Tampilkan postingan dengan label Travel Wafel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Wafel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Menang Lomba Tulisan dari Toshiba

Toshiba meluncurkan lima seri televisi LCD Regza Power Booster 20 (PB20) dan Power Saver 20 (PS20) di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (9/2/2012)
Saat liputan, aku sempat kaget saat menerima email pemberitahuan bahwa aku menjadi salah satu pemenang lomba tulisan Toshiba.

Memang, panitia lomba sempat mengingatkan bahwa aku harus mengirimkan tulisan untuk diikutkan dalam lomba tersebut. Aku mengirim dua tulisan.

Yang pertama, berjudul "Toshiba Kenalkan 5 Televisi Baru Seri "Power" dan yang kedua "Aturan Belum Jelas, TV Digital Enggan Diproduksi".

Namun yang berhasil memenangkan lomba tersebut adalah tulisan yang pertama.

Memang aku tidak terlalu mengharapkan kemenangan lomba tersebut. Hal itu disebabkan hadiah lombanya cukup aneh, berkunjung ke pabrik Toshiba di Cikarang dan wisata kuliner di Jakarta.

Pas semua pemenang lomba dikumpulkan di Jakarta, aku pun tidak bisa ikut. Saat itu, aku memang sedang liputan seharian dan tidak bisa mengikuti wisata kuliner di Jakarta yang dijanjikan sebelumnya.

Panitia lomba menjanjikan ada wisata kuliner ke kota tua hingga ke Sabang dan berakhir menginap di Hotel Amaris Mampang.

Karena masih ada kursus diving, aku baru mengambil jatah tidur di hotel tersebut malam harinya, sekitar pukul 11 malam. Terpaksa, aku harus membangunkan teman kamarku di room 909, Michael dari Majalah Gadget.

Esoknya, seluruh pemenang lomba diajak ke pabrik Toshiba di Cikarang. Ternyata, wartawan lain juga diajak ke sana. Hmmm..berarti hadiahnya tidak spesial donk? hehe..

Ya sudah lah, yang penting menjadi salah satu pemenang lomba..

Lomba ini mengingatkan aku saat aku menjadi wartawan Seputar Indonesia (Sindo) dulu. Saat itu, aku juga menang lomba tulisan dan mendapat DVD Player Toshiba yang masih aku pakai sampai sekarang. Semoga menang lomba lagi di kegiatan selanjutnya.

Rabu, 12 Januari 2011

10 Tempat Terunik di Jakarta

Banyak juga lo objek wisata di ibukota yang patut dikunjungi. Selain bisa melepas stres, obyek ini bisa menambah pengetahuan, cuci mata sampe kenyangin perut.

10. Stasiun Tanjung Priok
Stasiun yang berada di dekat Tanjung Priok ini berasitektur Eropa. Hanggarnya gede dan merupakan peninggalan Belanda. Sempat vakum tidak terawat, stasiun ini mulai diperbaharui dan melayani jalur ke Bekasi hingga Surabaya

9. Taman Surapati
Masa kagak tahu sih? Taman ini juga merupakan taman yang sudah ada sejak jaman Belanda menjajah Indonesia. Uniknya, sekarang sudah dipoles dan lebih tertata. Kalau pas malam minggu / minggu, biasanya ada les piano. Romantis..bisa buat cuci mata sembari jalan kaki muter taman

8. Teater Salihara
Awalnya Salihara merupakan nama jalan di daerah Pasar Minggu. Kemudian komunitas sempalan Utan Kayu ini membentuk komunitas di sekitar jalan tersebut. Terjadilah pagelaran teater, film hingga diskusi bertaraf internasional. Tiketnya murah meriah lo..

7. Teater 4D Ancol
Walau tiketnya agak mahal, rasanya belum lengkap kalo ke Jakarta tanpa singgah ke tempat ini. Salah satu wahananya adalah teater 4D dengan kursi yg bisa goyang, merasakan hembusan angin hingga kecipratan air. Dijamin!!

6. Angkringan Fatmawati
Buat yang hobi makan dan ingin nostalgia ala Jogja, di sinilah tempatnya. Murah meriah euyyy..

5. Pasar Kue Shubuh Senen
Bagi yang seneng ama kue tradisional ampe kue ulang tahun yang murah, bisa beli di sekitar Pasar Senen. Pasar ini juga sudah ada sejak jaman Belanda,lo? Bukanya mulai jam9 malam ampe shubuh. Kalau mau miniatur Indonesia dalam bentuk kue, bisa cicipin ke tempat ini

4. SDN 01 Menteng
Sejak Barack Obama menjadi Presiden Amerika, sekolah ini langsung ngetop. Sudah tahu kan? Obama kan pernah sekolah di sini selama 4 tahun. Patung Obama yang ada di Taman Menteng pun akhirnya ditaruh di halaman sekolah tersebut. Bagaimana serunya kalo Obama balik lagi ke sini Maret mendatang ya? Pulang kampung deh..ingat ama nasi goreng ama bakso :)

3. Pasar Bunga Rawa Belong
Pada tahun 50-an, tempat ini sepi sekali. Yang ada cuma hamparan sawah. Lalu pada 1974, tempat ini berkembang menjadi tempat jualan bunga. Jangan salah, omset jualan bunga dalam sebulan bisa mencapai Rp3-6 miliar. Wow!! Yang mau kasih pacar dengan sekuntum bunga, bisa mampir ke tempat ini

2. Setu Babakan
Yeeee..inilah warisan kampung Betawi yang dilestarikan oleh Pemkot Jakarta. Di sini kita bisa menikmati budaya hingga makanan Betawi. Kalau sempat, kalian bisa latihan pencak silat Betawi hingga menikmati buah langka seperti gandaria, mengkudu hingga kenari

1. Pulau Tidung Kepulauan Seribu
Memang tempatnya agak jauh. Tapi jika ingin melepas penat dengan keriuhan ibukota, di sinilah tempatnya. Untuk ke sini, bisa berangkat dari Muara Angke. Tarifnya Rp35ribu naik kapal. Di sini ada pulau besar dan pulau kecil. Trus apa yang bisa dilakukan di sini? Kalian bisa naik sepeda hingga melewati jembatan yang menghubungkan dua pulau itu. Tarif sewa sepeda cuma Rp10 ribu seharian penuh

Nah, udah ke tempat yang gw sebutin td belum?? Come on guyz..Kenali Indonesia Kenali Obyek Wisatanya..

Ini mah cuma secuil aja, kalo ada yang tahu lainnya mohon dishare juga ya..

Minggu, 22 November 2009

Ada Jepang di Indonesia


Irasshaimase...Selamat datang

Tak harus pergi ke Jepang untuk bisa menikmati budaya negeri matahari terbit itu. Selama hampir seminggu di awal November kemarin, ada Festival Indonesia Japan Expo di Arena PRJ Kemayoran Jakarta. Yah, walau belum bisa menikmati semua arena, maklum hari terakhir, tapi setidaknya aku bisa merasakan aura Jepang itu di Indonesia.

