Minggu, 17 Mei 2015

Kopi, Keluarga, dan Kesuksesan

NESCAFE_classic_by_capmunir

Sebagai anak pertama, saya selalu disuruh membantu keluarga termasuk menyiapkan sarapan hingga menyeduh kopi untuk orang tua.

Sejak kecil, orang tua selalu menyuruhku untuk meminum kopi walau hanya setengah gelas atau berbagi dengan ibu. Untuk bapak, biasanya dikhususkan satu gelas sendiri.

Saat menyeduh kopi, saya selalu kesulitan membuat racikan kopi dan gula, termasuk takaran air. Bila tidak pas, hasil racikan juga tidak akan enak. Alhasil, bapak atau ibu selalu marah bila mengetahui racikanku tak pas.

“Kamu ini selalu tidak pas kalau membuat kopi,” kata Ibuku.

Sejak itu, ibuku selalu memberi tahu takaran gula, kopi, dan air untuk membuat secangkir kopi yang nikmat.

Pengalaman itu ku bawa sampai ke kuliah. Saat begadang tugas kampus, teman-teman selalu menyuguhkan kopi sambil ditemani camilan ringan.

Namun karena sudah terbiasa mandiri, saya pun juga terbiasa ke pasar, termasuk ke minimarket sendiri untuk membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli kopi.

Urusan berbelanja, saya mewarisi sikap pelit dari Ibu. Selisih Rp 1.000 saja, saya akan mencoba mencari produk dengan harga lebih murah namun dengan kuantitas lebih banyak. Tentunya, produk tersebut juga harus berkualitas.

nescafe oke

Tak ingin salah membuat racikan kopi, saat itu saya melihat promo Nescafe yang selalu memberikan hadiah gelas mungil berwarna merah dan hitam. Sesuai instruksinya, bubuk kopi diseduh sesuai ukuran cangkir mungil tersebut. Alhasil, racikan kopi serasa pas. Bila ingin tambah, cukup membuat seduhan lagi.

Kopi tersebut biasanya juga sudah diberi campuran gula. Kalau kurang manis, cukup tambah gula lagi. Kalau tidak ingin kopi manis, cukup beli Nescafe Classic. Kini, saya lebih menyukai beberapa varian rasa Nescafe yang kalengan. Lebih praktis dan segar dengan kadar kafein yang tidak tinggi. Jadi tidak akan menahan tidur seharian.

Yang lebih unik, bentuk wadah kopi Nescafe yang lucu. Jika kopi sudah habis, biasanya dipakai ibu untuk menaruh bumbu dapur. Wadah yang berguna.

nescafe_latte_kaleng_240ml_1

Saat bekerja, pertama kali saya diajak ke Aceh, termasuk mengunjungi bekas-bekas tsunami sekaligus mencicipi makanan atau minuman khasnya.

Saat itu, saya diberikan oleh-oleh ayam rempah dan kopi Aceh. Penasaran dengan kopinya, saya pun menyeduh seperti kopi biasa.

Untuk pertama kalinya, saya tidak bisa tidur seharian hanya karena menyeduh satu gelas kopi Aceh tersebut.

“Kopi itu sudah dicampur ganja. Efeknya bisa tahan kantuk seharian,” kata temanku.

Entah benar atau tidak, kopi Aceh dikabarkan ada campuran ganjanya. Namun dari berbagai literatur, kopi memang mengandung kafein dan memiliki zat trymetilsantin. Zat ini akan menstimulir pusat syaraf reseptor adenosin.

Saat simpul syarat terangsang, otomatis memacu katabolisme dan memicu hormon adrenalin. Hormon inilah yang memacu tubuh kita tetap semangat dan tidak bisa mengantuk untuk sementara waktu.

Saking sukanya pada kopi, saya pun membuat nama pribadi pada akun media sosial dan email yang tetap mengacu pada nama dan kopi. Didik Purwanto disingkat menjadi Dito dan mengambil nama minuman cappuccino sebagai nama belakang. Jadilah ditopuccino. Biar seperti anak kekini-kinian gitu lah. Haha..

