Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Kaya Berkat Celana



Ide bisnis bisa datang dari mana saja. Berkat keisengan pamer celana jeans ke teman-teman, Ali Akbar Tofanus kini menjadi pengusaha muda yang sukses.

Ali, yang setiap hari masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi Konsentrasi Perbankan Universitas Al-Azhar Indonesia tersebut awalnya menerima hadiah berupa celana jeans bermerek Denim Imperial dari temannya di Australia pada 2010. Celana tersebut akhirnya dipakai untuk ke kampus, ternyata banyak teman kampusnya yang suka dan ingin memiliki jeans itu.

Namun untuk pesan dengan jumlah yang banyak ke temannya di Australia tentu saja ribet. Cowok kelahiran 12 Maret 1990 itu akhirnya mencoba mencari di internet. “Ternyata saya justru menemukan alamat penjual bahan denim di Jakarta,” kata Ali.

Setelah mengetahui tempat penjual bahan denim itu, ia langsung mencoba produksi celana untuk teman-teman di kampusnya. Ia mengaku celana yang diproduksinya laku keras, sehingga muncul inisiatif untuk memproduksinya dalam jumlah lebih banyak.

“Kebetulan juga ada teman lama yang mengajak saya memproduksi bersama. Dari situlah secara serius mulai menekumi bisnis celana,” ujarnya. 

Namun usaha bersama tersebut tidak berjalan mulus. Ada perselisihan antara Ali dan temannya. Ali lebih memilih memproduksi jeans sendiri, sementara temannya lebih memilih sebagai pengusaha distro. “Dari perbedaan pandangan bisnis itu, kami berpisah dan memulai usaha masing-masing,” katanya.

Ia pun akhirnya membuat usaha Rumah Denim and Jeans di Pamulang, Tangerang Selatan pada 2011. Namun usaha yang dilakoninya sendiri tersebut juga tidak berjalan mulus. Pada November 2012, usahanya malah semakin berantakan karena ketidakmampuan mengelola karyawan. 

Saat itu, Ali memekerjakan beberapa penjahit celana jeans sendiri. Namun karena penjahit tersebut kembali ke kampung, ia pun kelimpungan menerima pesanan. Padahal pesanan celana saat itu sedang meningkat.

“Itu pengalaman paling keras yang pernah dilalui usaha ini. Saya masih belajar mengelola karyawan waktu itu. Masalah karyawan merupakan inti dari kinerja dan tantangan menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Kembali Bangkit

Ada ungkapan kasih sayang ibu tak terhingga sepanjang masa. Berangkat dari kemunduran usaha itu, sang ibu memberikan pertolongan untuk Ali agar bangkit menjalankan bisnisnya. Ia menerima pinjaman dari sang ibu sebesar Rp 6 juta dan pinjaman lain dari Koperasi Simpan Pinjam RS Taman Puring, Jakarta Selatan sebesar Rp 10 juta. Sebagai imbal balik, ia harus mengembalikan pinjaman itu dengan bunga sebesar lima persen. Dalam kurun waktu tiga bulan, ia mampu mengembalikan seluruh pinjaman tersebut.

“Pinjam dari koperasi mudah karena ibu anggota sekaligus pendirinya. Dari situ, saya mulai bangkit menjalankan bisnis tersebut,” katanya.

Dengan total modal sebesar Rp 16 juta itu, Ali mengaku langsung membeli tiga mesin jahit dan bahan-bahan produksi. Ia optimis usahanya akan berjalan mulus, meski baru bisa memekerjakan satu orang penjahit.

Berkat ketekunannya, cowok yang baru berusia 24 tahun ini kini sudah mampu memekerjaan sembilan orang penjahit. Ia mampu memproduksi celana sekitar 600-700 potong per bulan. Omzetnya bisa mencapai Rp 120 juta pada 2013, meningkat dari tahun sebelumnya Rp 90 juta.

Ambisi Buka Toko Besar

Selagi mimpi itu gratis, bermimpilah yang besar. Pepatah itu dijadikan acuan bagi Ali untuk membesarkan bisnisnya. Ia pun terus belajar desain celana secara otodidak dari internet.
“Belajar bisa learning by doing karena tidak sulit mengolah bahan menjadi celana jeans . Desainnya juga seperti itu-itu saja, hanya motifnya yang berbeda. Lagipula internet sudah menyediakan semua informasi,” katanya.

Ia mengaku kesuksesan bisnisnya tidak luput dari strategi promosi yang maksimal. Keberadaan internet sangat berjasa dalam membantu usahanya, terutama dari situs jejaring sosial.
“Sampai sekarang permintaan dari online masih lebih tinggi dibanding melalui toko. Perbandingannya, dari online dalam sehari bisa terjual 10 celana, dari toko hanya bisa menjual empat celana,” ujarnya.

Ke depan Ali berambisi untuk membuka toko di pusat perbelanjaan di Jakarta. Ia berencana dapat merealisasikan pada 2016. Saat ini ia sedang belajar program empat jam, yaitu pelanggan bisa memesan celana dalam empat jam sudah selesai. “Jadi pengunjung mall bisa memesan celana lalu mereka bisa makan atau nonton bioskop dulu. Dalam empat jam, mereka bisa mengambil celananya,” katanya.

Soal harga, ia pun tidak mematok tinggi. Untuk celana jeans bahan lokal dijual sekitar Rp 135 ribu-Rp 165 ribu. Untuk berbahan impor dijual sekitar Rp 185 ribu-Rp 245 ribu. “Ternyata 80 persen minat pelanggan menggunakan bahan impor,” katanya.

