Rabu, 23 Januari 2008

Pertama Kali Clubbing di Bali

Malam minggu kemarin aku sengaja datang ke Kuta. Kata teman, ada event di HardRock cafe atau Kamasutra. Setelah aku sms, ga tahunya koq ga ada balasan. Langsung aja aq dan temenku (fotografer) tancap gas ke Kuta dan sekitarnya.

Sekitar jam 11 malam aku berangkat dari rumah. Meski agak lengang, namun kondisi jalan di Legian tetap macet. Maklum malam minggu sih!!

Aq langsung nongkrong bersama teman (kebetulan yang satu gay dan satunya lagi bencong). Klop deh. Aku ikutin pembicaraan mereka. Tapi anehnya aku ga ngerti bahasa mereka. Katanya bahasa percakapan ini khusus dipakai oleh kaum transeksual tersebut. Bahasa tersebut dinamakan bahasa Binan. Kosakatanya hampir sama dengan kamus gaul yang dibuat oleh Debby Sahertian.

Aq yg bosen nunggu mereka berdua ngomong "bahasa planet", langsung cabut ke Kamasutra, tanya ke satpam, ada event ga?? kata satpam sih cuma live band & DJ aja. Waduuuh, aq kecolongan lagi nih, diboongin maksudnya.

Sampe jam 12 malam, temenku (fotografer) asyik memotret kaum transeksual tersebut. Ya aku biarin aja. Lantas kita diajak liputan ke Q Bar di kawasan Seminyak.

Tahu ga ada apa di sana??
Live Show....Lip sing Waria, Striptis Cowok & dugem lainnya.

Temenku yg gay, udah jelatan ngeliat cowok. Sedang yang banci, enjoy aja. Gobloknya, aku koq pake baju berkrah plus jaket. Banyak sih yg pandangin aku, cuek saja. Aku normal2 aja koq.

Kalo ga demi liputan lifestyle, aq ga mau datang ke sana. Ini kan demi profesionalitas kerja. Semakin pagi, semakin panas. Banyak juga yg buka baju (topless). Walaaah (sensor).

Tapi yg bikin aku ngeri, kenapa cowok2 dan cewek2 dengan postur badan OK (menurutku) koq pekerjaan mereka seperti itu. Berani menjual diri (tubuh moleknya) hanya untuk selembar / beberapa lembar uang kertas. Kenapa tidak memikirkan pekerjaan yg halal??

Minggu, 20 Januari 2008

Merawat Anak Sejak Dini di Rumah

Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak sejak kecil. Meski sesibuk apapun kondisi orang tua, pendidikan buah hati langsung dari orang tua akan sangat memengaruhi psikologi dan perkembangan mental anak saat usia dewasa.

Alit Setiari (27) sudah menyadari akan pentingnya sebuah pendidikan anak usia dini. Maka sedari kecil, Putu Cantika Ladysiari (1) yang menjadi putri semata wayangnya langsung diasuh sendiri tanpa bantuan pembantu atau baby sister.

Alit pun tak segan untuk stop dari pekerjaan dan secara penuh mengurus Cantika. Bagi warga asli Denpasar ini mengurus anak langsung dari buaian tangannya akan memberi kepuasan tersendiri dari pada diasuh oleh orang lain. “Saya takut kalau diasuh pembantu, baby sister, bahkan keluarga akan malah salah urus. Mereka kan sering ngobrol dengan tetangga, nanti malah diajari gossip lagi. Mau jadi apa anak saya nanti,” keluhnya yang diberi kewenangan penuh dari suami untuk mengurus putri tunggalnya.

Begitu juga dengan Anom Widiyanti (32) yang merawat Kalyani (2,5) dengan penuh senang hati. Setiap hari saat ada waktu luang, Bu Anom selalu menyempatkan diri meski hanya 15 menit sehari untuk bermain dengan anaknya. “Bermain dengan anak mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur malam sudah wajib saya lakukan demi perkembangan otak dan psikologinya. Hal tersebut akan meningkatkan kemampuan perkembangan syaraf motorik dan sensoriknya,” ujar Ibu satu putri yang menikah tahun 2003 ini.

Bagi yang bingung untuk mengajar anak sejak dini dari rumah sendiri bisa meniru konsep dari tempat penitipan anak atau baby school. Biasanya tempat tersebut memberikan program khusus bagi anak usia dini untuk memerolah pendidikan sesuai usianya.

Lanjut Anom, dalam usia dini (usia 0 hingga 5 tahun), balita sudah dapat menerima 93 jenis kemampuan dasar yang dapat dikelompokkan menjadi 10 kelompok. Ketrampilan dan konsep dasar tersebut adalah ketrampilan visual, mendengar dan konsentrasi, bahasa dan membaca, matematika dasar, manipulatif (motorik halus dan kasar), menolong diri sendiri, pengembangan, social dan emosi, posisi dan arah, warna, tekstur bahkan waktu.

