonesia.

Pelantun "Baby", "One Time", "Pray" hingga "Never Say Never" ini bisa membuat para ABG histeris, bahkan di bandara Soekarno Hatta sekalipun, walau konser ada di Sentul Internasional Convention Center (SICC).

Saya tidak akan membahas siapa Justin Bieber dan bagaimana kiprahnya di dunia permusikan dunia. Kalau kalian tidak tahu, ya kebangetan. Tapi kalau pun tidak tahu, ya tidak usah perlu tahu kalau tidak mau tahu. Hehehe..

Akhir-akhir ini banyak bintang baru bermunculan melalui media sosial. Sebut saja, duet Shinta-Jojo yang melakukan lip sing Keong Racun, Udin Sedunia dengan lagu kocaknya atau Briptu Norman dengan goyang Chaiya Chaiya.

Lantas, apa yang dilakukan masyarakat dengan memuja-muja "artis dadakan" itu?? Dalam konser Justin Bieber kemarin, para ABG (yang kebetulan tidak bisa beli tiket konser) sampai rela menunggu dari pagi hanya untuk bisa bertemu (walau dari jauh) idolanya itu. Bahkan dalam pengakuannya, ada yang rela tidak makan agar tidak kelewatan si idola ngacir.

Ternyata benar, petugas keamanan bandara mengecoh artis untuk keluar melalui pintu yang lain. Otomatis, ABG labil ini histeris karena merasa dibohongi. Duh!

Apakah untuk memuja sang artis harus bertindak demikian? Kok saya merasa, ribet banget jadi penggemar (fans) "artis" itu artis-artis lainnya. Kita tidak mendapat apa-apa, malah rela "menyiksa diri" dengan tidak makan, menunggu dari pagi, lari pontang panting atau apa lah itu.

Padahal untuk menjadi penggemar, bukankah kita "seharusnya" meneladani (terutama) hal yang positif dari yang diidolakan itu.


Untuk kalian penggemar siapapun, idola tentunya akan ikut membentuk karakter kita terutama gaya hidup. Idola seharusnya bisa menjadi penuntun ke jalan yang lurus, pengingat dari alpa (kesalahan), penyemangat di saat lesu atau bahkan menjadi motivator yang bisa memacu untuk sukses.

Lantas, apakah idola kalian sudah termasuk kategori tadi? Jangan-jangan, Anda hanya mengidolakan Just in Bibir (hanya di bibir) dan ujung-ujungnya malah Anda harus mengeluarkan kocek besar hanya untuk mengikuti gaya hidupnya.

So, jadilah diri sendiri. Optimalkan kemampuan, bukan hanya menjadi seperti idola, tapi jadikan ia sebagai gambaran, panutan atau teladan untuk bisa maju.

Senin, 18 April 2011

Ibuku Kartiniku

Ibuku bukan orang terkenal. Ibuku juga tidak memiliki harta seperti Malinda Dee senilai Rp 17 miliar. Namun Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga di sebuah kampung di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Selain mengurus suami, di usianya yang kini 45 tahun tetap bekerja mengurus sawah milik keluarga, peninggalan nenek tercinta yang telah meninggal 14 tahun lalu.

Sebenarnya sawah kami ada dua petak yang berukuran kurang dari seperempat hektare. Namun, pada tahun 2002 setengah dari ukuran sawah tersebut terpaksa dijual untuk membiayai kuliahku.

Yang membuat aku sedih, orang tuaku menjual sawah warisan itu tanpa sepengetahuanku. Padahal, aku dulu dilarang kuliah karena tidak memiliki biaya sepeserpun. Kalau bisa, anak-anak langsung bekerja sehingga tidak membebani orang tua. Tapi orang tuaku saat itu berprinsip kedua anaknya kelak harus lebih baik dari orang tuanya.

"Bapak dan ibu dulu tidak lulus Sekolah Dasar (SD). Tapi kamu harus lebih baik dari kami," itulah wejangan Ibu yang selalu diberikan kepada kedua anak tercintanya.

Di sela mengurus sawah yang cuma sepetak, Ibu pun membantu tugas bapak sebagai abdi negara, seorang Kepala Rukun Tetangga (RT). Meski tidak mendapat gaji, ibu pun mengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari hanya 30 ibu rumah tangga yang ada di RT kami.