Untuk mengasah kemampuan bisnis, ia pun rajin mengikuti komunitas wirausaha Tangan di Atas (TDA) Jakarta Selatan. Dengan berkumpul bersama pengusaha lain, ia bisa saling tukar pikiran. Wawasan untuk mengembangkan pasar celana juga semakin bisa dikedepankan.

“Sekarang saya suka kumpul-kumpul dengan TDA karena dosen saya juga kebetulan anggota organisasinya. Dari situ saya bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan pengusaha muda lainnya,” tuturnya.

Data Diri
Nama: Ali Akbar Tofanus
TTL: Jakarta, 12 Maret 1990
Hobi: Futsal dan Billiard
Pendidikan: Mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi Konsentrasi Perbankan Universitas Al-Azhar Indonesia angkatan 2008
Kontak usaha: 0882-1275-832
Alamat rumah: Perumahan Reni Jaya, Blok Q6 No 1, Jalan Maluku Raya, Pamulang, Banten, Tangerang Selatan
Alamat usaha: Pamulang Permai Blok AX 33 No 11D, (2) Jalan RC Veteran No 7m, Bintaro, Jakarta Selatan

Minggu, 23 Maret 2014

Ubah Sampah Jadi Rupiah



Rezeki memang perlu dicari. Namun untuk mencarinya, perlu tangan-tangan kreatif. Di tangan Nuning, sapaan Wahyuning Widowati, berbagai macam kotak susu mampu diubah menjadi pundi-pundi rupiah.

Awalnya, wanita kelahiran Surakarta ini hanya iseng menekuni bisnis tersebut. Nuning yang setiap hari gemar minum susu kotak dua liter itu, menemukan tumpukan sampah kotak susu di rumahnya.
Ia mencoba berkreasi membuat aneka ragam bentuk celengan, kotak serbaguna, tempat kartu nama, mobil-mobilan, wadah pensil, dan lain-lain. Produk hasil kreasinya kemudian dipotret dan dijadikan foto profil di sebuah BlackBerry Messenger dan sosial medianya. 

“Lama-lama banyak yang suka dan ingin membeli. Padahal kreasi saya itu sebenarnya hanya iseng dan untuk anak,” kata Nuning. 

Istri dari Endrat Nur tersebut hanya membuat prakarya sederhana. Ia hanya membuat celengan dengan bungkus kertas kado khusus, diberi lubang dan diberi nama “Ken” sesuai panggilan anak kesayangannya. “Hasil keisengan tersebut malah membuat berkah dan menambah pendapatan sampingan keluarga,” katanya.

Untuk memulai usahanya, Nuning tak mengeluarkan modal besar.  Usaha yang dirintis sejak akhir 2010 ini hanya mengeluarkan modal awal sekitar Rp 300 ribu.  Modal tersebut ia belikan aneka kertas embos eksklusif, kertas kado polos, kertas kado bermotif, kertas kado gambar karakter, kancing, dan beberapa perlengkapan lainnya, seperti gunting, cutter, plastik mika, dan tinta timbul.
Ibu satu putra ini menjual produknya tergantung dari ukuran kotak susu. Untuk kotak susu ukuran 500 ml dijual dengan harga mulai dari Rp 12.500-17.500 per buah. Untuk kotak susu berukuran 1 liter dijual mulai Rp 15.000-25.000 per buah. Dari kedua ukuran tersebut, produk ukuran 1 liter yang paling banyak dipesan. “Pembeli juga bisa memesan model dan tampilan yang diinginkan,” ujarnya.

Nuning mengaku akan memberikan potongan sebesar 30 persen apabila pelanggan membeli produk lebih dari 50 buah. Produk buatannya biasa dipesan untuk keperluan hadiah ulang tahun, suvenir ulang tahun maupun untuk keperluan komunitas.

Untuk memenuhi pesanan pelanggan, Nuning memproduksi celengan dan kotak serbaguna setiap hari. Dalam proses pembuatan celengan maupun kotak serbaguna, Nuning tidak memiliki karyawan tetap. Ia hanya dibantu tantenya saat pesanan membludak. Bila kewalahan, ia meminta bantuan tetangga sekitar untuk mengerjakan prakaryanya tersebut. “Dalam sehari bisa membuat 15-20 buah pesanan. Tetangga yang ikut membuat kerajinan tersebut akan diberikan upah,” katanya.

Dengan model tersebut, ia mampu memberi nafkah bagi ibu-ibu dan remaja putri yang menganggur di sekitar rumahnya. Ia pun tidak segan memberi pelatihan gratis tentang membuat prakarya dari sampah yang bisa didaur ulang. 

Untuk pemasaran,Nuning rajin memasukkan produknya melalui jejaring sosial seperti website, Facebook, dan Twitter. Dari berpromosi hanya melalui media online, Nuning mengaku bisa mendapatkan pesanan hingga 300 buah setiap bulannya dengan omset hingga Rp 5 juta per bulan. Puncak pesanan biasanya di akhir tahun.  “Keuntungan bersihnya sekitar 20-30,” katanya. 


Ingin Selamatkan Lingkungan

Nuning yang masih berstatus karyawan swasta di salah satu operator terkemuka di Indonesia ini tidak menyangka hasil keisengannya membuat berkah tersendiri bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan memiliki usaha berbahan baku kotak bekas, Nuning berharap apa yang dilakukannya selama ini menjadi inspirasi semua orang untuk dapat membantu mengurangi kebiasaan langsung membuang sampah dan bisa menyelamatkan lingkungan.