Kini, bila sedang senggang, saya biasa menyempatkan diri ke kedai kopi, sembari menulis atau sekadar bercengkerama dengan teman. “Lebih sering mendengar teman curhat,” kenangku sambil ditraktir kopi cappuccino favoritku.

Dibaliksecangkirkopi, Kopi telah mengantarkanku mengingat keluarga, terutama mengingat ocehan ibu dan pujian bapakku. Termasuk mengenang perjalanan ke beberapa destinasi wisata dan menemani kesuksesan kehidupanku.

Dibaliksecangkirkopi, saya selalu mendengar pengalaman pahit dan manis dari hidup seseorang. Sama seperti hidup, kopi juga bisa diracik manis atau pahit, sama seperti kehidupan kita yang bisa kita atur pahit atau manis. Selamat menikmati hidup. Selamat menikmati kopi.



via didikpurwanto.com

Rezeki Hebat Makanan Sehat

image (7)

Keinginan melangsingkan tubuh menjadi awal Kaisha Fridayassie (Kai) membuka usaha catering khusus makanan sehat dan diet. Saat itu, banyak temannya mengomentari tubuhnya yang mulai gemuk.

Kai pun mulai mencari solusi melangsingkan tubuh di internet. Namun di dunia maya justru banyak produk yang menawarkan pil pelangsing tubuh. Padahal pil pelangsing tubuh tidak sehat dan berisiko terhadap kesehatannya ke depan.

“Banyak juga tawaran cara herbal, tapi aku kurang percaya karena takut dampak ke depannya,” katanya.

Ibu dua putri ini pun mengetahui tubuh memiliki pola dan metabolisme tersendiri dalam membentuk tubuh. Berdasarkan buku dan bacaan lainnya, tubuh lebih membutuhkan serat dari sayur dan buah ketimbang karbohidrat seperti nasi.

Selain itu, pengalamannya saat membantu ibu mertua yang seorang herbalis dalam membuat makanan bagi pasien cukup membantu. Menurut dia, seorang penderita kanker harus mengonsumsi banyak sayur dan buah, bahkan cenderung diarahkan menjadi seorang vegetarian.

image (8

Kai memulai diet dengan tetap makan tiga kali sehari tetapi tidak mengonsumsi nasi. Ia paksakan mengonsumsi sayuran mentah (salad) dan buah-buahan segar pada pagi hari. Menu makan siang dan malam, Kai tidak lupa memasukkan porsi sayur dalam jumlah besar.

Hasilnya tidak sia-sia. Dalam waktu tiga hari ia mampu menurunkan tiga kilogram berat badan. Saat bertemu tantenya, ia mengaku dipuji karena mampu diet dengan cara sehat. “Saat suami tahu, dia pun mengusulkan serius menggeluti usaha catering khusus diet yang sehat ini,” ujarnya.

Keberhasilan tantenya melangsingkan tubuh banyak dipertanyakan rekan-rekan kantornya. Dari sinilah pesanan cateringnya mulai banyak dan Kai memberi nama usahanya Kai’s Kitchen. Nama tersebut dirasa cukup mudah dikenal, terlebih dengan slogan Healthy Food Modern Life.

image (3)

Kai hanya mempromosikan cateringnya melalui Blackberry Messenger (BBM) dan media sosial. Saat ini, Vincentius Aditya (Adit) ikut membantu mempromosikan masakan olahan istri dan memerkuat merek.

Saat memulai usahanya, Kai hanya mengeluarkan modal Rp 500 ribu. Uang itu hanya digunakan untuk membeli sayur, buah, dan lauk. Saat itu Kai hanya memiliki tiga orang pelanggan. Seiring perjalanan waktu, Kai’s Kitchen telah memiliki sekitar 30 pelanggan per hari dan tersebar di Bogor dan Jakarta.

Ia akan menghapus pemikiran orang bahwa makanan sehat harus selalu mahal. Dengan usahanya, ia menyediakan makanan sehat namun tetap dengan harga terjangkau. Prinsipnya, makanan sehat adalah makanan yang menggunakan penyedap rasa alami.