Ketrampilan tersebut menjadi konsep dasar bagi pendidikan anak usia dini (PAUD) yang harus dikuasai oleh orang tua baik yang sebelum menikah maupun setelah menikah. Banyak pasangan di Indonesia yang sama sekali mengabaikan konsep dasar tersebut. “Orang tua yang tidak memedulikan pendidikan anak secara pribadi akan berdampak pada psikologis dan perkembangan mental yang buruk di usia dewasanya,” jelas Anom yang memiliki Kalyani Baby School di jl. Kusuma Bangsa II/19 Denpasar.

Konsep yang disebut Early Learning Program (ELP) atau Cakrawala Pengetahuan Dasar (CPD) ini juga harus dilakukan bagi orang tua yang super sibuk. Tidak ada toleransi bagi professional untuk mengabaikan pendidikan anak dan lantas memberikan hak asuh pada pembantu, baby sister, keluarga bahkan tetangga. “Orang tua paling mengerti kebutuhan anak. Kalau sampai terjadi salah urus, yang paling disalahkan adalah yang mengurusnya. Orang tua harus sangat mengerti dalam memberikan sesuatu kepada anaknya, terutama masalah pendidikan. Hitam putih anak kan tergantung dari siapa pendidiknya,” lanjut Anom.

Anom juga mencontohkan, seorang Presiden Amerika sekelas Bill Clinton pun juga memberikan waktu luang di tengah kesibukannya mengurus negara untuk anak tercintanya. “Beliau menyempatkan waktu untuk membacakan cerita sebelum tidur pada anaknya,” ucap Anom yang sangat sedih terhadap budaya baca dongeng kepada anak yang mulai hilang kini.

Cara efektif untuk memberikan pengetahuan kepada anak adalah melalui buku. Konsep visual seperti alam, geografi, tubuh manusia, matematika, warna, alphabet, budi pekerti dan lain-lain bisa diberikan kepada anak sampai usia 12 tahun. Konsep tersebut juga bisa dipadukan dengan konsep audio visual baik melalui kaset, video maupun televisi. “Pemberian informasi melalui televisi hanya boleh dilakukan maksimal 2 jam per hari dan harus ditemani. Jika lebih banyak menonton, konsentrasi anak akan terganggu mulai usia 8 tahun ke atas,” tambahnya.

Buku, media audio, visual dan audio visual hanya menjadi sarana agar tumbuh kembang anak makin pesat. Untuk makin memaksimalkan otak di masa usianya, perlu juga bagi orang tua untuk mengajak rekreasi ke tempat yang memiliki nilai edukasi tinggi. Seperti ke kebun binatang, museum, taman budaya dan lain-lain. “Jangan biasakan anak pergi ke mall. Hal tersebut akan mengeset pikirannya menjadi perilaku konsumtif kelak ketika dewasa,” kata Anom yang memberikan tema Parents Know How ini.

Beda dengan Anom maupun Alit, Shifu Yonathan Purnomo (44) malah melarang anak didiknya dicekoki pelajaran apapun saat usia dini. Menurut penemu konsep Shuang Guan Qi Xia (SGQX) yang memadukan kemampuan otak kanan dan otak kiri ini saat anak usia dini harus diberikan lebih banyak waktu untuk bermain. “Semakin banyak waktu untuk bermain, berkeringat dan tidak merasa capek walau bermain seharian maka akan semakin bagus bagi perkembangan otak di masa dewasanya,” kata Shifu yang melakukan launching buku Rahasia Kecerdasan Otak di Toko Buku Gramedia Duta Plaza, Minggu (20/1).

Semakin banyak aktivitas bermain anak akan memberikan dampak bagi zat Meilin (zat daya ingat yang ada dalam otak) untuk terus berproduksi dan memberikan kecerdasan bagi anak di masa dewasanya. Zat yang hanya berproduksi hingga usia 12 tahun ini akan memberikan daya ingat dan memaksimalkan kemampuan otak dalam melakukan apapun hingga usia 100 tahun. “Hal inilah yang menyebabkan otak orang asing lebih cerdas daripada orang Asia (secara umum, terutama Indonesia). Karena orang asing cenderung memberi keleluasaan bagi anak untuk bermain sepuasnya tanpa memerhitungkan capek atau tidaknya,” tambahnya.

Sabtu, 19 Januari 2008

Salsa Tari Seksi Bukan Kemayu

Bagi orang awam, tari Salsa terkesan kemayu bila dilakukan oleh wanita apalagi pria. Namun di negeri asalnya, Amerika Latin, Salsa malah disebut tarian seksi. Bukan hanya bagi wanita saja, namun sebutan itu juga bagi kaum pria.