Acara yang digelar untuk memeringati 50 tahun kerjasama Indonesia-Jepang itu digelar dengan beragam acara. Mulai dari pagelaran seni dua negara, cosplay, pameran industri Jepang (otomotif dan manufaktur), makanan, teh Jepang (cha), demo ikebana, kimono, shinkansen dan lain-lain. Pokoknya worthed banget.

Festival Costume Play (cosplay) merebut pasar remaja yang gandrung dengan tokoh anime Jepang.
Dapat durian runtuhhhh...

Obake (rumah hantu Jepang), belum tahu isinya sih. Karena waktu mau nonton, antriannya kayak ular (hampir 1/2 km lebih). Capek deh!!

Pena Emas, Inspirasi Cerdas...Sesuai ama motto Panasonic, Ideas For Life
Bukannya gw ga setia ama almamater sendiri (SINDO) tapi narsis di depan koran pesaing, boleh kan?
Sakura ala Indonesia (bunga plastik maksudnya)

Omikuji (kayak permintaan pada selembar kertas) lantas digantungkan pada sebuah pohon kecil. Acara ini biasanya ada pada festival Bon Odori atau Nihon Matsuri (perayaan musim panas khas Jepang) gitu..

Oh ya, bisa baca tulisan itu? kira-kira bunyinya Nihon ni ikitai yo (Ingin pergi ke Jepang)....Kalo menurutku partikel "ni" setelah Nihon kurang tepat, karena artinya "di", menurutku lebih tepat pake "e" artinya "ke". Watashi mo nihon e ikitai yo... (Saya juga ingin pergi ke Jepang)



Mainan masa kecil ama Doraemon..


Acara di Japan Foundation Sudirman, menikmati es dari kutub selatan!!segerrrrr...oh y, bongkahan batu es -nya bisa bunyi seperti "ssssssss" gt deh!! kodomo (anak-anak Jepang) ini begitu antusias dan berebutan ingin memegang dan meminumnya!!

Dingin yaaa...

Rabu, 05 Agustus 2009

Berpetualang Sambil Membangun Pertemanan

JIKA Anda hobi berpetualang,komunitas ini sanggup menuntaskan dahaga untuk berkeliling gunung,gua,sungai,dan menaklukkan tantangan alam lainnya. Tidak hanya itu,jutaan teman dengan hobi yang sama juga siap menebar rasa kebersamaan sebagai pelengkap sukaduka kehidupan. Banyak sekali komunitas petualang di dunia maya ataupun yang bersifat offline.Salah satunya adalah komunitas Gabungan Pencinta dan Penggiat Alam Terbuka(Gappala).



Sebenarnya, komunitas ini sudah terbentuk sejak 1991 yang dikomandani Yanweka dan empat orang kawannya. Hanya, kegiatan baru dilakukan sebatas pertemuan langsung. Di awal 2008,komunitas ini sempat terpecah menjadi dua, yaitu yang bersifat memberikan informasi saja (www.- gappala.or.id) dan komunitas (www.gappala.com). Hingga saat ini, Gappala masih aktif dengan anggota fanatik masing- masing.

Di tahun yang sama, seiring dengan adanya akses internet yang kian mudah, komunitas ini (gappala. com) mampumenjaringjumlah anggota yang lebih banyak. Tercatat ada 1.112 anggota Gappala yang bergabung lewat milisdansekitar300orangyang aktif melakukan kegiatan secara langsung di lapangan.

Tak melulu soal adventure, komunitas Gappala atau akrab disebut Gappala Adventures Community juga memiliki variasi kegiatan yang beda dengan komunitas lain.Di antaranya adalah mendaki gunung, susur gua (caving), panjat tebing, arung jeram (rafting), navigasi, hingga fotografi dan baktisosial.

Bahkan,yanglebih menantang, kita akan mengetahui sifat masing-masing anggota saat pendakian.Tak ketinggalan bakal diajarkan pula strategi mempertahankan diri (dari makanan dan binatang buas), strategi membawa barang bawaan (carrier), dan strategi berkelompok.

”Kami menekankan rasa kebersamaan di setiap kegiatan yang langsung dikelola oleh masing-masing humas wilayah.Variasi kegiatan itu biasanya muncul dari masingmasing anggota dan langsung di-follow up di website,” kata Yanweka,salah seorang koordinator Gappala Adventures Community.

Untuk menghindari senioritas, Om Yan,sapaan akrabnya, hanya membuat sistem koordinasi di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, dan Bali. Tugas para koordinator wilayah hanya memonitor kegiatan masing-masing humas di wilayah itu. Kegiatan travelling Gappala rupanya tak hanya menarik minat para pelajar, juga karyawan swasta yang notabene sudah memiliki kecukupan dana untuk bisa berlibur ke luar kota.

Bahkan,mayoritas anggota komunitas ini adalah para karyawan swasta itu. ”Segala kegiatan diusulkan dan disetujui oleh anggota. Masalah dana pun akan ditanggung bersama. Bahkan, jika sampai ada anggota yang ingin ikut tapi dananya terbatas, akan dicoba untuk dicarikan solusinya bersama. Intinya bagaimana kami bisa menjalani suka dan duka bersama-sama,” timpal Aal Arsya Alamsyah, humas Gappala wilayah Jakarta.

Di Jakarta sendiri,Gappala Adventures Community mematok target untuk kopi darat satu bulan sekali di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Tepatnya tiap minggu pertama setiap bulannya. Sedangkan di level tiga bulanan bakal diusahakan agar dilakukan kopi darat bersama semua wilayah.

Pada Desember mendatang, Gappala Adventures Community dijadwalkan melakukan kopi darat di Jawa Timur. Yang seru, kalau biasanya anak muda zaman sekarang kerap apel ke rumah pacar tiap malam minggu,komunitas ini tak mau ketinggalan dengan menggelar acara nyaris serupa. Hanya, kegiatannya adalah chatting di dunia maya mulai pukul 19.00 WIB.

Gappala Adventures Community juga memberlakukan aturan ketat bagi tiap anggotanya. Meski terkadang aneh,namun hal kecil itu cukup mempengaruhi kondisi alam sekitar. Hal-hal kecil yang sifatnya merusak itu antara lain suka membuang sisa makanan di area pendakian,suka menebang ranting atau dahan seenaknya, bahkan suka memetik bunga edelweis. Ini yang dilarang keras oleh Gappala.

Menurut Aal, mahasiswa jurusan Akuntansi semester lima Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan, orang yang mendaki gunung belum tentu pencinta alam. Orang yang mencintai alam seharusnya tidak merusak ekosistem yang ada, meski itu hanya memetik bunga edelweis.

Terpeleset, Pingsan, hingga Bertemu Pocong

NAMANYA saja kegiatan petualangan bersama alam, tentu akan banyak ditemukan pengalaman seru, menggelitik, lucu,ataupun mengharukan. Ade Siti Fatimah, karyawati di sebuah travel agent di Jakarta misalnya.

Ia mengaku pernah pingsan saat mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur.Sebenarnya gadis jombloasli Jakarta ini sudah satu tahun mengidam-idamkan untuk bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Keinginan tersebut kerap kali tertunda lantaran status Semeru kadang aktif dan kadang mati. Lantas, bersama empat temannya, mahasiswi Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Manajemen Transportasi Angkutan Udara yang telah bergabung selama dua tahun di Gappala Adventures Community ini nekat mendaki Semeru.