Meski  tidak menggunakan penyedap rasa seperti garam atau gula, Kai’s Kitchen memberikan sensasi baru dalam mengonsumsi makanan sehat. “Saat ini kita masih perkuat branding dan pelayanan konsumen. Ke depannya kita ingin orang yang ingin makan sehat cari Kai’s Kitchen,” ujarnya.

image lagi

Selalu Peduli Pelanggan

Kai biasa menanyakan hasil konsumsi catering diet kepada setiap pelanggan setelah tiga hari. Biasanya pelanggan akan menceritakan jumlah berat badan yang telah hilang dan hasil yang dirasakan. Hal ini tidak semata sebagai pencitraan agar pelanggan terus mengonsumsi masakan buatannya.

“Sebelum pesan, biasanya saya banyak tanya sibuk apa, makanan yang tidak disukai apa, dan lainnya. Ini saya lakukan agar bisa mengukur banyaknya jumlah kalori yang bisa dikonsumsi seorang yang banyak kerja di luar atau hanya duduk di belakang meja,” tuturnya.

Pertanyaan seputar makanan yang tidak disuka agar tidak mengecewakan pelanggan. Terlebih jika pelanggan memiliki alergi terhadap salah satu jenis makanan. Kepedulian Kai terhadap pelanggan diakuinya membuahkan hasil. Sejak dibuka awal 2015, Kai belum pernah mendapat keluhan.

image 4

“Rata-rata pelanggan Kai’s Kitchen turun 2 kg-10 kg dalam dua minggu. Ini tergantung komitmen pelanggan juga,” katanya.

Kai juga selalu mengingatkan pelanggan untuk selalu menghindari minuman dan makanan kemasan. Ia pun tak segan menjawab pertanyaan pelanggan seputar makanan dan minuman kemasan yang masih boleh dikonsumsi.

“Biasanya ketika ada yang tanya, saya selalu menganjurkan melihat tabel nutrisi di kemasan produk tersebut. Mereka akan paham sendiri,” ujarnya.

Untuk menjadi konsumen diet sehat Kai, pelanggan terlebih dahulu harus menghubungi Kai dan melakukan pemesanan. Kai mematok Rp 1,3 juta per orang per dua minggu untuk mendapatkan tiga makanan (sarapan, makan siang, dan makan malam) serta tiga botol air putih yang diisi buah-buahan (infus water). “Pembayaran minimal 50 persen di awal dan sisanya harus dilunasi sebelum hari ke enam.”

Kai juga melayani catering diet untuk satu minggu dengan biaya Rp 750 ribu per orang. Menu yang didapat pun sama, tiga makanan dan tiga botol infus water. Kai mendampingi diet pelanggannya dengan infus water agar membiasakan pelanggan minum air putih dua liter per hari.

image (2)

KAI’S KITCHEN

Pendiri : Kaisha Fridayassie

Co-Founder/Marketing : Vincentius Aditya

Alamat : Jl. Tugu Wates Perumahan Graha Grande Blok C No.33-Bogor

Telp : 087883382611

Email : kaiskitchenbogor@yahoo.co.id

Instagram : @kaiskitchenbg



via didikpurwanto.com

Selasa, 12 Mei 2015

Makin Makmur Bisnis Furnitur

Briggita Petra Panjaitan (2)

Perempuan tidak harus selalu hobi bermain boneka. Material keras seperti perkayuan juga bisa dinikmati, bahkan berbuah bisnis menguntungkan.

Itulah yang dilakukan Brigitta Petra Panjaitan. Sejak kecil ia menggemari furnitur dan dimensi ruang. Ia sering membaca majalah dengan konten konstruksi material keras. Gambar-gambar yang disajikan menginspirasinya untuk menggambar desain.

Ia pun terus mencari ilmu hingga ke perguruan tinggi dan berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Arsitektur di Universitas Trisaksi. Pengetahuan itu semakin dalam saat bekerja pada sebuah jawatan bidang konstruksi.

“Dulu saya sempat bekerja dan banyak belajar tentang desain, produksi, dan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM). Semua pengetahuan itu mendorong saya semakin yakin membangun usaha sendiri di bidang yang sama,” katanya.