“Awalnya saya juga prihatin dengan sampah perkotaan yang tidak terkelola dengan baik. Saya harap dengan melalui Omah KenKen (nama usahanya) ini membuat masyarakat dapat mengelola sampahnya dimulai dari rumahtangga dengan mengelolanya dengan baik,” katanya.

Nuning mengaku memiliki visi dan misi tersendiri dalam menjalankan usahanya tersebut dengan mengusung go green. Ia memiliki semboyan, Dunia selamat, Uang kita dapat, Bermanfaat bagi masyarakat.  “Walau skala usahanya belum besar, tapi saya ingin bisa sedikit mengurangi sampah yang ada di lingkungan sekitar dengan mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah, yaitu bisa dipakai dan dapat dijual,” ujarnya. 

Produknya tersebut kini sudah merambah ke Korea Selatan. Ia juga kerap diundang sebagai pembicara di berbagai acara seperti seminar, dan talk show. “Selain untuk memperkenalkan Omah Kenken, ajakan seminar juga saya khususkan untuk membagi pengalaman mengolah sampah menjadi bernilai,” katanya.

Nuning juga menuangkan pengalamannya ke dalam sebuah buku yang sudah diterbitkan tahun 2012 dengan judul Omah KenKen, Sampah Jadi Uang.  Kini, wanita kelahiran 29 November 1977 ini sedang menyiapkan buku keduanya dengan mengusung berbagaiproduk hasil olahan sampah dari berbagai botol kaca. “Saya coba untuk memulai ke barang bekas lainnya bukan hanya kotak susu saja. Namun mulai dari botol plastik, kaca dan lainnya. InsyaAllah tahun ini sudah bisa terbit,” kata wanita lulusan Universitas Mercu Buana itu.

Meski sibuk dengan pekerjaan dan urusan bisnis, ia pun tidak lupa menjalankan takdirnya sebagai istri dan ibu bagi anak semata wayangnya. “Alhamdulillah kerjaan tidak terbengkalai, usaha juga berjalan terus, keluarga juga makin sejahtera,” katanya. 

Profil:
Nama: Wahyuning Widowati
TTL: Surakarta, 29 November 1977
Twitter: @NuningWidowati
Pekerjaan: Head of IT Training and Operation Enablement Department Telkomsel
Pendidikan Terakhir: Public Relation Universitas Mercu Buana
Alamat: Jl. Dalang gg Saiman No 99, RT 003/05, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur.
Kontak: 0811100293

Minggu, 24 November 2013

Yves Rossy, Si Manusia Jet

Banyak orang memiliki hobi yang menarik. Namun bagi Yves Rossy, bisa terbang tanpa memakai pesawat terbang adalah mimpinya sejak lama.

Rossy memulai karir sebagai seorang pilot di pesawat tempur untuk Angkatan Udara Swiss. Lalu karirnya menanjak sebagai pilot profesional di dua maskapai Swiss.

Lelaki kelahiran 27 Agustus 1959 itu lantas tidak puas dengan pencapaian karirnya. Pada tahun 1993, ia mulai memikirkan cara-cara untuk terbang tanpa memakai pesawat terbang.

Lalu dia pun belajar cara sederhana meluncur menggunakan sistem sayap. Setelah banyak latihan meluncur, ia pun membuat sesuatu yang lebih dekat dengan pesawat jet, namun mampu terbang dengan tanpa pesawat.

Mantan pilot Swiss Air Force ini kemudian merancang sayap yang terbuat dari serat karbon Kevlar dan dilengkapi dengan mesin jet kecil. Rossy yang sering dipanggil Airman atau Jetman ini kemudian mampu membuat penerbangan bertenaga jet pertamanya dan hanya dia yang terbang memakai alat tersebut. Dia menganggap bahwa idenya ini benar-benar gila.

Sejak saat itu, lelaki yang juga pernah bekerja di Swiss International Airlines ini terus menyempurnakan penerbangan dan idenya lebih berani lagi. Rossy berusaha memecahkan rekor pertamanya dengan terbang di atas Selat Inggris pada tahun 2008.

"Dengan penyeberangan perdana (di atas Selat Inggris) itu, ini menunjukkan bahwa manusia bisa terbang seperti burung," kata Rossy seperti dikutip Guardian.

Kini, penerbangannya pun sudah didokumentasikan, baik melalui website maupun channel YouTube. Saat ini, pesawat jet yang mampu menerbangkannya ini dilengkapi dengan empat mesin jet dan memiliki berat lebih dari 120 kg. Ini juga termasuk parasut untuk penyelamatannya khususnya bila mesin jet mati.

Pesawat jet Rossy pernah mengalami gagal mesin saat ia menyeberangi Selat Gibraltar pada 2009. Lantas ia jatuh ke Samudera Atlantik. Sejak saat itu, Rossy telah terbang dengan sayap jet di beberapa benua dan bahkan bisa berseberangan dengan pesawat terbang lainnya.

Setelah menyeberangi Selat Inggris dan Selat Gibraltar, Rossy juga pernah terbang dengan pesawat sayap jetnya ini ke Grand Canyon hingga ke Rio de Janiero. Awal November ini, Rossy menambah jam terbangnya ke Gunung Fuji di Jepang.