Bagi pelatih Salsa, Ni Komang Yuli Rahayu (30) asal Denpasar ini mengatakan bahwa tarian Salsa sangat familiar di kalangan generasi muda. Tarian ini menggabungkan tempo lagu, jiwa dan tubuh dalam gerakan santai namun energetik.

Dalam perjalanan karir Yuli di bidang tari, tarian Salsa ditekuninya selama lima tahun. Berawal dari hobi menari yang dipaksakan oleh ibundanya, sejak SD hingga SMP Yuli masih menggeluti dunia tari terutama tari tradisional dan tari modern. Darah seni ini mengalir kuat ke sanubari Yuli karena ibu dan ayahnya juga berjiwa seni. Orang tua yang ada di Denpasar ini dahulu berprofesi sebagai penari desa. Meski gaji yang tidak mencukupi selama menjadi penari desa, keluarga ini tetap setia melestarikan kesenian tradisional warisan nenek moyang.

Selepas SMP, wanita kelahiran 31 Juli 1978 ini malah banting stir menjadi atlit lari. Sempat menerima prestasi di bidang atletik, lantas orang tua pun tidak menukai hobi anak wanitanya ini. “Biar tidak terkesan cowok, kamu latihan tari saja seperti dulu,” ujar Yuli yang menirukan ucapan ibunya.

Salsa juga memiliki gaya beragam dalam penyajiannya. Di antaranya Los Angeles Style (LA Style) yang menunjukkan kombinasi satu garis akrobatik sesama penari Salsa. Cuba Style cenderung memberi kesan harus ada putaran dalam gerakan penari. Dan Colombia Style lebih mengungkapkan gerakan maju mundur. Dalam dunia kompetisi Salsa, LA Style dan Cuba Style sering dipakai.

Dalam teknik, Salsa terbagi menjadi basic (dasar), intermediate (menengah) dan advance (lanjut). Teknik dasar hanya mengajarkan langkah maju mundur dan teknik memutar. Teknik menengah mengajarkan kombinasi gerakan dengan musik. Dan teknik lanjut menekankan improvisasi bagi Salsa Lovers untuk menunjukkan kreasinya. “Cowok sangat memegang peranan dalam Tari Salsa ini. Saat tangan kanan ditarik berarti kaki juga harus melangkah. Begitu pula dengan tangan kiri cowok yang memegang pinggang cewek berarti harus ada teknik memutar atau bahkan kaki diayunkan ke belakang,” jelas Yuli.

Ketekunan berlatih selama lima tahun itupun membuahkan hasil. Juara I Salsa Change Partner di Jakarta (2004), Juara I Salsa Open Instructure di Jakarta (2004), dan juara I Salsa tingkat ASEAN di Singapura (2007) pun disabet oleh putri Denpasar ini.

Karena dalam tari Salsa tiap tahun ada perubahan, Yuli bersama Salsa Lovers juga terus menambah dan mengasah kemampuan tariannya. Salah satunya dengan terus berlatih dan saling tukar menukar informasi dari Salsa Lovers di luar negeri melalui video.

Usia juga ada batasnya. Begitu juga bagi Yuli yang akan pension dini di dunia tari saat usianya menginjak 35 tahun. Saat ini, suami dari Koming Masdiasa yang menjadi vokalis Dewata Band ini telah mendirikan sekolah Salsa bernama R&B Studio yang ada di jalan Kediri 41 Tuban Kuta. Salsa Lovers bisa memerolah pelatihan kelas maupun privat di hari Selasa hingga Minggu pukul 10 pagi hingga lima sore. Tarif yang diberlakukan adalah Rp 30.000 /orang per jam untuk kelas. Dan Rp 700.000 untuk enam kali pertemuan satu jam sehari bagi yang menginginkan privasi. “Saya harus digantikan oleh penari muda yang lebih energetik untuk melanjutkan tongkat estafet penari Salsa,” katanya.

Senada dengan Yuli, bagi Dewa Nyoman Kandel Eka Putra (26) yang sering menjadi partner Yuli dalam berkompetisi di dunia Salsa ini justru menganggap penari Salsa adalah orang yang seksi. “Tak hanya wanita saja yang seksi tapi pria penari Salsa juga bisa dibilang seksi,” ucap Dewa yang baru dua tahun menyelami dunia Salsa.

Dari keisengan main ke klub dan bar Salsa, cowok asal Batuan Gianyar ini malah keranjingan dengan dunia Salsa. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh kesukaan Dewa dalam menari tradisional sejak masih kecil. “Tari Salsa itu tidak cuma menari saja. Sangat diperlukan kekompakan antar penari meski hanya dengan tatapan mata,” jelas Dewa yang menyandang status mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Semester akhir di Universitas Udayana ini.