Menurut dia, rencana membangun usaha sendiri mendapat dukungan dari pacar yaitu Panji Adi Sakti. Kebetulan keduanya memiliki hobi yang sama bahkan menguasai penghitungan struktur material yang akan dibuat.

Sebelum memulai usaha, mereka pernah uji coba membuat sebuah meja knock down dan modular. Tapi prosesnya hanya iseng. Ternyata ada teman yang melihat dan bersedia membeli. “Setelah itu baru kami sadar betul-betul ada peluang usaha. Langsung kami bangun merek sendiri dengan nama Adisakti Design Studio mulai 14 Februari 2013.”

Untuk promosi, ia hanya menggunakan akun Instagram pribadi. Selain itu juga memanfaatkan kontak e-mail klien warisan selama bekerja. Biasanya setiap tiga bulan ia membuat desain kemudian langsung dibagikan ke kontak tersebut.

Hingga kini banyak developer apartemen dari Bandung dan Jakarta yang memanfaatkan produk Adisakti Design Studio. Sebagian lagi pelanggan perorangan yang butuh furnitur dalam jumlah kecil. Penjualan tidak ada pembatasan untuk semua kalangan.

“Kami lihat potensi pasar memang lebih ke apartemen karena banyak pembangunan. Tapi pemesanan jumlah kecil juga tetap kami upayakan,” ujarnya.

Ia menilai, tantangan usaha furnitur terletak pada cara menghitung kapasitas ruang di apartemen. Ia harus mengimajinasikan dengan tepat bentuk produksi agar tidak mengganggu struktur bangunan dan ruang. Setiap ruang memiliki keunikan yang tidak bisa dipukul rata dengan produk yang sama.

Tantangan terberat lain yaitu menjaga kepercayaan konsumen. Tapi masalah itu dapat disiasati dengan memerhatikan kualitas material produk. Pengembangan ide segar juga dibutuhkan untuk memerbarui katalog. Pelanggan biasanya akan tertarik melihat desain terkini.

“Kami mau menjaga konsumen dari keawetan barang. Penggunaan material yang kurang baik memicu furnitur gampang rusak,” ujarnya.

Saat mengawali usaha hanya mengeluarkan uang Rp 10 juta untuk membeli peralatan. Tempat pengerjaan hanya mengandalkan garasi rumah. Saat ini omzet per tahun sudah mencapai Rp 100 juta.

“Kami modal seadanya waktu itu sampai terpaksa jebol garasi. Tapi tidak percuma, ternyata usaha berjalan juga,” ujarnya.

IMG_0016 (2)

Singkirkan Mental Manja

Menjadi pengusaha bukan hal mudah. Secara bertahap melalui proses harian harus mau menyingkirkan mental manja. Itu juga yang dialami Brigitta Petra Panjaitan selama dua tahun menjadi wirausahawan.

Ia berprinsip jangan pernah menyesali nasib diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki kekurangan tapi bisa teratasi dengan menanamkan semangat kerja.

Ia menganggap pengusaha tidak pernah memikirkan pengorbanan yang telah terkuras dalam membangun usaha. Pola pikir yang ditanam hanya fokus pada tujuan dan hasil kerja. Cara seperti itu mendorong kecerdasan, ketepatan, dan kecermatan menyelesaikan permintaan pelanggan.

“Jujur saya banyak berterima kasih kepada Guns N’ Roses serta The Rolling Stones karena lagu mereka membangun semangat kerja. Kalau kita terus melihat diri sendiri, nanti yang ada cuma mengeluh capek dan malas,” katanya.

Ia pernah mengalami masa terberat membangun usaha, terutama saat awal perencanaan. Ia kesulitan menjadi perajin yang sesuai kriteria. Banyak ongkos finansial dan waktu terkuras hanya untuk mencari satu tenaga kerja.

“Akhirnya ketemu juga dan bisa ditarik untuk membantu produksi. Pada dasarnya memang tidak boleh menyerah, harus optimis,” ujarnya.