Penerbangan ke Gunung Fuji tersebut menandai prestasinya dalam usaha mengalahkan dirinya sendiri dan menginspirasi orang lain. "Terbang di sini bagi saya adalah mimpi. Aku adalah orang yang beruntung yang mendapat kesempatan melakukan ini. Tapi saya harap saya bisa memotivasi generasi berikutnya agar bisa memikirkan lebih baik dan bisa melakukan hal berbeda, bahkan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin," katanya.

Dengan mesin jet buatannya itu, Rossy bisa terbang di atas Gunung Fuji selama 9-10 menit di ketinggian 12.000 kaki atau sekitar 9,3 kilometer di atas laut dengan kecepatan 190 mil per jam. Bagi Rossy, Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang dan merupakan salah satu dari tiga gunung suci di Jepang. Fuji bisa dilihat dari Tokyo, meski dengan jarak 60 mil.

Sumber: Mirror dan MNN


Senin, 02 September 2013

Goh Liang, Jadi Miliarder Berkat Cat

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan Goh Cheng Liang. Dialah salah satu orang terkaya di Singapura yang mengawali kesuksesannya dari tingkat bawah.

Meski ia kaya raya, Goh ini belum termasuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Namun di Singapura, Goh menjadi orang penting karena memiliki sejumlah properti dan landmark Singapura seperti rumah sakit Mt Elizabeth hingga pusat perbelanjaan Liang Court di Clarke Quay.

Uniknya, kesuksesan Goh ini tidak didapat dari bangku sekolah. Ia lahir dari keluarga miskin di rumah petak satu kamar pada tahun 1928. Menjadi anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya ini sejak kecil sudah aktif membantu keluarganya untuk menjual jaring ikan lantas bekerja di sebuah toko perangkat keras. Di sinilah ia belajar tentang bisnis.

Pada tahun 1949, saat terjadi Perang Dunia kedua, banyak perusahaan lantas dijual rugi. Berbekal uang yang telah dikumpulkannya, ia pun lantas membeli salah satu perusahaan cat di Singapura dengan harga murah. Lalu ia pun membuat perusahaan cat sendiri dengan merek Pigeon.

Namun kesuksesan membeli perusahaan ini tidaklah semulus yang diperkirakan. Tahun berikutnya, pecah perang Korea yang menyebabkan larangan impor barang khususnya ke China. Larangan impor bahan baku ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

Beruntung, ada investor asal Jepang yang mau mengakuisisi sebagian saham perusahaan Goh yaitu perusahaan cat Nippon Paint yang mengambilalih 40 persen saham Pigeon. Kini perusahaannya makin membesar karena merek Nippon sendiri kini telah dijual di 15 negara di luar Jepang dengan sekitar 15.000 karyawan dan pabrik di 30 lokasi. Omset perusahaannya kini 2,6 miliar dollar AS. Tapi kini, bisnis tersebut telah dilanjutkan oleh anak Goh yaitu Hup Jin.

Goh ini memang layak disebut pengusaha. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan, membangun dan menjual bisnis untuk meningkatkan asetnya. Selama bertahun-tahun, dia menginvestasikan sebagian keuntungannya dari bisnis cat ke properti hingga membangun pusat perbelanjaan, hotel, service residences hingga bisnis distribusi ritel yang bekerjasama dengan perusahaan Jepang. Bahkan Goh juga membangun bisnis manufaktur bisnis elektronik, bisnis kemasan, logistik bahkan membangun perusahaan tambang di China.

Untuk memperbesar bisnisnya, ia pun tidak takut untuk menjual sebagian saham perusahaannya. Terbukti ia menjual 41 persen pusat perbelanjaan Liang Court sebesar 175 juta dollar AS pada Pidemco Land pada 1999. Kemudian Omni Industries dijual ke Celestica CLS dari Kanada senilai 1 miliar dollar AS pada 2001.

Lalu rumah sakit Mt Elizabeth juga dijual. Baru-baru ini, bersama Crown Holdings dari AS, dia mengakuisisi perusahaan layanan kemasan. Awal tahun ini, dia juga ingin membeli kembali 30 persen saham Pigeon dari Nippon Paint senilai 751 juta dollar AS. Namun rencana tersebut kandas seiring dengan pertumbuhan bisnis cat di Asia.

Meski ia masih mengawasi seluruh bisnisnya, dia pun tidak lupa untuk memberikan beasiswa, membuat perusahaan non profit riset kanker serta pendidikan melalui yayasan Goh Foundation.

Sumber: Forbes

Kamis, 25 Agustus 2011

Steve Jobs Becomes Jobless?

Sang Penentu Kesuksesan Apple
Chief Executive Officer (CEO) Apple Steve Jobs akhirnya mengumumkan pengunduran diri setelah 13 tahun mengabdi di lembah Silicon Valley. Dalam surat pengunduran dirinya, memang tidak dijelaskan alasan. Namun disinyalir Steve memiliki penyakit dan saat ini sedang menjalani perawatan transplantasi hati akibat kanker pangkreas yang dideritanya.

Meski mengundurkan diri dari posisi puncak produsen komputer jinjing Macbook, ponsel iPhone hingga tablet iPad itu, Steve tidak akan jadi pengangguran (jobless). Dia akan tetap berada di Apple, yaitu dengan jabatan baru Chairman of The Board Apple (Ketua Dewan Direksi). Sebagai pengganti, Steve sudah mempersiapkan Timothy D Cook yang sebelumnya menjadi Chief Operating Officer (COO).