Berhubung satu orang rekannya keseleo dan tak bisa ikut pendakian,Ade menitipkan tas ransel berisi bekal makanan kepada sang rekan, dengan alasan agar dirinya dapat lebih cepat sampai ke puncak Semeru karena tidak memanggul beban.Namun, 100 meter menjelang puncak, badan Ade malah lemas dan akhirnya jatuh pingsan.

”Saya sempat dipapah selama sembilan jam untuk turun ke bawah.Padahal,saya hanya kurang 100 meter lagi untuk sampai puncak.Namun, mau bagaimana lagi? Badan saya sudah tidak kuat. Sempat pula ada teman yang berbahasa Jawa nyeletuk,saya dianggap terlalu egois dan nekat,terlalu memaksakan diri untuk naik padahal tanpa persiapan makanan.Apalagi saat itu saya sedang datang bulan,”cerita Ade, yang masih terobsesi untuk naik kembali ke puncak Semeru.

Cerita berbeda datang dari Yanweka.Tahun 2000, saat pendakian ke Gunung Sumbing, Jawa Tengah, bapak satu anak ini sempat terpeleset ke tebing hingga tiga meter. Waktu itu Yanweka sedang mendirikan tenda dan harus menarik tali di masing-masing sudutnya agar tenda tegak. Namun nahas,salah seorang temannya melepaskan tali dan Yanweka harus terpental ke tebing.

Awalnya tidak terasa sakit apa-apa.Namun,saat perjalanan pulang hingga tiba di rumah, kondisi fisiknya malah semakin menurun. Setelah dicek di UGD rumah sakit, ternyata Yanweka mengalami infeksi pada lambung. Sebagai bentuk solidaritas, seluruh teman dari komunitas datang menjenguknya.

”Saya tidak terobsesi untuk naik gunung tertinggi, tapi bagaimana menikmati alam di sekitar gunung yang kita daki,”ujar Yanweka,yang masih terpesona akan keindahan panorama Gunung Cikurai,Lawu,dan Merbabu. Kejadian paling aneh ditemui oleh Aal Arsya. Humas Gappala Adventures Community wilayah Jakarta ini harus menerima kedatangan makhluk halus saat pendakian ke Gunung Ciremai,Jawa Barat,awal tahun lalu.

Memang saat pendakian terjadi hujan lebat dan para pendaki harus membuat tenda.Saat sedang ganti pakaian di dalam tenda sembari iseng memperhatikan hutan sekeliling, pria Betawi ini melihat pocong.Aal sempat menyampaikan ihwal keberadaan makhluk halus itu kepada seorang teman, namun sang teman mengaku tidak melihatnya.

”Karena berada di alam bebas, kita akan melihat berbagai hal, termasuk makhluk halus.Namun, saat ditemui oleh mereka, biasakan untuk tidak panik, histeris, dan berpikir positif saja.Yang penting adalah berdoa,”pungkas Aal,yang mengaku takut juga pada lintah.(didik purwanto)

SOURCE:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/180954/

cek juga di :
http://yanweka.wordpress.com/2009/08/05/berpetualang-sambil-membangun-pertemanan/

Minggu, 19 Oktober 2008

Mengenang Kembali Jejak Tsunami

Catatan Road to Aceh, 14-15 Oktober 2008 bersama PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN)

Empat tahun sudah Aceh diporak-porandakan oleh gelombang tsunami. Kini, penduduk sudah mulai menggeliat menghidupkan gaung perekonomian dan memerbaiki infrastrukturnya. Sejenak, kita melongok jejak-jejak tsunami di Bumi Nangroe Aceh Darussalam.



(Bandara Sultan Iskandar Muda di Blang Bintang Banda Aceh didanai oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias menelan dana Rp450 miliar dan ditargetkan rampung Desember ini).


Karena letaknya di daerah pesisir, Aceh banyak menawarkan pemandangan begitu menawan. Di dalam perjalanan dari Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang menuju ke kota, masih banyak ditemukan puing-puing rumah, tanah kosong, renovasi hingga rumah dengan arsitektur baru. Masyarakatnya pun lebih religius, masjid bertebaran di kanan kiri jalan. Dan yang lebih mencengangkan, nyaris semua wanita di sepanjang jalan menggunakan penutup kepala (kerudung atau jilbab). Kecuali bagi nonmuslim, yang sangat kentara berwajah oriental, bermata sipit atau berkulit putih.

Banyak yang mengatakan karakter masyarakat Aceh cenderung pemberani dan keras. Ada juga perangai pemalas yang notabene selalu ditemukan pada kedai kopi di pinggir jalan. Memang masyarakat Aceh sangat suka duduk sambil minum kopi sembari ngobrol lepas. Mulai tema sehari-hari hingga politik kelas kakap.


(Bu Ria, PR Agency dari Samsung inilah biang keladinya. Kita jadi ikutan narsis semua deh. Thanks udah ajak kita jalan-jalan ya Bu!!makasih untuk semuanya)

Di luar itu, Aceh yang mayoritas dihuni oleh masyarakat muslim selalu menyuguhkan keramahtamahan pada setiap tamu yang datang ke daerahnya. Kesan itu mulai terlihat dari pintu keluar bandara hingga setiap pintu rumah di pinggir jalannya. Mereka menawarkan bantuan mulai dari ojek, suguhan kopi atau souvenir yang bisa dibawa pulang. Suguhan itu sungguh menjadi penawar lelah saat kita harus terbang mulai dari Jakarta hingga Aceh yang biasa ditempuh selama empat hingga lima jam. Maklum saja, tidak banyak maskapai penerbangan memunyai rute langsung Jakarta – Aceh, tapi harus transit terlebih dahulu di kota Medan.



(Pose di depan Bandara Polonia Medan, lumayan ga ditegur ama petugas bagasi, kebersihan dan teknisi pesawat, ndeso amat sih. Ketahuan baru pertama kali naik Garuda.He..he..)

Menyusuri Banda Aceh tidak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi jejak-jejak peninggalan pascatsunami 26 Desember empat tahun silam. Bencana yang memorakporandakan sebagian besar wilayah Aceh itu memang membuat banyak infrastruktur telah hilang. Sebagian telah direnovasi dan sebagian lainnya dibiarkan begitu saja. Terutama bekas-bekas peninggalan tsunami, justru dibiarkan dan akan dikembangkan khusus sebagai wisata tsunami. Hal itu membuat lanskap baru bagi tata kota Aceh yang lebih asri dan lebih ramah lingkungan.

“Banda Aceh sedang kita kembangkan sebagai kota metropolitan berakseskan
teknologi (Aceh Cyber City). Tahun depan, khusus untuk wilayah Aceh semoga sudah
terlayani hotspot dan masyarakat bisa mengakses informasi secara positif dan
benar,” terang Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin.
Fokus utama pembangunan daerah Aceh bukan melulu masalah infrastruktur. Lanjut Nurdin, saat ini Banda Aceh telah menganggarkan 32% dari APBD daerah (jumlahnya mencapai 500 miliar) untuk masalah pendidikan dan kesehatan. Infrastruktur terutama perumahan akan dibangun bertahap sambil menyelesaikan kasus pertanahan. Karena banyak sertifikat tanah yang hilang akibat tsunami. Akibatnya, masyarakat harus mengurus kembali surat tanah tersebut bila menginginkan lahan pekarangan itu dibangun kembali. Sisanya, terutama bekas-bekas tsunami akan diusahakan dibebaslahankan dan akan ditetapkan sebagai obyek wisata khusus.