Ia berambisi ke depan mendapat kepercayaan developer pembangunan. Tahun depan ia berharap bisa mendapat proyek pengadaan furnitur di hotel atau apartemen. “Saya bekerja serius tapi tetap santai sehingga tidak ada tekanan. Nanti juga ada rezeki kalau konsisten,” ujarnya.

Briggita Petra Panjaitan (kiri) dan Panji Adi Sakti (2)

Profil Usaha:

Nama Usaha: Adisakti Design Studio

Nama: Brigitta Petra Panjaitan

TTL: Jakarta, 14 November 1991

Pendidikan: S1 Arsitektur Trisakti

Hobi: Menggambar dan Bermain Musik

Nama: Panji Adi Sakti

TTL: Jakarta, 14 Juni 1991

Pendidikan: S1 Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung

Hobi: Menggambar

Alamat Usaha: Blok D20, No 5, Pamulang Estate, Tangerang Selatan.

Kontak Usaha: 08777 433 4226/081218018701

Emai: adisaktidesign@gmail.com



via didikpurwanto.com

Penjualan Ponsel di China Anjlok

galnot note

Lembaga riset IDC menyebut, pasar ponsel cerdas di China telah mencapai level kejenuhan. Hal ini bisa mengkhawatirkan industri ponsel dunia seperti Apple Inc dan Samsung Electronics Co Ltd.

Hingga kuartal I-2015, pengiriman ponsel di negara yang paling padat penduduknya di dunia ini telah menyusut 4,3 persen menjadi 98,8 juta unit. Ini pelemahan pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

China selama ini menjadi pasar terbesar bagi industri ponsel dunia. Hal tersebut juga mendongkrak penjualan Apple hingga mencapai rekor pendapatan US$ 16,8 miliar akibat penjualan iPhone 6 dan iPhone 6 Plus yang ditopang penjualan di China. Xiaomi juga mengalami lonjakan penjualan menjadi US$ 46 miliar hanya dalam empat tahun terakhir.

China melampaui Amerika Serikat pada 2011 terkait pasar ponsel cerdas terbesar di dunia. Namun data IDC menunjukkan pelambanan bisa menimbulkan pertanyaan bagi industri.

Akibat penjualan tersebut, pangsa pasar Apple di China menyusut menjadi 14,7 persen yang diikuti Xiaomi 13,7 persen, Huawei 11,4 persen, dan Samsung hanya 9,7 persen.

Pelambanan penjualan di China akan mendongkrak penjualan terutama ke Asia Tenggara dan ke India. Xiaomi telah melakukan ekspansi tersebut dan disusul Samsung.

Xiaomi aktif bekerja sama dengan penjual online dan offline di India setahun lalu. Xiaomi juga menjual perangkat pada Flipkart.com setahun terakhir dan menjual ponsel melalui jaringan The Mobile Store di seluruh negeri.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Kamis, 07 Mei 2015

McDonald’s Uji Menu Baru

 

kale

McDonald’s Corp akan menguji berbagai produk makanan baru sebagai upaya strategi perubahan bisnisnya ke depan. Sembilan restoran di California selatan mencoba menu sarapan dalam mangkuk yang disebut kale.

Juru bicara McD Lisa McComb mengatakan, menu baru tersebut berisi sosis kalkun, putih telur, kangkung, bayam, termasuk chorizo (sosis babi), dan telur. Harganya sekitar US$ 4 atau Rp 52 ribu.

Kale disebut-sebut sebagai makanan kaya nutrisi. Selama lima tahun terakhir, masyarakat Amerika Serikat sudah mulai menggemari makanan sehat dan restoran yang menyediakan makanan sehat semakin populer.

Restoran pesaing McD seperti Chipotle Mexican Grill Inc dan restoran cepat saji lainnya seperti Yum Brands Inc selama beberapa tahun terakhir telah membantu makanan sehat dalam mangkuk, yang biasanya dibuat dengan daging atau protein lain, beras, dan sayuran.

Analis Capital Markets Mark Kalinowski mengatakan dalam sebuah catatan, restoran McD di Kanada akan segera mulai menawarkan tiga salad untuk makanan sehatnya.