Berikut surat pengunduran diri Steve Jobs:

To the Apple Board of Directors and the Apple Community:

I have always said if there ever came a day when I could no longer meet my duties and expectations as Apple's CEO, I would be the first to let you know. Unfortunately, that day has come.

I hereby resign as CEO of Apple. I would like to serve, if the Board sees fit, as Chairman of the Board, director and Apple employee.

As far as my successor goes, I strongly recommend that we execute our succession plan and name Tim Cook as CEO of Apple.

I believe Apple's brightest and most innovative days are ahead of it. And I look forward to watching and contributing to its success in a new role.

I have made some of the best friends of my life at Apple, and I thank you all for the many years of being able to work alongside you.

Steve


Sepanjang karirnya di Apple, Steve menciptakan merek produk "i" yang bisa dikatakan tidak berhubungan dengan fungsi dan desain. Debut pertamanya, Apple membuat iMac. "Itu merupakan perkawinan kesenangan internet dan kesederhanaan Macintosh."
Menciptakan karakter "i" pada semua produknya
Jadi, ‘i’ mewakili internet dan ‘Mac’ mewakili Macintosh. Internet merupakan kata yang paling sering dikira diwakili ‘i’. Namun, internet bukanlah satu-satunya arti ‘i’ yang dimaksud Jobs.

Selain internet, ‘i’ juga berarti individual, merujuk pada sifat alami personal komputer. Instruksi, komputer juga dimaksudkan untuk tujuan pendidikan serta informasi dan inspirasi.

Sejak debut iMac pada 1998, Apple mulai menciptakan beberapa rancangan serupa produk konsumen lainnya menggunakan ‘i,’ termasuk iPod, iPhone dan kini iPad, bahkan toko musik iTunes.

Rumah Saat Masa Kecil Steve Jobs
Sayang, pengunduran diri Steve ini langsung direspon oleh pasar dengan penurunan harga saham Apple Inc yang terkoreksi 5,15 persen menjadi US$356,89 dalam perdagangan saham Kamis di New York Exchange Stocks Amerika Serikat.

Bagaimana kiprah Apple sepeninggal Steve? terutama menghadapi serangan Blackberry, Samsung, Nokia atau bahkan produsen gadget ternama lainnya? Kita tunggu saja.

Rabu, 17 Agustus 2011

Violis Dunia Berdarah Indonesia

Penasaran dengan iklan kopi JJ Royal dari Sugar Group Company? Dengan hanya menyuguhkan seorang pemain biola, iklan ini banyak diperbincangkan di ranah maya. Siapa sih dia? kok sampai jadi bintang iklannya?
Iskandar Widjaja
 
Telisik punya selidik, doi adalah pemuda Bintaro yang hidup dan besar di Jerman. Dia adalah Iskandar Widjaja. Violis berusia 25 tahun ini mulai bermain biola sejak umur 4 tahun.

Kemampuannya semakin terasah di bawah bimbingan maestro Biola bergelar profesor bernama Ilan Gronich saat dirinya berkuliah di Universität der Künstein Berlin.

Iskandar kini tergabung dalam masterclasses pimpinan pebiola kawakan Dora Schwalzberg bersama para maestro lain dari daratan Eropa seperti Henning Kraggerud, Shlomo Mintz, Kristen Tetzlaff, dan Donald Weilerstein.

Iskandar juga dikenal sebagai juara di beberapa kompetisi biola ternama Eropa macam Jugend Musiziert, Hindemith, Postacchini dan Goldener Julius.

Berkat talentanya, sejumlah grup orkestra kelas dunia berebut ingin membawanya serta dalam pertunjukkan mereka. Dirinya telah tampil menjadi solist bersama beberapa grup orkestra kawakan, sebut saja Dubrovnik Symphony Orchestra, Jakarta Symphony, Klassische Philharmonie Bonn, das Sinfonieorchester Berlin, Filmorchester Babelsberg dan Berlin Chamber solois di Norwegia.
Penampilan Menawan, Gesekan Maut

Sungguh, pria tampan ini merupakan fenomena kecil dunia musik klasik Eropa, profil dirinya pernah muncul dalam media kaca ternama seperti RBB, TV Berlin dan Brainworker Film. Sementara media musik klasik seperti “Strad”, “Dubrovacki Vesnje”, dan “der Tagesspiegel” sahut menyahut memuji permainan biolanya.

Bagi cewek Indonesia, melihat permainan gesekan maut biolanya membuat hati wanita langsung terpesona. Tak hanya tepukan tangan, tapi juga jeritan yang memuji-mui penampilannya. Tapi, beda dengan gadis Eropa yang justru memuji permainannya dibanding penampilannya. Bagaimana menurut Anda?

Selasa, 16 Agustus 2011

Jakob Oetama: Juragan Media Indonesia

Di tangannya, media menjadi sumber kekayaan bagi diri dan menyejahterakan karyawan yang bekerja padanya. Lebih dari empat dekade mengelola media, lelaki kelahiran 27 September 1931 ini percaya bahwa bisnis koran (media cetak) tidak akan mati, meski serbuan media lain seperti internet dan televisi kian gencar.
Jakoeb Oetama

Pertama kali di media, Jakob diminta untuk menjadi Pemimpin Redaksi majalah Intisari, konsep majalah yang meniru Readers Digest. Dua tahun kemudian, karirnya melejit sehingga diminta mengelola koran Kompas.

Baginya, apa yang disajikan televisi dan internet itu sebagai media tontonan. Namun baginya, media tersebut itu belum cukup. Dan surat kabarlah yang mengisi kekosongan itu dengan sajian lebih mendalam, tetapi dengan formula yang masih tetap menghibur.