Salah satunya adalah Kapal PLTD Apung milik PLN NAD di Kelurahan Punge Blang Cut Kecamatan Jayabaru Banda Aceh.

“Kapal itu terdampar dari pantai Ulee Lheue ke daratan sejauh kurang lebih tujuh km dari laut pada saat kejadian gempa 9.3 SR dan gelombang tsunami setinggi 30 meter (minimal setinggi pohon kelapa),” kenang Darlin Darwis, pemandu wisata dari DD Rental asli Banda Aceh saat mengantar SINDO yang kebetulan selamat dari tsunami itu.


(Sambil menyanyi," Mari menyusun Seroja..bunga Seroja...aaa..aaa". Tirukan suara Mahar Laskar Pelangi ya...)

Kapal berbobot 4.500 tondan panjang 63 meter tersebut menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami dan sampai sekarang masih ramai dikunjungi pendatang, baik masyarakat setempat, wisatawan bahkan pejabat penting negara bahkan internasional. Tercatat, Sekretaris Jendral PBB Kofi Anan dan mantan Presiden Amerika Serikat Georges Bush dan Bill Clinton langsung datang menyaksikan keberadaan kapal tersebut pascatsunami.

Tidak jauh dari kapal tersebut (sekitar 10 meter) dibangun Taman Edukasi Tsunami. Taman tersebut dibangun untuk membantu masyarakat dalam mengobati trauma, penyadaran dan pendidikan tentang ancaman bencana maha dahsyat tersebut.


(Seru juga sambil bermain dan potret ria di sini)

Taman Edukasi Tsunami ini berada di area seluas 4.500 meter persegi dan merupakan prakarsa dari PT BMW Indonesia untuk generasi muda dan masyarakat Aceh. Taman yang merupakan Taman edukasi pertama di Indonesia ini menjadi bagian dari situs peringatan tsunami seluas 45 ribu meter persegi yang telah disediakan oleh pemerintah daerah.

Di dalamnya terdapat sebuah simulator tsunami yang akan mendemontrasikan tahapan terjadinya tsunami. Alat simulasi ini dapat memperlihatkan urutan terjadinya tsunami yang dimulai dengan patahan lempengan dasar samudera yang menimbulkan getaran gempa, hingga terjadinya gelombang besar tsunami yang menyapu daratan. Selain itu, Taman Edukasi Tsunami juga menyediakan informasi mengenai peristiwa tsunami pada 2004 dilengkapi dengan fasilitas rekreasi, termasuk taman bermain, teater terbuka, fasilitas publik, dan area duduk untuk para pengunjung.

Perjalanan berlanjut ke kuburan massal di kawasan Ulee Lhue Kota Banda Aceh yang tidak jauh dari pantainya. Kuburan yang dinamakan Taman Makam Syuhada Korban Tsunami 2004 itu berada di bawah pengawasan Subdin Pengawasan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banda Aceh. Dihias pagar berwarna hijau mengelilingi kuburan, di dalamnya persis seperti lapangan bola dan tak tampak angker, karena tidak ada satu nisanpun di sana. Hanya sebuah papan peringatan untuk tidak menginjak area kuburan dan beberapa batu besar sebagai hiasan. Disediakan jalan khusus yang membelah kuburan untuk menuju area belakang dan di sinilah biasanya peziarah duduk bersimpuh menghantarkan doa kepada sanak saudaranya yang telah meninggal. Di sepanjang jalan, masih tampak bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berkibar.



(Salma dengan bendera GAMnya. Ia penasaran dengan Hasan Tiro sih)


(Karena kuburan massal, mereka pun tidak dimandikan, dikafani ataupun disholatkan. Apalagi kondisi mereka sebagian besar sudah membusuk).

Tidak jauh dari kuburan itu, ada pelabuhan Feri Ulee Lheue yang bisa membawa pengunjung ke Sabang, Calang dan Meulaboh hanya dalam tempo 45 menit. Karena cuaca sedang tidak bersahabat, banyak kapal yang bersandar di pelabuhan yang telah dibangun sejak tahun 1992 tersebut. Pelabuhan yang juga hancur total ini sedang dibangun kembali sejak tahun 2005 atas bantuan United Nation Development Program (UNDP) dan AusAID.


(Pas nyampe pelabuhan, cuaca agak mendung dan perlahan turun rintik hujan. Beberapa rombongan tidak ikut turun dan hanya stay cool di mobil)

Di samping kanan turut dibangun tanggul pelindung sepanjang 1.4 km, konstruksi tanggul penahan dan terminal feri sementara. Di sini sepanjang mata memandang akan ditemukan laut lepas dan bukit-bukit. Beberapa nelayan (pekerjaan dasar masyarakat Aceh) juga bisa disaksikan melalui perahu kayuh dan perahu motor.

(Nekat di tengah hujan sambil berpose ria, dipotret ama Kartika dari koran Tempo)

Kembali ke kota, tidak lengkap rasanya bila tidak ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang sudah ada sejak tahun 1873 ini pernah dibakar habis oleh Belanda pada masa penjajahan dulu. Kemudian Belanda pula yang membangunnya kembali di tahun 1875 dan selesai 1883. Pada 1935, diperluas dengan dua kubah tambahan, dan akhirnya lima kubah antara 1959-1968. Ketika Tsunami, masjid ini tidak mengalami kerusakan yang berarti. Di tempat ini banyak jenazah yang dibaringkan dan para keluarga korban mencari jenazah keluarganya di sini.

(Pas nyampe sini, alhamdulillah bisa sholat tahiyatul masjid serta sholat dhuhur dan ashar yang aku jama qoshor. Aku ga begitu khusyuk karena sudah ditelpon berulang kali oleh rombongan untuk segera melanjutkan perjalanan. Padahal ingin berlama-lama di sini. Pun kameraku baterainya habis. Nyesel banget deh beli baterai ABC, ternyata ga mempan).

Jangan salah sangka dulu, ini adalah temanku di Forum Lingkar Pena Aceh. Sudah tiga tahun setelah tsunami itu kita jarang kontak. Namanya Kak Cut Mardiana. Dia datang bersama Kak Riza khusus menemuiku dan menempuh jarak sekitar 10 km dari tempat tinggalnya. Pinginnya sih ngobrol lama, tapi waktu yang memisahkan kita. Cie..cie..Kak Mar malah kasih bakpia Aceh. Kalo katanya Mbak Dee, redaktur majalah Annida, mak nyuuuuusss). Makasih Kak Mar dan Kak Riza. Moga next time bisa ke sana lagi.
(Agak malu-malu dikit, maklum di tengah banyak orang. Takut kena razia cuma foto bareng berdua).

Salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan adalah Bioskop (Theater) Garuda. Meski terlanda tsunami dan berhenti beroperasi, bangunan yang berada di belakang kediaman Walikota Banda Aceh dan lapangan Blang Padang tersebut tetap berdiri dengan kesan compang-camping, kusam dan sepi.