McD menolak berkomentar atas uji menu baru tersebut, terutama yang di Kanada. Perusahaan akan terus menguji menu baru untuk mendongkrak pelanggan. “Kami akan mengumumkan menu baru saat waktunya tepat,” kata McComb.

Penambahan kale ke menu utama McD bisa menjadi strategi baru bagi perusahaan, terutama yang selama ini dikenal sebagai perusahaan makanan cepat saji terbesar di dunia.

Awal tahun ini McD disarankan menjual burger sebagai menu utamanya. Namun hingga kini saran tersebut belum diterapkan.

Penjualan McD seakan kurang agresif karena perusahaan dinilai gagal menjual makanan segar dan sedikit proses. Sebenarnya, McD sejak dulu terkenal sebagai penjual hamburger karena McD belum pernah kembali menjual makanan tersebut sejak 2002.

CEO McD Steve Easterbrook telah mulai mengubah strategi perusahaan menjadi perusahaan burger modern. Namun strategi tersebut belum serentak dilakukan di semua gerai outletnya. Investor pun hanya menyambut dingin upaya tersebut yang diindikasikan dengan penurunan saham perusahaan.

“Padahal masyarakat menginginkan McDonald’s dalam jangka pendek justru menjual pizza,” kata analis Janney Montgomery Scott Mark Kalinowski. McD juga akan mengubah persepsi konsumen tentang perusahaan dan kualitas makanan.

Laba bersih McDonald’s pada kuartal I-2015 anjlok 32,6 persen menjadi US$ 811,5 juta. Pendapatannya juga turun 11 persen menjadi US$ 5,96 miliar karena penjualan global turun 2,3 persen, penurunan 13 kalinya berturut-turut.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Rabu, 06 Mei 2015

Bolt dan Etika Unlock Modem

Bolt__Rachman-2

Internet saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Selain kebutuhan sandang, pangan, dan papan, pulsa termasuk untuk internet menjadi kebutuhan yang sudah dianggarkan secara bulanan.

Namun akhir-akhir ini sedang marak kasus unlock modem dan pelakunya sampai dibawa ke kepolisian.

Bolt, merek terdaftar dari PT Internux malah sudah melaporkan Cumi Laut Software Development yang sengaja membuka kunci modem Bolt agar bisa dipakai provider lain.

Secara etika bisnis, unlock modem memang tindakan yang dilarang. Apalagi tindakan tersebut juga diatur dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU terbaru) Pasal 52 dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (sebelum Ammandment) Pasal 27.

Hukuman untuk pelaku tercantum dalam Pasal 112 UU no.28 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU no. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan Pasal 72 ayat (8) Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Pidana penjara untuk perkara ini paling lama dua tahun.

Sebagai konsumen, tentu menginginkan pelayanan terbaik dan tentu saja dengan harga murah. Saya, karena tergiur promosi gila-gilaan Bolt, ikut membeli modem tersebut. Padahal untuk memakai Bolt harus membeli modem yang pada awalnya memang dijual sekitar Rp 900 ribuan.

Namun secara perlahan mulai turun. Bahkan saya mendapatkan modem yang sudah di-unlock sekitar Rp 399 ribu. Di Kaskus, malah ada yang menjual lebih murah.

Keuntungan modem yang sudah di-unlock adalah bisa dipakai untuk provider lain. Cara ini dianggap lumrah, terutama di Tanah Air, apalagi sinyal Bolt hanya berada di Jabodetabek. Itu pun tidak semua wilayah bisa tercakup.

Misalnya, saat di Bandara Soekarno-Hatta, sinyal Bolt malah tidak ada alias tidak bisa digunakan sama sekali. Saat berada di beberapa gedung tertinggi di Jakarta juga, sinyal Bolt kembali nihil.

Ini menjadi satu alasan unlock modem menjadi salah satu bisnis khusus dan diminati konsumen. Saat pertama kali membeli modem lock, dulu saya harus membayar Rp 150 ribu untuk unlock.

Ini seperti kasus ponsel lock yang hanya dipakai untuk provider tertentu. Bila ingin memakai provider lain tentu harus dibuka kuncinya.