Setiap hari ibuku datang ke masing-masing rumah untuk memberikan kabar terbaru program pemerintah dan mengajak ibu-ibu lainnya datang ke Balai Desa. Meski sudah memasuki era milenium (era tahun 2000-an), penduduk di desa kami belum memiliki pesawat telepon. Yang punya saat itu, hanya kepala desa. Itupun ditaruh di kantor balai desa. Kalau ada kabar apapun, pengumuman akan langsung disiarkan melalui speaker di masjid desa. Untungnya, jumlah warganya sedikit, kurang dari 1.000 warga dan bisa mendengar pengumuman ala masjid itu.

Saat ku berada di Bali untuk melanjutkan kuliah, aku sempatkan bekerja untuk menutup biaya sehari-hari. Waktu itu, tahun 2002 Bali sedang diguncang oleh bom. Keluarga di rumah pun kaget dan bingung harus bagaimana.

Yang ku ingat, orang tuaku lari ke Balai Desa dan meminjam pesawat telepon untuk menelponku, menanyakan tentang kabarku. Untungnya, jarak dari rumah ke Balai Desa hanya sekitar 1 km, jadi tidak repot. Untuk menyiasati agar tidak tekor, untuk menelpon itu dilakukan jam lima shubuh, saat pulsa menelpon masih murah. Dan mereka hanya menelpon sekitar 10 menit, karena uangnya kurang.

Aku berpikir, orang tuaku akan terus kesulitan untuk menghubungiku. Baru sekitar tahun 2004, aku bisa membelikan mereka sebuah telepon seluler seharga Rp 750 ribu. Itu sebuah telepon seluler termahal yang pernah kubeli karena aku hanya memakai telepon seluler seharga Rp 350 ribu. Itupun bekas. Tapi tak apalah, yang penting bisa komunikasi dengan keluarga.

Biar sama-sama murah, aku pun memaksa ibuku untuk memakai kartu telepon yang sama denganku. Hehehe..

Saat aku menyelesaikan tugas kuliahku tahun 2007, aku pun sempat pulang kampung untuk menengok keadaan keluarga. Saat ini ibu sudah tidak perlu repot lagi datang ke rumah-rumah menghubungi ibu rumah tangga yang lain untuk ikut kegiatan di Balai Desa.

Ibuku bisa seketika menelpon atau hanya mengirim pesan singkat, walau masih salah pencet huruf, ke masing-masing ibu lainnya. Tapi karena masih ada yang belum memiliki telepon seluler, ibuku tetap mengunjungi rumah-rumah sekalian silaturahmi.

Aku bangga pada ibuku. Walau bukan setenar Inul Daratista, sekaya Malinda Dee, secantik Luna Maya atau sebahenol Julia Perez, ibuku adalah Kartiniku.

Aku sadar, menjadi wanita memang tidak gampang. Banyak peran yang harus dijalankan untuk dirinya maupun untuk suaminya. Bagiku, #KartiniDigital bukan selalu wanita yang memanjakan dengan perangkat gadget terbaru. Tapi, #KartiniDigital adalah wanita yang mampu memanfaatkan perangkat digital untuk kemaslahatan sekitarnya,baik untuk diri, keluarga ataupun bangsa.

Ibuku terus memberikan semangat kepada satu anaknya yang kini bekerja di Jakarta dan satu lagi sedang kuliah di Jember, Jawa Timur. Dalam setiap panggilan teleponnya tiap Minggu, ibuku selalu berpesan kepada dua anaknya ini untuk selalu ingat kepada Tuhan dalam setiap tindakan, bersedekah dan membantu sesama. Itu saja cukup.
(Hadiah lomba dari XL berupa HP Nokia dan kaos khusus XL Kartini Digital 2011)

Tulisan ini telah memenangkan lomba dari XL. Aku berhasil mendapat juara terpilih. Semoga ke depan bisa meningkat lagi. 

Rabu, 13 April 2011

Kasih Ibu Terhadap Anak

Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga. Si ibu bertanya,”Itu burung apa yang berdiri di sana ??”

“Bangau mama,” anaknya menjawab dengan sopan.
Tak lama kemudian si mama bertanya lagi..
“Itu yang warna putih burung apa?”
Sedikit kesal anaknya menjawab,”Ya bangau mama?…”

Kemudian ibunya kembali bertanya,”Lantas itu burung apa ?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbang…
Dengan nada kesal si anak menjawab,”Ya bangau mama. Kan sama saja!..Emangnya mama gak lihat dia terbang!”

Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan..”Dulu 28 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 kali,..sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tp kau membentakku 2 kali..”

Si anak terdiam…dan memeluk mamanya.

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita? Sayangilah Mama/Ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena surga berada di telapak kaki Ibu.
Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati Ibumu.
*Pernah kita ngomelin dia ?
*Pernah kita cuekin dia ?
*Pernah kita memikirkan apa yang dia pikirkan?’
*Sebenarnya apa yang dia fikirkan ?
‘Takut’:( ??
-takut ga bisa lihat kita senyum , nangis atau ketawa lagi.
- takut ga bisa ngajar kita lagi

Semua itu karena waktu dia singkat..
Saat mama/papa menutup mata , Ga akan lagi ada yang cerewet.:(
Saat kita menangis memanggil-manggil dia , apa yg dia balas?
‘Dia cuma diam’:(
Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata,”Anakku jangan menangis,mama/papa masih di sini. Mama/papa masih sayang kamu.”:(
Sayangilah mereka sebelum waktunya habis.
Thanks bagi yang sudah mengirimkan cerita ini lewat BBM saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda!!!

Selasa, 12 April 2011

Mahar Nikah Itu Ringan

Beberapa hari lalu gw diminta menemani sohib untuk membeli mahar pernikahannya. Rencananya dia ingin membelikan emas buat calon istrinya tersebut. Sebelumnya, dia juga tanya ke teman-teman yang lain, di mana membeli emas yang murah. Maklumlah, duit yang disiapkannya terbatas, sementara emas yang akan dibelinya cukup banyak dan unik,sekitar 15,7 gram. Anehnya, untuk membeli mahar ini, dia sampe pinjem duit ke orang tua, untungnya bukan rentenir!

Sebelum gw ke TKP, gw juga tanya-tanya ke teman gw yang sudah nikah, di mana tempat membeli emas tersebut. Teman-teman gw ini menyarankan untuk membeli emas dengan kadar yang rendah, namun beratnya ditambah. Misalnya membeli emas dengan berat 20 gram, tapi dengan kadar hanya 20 atau 22 karat saja.
Dengan perbedaan kadar emas tersebut, akan berpengaruh pula terhadap harga emas tadi. Apalagi saat ijab kabul kan yang dibilang bukan kadarnya, tapi beratnya kan?

Nah, tibalah saat perburuan emas tadi. Akhirnya gw memilih berburu ke kawasan Pasar Minggu, dekat stasiun Pasar Minggu. Di sana, teman gw kebingungan untuk menimbang berat emas tadi, karena sangat sulit mencari angka emas yang pas berberat 15,7 gram. Setelah 1 jam menimbang, akhirnya dia menyerah juga dengan hasil akhir 15,8 gram.

“Nanti ditulis aja 15,7 gram. Kan beres bang,” ujar penjual emasnya.

Sebenarnya dalam Islam, kita diberikan kemudahan dala menjalankan perintah-Nya. Untuk urusan mahar ini Islam mengajarkan kepada umat muslimah untuk tidak meninggikan atau mensyaratkan mahar yang bernilai tinggi, yang akan berakibat menyulitkan pihak laki-laki atau pernikahan itu sendiri. Berikut sabda Rasulullah saw mengenai perintah untuk merendahkan nilai mahar kepada wanita.

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

Dalam hal ini, Allah swt juga telah berfirman, yang artinya:
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

Tapi, bila sang calon mempelai pria sanggup untuk membelikan keinginan berupa mahar mahal dari calon istri maka sah-sah saja. Toh, yang nikah kan sampeyan, bukan saya!!Hehe…

Kamis, 07 April 2011

Age Is Just A Number

Bagi banyak orang, merayakan ulang tahun dipastikan bakal meriah semeriahnya. Ada kue tart, lagu, hingga kado yang bejibun.

Tapi, itu tidak berlaku untukku. Bagiku, ulang tahun tidak pernah dimeriahkan seperti itu. Bagaimana harus dimeriahkan, padahal momen ultah adalah momen yang mengingatkan kita bahwa jatah umur kita berkurang lagi setahun.

Masalahnya, kita tidak pernah tahu jatah umur hidup kita selama di dunia. Yang pasti, manusia yang pernah dilahirkan dituntut untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hahaha..jadi sok alim gini ya??

Btw, beberapa hari lalu, aku mendapatkan kutipan dari seorang teman di twitter, yaitu "Age is just a number. But young is forever."