(Pose dengan Elen Sinar Harapan, Salma Investor Daily dan namanya ga tahu dari Harian Terbit Aceh).

Sekitar tahun 1930-an ada dua bioskop di kota yang dulu bernama Deli Bioscope dan Rex Bioscope. Film-film yang diputar di situ adalah film-film bisu dan hitam-putih. Deli Bioscope menjadi cikal-bakal Garuda Theatre, sedang Rex sekarang menjelma menjadi tempat makan terbuka di Peunayong. Gerobak sate padang, nasi goreng, nasi bistik, gulai kambing, berderet-deret di tanah lapang bekas Rex.


(Salah satu sisa peninggalan berupa tiang bendera berisikan sejarah Bioskop Garuda)

Di tempat inilah (Garuda Theater) pada 16 Juni 1948, Presiden Soekarno berpidato politik dalam rapat umum pemuda. Di hadapan ribuan rakyat Aceh, Soekarno menempa semangat pemuda dengan mengenang sejarah perjuangan rakyat Aceh dalam memertahankan wilayahnya sebagai kesatuan wilayah Indonesia yang tak tertaklukkan Belanda. Dua hari kemudian, di Bireuen Soekarno menjuluki Aceh sebagai "Daerah Modal".

Namun sebentar lagi, bangunan yang tersisa hanya tiang dan atap ini akan segera dirobohkan dan akan dibangun Information Teknologi Learning Center (ITLC). Bangunan ini mendapat sumbangan dari PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) senilai US$ 369.565 atau Rp3,4 miliar melalui Program 'For Aceh'. Nantinya, ITLC akan menjadi tempat edukasi, pelatihan bahasa, komputer, perpustakaan atau segala sesuatu tentang teknologi bagi masyarakat Aceh. Tidak hanya itu, siswa yang berprestasi pun akan mendapat pengalaman pelatihan bahkan rekrutmen karyawan Samsung di Jakarta dan Korea.


(Samsung Electronics Indonesia meninjau lokasi dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan IT Learning Center di Blang Padang Banda Aceh diiringi Senior Vice President Samsung Korea Kyung Choon Min, Managing Director PT Samsung Electronic Indonesia (SEIN) Hee Hong Park, Wakil walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin, Vice President Special Counselor to the President of United Way International Gregory Berzonsky dan Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Mandiri Gino Latief).
“Begitu banyak kerusakan yang harus dibangun kembali akibat tsunami. Masyarakat
Aceh pun tidak boleh terus bersedih. Oleh karena itu, ITLC akan memberikan
prasarana dan ilmu untuk merawatnya. Dengan ini Aceh akan setahap lebih maju,”
ujar Managing Director PT Samsung Electronic Indonesia (SEIN) Hee Hong Park.

(Kapal ini adalah salah satu dari dari kapal-kapal yang terdampar kedaratan pada saat terjadi bencana Tsunami beberapa waktu lalu. Hingga saat ini keberadaan kapal ini tetap dipertahankan sebagai obyek wisata untuk mengingat akan peristiwa tersebut, dan dijadikan salah satu situs Peringatan Tsunami di Kampung Lampulo, Kec.Kuta Alam. Kota Banda Aceh. Lokasi bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum seperti becak motor ataupun taksi).

(Asmirandah pun harus memakai kerudung di Aceh. Begitu pula iklan XL yang memakai brand ambassador Luna Maya. Sayang ga sempat motret, maklum hujan deras dan balihonya di tengah jalan. Jadi susah untuk motret artis dari Bali itu. Di sini diterapkan syariat Islam yang mewajibkan perempuan muslim harus memakai kerudung atau jilbab saat ke luar rumah).

(Pose ama orang Aceh nih. Itu tuh yang pake busana adat. Di situ ada Salma Investor Daily, Kartika Koran Tempo, Elen Sinar Harapan dan Roni Bisnis Indonesia. Lainnya adalah Pak Taufiq Republika dan Mang Ujang dari Antara).
Sepertinya, waktu satu hari untuk berkeliling Aceh tidaklah cukup. Masih banyak obyek wisata tsunami lainnya yang belum dikunjungi. Aku juga ga sempat beli oleh-oleh. Cuma makanan ringan, kopi Aceh dan gantungan kunci yang aku beli di Medan. Kini, saatnya Anda menabung atau memilih backpacker ke sana. Sampo Meurempok Lom Ie Aceh atau Sampai Jumpa di Aceh.

Senin, 05 Mei 2008

Bus Mewah Berfasilitas Wah

UTAMAKAN KENYAMANAN, Cyber Bus yang menjadi perpaduan antara teknologi informasi dan transportasi. Kabinnya lega, lengkap dengan sofa, kamar mandi, dan internet.

LUPAKANperjalanan darat yang bosan dan melelahkan.Kini ada Cyber Bus,moda transportasi yang menggabungkan entertainment,kantor,dan kenyamanan laiknya berada di rumah.



Tak berlebihan bila Perusahaan Otobus (PO) Nusantara menyebut Cyber Bus sebagai Omah Mlaku (rumah berjalan). Selain mengusung kenyamanan seperti di rumah sendiri,bus tersebut dibekali pula dengan perangkat mobile officeagar pengguna dapat melakukan aktivitas pekerjaan selama di perjalanan.

”Sejauh ini, sasaran utamanya adalah korporasi dan instansi pemerintah,” ujar Direktur PO Nusantara Handojo Budianto saat ditemui SINDO di Kudus.



Menurut dia, bus bertarif Rp5 juta per hari ini sudah fullbooked hingga Mei 2008 mendatang. Selain untuk berwisata atau tur, bus tersebut acap digunakan pula untuk event khusus internal, hingga menempuh perjalanan antarkota atau ke kantor cabang perusahaan.

”Banyak juga yang memesan untuk menservis tamu perusahaan, atau bahkan keluarga direksi sendiri,”paparnya. Apa saja fasilitas yang tersedia? Di dalam bus, ada ruang rapat yang bisa menampung sekitar 10 orang.Di sana ada tiga meja kerja,lima sofa,dan dua kursi putar.



Saat bus sedang berjalan,pengguna dapat mengakses teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) atau 3.5G yang memberikan layanan data/ internet dengan kecepatan hingga3,6 Mpbs. Kecepatan ini lebih dari cukup bagi delapan laptop sekaligus melakukan video conference melalui webcam maupun Voice over Internet Protocol (VoIP).

Layanan 3.5G ini juga bisa mengakses Virtual Private Network (VPN) seperti fasilitas intranet perusahaan,sertaakses e-mail perusahaan,baikmelalui exchange servermaupun POP3.Jika bus ini melewati daerah yang belum dilayani 3.5G,secara otomotis akses akan berpindah ke layanan GPRS/EDGE.

”Bus ini adalah jawaban terhadap kebutuhan para eksekutif atau pelaku bisnis yang bermobilitas tinggi,” ujar Handojo.”Mereka tetap bisa online, terhubung dengan kantor kendati ada di perjalanan,”paparnya.