Memang Kompas Group dahulu memiliki stasiun televisi TV7. Tapi Kompas terlalu dini menyapihnya dan melepas ke Group Para milik Chairul Tanjung yang sebelumnya memiliki TransTV. Akhirnya TV7 itu diubah menjadi Trans7. Kini, Kompas harus memulai lagi bisnis televisinya dengan membuat KompasTV.

Jakob sendiri menggambarkan dirinya sebagai seorang guru yang belajar sejarah dan belajar jurnalistik. Karena bakat, sehingga mampu membawa dan mengoranisir rekan-rekannya untuk bekerja dalam sebuah media massa, sampai sekarang ini.

Setelah ditinggal sobat seperjuangan Petrus Kanisius Ojong yang meninggal pada 1980, Jakob sendirian menghidupi Kompas.

"Saya nggak tahu bisnis. Tapi saya tahu diri kalau saya nggak tahu. Cuma barangkali otak saya dikaruniai kecerdasan yang memadai sehingga dengan kemauan belajar ya bisa menangkap apa yang diperlukan."

Sempat mencicipi sebagai karyawannya, saya melihat kunci keberhasilannya terletak pada semangat untuk bekerja secara all out alias tidak setengah-setengah. Dan itulah yang diterapkan pada semua karyawannya.

Senin, 15 Maret 2010

Fokus Pada Keinginan Nasabah

Banyak bank menawarkan produk kepada nasabah. Namun bank kebanyakan lupa bahwa nasabah juga memiliki keinginan yang harus diwujudkan. Bank Permata sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia mampu memenuhi keinginan nasabah tersebut. Salah satunya adalah mengimplementasikan pendekatan customer-centric.

Berikut petikan wawancara dengan Direktur Utama Bank Permata David Martin Fletcher di kantornya pada 10 Maret 2010 lalu yang bercita-cita menginginkan Bank Permata sebagai bank yang fokus ke segmen consumer dan commercial.

Bagaimana performa bisnis Bank Permata selama 2009 lalu?
Secara umum, performa bisnis Bank Permata secara keseluruhan menunjukkan hasil yang positif. Aset kita mencapai Rp56,2 triliun dan masuk Top 10 bank dari segi aset. Serta menempati posisi 9 dalam pencapaian dana pihak ketiga (DPK) versi Bank Indonesia per Desember 2009.

Begitu juga dengan pencapaian kredit perseroan yang naik 18% dari Rp34,85 triliun di 2008 menjadi Rp41,2 triliun di akhir 2009. Pertumbuhan tersebut sudah melampaui pertumbuhan kredit rata-rata secara industri yang hanya naik 10,61%. Hal itu berarti Bank Permata telah menunjukkan komitmennya sebagai bank yang melakukan fungsi intermediasi secara baik.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, bank hasil merger 5 bank (PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Artamedia, PT Bank Patriot dan PT Bank Prima Ekspress pada tahun 2002) ini berhasil membukukan kenaikan pendapatan. Yaitu naik 15% menjadi Rp3,74 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih naik 15% menjadi Rp2,96 triliun dan pendapatan operasional juga naik 15% menjadi Rp785 miliar.

Alhasil, laba operasional naik 19% menjadi Rp740 miliar. Sedangkan laba bersih tumbuh 5% dari Rp461 miliar menjadi Rp486 miliar di akhir 2009.

Namun bila dibandingkan dengan bank lainnya, mengapa laba Bank Permata relativf lebih kecil?
Laba hanyalah salah satu indikator kesuksesan, namun bukan indikator mutlak kesuksesan sebuah bank. Masih banyak indikator lainnya yang patut dilihat, di antaranya laba operasional ataupun pendapatan. Namun kami tetap optimis untuk dapat mengejar ketertinggalan di tahun ini dengan menciptakan strategi tertentu.

Bagaimana prospek industri perbankan di 2010 ini dan khususnya ke Bank Permata?
Kami yakin dengan pertumbuhan yang kuat selama 2009, industri perbankan secara umum akan melanjutkan penguatannya. Namun hal itu harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan harus mendapat dukungan penuh dari pemegang saham. Dalam hal ini kami didukung oleh dua perusahaan papan atas di luar negeri dan di dalam negeri yaitu Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk.

Salah satu komitmennya di tahun ini adalah kami mendapatkan suntikan untuk memperkuat struktur permodalan (tier II) dari Standard Chartered Bank (salah satu pemegang saham Bank Permata) sebesar Rp700 miliar. Suntikan modal yang telah dilakukan pada 8 Maret 2010 tersebut merupakan penerbitan surat utang jangka menengah subordinasi tanpa jaminan oleh Bank Permata. Surat utang itu bertenor 10 tahun dengan tingkat bunga variabel SBI 3 bulan plus 2,75% per tahun.

Bila emisi ini dilakukan di akhir 2009 saat CAR Permata Bank tercatat sebesar 12,2% (setelah memperhitungkan risiko pasar), emisi ini dapat meningkatkan CAR sebesar 140 bps. Hal ini menjadikan CAR Permata Bank menjadi 13,6%, jauh melampaui ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8%.

Di tahun ini pula, kami yakin bisnis Bank Permata akan selaras dengan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu juga dengan ekonomi global yang mulai pulih. Permintaan domestik akan masih menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia, sebanding dengan peningkatan ekspor di tahun ini.