Menurut saya, unlock modem secara etika bisnis memang menyalahi aturan. Namun saat layanan tidak bisa digunakan maksimal, pembeli juga bisa menggugat pemilik bisnis tersebut.

Apalagi saat promosi, Bolt menjanjikan kecepatan tinggi saat mengunggah atau pun mengunduh data. Namun kenyataannya, promosi hanya promosi. Setelah pembeli menikmati awal promosi, kecepatan pun diturunkan dan di beberapa lokasi tidak bisa digunakan.

paket baru bolt

Yang patut disayangkan, tarif Bolt berubah setelah pembelian pulsa setelah pemakaian kartu perdana. Misal kartu perdana dijual paling murah sekitar Rp 70-80 ribu dengan kuota internet sekitar 8GB per bulan. Cukup murah apalagi dengan kecepatan super tinggi.

Namun setelah sebulan habis, paket tersebut berubah. Paketnya pun semakin mini. Kuota internet pun dipangkas. Bonus hanya dipakai malam hari, tidak sepanjang hari pada masa awal promosi. Cek tarif Bolt terbaru di sini. Jangan lupa baca syarat dan ketentuan. Banyak pelanggan melupakan syarat tersebut.

“Kebanyakan pengguna banyak membeli kartu perdana. Setelah habis, buang terus beli kartu perdana lagi. Lebih murah dan efisien. Kuota lebih banyak dan tidak dibatasi waktu,” kata pedagang di Mangga Dua.

Nah, sebagai pengguna tentu harus bijak menggunakan internet. Mau melanggar aturan itu atau lebih menggugat pengurangan layanan serta unlock modem agar tetap bisa dipakai di mana saja.

Untuk yang terakhir, kita juga punya hak memakai layanan internet yang tepat, cepat dan murah. Saat kita punya modem dan ternyata layanan tidak bisa digunakan, lebih baik langsung ganti provider. Itu selama layanan Bolt tidak diubah ke promosi awal. Syaratnya, ya tetap unlock modem itu kalau tidak mau pakai modem lain yang sudah di-unlock.



via didikpurwanto.com

Senin, 04 Mei 2015

Raup Untung Bisnis Vinyl

DSC02925

Buah jatuh tidah jauh dari pohonnya. Itulah pepatah yang menggambarkan perjuangan bisnis Seto Budiman. Kebiasaan orangtua memutar vinyl mendorongnya untuk menggeluti piringan hitam tersebut.

Lelaki kelahiran Jakarta 35 tahun silam ini mengetahui seluk beluk vinyl sejak kecil. Ia pun mengetahui piringan hitam tersebut sejak Taman Kanak-Kanak (TK). “Tapi mulai 1988 sudah mulai langka karena beralih ke kaset. Namun koleksi bapak saya masih ada,” katanya.

Kesukaan mendengarkan musik atau film melalui vinyl juga dilatarbelakangi pamannya yang seorang disk jockey (DJ). Sebagai pemandu musik di sebuah club, tentu koleksi vinyl-nya melimpah.

Dari koleksi pamannya tersebut, ia belajar musik dan mengetahui sejarah vinyl. Koleksinya juga semakin bertambah seiring perjalanan waktu.

Ia juga rajin berburu vinyl ke orang-orang yang ia kenal seperti DJ-DJ lama yang tidak lagi membutuhkan vinyl. Menurut dia, vinyl sudah jarang dipakai akibat tergerus zaman sehingga banyak yang menjual koleksinya.

Dari penelusurannya mencari vinyl, ia bisa mengoleksi vinyl bekas dengan harga relatif lebih murah. Ia membelinya sekitar Rp 3 juta untuk 200 keping. “Biasanya mereka menjual borongan sehingga lebih murah,” katanya.

Sekitar 2007, ia menemukan beberapa teman sehobi yang sekaligus memotivasinya mengembangkan usaha. “Dia sudah jualan duluan, terus ngajakin jualan,” tuturnya.

Ia pun tambah rajin mencari kolektor vinyl, terutama yang mau menjual koleksinya. Ia juga sampai berburu ke website produsen vinyl di Inggris hingga Jepang. Setelah berlangganan lebih dari dua tahunan, ia mendapat tawaran menjadi distributor. “Lumayan. Jadi setiap beli ada diskon khusus. Namun harus ada batasan minimal $ 200-300 per bulan.”