Penumpang bisa mencarter bus ini dengan tujuan mana saja.Handojo juga mengakui bahwa permintaan dari Jakarta sangat banyak.Kendati demikian, untuk sementara ini,dia memfokuskan pada rute-rute yang kondisi jalannya bagus dan tidak banjir.



”Takutnya, kalau dipaksakan bakal merusak mesin bus,”ujarnya. Ilyas Sugihartanto mengaku kagum saat mencoba bus ini untuk pertama kali. Lelaki asal Batu, Malang, yang sudah delapan tahun menetap di Kudus ini sudah dua kali merasakan kenyamanan Cyber Bus. ”Asyik sekali. Tidak terasa guncangan meski jalanan berlubang,” ucap Ilyas saat mencoba konektivitas internet di bus tersebut.

Menurut Handojo,transportasi darat punya peluang bisnis besar. ”Bukan sekadar transportasi massa, saya ingin mewujudkan kendaraan yang memiliki faktor kenyamanan. Caranya, dengan dibenamkan berbagai fasilitas pendukung,”paparnya.

Angan Handojo juga tak berhenti sampai di situ.Ke depannya,dia sudah menyiapkan konsep lagi. Antaralain bus honey moon untuk pasangan muda, di mana desain tempat tidurnya diubah di tengah badan bus sehingga lebih lebar.

Jumat, 21 Maret 2008

Museum Kartun di Kuta


Museum Kartun pertama di Asia Tenggara kini hadir di Kuta. Jadi bagi Anda yang suka kartun dan sedang ada di Bali, tidak ada salahnya berkunjung ke museum ini.

Museum kartun pertama di Indonesia dan juga di Asia Tenggara ini terletak di Jalan Sunset Road, Kuta, bali. Menempati lahan seluas 1600 meter persegi, museum ini memajang sekitar 200 karya kartun dari puluhan kartunis Indonesia.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 20 ribu, di museum ini para pengunjung dapat melihat aneka jenis kartun karya beberapa kartunis seperti Pramono R Pramoedjo, GM Sudarta, Dwi Koendoro, Jango Paramartha, hingga beberapa kartunis muda bertalenta tinggi lainnya.

Kartun yang dipajang amat bervariasi. Tema yang dipilih pun beragam, mulai yang bertema ringan hingga bertema serius seperti pemberantasan korupsi, illegal loging, hingga kartun bom bali satu. “Kartunnya bagus-bagus dan bervariasi. Meski lucu-lucu, apa yang ingin disampaikan kartunis sudah mengena,” kata Arum, salah seorang pengunjung museum kartun.

Selain menampilkan aneka peristiwa sejarah Indonesia dalam bentuk kartun, di museum ini para pengunjung juga dapat melihat aneka kartun para tokoh di Indonesia mulai presiden pertama Indonesia Soekarno, mantan presiden Soeharto, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga tokoh perjuangan hak buruh, Marsinah.
Selain para tokoh dalam negeri, di museum ini juga dapat dilihat kartun para tokoh dunia mulai Osama Bin Laden, Aung San Su Kyi, presiden Amerika Serikat yang doyan perang George Bush, pemimpin Libya Mohamar Khadafi, hingga mantan presiden Irak Saddam Husein. “Secara umum, kartun yang dipajang di museum ini menceritakan perjalanan sejarah kartun di Indonesia dan peran kartunis serta karyanya dalam sejarah bangsa Indonesia dan juga dunia. Selain itu, karya yang ditampilkan juga menampilkan kehidupan kreatif para kartunis,” jelas Dewan Kartun Museum Kartun Indonesia, Pramono Pramoedjo. “Tujuan yang ingin kita capai dari pendirian museum ini adalah agar kartunis dan karyanya bisa sejajar dengan pelukis dan karya lukisnya. Karya kartun tidak kalah pentingnya dengan karya lukis,” tambah Pramono seperti dikutip dari sini.

Kampung Muslim Kepaon Bali

Jalan-jalan ke Bali tidak lengkap bila belum mengunjungi Kampung Islam Kepaon di Denpasar. Di sini ada beberapa kesenian yang sayang untuk dilewatkan.Begitu juga bangunan masjid Al Muhajirin yang dibangun di tengah-tengah kampung.


Kesenian yang dimaksud adalah Rodat. Di sini ada beberapa pemuda dengan pakaian mencolok. Baju lengan panjang warna biru, dilengkapi embel-embel atribut macam kepangkatan militer kerajaan Eropa. Atau kostum kerajaan Nusantara pasca penjajah Eropa. Bak kostum mayoret dalam marching band, dua orang di antaranya mengenakan seragam warna cerah menyala, merah. Lengkap dengan sebilah pedang di pinggangnya.

Nampaknya, dua orang berpakaian merah ini bertindak selaku komandan. Mirip upacara kemiliteran. Sekejap kemudian, dengan diiringi sekan kendang, pemain rodat ini mulai bergerak menyusuri jalanan, menjemput bale suji sambil mengumandangkan salawat badar.

Sang komandan terlihat gagah berjalan paling depan, dengan menghunus sebilah pedang di tanganya. Kok bawa pedang segala? "Pedang itu sebagai simbol penegakan kebenaran dan memberantas yang salah," kata Abdul Ghoni, Ketua panitia perayaan Maulid Nabi di Kampung Islam Kepaon.

Setibanya di halaman masjid, personel rodat ini memperagakan beberapa gerakan pencak silat, yang tetap dirangkai dengan salawat badar. "Setiap salawat ada gerakannya sendiri," kata Abdullah, salah seorang personel kesenian ini. Menilik pakaian dan gerakan yang dimainkan, memang sulit dipungkiri bahwa gerakan maupun kostumnya menggambarkan pasukan perang jadul atau angkatan jaman dulu.

Ghoni mengatakan, rodat diambil dari kata rodoton atau raudatan, yang artinya taman. "Kalau ngomong taman, sudah tentu gambaran kami adalah-hal-hal yang indah. Makanya di acara Maulid Nabi ini kami ingin menonjolkan keindahan," papar Ghoni. Personel rodat sendiri diambilkan dari pemuda dan remaja masjid setempat.

Sedangkan jika dilihat dari sejarah, rodat dulunya memang jadi salah satu pasukan perang kerajaan Badung. Yang berasal dari Kampung Islam Kepaon. "Nama rodat ini dulunya pemberian Cokorda Pemecutan. Saat kami membantu bertempur melawan kerajaan Mengwi dan perang Puputan Badung," kata H. Ishak Ibrahim, salah seorang sesepuh Kampung Islam Kepaon.

Melihat dari sejarahnya, tak heran bila hubungan antara Puri Pemecutan dengan Kampung Islam Kepaon terjalin begitu harmonis, sangat erat. Bahkan, Cokorda Pemecutan sampai sekarang selalu hadir setiap kali ada kegiatan di Kampung Islam Kepaon saat peringatan Maulid Nabi. 

Beberapa tahun lalu, saat Cokorda Pemecutan tersandung kasus keluarga hingga ada yang meninggal dalam perkelahian, kesetiaan itu pun terlihat. Dan berlanjut ke persidangan. Warga Kepaon pun tak pernah absen memberi dukungan kepada rajanya.