Yah, umur memang hanyalah angka. Bisa dianggap itu berkurang atau bertambah. Namun, Tuhan tidak akan menambah umur seseorang loh?

Di babak baruku ini, aku berharap bisa menjadi pribadi yang semakin bermanfaat bagi orang lain terutama keluarga, masyarakat, agama dan negara. Bentuk riilnya? aku akan melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan hidupku.

Lalu, apa tujuan hidupku? Aku akan menuliskan tulisanku untuk menyuarakan suara mereka yang tidak didengar.

Terlalu lebay dan berandai-andai ya? emang. Tapi aku berharap bisa mewujudkan hal tersebut. Entah kapan, tapi sampai saat ini aku akan menuju ke sana! Doakan..

Pesan seorang teman lainnya: “Life is not a matter of chance, but a matter of choice."

Lalu “Decisions are the hardest to make especially when its a choice between where you should be and where you want to be.”

"?" Menyisakan Tanda Tanya

"Manusia tidak hidup sendirian di bumi ini...
tapi di jalan setapaknya masing-masing..
semua jalan setapak itu berbeda-beda...
namun menuju ke arah yang sama..
mencari satu hal yang sama...
dengan tujuan yang sama....
yaitu TUHAN"


Begitulah cuplikan prolog dalam thriller film "?" karya Hanung Bramantyo. Sekilas memang akan meneduhkan suasana dan membenarkan bahwa semua agama muaranya sama yaitu beribadah kepada Tuhan.

Lantas, apakah konsep yang dimaknai masing-masing agama itu sudah benar hingga saat ini? Mengapa Hanung memakai nama "Tuhan", bukan "Allah" atau "Yesus"?

Saya mengutip hasil studi Qosim Nursheha Dzulhadi, alumnus Al-Azhar University (Cairo-Egypt) jurusan Tafsir & ‘Ulumu’l-Qur’an. Beliau mengutip pernyataan Dr. Jerald F. Dirk dalam bukunya “Salib di Bulan Sabit” (Serambi, 2006), Mantan diaken di ‘Gereja Metodis Bersatu’ ini mencatat bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat yang notabene mayoritas non muslim apalagi bagi orang Islam sendiri yang berpengetahuan dangkal.

Padahal Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.

El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau sang Tuhan. Ia adalah kata Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, menurutnya, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan al-Qur’an dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi biblikal tertua.

Tapi dalam kacamata Islam, terutama pembahasan ilmu Tauhid menjelaskan "Laa ilaaha illa Allah" (Tidak ada seorang tuhanpun yang berhak “diibadahi” secara benar (mutlak), kecuali hanya Allah saja.

Ini tentu berbeda dengan kata El dalam bahasa Ibrani, yang kemudian bisa menjadi El-Elohim, yang diartikan sebagai “Tuhannya para tuhan”. Berarti ada tuhan selain tuhan yang disebut El-Elohim itu.

Sementara dalam Islam, Allah atau Ilah hanya satu. Apalagi jika ditelusuri konsep Tuhan dalam agama Yahudi, yang banyak menyiratkan bahwa “Tuhan” Yahudi adalah ‘Tuhan nasionalistik’, atau private God bagi Yahudi. Di luar Yahudi Tuhannya berbeda.


Di agama Kristen, konsep Tuhan juga berbeda karena masih menganut konsep Trinitas yang sampai saat ini masih menjadi teka teki yang tidak berujung (Bapa, Tuhan dan Roh Kudus).

Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Satu esensi tetapi tiga oknum. Dan oknum-oknum itu bersatu, tidak terpisah, namun berbeda antara satu dengan lainnya – bersatu dalam ketuhanan (al-lahut) dan dalam sifat-sifat ilahiyah, tetapi berbeda dalam pekerjaan mereka. (Lihat, Nasyid Hana, Khamsu Haqâ’iq ‘an Allah, cet. II, 1999: 25-26).

Satu dalam sifat-sifat Ilahiyyah, tetapi berbeda dalam pekerjaan atau tugas adalah konsep yang “membingungkan”. Inilah yang masih diperdebatkan oleh kalangan kaum kristen.

Padahal dalam Islam sendiri sudah jelas. Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam QS. Al-Anbiya ayat 92.

Ayat tersebut diatas memberi petunjuk kepada manusia bahwa seharusnya tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Melalui rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para rasul, Adam sebagai rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.

Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah.

Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.

Kemudian dalam QS. Al-Maidah ayat 72 dijelaskan Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya surga, dan tempat mereka adalah neraka.

Dan QS. Al-Ikhlas ayat 1-4 yang menyatakan “Katakanlah, Dia-lah: Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Tuhan yang haq dalam konsep Al-Qur’an adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad ayat 35 dan 65, surat Muhammad ayat 19.

Dalam Al-Qur’an diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan diberikan kepada para nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga.

Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi Al-Qur’an, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Nabi Adam di muka bumi. Esa menurut Al-Qur’an adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagian dan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian.

Jadi, ide besar yang diusung Hanung ini memang sangat berani, menawarkan ide pluralisme yang selama ini diusung oleh tokoh-tokoh sebelumnya.

Padahal “Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19). “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Perbedaan memang suatu rahmat. Namun film yang berjudul "?" ini akan menyisakan tanda tanya besar. Siapa yang mendorong film ini keluar? siapa tokoh besar yang ada di belakangnya? Itu akan menjadi "?"

Nusron Wahid, anggota komisi XI DPR RI sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Anshor yang membawahi Banser ini bilang film "?" ini memang mengusung tema bagus dan berani yaitu mengusung kebhinekaan. Ide ini tidak ada yang berani mengambil setelah Gus Dur selaku bapak pluralisme wafat.

Dalam sebuah diskusi kecil dengan teman-teman saya, ada yang menyeletuk,"Saya kok jadi takut. Jangan-jangan ini film proyek ya?"

Maklum Hanung sukses menyutradarai "Ayat-Ayat Cinta" yang mengusung poligami dan banyak didukung oleh barisan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).


Lantas film "Sang Pencerah" yang mengusung nama besar KH Ahmad Dahlan sebagai sosok yang divisualisasikan dan tentu saja menguntungkan kelompok Muhammadiyah atau basis kaum Partai Amanat Nasional (PAN).

Kali ini, film "?" mengusung kebhinekaan dan pluralisme. Sesuatu yang didengungkan oleh kelompok Gus Dur atau basis massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau bahkan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Ah, semoga lelucon temanku itu salah.

Jumat, 01 April 2011

Kenali Pasangan Tanpa Pacaran

Kehidupan modern ini membuat semuanya serba instan. Tak terkecuali mencari jodoh alias pasangan. Beragam acara cari jodoh pun digelar contohnya Take Me (Him) Out Indonesia atau acara sejenis seperti Katakan Cinta, Cinta Monyet dan sebagainya.


Nah, dengan perkembangan teknologi, manusia semakin dipermudah seperti dengan adanya situs jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Plurk, Koprol dan media lainnya yang memungkinkan hubungan dengan orang lain begitu dekat. Bahkan tidak ada lagi ruang privasi yang tersekat.

Dengan media jejaring sosial tersebut, kita pun bebas menentukan siapa yang akan menjadi teman atau bahkan lebih dari sekadar teman bagi kita. Bahkan beberapa waktu lalu, Facebook menjadi kambing hitam atas pelarian seorang wanita yang dikira diculik oleh cowok, teman mayanya itu di situs jejaring sosial.
Padahal, kita pun memiliki tuntunan untuk mencari jodoh. Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :

1. Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama.

Dalam sebuah syair diungkapkan:
“Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi.”
Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya.

2. Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Rasulullah saw bersabda :
Kalau Anda menginginkan sesuatu maka lakukan salat dua rakaat, rakaat awal setelah membaca al-Fatihah membaca al-Kafirun dan pada rakaat kedua surat al-ikhlas lalu berdoa….. ( doa istiharah).

3. Setelah memiliki kecenderungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta’aruf) antar keduanya secara lebih dekat yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam.

4. Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.

5. Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal.

Umumnya buku yang seperti ini di toko-toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan yang bertuliskan “Membuka berarti membeli” sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secara terperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran.

Pilihan kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanya kepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar baru, belum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengan tidak proses pacaran tadi.

Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yang seperti ini merupakan kerinduan yang menjadi kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampu di tolak oleh manusia itu sendiri.

Imam Ibnu Qoyyim mengkategorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjang tidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma’siat kepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannya maka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yang karena Allah. Tetapi jika rindu tersebut justru yang membawa kita ke jalan hawa nafsu itulah rindu karena hawa nafsu bukan karena Allah.
Wallahu’alam.