Ia mengeluhkan produksi vinyl belum bisa dilakukan di Indonesia. Kebanyakan musisi membuat vinyl hanya cover-nya saja. Padahal alat untuk memproduksi vinyl di Indonesia ada. Namun bahan bakunya yang harus impor. “Jadi untuk vinyl-nya dikerjakan di Inggris atau Amerika Serikat,” katanya.

Lelaki penggila film ini mulai mencari minat pasar, khususnya mencari selera yang sedang ramai. Mulanya, ia memilih pesanan vinyl berdasarkan chart (tangga lagu) yang sedang berkembang. “Namun akhirnya saya memilih segmented untuk dance musik karena lama-lama di tangga lagu itu kok tidak sesuai dengan kita.”

Namun, plak yang ia jual tidak melulu beraliran musik dansa. Aliran musik pop yang kini digemari pasaran juga ada. Koleksi tertua yang ditunjukkan tertulis bertahun 1962 beraliran blues.

Ia menjual piringan hitam mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 900 ribu per keping. Selain dari tren yang sedang booming, harga berbeda tiap kepingnya dari segi kelangkaan barangnya.

Rata-rata pembeli berasal dari kalangan DJ meski juga ada beberapa dari kolektor. “Kalau ada barang baru kita tawarkan ke mereka (DJ),” ujar pengidola musisi beraliran disko asal Inggris Harvy ini.

Sebulan ia mampu menjual lebih dari 80-an keping vynil. Bila dikalkulasi, omzetnya bisa mencapai Rp 24 juta per bulan.

DSC02928

Lebih Puas Bekerja Lepas

Bekerja dengan orang lain memicunya tak memiliki kepuasan diri. Itulah yang menjadi alasan Seto berwirausaha sesuai hobinya.

Sebelum berwirausaha, lelaki lulusan S1 Administrasi Negara Universitas Atmajaya ini pernah bekerja di salah satu perusahaan ekspor-impor produk hasil laut. Ia juga pernah bekerja di sebuah bioskop.

Menurut dia, pekerjaan yang sejalan dengan kesenangan atau hobi lebih dapat dinikmati. Selain itu, dari segi penghasilan, usahanya berbisnis vinyl juga lumayan lebih besar dari pekerjaan sebelumnya.

Ia pun tak memusingkan terkait usaha yang diambil tak sejalan dengan latar belakang pendidikan yang dia ambil. Baginya, usaha ini memiliki kepuasan tersendiri. Selain tidak harus terikat dengan orang lain, wawasannya juga semakin bertambah.

Ia mengakui, memang bila bekerja dalam sebuah perusahaan akan dijamin dari segi asuransi kesehatan, gaji tiap bulan, dan sebagainya. Namun dengan memiliki usaha sendiri, ia dapat merasakan tantangan  yang bebas dan lepas tanpa tekanan orang lain. “Saya pernah berpikir, berwirausaha itu seperti judi. Bisa untung dan bisa buntung,” katanya.

Namun karena sudah menjadi hobi, ia menjalankan usaha dengan senang hati karena bisa bertukar informasi dengan banyak orang, terutama dengan minat yang sama. “Kalau ada komunitasnya lebih semangat lagi,” katanya.

Selain berbisnis, kesempatan tertentu ia sering mengadakan acara untuk  promosi vinyl, tentu dengan menjadi seorang DJ. “Meski tidak ada les khusus, ya lumayan bisa memainkan ini,” ujarnya.

Profil Usaha:

Nama: Seto Budiman
Ttl: Jakarta, 1 April 1980
Kesenangan: Nonton Film, Mendengarkan Musik
Pendidikan: S1 Jurusan Administrasi Negara Universitas Atmajaya
Status: Anak Tunggal

Media Sosial: Facebook/Twitter: Tokoplak

Pemesanan: tokoplak@gmail.com

Lokasi: Pasar Santa lantai 1 Jakarta Selatan

Kontak: 0818957829



via didikpurwanto.com