Nah, seiring bergulirnya waktu, kesenian rodat di Kampung Islam Kepaon ini juga mulai mengalami pergeseran. Tidak lagi seperti pada awal mulanya dulu. Salah seorang tokoh masyarakat setempat, yakni H. Ahmad Jafar mengatakan, bahwa saat ini kesenian rodat sudah bercampur dengan budaya kesenian dari Padang, Sumatra Barat. "Kami di Kampung Islam Kepaon ini ada tiga suku besar yang menempati. Yaitu Bugis, Padang dan yang terakhir dari garis Puri Pemecutan," kata lelaki 61 tahun ini. Sedangkan kesenian Islam Kepaon lainnya yang hingga kini masih ada adalah kesenian hadrah.

Minggu, 16 Maret 2008

Sejarah Islam di Bali

Sejarah masuknya Islam di Bali sebenarnya sudah berabad-abad yang lalu. Tengoklah desa-desa muslim yang ada di Bali, seperti Pegayaman (Buleleng), Palasari, Loloan dan Yeh Sumbul (Jembrana) dan Nyuling (Karangasem). Atau, kampung muslim di Kepaon di Badung.

Kehidupan di sana tak ubahnya seperti kehidupan di Bali pada umumnya. Yang membedakan hanya tempat ibadah saja. Bahkan di Desa Pegayaman, karena letaknya di pegunungan dan tergolong masih agraris, semua simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, banjar, dipelihara dengan baik. Begitu pula nama-nama anak mereka, Wayan, Nyoman, Nengah, Ketut tetap diberikan sebagai kata depan yang khas Bali.

Penduduk kampung ini konon berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam yang dibawa oleh para Raja Buleleng, Badung dan Karangasem pada zaman kerajaan Bali.

Orang-orang muslim di Kepaon adalah keturunan para prajurit asal Bugis. Kampung yang mereka tempati sekarang merupakan hadiah raja Pemecutan. Bahkan, hubungan warga muslim Kepaon dengan lingkungan puri (istana) hingga sekarang masih terjalin baik.

Konon, jika diantara warga muslim Kepaon terlibat gesekan-gesekan dengan komunitas lain, Raja Pemecutan turun tangan membela mereka. "Mereka cukup disegani. Bahkan, jika ada masalah-masalah dengan komunitas lain, Raja Pemecutan membelanya," ujar Shobib, aktivis Mesjid An Nur.

Di Denpasar, komunitas muslim juga dapat dijumpai di Kampung Kepaon, Pulau Serangan dan Kampung Jawa. Kampung Kepaon dan Serangan dihuni warga keturunan Bugis.

Konon, nenek moyang mereka adalah para nelayan yang terdampar di Bali. Ketika terjadi perang antara Kerajaan Badung dengan Mengwi, mereka dijadikan prajurit. Setelah mendapat kemenangan, kemudian diberi tanah.

Di Pegayaman, sebagian warga muslim menambahkan nama Bali Wayan, Made, Nyoman dan Ketut pada nama-nama Islam mereka, seperti Wayan Abdullah, misalnya.

Tetapi ini hanya dalam tataran budaya. Untuk idiom-idiom yang menyangkut agama, mereka tidak mau kompromi dan ini membuat mereka tetap hidup.

Keturunan mereka yang menghuni kampung-kampung ini dengan damai, dan tetap menjaga nilai-nilai tradisi keislaman mereka secara utuh.

Keberadan komunitas muslim di Bali, ditandai adanya mesjid di lingkungan kampung mereka. Selain itu, rumah-rumah warga muslim tidak dilengkapi tempat untuk sesaji di depan rumah.

Beberapa kampung itu hanya contoh kecil bagaimana dulu, masyarakat Hindu dan Muslim serta agama lain bisa hidup berdampingan di Pulau Bali.

Orang Bali sendiri secara umum menyebut warga muslim dengan istilah selam. Istilah selam ini sudah sangat umum di Bali untuk menjelaskan tentang umat Islam.

Sama sekali tak ada konotasi negatif, apalagi penghinaan. Justru istilah ini mempertegas kerukunan karena dikaitkan dengan ikatan persaudaraan yang di Bali dikenal dengan istilah manyama-braya. Dalam kaitan manyama-braya ini umat Hindu melahirkan istilah nyama selam (saudara Islam) dan nyama Kristen (saudara Kristen).

Ketika Ramadhan datang, umat Hindu menghormati orang Islam yang berpuasa, dan pada saat berbuka puasa umat Hindu ada yang ngejot (memberikan dengan ikhlas) ketupat.

Apalagi saat Idul Fitri datang. Umat Hindu memberi buah-buahan kepada saudaranya yang muslim, sementara pada saat Galungan, umat Islam memberikan ketupat (minimal anyaman ketupat).

Selasa, 11 Maret 2008

Tahun Baru Islam di Bali

Tinggal di Bali malah membuatku nyaman, tadi aku datang ke Kampung Bugis di Pulau Serangan. Iseng saja, karena habis dari Pantai Sanur, liputan tentang puzzle 3 dimensi.

Pas memasuki masjid Asy-Syuhada Kampung Muslim Bugis, suasana begitu tenang. Tidak ada kebisingan. Saat itu jam 2 siang wita. Karena aku menunggu temanku yang ada di sana, aku tilawah sebentar.

Setelah ku hubungi ternyata dia ada di rumahnya dan aku disuruh datang ke Banjar (Desa) Ponjok. Sebuah banjar yang ada di ujung Pulau Serangan. Di Serangan ada pembagian menjadi Banjar Kaja (selatan), banjar Tengah dan banjar Ponjok (pojok sebelah utara). Kampung Muslim Bugis ada di Banjar Tengah.

Akhirnya aku bertemu dengan temanku di masjid saja, daripada jauh-jauh dan bikin bingung. Kami ngobrol tentang apapun. Kami terpisah sudah hampir setahun lalu. Dia namanya Hanif. Asalnya Lamongan Jawa Timur. Karena sudah lama tinggal di Bali & sekaligus memboyong keluarganya ke sini.

Dulu Pulau Serangan sempat dibeli oleh Tommy Suharto. Bahkan keluarga cendana ini membeli setengah pulau tersebut. Karena Tommy terkena kasus, proyeknya mangkrak. Baru dua tahun ini, proyek tersebut kembali berjalan. Tommy ingin membuat Pulau dengan kota mini seperti Las Vegas di Amerika lengkap dengan pelabuhan yang bisa disinggahi kapal pesiar atau kapal Fery. Bayangkan saja, investasi sebesar itu ternyata akan mendatangkan keuntungan luar biasa bagi kantong Tommy. Itupun kalau laku & kemungkinan besar juga laku.

Dunia properti di Bali sudah gila-gilaan. Harganya sudah melebihi kota Jakarta. Aku sih cuma kepikiran bagaimana nasib Kampung Bugis yang hanya sekitar 100 KK. Panjang wilayahnya pun kurang dari 1/2 km. Dari ujung ke ujung bisa dilakukan dengan jalan kaki. Selebihnya ada;ah penduduk asli Bali yang beragama Hindu.

