JIKA Anda hobi berpetualang,komunitas ini sanggup menuntaskan dahaga
untuk berkeliling gunung,gua,sungai,dan menaklukkan tantangan alam
lainnya. Tidak hanya itu,jutaan teman dengan hobi yang sama juga siap
menebar rasa kebersamaan sebagai pelengkap sukaduka kehidupan. Banyak
sekali komunitas petualang di dunia maya ataupun yang bersifat
offline.Salah satunya adalah komunitas Gabungan Pencinta dan Penggiat
Alam Terbuka(Gappala).
Sebenarnya, komunitas ini sudah terbentuk sejak 1991 yang dikomandani
Yanweka dan empat orang kawannya. Hanya, kegiatan baru dilakukan sebatas
pertemuan langsung. Di awal 2008,komunitas ini sempat terpecah menjadi
dua, yaitu yang bersifat memberikan informasi saja (www.- gappala.or.id)
dan komunitas (www.gappala.com). Hingga saat ini, Gappala masih aktif
dengan anggota fanatik masing- masing.
Di tahun yang sama, seiring dengan adanya akses internet yang kian
mudah, komunitas ini (gappala. com) mampumenjaringjumlah anggota yang
lebih banyak. Tercatat ada 1.112 anggota Gappala yang bergabung lewat
milisdansekitar300orangyang aktif melakukan kegiatan secara langsung di
lapangan.
Tak melulu soal adventure, komunitas Gappala atau akrab disebut Gappala
Adventures Community juga memiliki variasi kegiatan yang beda dengan
komunitas lain.Di antaranya adalah mendaki gunung, susur gua (caving),
panjat tebing, arung jeram (rafting), navigasi, hingga fotografi dan
baktisosial.
Bahkan,yanglebih menantang, kita akan mengetahui sifat masing-masing
anggota saat pendakian.Tak ketinggalan bakal diajarkan pula strategi
mempertahankan diri (dari makanan dan binatang buas), strategi membawa
barang bawaan (carrier), dan strategi berkelompok.
”Kami menekankan rasa kebersamaan di setiap kegiatan yang langsung
dikelola oleh masing-masing humas wilayah.Variasi kegiatan itu biasanya
muncul dari masingmasing anggota dan langsung di-follow up di website,”
kata Yanweka,salah seorang koordinator Gappala Adventures Community.
Untuk menghindari senioritas, Om Yan,sapaan akrabnya, hanya membuat
sistem koordinasi di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, dan Bali.
Tugas para koordinator wilayah hanya memonitor kegiatan masing-masing
humas di wilayah itu. Kegiatan travelling Gappala rupanya tak hanya
menarik minat para pelajar, juga karyawan swasta yang notabene sudah
memiliki kecukupan dana untuk bisa berlibur ke luar kota.
Bahkan,mayoritas anggota komunitas ini adalah para karyawan swasta itu.
”Segala kegiatan diusulkan dan disetujui oleh anggota. Masalah dana pun
akan ditanggung bersama. Bahkan, jika sampai ada anggota yang ingin ikut
tapi dananya terbatas, akan dicoba untuk dicarikan solusinya bersama.
Intinya bagaimana kami bisa menjalani suka dan duka bersama-sama,”
timpal Aal Arsya Alamsyah, humas Gappala wilayah Jakarta.
Di Jakarta sendiri,Gappala Adventures Community mematok target untuk
kopi darat satu bulan sekali di Pasar Festival, Jakarta Selatan.
Tepatnya tiap minggu pertama setiap bulannya. Sedangkan di level tiga
bulanan bakal diusahakan agar dilakukan kopi darat bersama semua
wilayah.
Pada Desember mendatang, Gappala Adventures Community dijadwalkan
melakukan kopi darat di Jawa Timur. Yang seru, kalau biasanya anak muda
zaman sekarang kerap apel ke rumah pacar tiap malam minggu,komunitas ini
tak mau ketinggalan dengan menggelar acara nyaris serupa. Hanya,
kegiatannya adalah chatting di dunia maya mulai pukul 19.00 WIB.
Gappala Adventures Community juga memberlakukan aturan ketat bagi tiap
anggotanya. Meski terkadang aneh,namun hal kecil itu cukup mempengaruhi
kondisi alam sekitar. Hal-hal kecil yang sifatnya merusak itu antara
lain suka membuang sisa makanan di area pendakian,suka menebang ranting
atau dahan seenaknya, bahkan suka memetik bunga edelweis. Ini yang
dilarang keras oleh Gappala.