Bagaimana strategi Bank Permata untuk menghadapi persaingan terhadap perbankan lainnya? Apakah ada target tertentu?
Kami akan melanjutkan apa yang kami capai di tahun lalu dan akan tetap fokus melayani segmen consumer dan commercial (small medium enterprises/SME dan middle market) di tahun ini. Salah satu caranya adalah melakukan pendekatan kepada nasabah (customer-centric approach).

Dengan metode seperti itu, kami akan mengetahui kebutuhan nasabah yang menjadi fokus Bank Permata. Biasanya melalui inovasi produk ataupun menyediakan pelayanan prima kepada nasabah prioritas. Di sisi lain, kami akan melakukan efisiensi untuk mendapatkan profit yang tinggi.

Dengan dukungan dua pemegang saham utama, kami akan tetap melanjutkan sinergi dengan perusahaan papan atas tersebut. Sekaligus meningkatkan bisnis dengan cara penjualan silang (cross selling) melalui bundling product maupun menawarkan harga persahabatan (relationship pricing).

Dalam hal jaringan, kami akan meningkatkan infrastruktur melalui penataan ulang beberapa kantor cabang untuk meningkatkan pelayanan nasabah. Bahkan kami akan merelokasi maupun menutup beberapa cabang untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain kami juga akan membuka cabang baru, menambah mesin ATM dan mesin Electronic Data Capture (EDC). Hal itu kami lakukan untuk mendekatkan nasabah yang sudah ada maupun peluang nasabah baru.

Di sisi internal, kami menganggap karyawan adalah salah satu aset perusahaan. Sehingga untuk meningkatkan kemampuannya, kami rutin melakukan pengembangan, pelatihan dan meningkatkan bakat karyawan. Langkah tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus meminimalisasi resiko perusahaan.

Kami juga semakin yakin dengan fokus ke target nasabah, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, menguatkan sinergi dengan pemegang saham, mengoptimalkan jaringan, meminimalisasi resiko perusahaan, melakukan penjualan silang serta mengembangkan karyawan sebagai aset perusahaan adalah strategi untuk memenangkan pertarungan di industri perbankan yang kian ketat.

Anda berpengalaman di dunia perbankan selama kurang lebih 24 tahun. Apakah ada strategi tertentu dalam mengelola Bank Permata ini?
Dunia perbankan di seluruh dunia memiliki basis produk yang relatif sama. Perbedaannya hanyalah bagaimana kita bisa melayani nasabah dengan sebaik-baiknya. Selain itu kita juga harus mampu memberikan inovasi produk sehingga nasabah tertarik dengan produk yang kita tawarkan.

Apalagi karakter penduduk Indonesia begitu unik. Dengan jumlah bank sekitar 122 unit, kami dituntut untuk bisa bersaing dengan banyak bank tersebut. Harapannya, bank-bank tersebut bisa melakukan merger atau konsolidasi sehingga akan membuat perbankan menjadi sehat.

Namun Indonesia justru diuntungkan oleh kekuatan ekonomi domestic. Sehingga tidak banyak akan terpengaruh oleh krisis global yang melanda, seperti yang terjadi dua tahun lalu. Buktinya kami tetap mencatatkan pertumbuhan positif meski diterpa krisis.

Produk apa saja yang akan ditawarkan Permata di tahun ini?
Kami masih fokus ke segmen consumer dan commercial. Di antaranya adalah produk kredit pemilikan rumah (KPR), kredit tanpa agunan (KTA), pengelolaan kas perusahaan (cash management), bancassurance, pengelolaan dana mahal hingga produk Priority.

Khusus produk liabilitas, kami memiliki produk Tabungan seperti Tabungan Bebas, Tabungan Optima, Permata Bintang (untuk anak), Tabunga Masa Depan, giro (individu maupun korporasi) dan deposito. Untuk produk retail banking treasury ada valuta asing dan obligasi. Produk investasi berupa reksadana terproteksi, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksanada kombinasi, ORI hingga sukuk. Serta ada produk bancassurance seperti unitlink.

Produk tersebut kebanyakan sudah ada di tahun lalu. Sehingga tahun ini kami hanya akan melakukan inovasi untuk menjaga loyalitas nasabah lama dan berharap dapat menjaring nasabah baru. Selama ini produk-produk di atas banyak diminati nasabah kami. Agar lebih optimal, kami akan menyosialisasikannya ke seluruh cabang untuk meningkatkan basis nasabah.

Di akhir 2009, Bank Permata meluncurkan produk Priority Banking. Apakah layanan priority banking masih menarik minat nasabah di tengah bayang-bayang krisis global tahun lalu?
Kami percaya bahwa layanan priority banking masih menjanjikan sebagai layanan potensial di tahun ini. Layanan tersebut merupakan peningkatan layanan yang dimiliki perseroan di tahun sebelumnya yaitu Tabungan Permata Kencana. Karena nama tersebut kurang menjanjikan sebagai layanan Priority, maka kami mengubahnya menjadi Priority Banking.

Keunggulan produk tersebut adalah fasilitasnya dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga. Hal itu sejalan dengan visi perseroan yaitu melakukan pendekatan kepada nasabah sesuai kebutuhannya. Layanan tersebut juga akan menjadi kontribusi tertinggi kepada perseroan terutama dalam penghimpunan dana pihak ketiga sekaligus menjadi portofolio investasi. Di sisi lain, layanan ini akan memberikan apresiasi eksklusif bagi nasabah dan anggota keluarganya.