Lanjutnya, di dunia hiburan semisal Salsa ini tak cuma fun yang ingin dicari. Tari Salsa juga sangat menambah pengetahuan dan menambah pergaulan serta relasi. Cowok kelahiran 29 Mei 1982 tersebut malah sudah menyabet juara I Salsa Ballroom IODI (Ikatan Organisasi Dansa Indonesia) di Yogyakarta (2006) berpasangan dengan Yuli. Begitu pula prestasi luar biasa di mata ASEAN di Singapura yang juga ditoreh bersama Yuli. “Ke depan aku ingin menjalani apa adanya saja dulu. Tari ya, jadi dokter hewan juga ya. Apalagi menyanyi,” canda Dewa yang pernah menjadi enam besar kompetisi Bintang Radio dan Televisi 2006 di stasiun televisi lokal Bali ini.

Di Bali khususnya di Sector Bar dan Restoran cuma ada empat instruktur yaitu Yuli, Dewa, Franky dan Heni. Begitu juga dengan suhu (guru instruktur) yang cuma ada tiga yaitu Yuli, Made Alfa dan made Beta. Jika ingin melihat profil Yuli bisa dilihat pada website www.julisalsa.com.

Selasa, 15 Januari 2008


Siapa sangka tarian Salsa terinspirasi dari permainan casino. Permainan judi asal Las Vegas Amerika Serikat ini ternyata juga digemari oleh warga Amerika Latin, tempat asal tarian Salsa.

Menurut Grace Jeanie, PR Manajer Sector Bar dan Restoran Sanur mengungkapkan bahwa Rueda de Casino berasal dari bahasa Spanyol. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut harus dibalik menjadi Casino Rueda.

Rueda de Casino bermula dari Kuba pada pertengahan abad ke-20 dan menginspirasi pada jenis tarian yang ada di Miami dan diseluruh dunia kini. Di Kuba, tarian tersebut dimainkan oleh banyak orang di sebuah gedung yang bernama Casino. “Menurut sejarahnya, Rueda de Casino berawal di Santiago, Kuba. Ada yang mengatakan berasal dari Casino Deportivo di Havana atau pun Casino de La Playa. Memang masih menjadi perdebatan soal awal mula tarian Rueda de Casino tersebut,” ujar Jeanie.

Meski gedung Casino tersebut telah ditutup, masih banyak orang menikmati tarian yang muncul pertama kali ada di gedung ini. Dengan memakai nama yang sama “Casino”, orang Amerika Latin terus menggunakan nama tarian mereka sesuai dengan nama gedung yang telah ditutup ini sampai sekarang. “Kini banyak yang mengatakan musiknya Salsa dan tarinya Casino,” tambahnya.

Dalam pesta Salsa yang diadakan setiap Kamis malam (17/1) di Sector Bar dan Restoran Sanur tersebut, Salsa Lovers sangat menikmati alunan musik khas Salsa dari Luz de Luna band, DJ Lepoo dan bimbingan instruktur dari R&B  Production.

Tak hanya kaum muda, kakek dan nenek pun juga tampak menikmati tarian Salsa atau yang bernama awal Rueda de Casino ini. Nama tersebut sengaja diciptakan dan menjadi tema pada pesta Salsa yang turut menyemarakkan kemeriahan tahun baru 2008.

Bagi Yuli (30) yang menjadi instruktur Salsa di Bar kawasan Bali Beach Golf Course Sanur ini mengatakan cukup gembira. Meski wanita yang pernah menyabet juara I Salsa tingkat ASEAN di Singapura tahun kemarin ini tidak turun panggung, antusias Salsa Lovers (sapaan kepada pecinta tari Salsa) cukup beragam. “Awalnya masih jaim, tapi setelah kita dekati lama-lama mau juga. Salsa ini mengedepankan tarian berkelompok, membuat fun, energetic dan membuat jalinan kebersamaan main akrab,” ungkap Yuli.

Tarian Casino adalah cabang dari tarian Danzon yang berasal dari campuran tarian Afrika- Kuba seperti tarian Guaguanco dan  The Mambo. Iramanya ditemukan oleh Cachao di Klub Tropicana Havana tahun 1943 dan dipopulerkan oleh Perez Prado di Mexico serta tarian Cha Cha Cha ditemukan oleh Enrique Jorrin.

Rueda (biasa disebut di Kuba) adalah bentuk tarian Casino yang berbentuk melingkar dengan dua pasangan atau lebih. Pasangan ini saling tukar  saat salah satu penari menyebut Rueda dan Casino. Rueda dalam bahasa Spanyol berarti roda dan Casino yang diketahui di luar Kuba berarti Salsa.

Rabu, 02 Januari 2008