Menurut Aal, mahasiswa jurusan Akuntansi semester lima Universitas Tama
Jagakarsa, Jakarta Selatan, orang yang mendaki gunung belum tentu
pencinta alam. Orang yang mencintai alam seharusnya tidak merusak
ekosistem yang ada, meski itu hanya memetik bunga edelweis.
Terpeleset, Pingsan, hingga Bertemu Pocong
NAMANYA saja kegiatan petualangan bersama alam, tentu akan banyak
ditemukan pengalaman seru, menggelitik, lucu,ataupun mengharukan. Ade
Siti Fatimah, karyawati di sebuah travel agent di Jakarta misalnya.
Ia mengaku pernah pingsan saat mendaki Gunung Semeru di Jawa
Timur.Sebenarnya gadis jombloasli Jakarta ini sudah satu tahun
mengidam-idamkan untuk bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Keinginan tersebut kerap kali tertunda lantaran status Semeru kadang
aktif dan kadang mati. Lantas, bersama empat temannya, mahasiswi
Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Manajemen Transportasi Angkutan
Udara yang telah bergabung selama dua tahun di Gappala Adventures
Community ini nekat mendaki Semeru.
Berhubung satu orang rekannya keseleo dan tak bisa ikut pendakian,Ade
menitipkan tas ransel berisi bekal makanan kepada sang rekan, dengan
alasan agar dirinya dapat lebih cepat sampai ke puncak Semeru karena
tidak memanggul beban.Namun, 100 meter menjelang puncak, badan Ade malah
lemas dan akhirnya jatuh pingsan.
”Saya sempat dipapah selama sembilan jam untuk turun ke
bawah.Padahal,saya hanya kurang 100 meter lagi untuk sampai
puncak.Namun, mau bagaimana lagi? Badan saya sudah tidak kuat. Sempat
pula ada teman yang berbahasa Jawa nyeletuk,saya dianggap terlalu egois
dan nekat,terlalu memaksakan diri untuk naik padahal tanpa persiapan
makanan.Apalagi saat itu saya sedang datang bulan,”cerita Ade, yang
masih terobsesi untuk naik kembali ke puncak Semeru.
Cerita berbeda datang dari Yanweka.Tahun 2000, saat pendakian ke Gunung
Sumbing, Jawa Tengah, bapak satu anak ini sempat terpeleset ke tebing
hingga tiga meter. Waktu itu Yanweka sedang mendirikan tenda dan harus
menarik tali di masing-masing sudutnya agar tenda tegak. Namun
nahas,salah seorang temannya melepaskan tali dan Yanweka harus terpental
ke tebing.
Awalnya tidak terasa sakit apa-apa.Namun,saat perjalanan pulang hingga
tiba di rumah, kondisi fisiknya malah semakin menurun. Setelah dicek di
UGD rumah sakit, ternyata Yanweka mengalami infeksi pada lambung.
Sebagai bentuk solidaritas, seluruh teman dari komunitas datang
menjenguknya.
”Saya tidak terobsesi untuk naik gunung tertinggi, tapi bagaimana
menikmati alam di sekitar gunung yang kita daki,”ujar Yanweka,yang masih
terpesona akan keindahan panorama Gunung Cikurai,Lawu,dan Merbabu.
Kejadian paling aneh ditemui oleh Aal Arsya. Humas Gappala Adventures
Community wilayah Jakarta ini harus menerima kedatangan makhluk halus
saat pendakian ke Gunung Ciremai,Jawa Barat,awal tahun lalu.
Memang saat pendakian terjadi hujan lebat dan para pendaki harus membuat
tenda.Saat sedang ganti pakaian di dalam tenda sembari iseng
memperhatikan hutan sekeliling, pria Betawi ini melihat pocong.Aal
sempat menyampaikan ihwal keberadaan makhluk halus itu kepada seorang
teman, namun sang teman mengaku tidak melihatnya.
”Karena berada di alam bebas, kita akan melihat berbagai hal, termasuk
makhluk halus.Namun, saat ditemui oleh mereka, biasakan untuk tidak
panik, histeris, dan berpikir positif saja.Yang penting adalah
berdoa,”pungkas Aal,yang mengaku takut juga pada lintah.(didik purwanto)
SOURCE:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/180954/
cek juga di :
http://yanweka.wordpress.com/2009/08/05/berpetualang-sambil-membangun-pertemanan/