Tahun baru ini tidak ada aktivitas apapun. Sempat ada jalan santai di kampung setempat setelah saya sholat Ashar tadi. Karena harus balik kantor, akupun langsung meninggalkan aktivitas tersebut. Next time aja aku cerita tentang AlQuran mini yang akan diarak keliling kampung Bugis saat Hari Maulid Nabi nanti.

Di Kampung Islam Kepaon juga cuma menggelar khataman AlQuran di masjid Muhajirin  jalan Pemogan Denpasar.Belum ada aktivitas menyambut pergantian tahun Hijriyah tersebut.

Sabtu, 08 Maret 2008

Keris Bali dan Maknanya

Keris bukan hanya sebagai senjata sejak jaman penjajah. Namun keris sudah menjadi warisan yang memiliki arti penting bagi pemilik maupun kolektornya.

Keris sebagai warisan peninggalan nenek moyang Indonesia telah diakui oleh UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan, sekolah dan anak).Bali misalnya, sebagai provinsi yang masih memegang adat istiadat dan penuh religi memiliki keunikan keris yang tidak ditemukan di tempat lain.

Menurut Bambang Eko Priyono selaku pinisepuh Sanggar Kanjeng Purwo yang menjadi kolektor keris di Bali mengatakan keris Bali memiliki panjang hingga 60 cm. Begitu juga dengan Luk (lekuk keris) yang ganjil dan lurus dengan arti tersendiri. Luk tiga menggambarkan perlindungan, Luk lima menggambarkan kebaikan (yang diartikan dengan pandhawa) dan Luk tujuh yang berarti sengkelat dan biasa digunakan oleh raja-raja.

Pria yang telah dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Purwo Saputro oleh Istana Paku Alaman Jogjakarta ini juga mengungkapkan keris di masyarakat Bali masih punya kedudukan tinggi dalam agama dan adat. Sehingga keris merupakan salah satu kebutuhan keluarga Hindu Bali. Di samping sebagai senjata, keris juga dianggap sebagai benda yang mempunyai kekuatan spiritual sehingga bisa menjadi pelindung ketika berpergian, untuk usaha, tanda pengabdian kepada raja, untuk menjaga keselamatan rumah tangga, untuk sarana penyembuhan seorang dukun dan khususnya untuk upacara keagamaan.

Dari sekian banyak fungsi keris, Empu di Bali lebih mementingkan manfaat spiritual keris (kekuatan magis) dari pada karya seni (keindahannya). Misalnya seperti bagian yang paling sulit dibuat seperti pamor. Bentuk pamor (hiasan pada batang keris) bahkan lebih menekankan pada kekuatan magis yang dimilikinya. Contohnya pamor blarak sineret yang berarti masyarakat harus mengikuti perintah pemimpin. “Ini membuktikan keris sebagai bukti prestisius dari sebuah karya seni seorang Pande atau Empu. Bukan senjata sembarangan,” ujar Bambang yang ditemui di Sanggar Kanjeng Purwo jalan Danau Buyan 5 Sanur.

Tidak hanya memiliki kekuatan magis, balutan sarung yang menutup keris malah memberi kesan penampilan mewah. Penampilan luar seperti wadah (rangka), pelokan (pangkal wadah), hulu dan cincin ujung hulu justru dibuat dari emas, perak, gading, kayu langka yang dihiasi dengan ukiran dan batu permata hingga beberapa karat. Namun hanya keris untuk tokoh-tokoh masyarakat dan agama saja yang dibuat bagus. Baik sarung maupun bilahnya.

Mangku Ketut Sandi, salah satu perajin dekorasi keris mengatakan saat ini hanya ada enam perajin di seluruh Bali. Kekurangan perajin keris di Bali lebih disebabkan karena tidak sembarang orang bisa menekuni profesi tersebut. Empu keris pada umumnya berpangkat pembantu pendeta (mangku) atau malah pendeta.

Dalam membuat keris pun, empu harus menjalani laku tapa dan macam-macam latihan rohani kejawen. Selain itu membuat keris klasik atau tradisional yang sesuai dengan pribadi pemesan dan punya "isi" memerlukan waktu yang lama. ”Setahun mungkin hanya bisa membuat dua hingga tiga buah keris dengan biaya mahal,” tambah Ketut Sandi yang pernah menjadi pemangku Pura Pande Dalem Majapahit banjar Tatasan Denpasar. 

Rabu, 05 Maret 2008

Ogoh-Ogoh Atribut Punk


Pawai ogoh-ogoh saat pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) tak hanya didominasi oleh kaum dewasa. Buktinya masih banyak anak-anak yang sengaja ikut memeriahkan pawai tersebut dengan membuat ogoh-ogoh mini ala mereka.

Salah satunya adalah di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Warga tersebut sengaja membuat Lomba Ogoh-Ogoh dengan peserta anak-anak. Ogoh-ogoh ini akan diarak di Lapangan Pegok, Denpasar Selatan, Kamis sore hingga malam menjelang pengerupukan.

Menurut Kadek Adhi Indrayana, ketua panitia acara lomba tersebut mengatakan jumlah peserta yang sudah mendaftar adalah 31 kelompok. Jumlah ini naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 16 kelompok ogoh-ogoh. Untuk peserta lomba dibatasi maksimal berusia 16 tahun.

Karena tema bebas, maka banyak peserta yang membuat tema sesuai kreativitas masing-masing. Meski begitu semangat ogoh-ogoh yang mencerminkan raksasa jahat (Bathara Kala) masih mendominasi bentuk ogoh-ogohnya. Tak hanya diambil dari cerita pewayangan seperti Mahabaratha dan Ramayana, anak-anak banyak yang mengubah bentuk ogoh-ogoh menjadi ogoh-ogoh punk lengkap dengan aksesorisnya. “Anak-anak cenderung ekspresif dibandingkan dengan orang dewasa. Makanya mereka membuat tokoh ala mereka sendiri,” jelas Adhi.

Menurut Kadek Agus Astika Putra (8) yang ditemui saat menunggu ogoh-ogoh kreasinya di jalan Sesetan Denpasar ini mengatakan ogoh-ogoh tersebut adalah ciptaan dari 20 orang teman dekatnya dibantu orang tua masing-masing. Bentuk raksasa mini yang berbentuk anak muda gaya punk dengan rambut jabrik dan aksesoris rantai ini sudah dibuat sebulan lalu. “Saya suka musik dan membuat ogoh-ogoh seorang pemusik, salah satunya adalah punk,” ujar Agus sambil mengacungkan ibu jari, telunjuk dan jari kelingking khas anak punk.

Bahkan orang tua mereka pun rela menyumbang demi terwujudnya keinginan anak dalam memeriahkan malam pengerupukan. Untuk membuat satu ogoh-ogoh tersebut biasanya paling sedikit membutuhkan biaya satu juta. Itu pun tergantung bahan dan aksesoris penunjangnya. “Saya ingin melestarikan tradisi yang sudah lama ada pada anak-anak. Kegiatan ini sangat bermakna melawan kekuatan jahat dan besok (hari Jumat pada saat Nyepi) adalah saat yang paling baik untuk mawas diri, bagaimana perilaku kita selama ini,” tambah Kadek Suardana, ayah Agus Astika Putra yang sedang merampungkan aksesoris baik lampu ataupun penataan musik. Ikutan nonton yukkk!!!