Di Permata Priority, beragam keuntungan yang didapatkan oleh nasabah akan secara langsung dinikmati oleh seluruh keluarganya. Seperti layanan kartu kredit Permata Black yang digabung dengan Mastercard Internasional.

Tapi banyak perbankan lain yang juga menggenjot nasabah Priority. Apa strateginya untuk mendapatkan ceruk sempit tersebut?
Layanan Priority ini fokus ke keluarga karena kami menganggap bahwa keluarga adalah aspek paling penting untuk nasabah kami. Maka kami akan memberikan pelayanan terbaik dalam memenuhi kebutuhan nasabah sekaligus keluarganya.

Saat ini kami menyediakan layanan tersebut melalui 17 Priority Center di tujuh kota utama yaitu Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Medan. Di tahun ini, kami menargetkan kepuasan nasabah Priority sekaligus meningkatkan jumlah basis nasabahnya.

Jumlah minimal investasi di layanan tersebut adalah sebesar Rp500 juta. Sayangnya, kami tidak berencana untuk membuka layanan di bawah nilai minimal tersebut.

Berapa potensi dana nasabah kakap tersebut di Indonesia dan berapa target Bank Permata meraih dana potensial tersebut?
Jumlah nasabah Priority terus meningkat setiap tahun yang diikuti oleh pertumbuhan relatif besar di jumlah dana kelolaan. Kami yakin tahun ini akan ada pertumbuhan lebih tinggi lagi, baik jumlah nasabah maupun besaran dananya.

Apakah ada target pertumbuhan dana pihak ketiga dan jumlah pertumbuhan nasabah Bank Permata di tahun ini?
Setiap tahun Bank Permata agresif dalam pertumbuhan bisnis yang direflesikan dari masing-masing target perseroan. Tahun ini, kami juga akan menggenjot dana pihak ketiga terutama dana murah yang banyak ditopang oleh sebagian besar nasabah kami.

Suku bunga acuan BI (BI Rate) akan fluktuasi tahun ini dan imbas krisis global akan masih terjadi. Bagaimana cara Anda untuk meningkatkan loyalitas nasabah?

Dalam melayani produk investasi nasabah, kami harus mengerti profil resiko nasabah, tujuan investasi dan jangka waktu investasinya. Kemudian, kami baru akan menawarkan produk investasi yang sesuai dengan profil dan kebutuhan nasabah.

Selalu Ada peluang Untuk Menang
Apakah ada suka duka dalam dunia bankir?
Justru dunia bankir sangat menyenangkan sehingga saya betah menekuni dunia perbankan selama 25 tahun. Apalagi kami bertugas untuk meningkatkan portofolio investasi nasabah agar menjadi kaya. Itu sangat fantastik. Bahkan saat kami melakukan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) ke pelosok daerah. Hal itu sangat menyenangkan, terutama di China, Hongkong, Singapura bahkan Bangladesh.

Di negara tersebut, saya melihat perbedaan karakteristik nasabah. Tapi pada dasarnya sama, mereka ingin berinvestasi dan sayalah yang bertugas harus membuat mereka bisa kaya dengan produk investasi yang ada di perbankan. Itulah uniknya.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Kebetulan semua keluarga sudah ada di Jakarta dan saya sangat suka dengan Indonesia. Jika ada hari libur ataupun di akhir pekan, kami usahakan selalu ada berkumpul bersama antaranggota keluarga. Di situlah saatnya kami melepas lelah sembari bertukar pikiran berbagi kebahagiaan dan kesedihan yang dialami di dunia kerja. Yang penting adalah mampu membagi waktu antara urusan kerja dan keluarga.

Bagaimana rasanya memimpin perusahaan dengan karakteristik pemegang saham di dua negara?
Ini adalah perusahaan yang besar dengan pemegang saham yang unik, yaitu perpaduan antara perusahaan lokal dan perusahaan asing. Apalagi dua perusahaan tersebut adalah dua perusahaan papan atas di masing-masing negara. Jarang sekali ada perusahaan seperti ini.

Saya yakin selama memimpin perusahaan ini, saya akan menciptakan peluang-peluang baru baik dalam produk maupun penataan kerjasama antar tim. Perusahaan ini akan ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) lokal terbaik. Saya yakin dengan aset karyawan yang ada, ditambah peningkatan kualitas SDM, maka kami akan mampu bersaing dengan perbankan yang lebih dahulu ada. Intinya peluang itu masih ada, dan selama peluang itu ada, selalu ada peluang untuk menang.


Biodata:
Nama : David Martin Fletcher
Tempat/Tanggal lahir : London, 18 Januari 1963
Pendidikan : Menerima Upper Second Class Honours Degree untuk Modern History dari Durham University
Karir :
•Nigeria International Bank Laos Nigeria sebagai Vice President and Country Risk Manager and General Manager, Energy Group (1992-1994)
•Standard Chartered Bank (SCB) London sebagai Corporate Banking Director and Head of Energy Group (1995-1996)
•SCB Shanghai China sebagai Senior Credit Officer (1996-1998)
•SCB Hongkong sebagai Head of Trade Risk and International Trade Management Group (1998)
•SCB Singapura sebagai Regional Credit Officer, South East Asia, India and Australia (1998-2000)
•SCB Singapura sebagai Group Head Portofolio Management and Wholesale Bank (2000-2002)
•SCB Bangladesh sebagai Chief Executive Officer (2002-2004)
•SCB Group sebagai Head of Group Internal Audit (2002-2009)
•Bank Permata sebagai Direktur Utama