Sabtu, 08 Maret 2008

Keris Bali dan Maknanya

Keris bukan hanya sebagai senjata sejak jaman penjajah. Namun keris sudah menjadi warisan yang memiliki arti penting bagi pemilik maupun kolektornya.

Keris sebagai warisan peninggalan nenek moyang Indonesia telah diakui oleh UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan, sekolah dan anak).Bali misalnya, sebagai provinsi yang masih memegang adat istiadat dan penuh religi memiliki keunikan keris yang tidak ditemukan di tempat lain.

Menurut Bambang Eko Priyono selaku pinisepuh Sanggar Kanjeng Purwo yang menjadi kolektor keris di Bali mengatakan keris Bali memiliki panjang hingga 60 cm. Begitu juga dengan Luk (lekuk keris) yang ganjil dan lurus dengan arti tersendiri. Luk tiga menggambarkan perlindungan, Luk lima menggambarkan kebaikan (yang diartikan dengan pandhawa) dan Luk tujuh yang berarti sengkelat dan biasa digunakan oleh raja-raja.

Pria yang telah dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Purwo Saputro oleh Istana Paku Alaman Jogjakarta ini juga mengungkapkan keris di masyarakat Bali masih punya kedudukan tinggi dalam agama dan adat. Sehingga keris merupakan salah satu kebutuhan keluarga Hindu Bali. Di samping sebagai senjata, keris juga dianggap sebagai benda yang mempunyai kekuatan spiritual sehingga bisa menjadi pelindung ketika berpergian, untuk usaha, tanda pengabdian kepada raja, untuk menjaga keselamatan rumah tangga, untuk sarana penyembuhan seorang dukun dan khususnya untuk upacara keagamaan.

Dari sekian banyak fungsi keris, Empu di Bali lebih mementingkan manfaat spiritual keris (kekuatan magis) dari pada karya seni (keindahannya). Misalnya seperti bagian yang paling sulit dibuat seperti pamor. Bentuk pamor (hiasan pada batang keris) bahkan lebih menekankan pada kekuatan magis yang dimilikinya. Contohnya pamor blarak sineret yang berarti masyarakat harus mengikuti perintah pemimpin. “Ini membuktikan keris sebagai bukti prestisius dari sebuah karya seni seorang Pande atau Empu. Bukan senjata sembarangan,” ujar Bambang yang ditemui di Sanggar Kanjeng Purwo jalan Danau Buyan 5 Sanur.

Tidak hanya memiliki kekuatan magis, balutan sarung yang menutup keris malah memberi kesan penampilan mewah. Penampilan luar seperti wadah (rangka), pelokan (pangkal wadah), hulu dan cincin ujung hulu justru dibuat dari emas, perak, gading, kayu langka yang dihiasi dengan ukiran dan batu permata hingga beberapa karat. Namun hanya keris untuk tokoh-tokoh masyarakat dan agama saja yang dibuat bagus. Baik sarung maupun bilahnya.

Mangku Ketut Sandi, salah satu perajin dekorasi keris mengatakan saat ini hanya ada enam perajin di seluruh Bali. Kekurangan perajin keris di Bali lebih disebabkan karena tidak sembarang orang bisa menekuni profesi tersebut. Empu keris pada umumnya berpangkat pembantu pendeta (mangku) atau malah pendeta.

Dalam membuat keris pun, empu harus menjalani laku tapa dan macam-macam latihan rohani kejawen. Selain itu membuat keris klasik atau tradisional yang sesuai dengan pribadi pemesan dan punya "isi" memerlukan waktu yang lama. ”Setahun mungkin hanya bisa membuat dua hingga tiga buah keris dengan biaya mahal,” tambah Ketut Sandi yang pernah menjadi pemangku Pura Pande Dalem Majapahit banjar Tatasan Denpasar. 

Jumat, 07 Maret 2008

Komunitas Bali Breaking


Meski banyak yang mencap komunitas break dance urakan, namun mereka sangat komitmen terhadap kesehatan. Kepedulian tersebut diungkapkan dengan enggan (tidak boleh) merokok dan narkoba.

Chris (25), bule asal Belanda yang menyambangi Bali Breaking Dance sungguh terpesona melihat semangat B Boy (Breaker Boy) Bali. Namun sejak awal kedatangannya ke Bali, bule yang bernama lengkap Christopher tersebut sangat anti terhadap dunia rokok dan narkoba. “Rokok dan narkoba sangat tidak baik untuk kesehatan,” ujarnya yang sedikit belepotan dalam berbahasa Inggris.

Menurutnya, rokok akan menyebabkan pernafasan terganggu. Jika pernafasan terganggu, permainan break dance pun akan tidak bagus. Nafas akan terengah-engah dan mudah capek. “Dunia break dance menuntut B Boy harus memiliki stamina yang bagus. Sedikit pun gangguan tubuh tentu akan mengurangi semangat B Boy,” tegur B Boy Chris.

Senada dengan B Boy Chris, B Boy Koruyun (23) asal Rusia juga menyatakan hal yang sama. Rokok dan narkoba harus sama-sama dijauhi, bukan hanya untuk komunitas B Boy tapi untuk kita semua. “Namun ada sedikit kelonggaran boleh untuk minum alkohol selepas kompetisi,” jawab Koruyun yang selalu datang ke komunitas Bali Breaking saat ke Bali.

Dunia rokok, narkoba dan minuman keras, lanjutnya meski menimbulkan inspirasi tersendiri bagi B Boy akan dianjurkan untuk segera menjauhinya. Kondisi latihan yang monoton lantas diselingi dengan dunia rokok, narkoba dan minuman keras akan membawa dampak buruk tak hanya bagi diri sendiri bahkan bagi komunitasnya. “Jika ketahuan B Boy mengonsumsi rokok, narkoba dan minuman keras selama latihan dan dalam kehidupan sehari-hari, boleh keluar sekarang juga,” katanya mengancam tegas.

Cewek Bikin Konsentrasi Bubar

Latihan tanpa ditemani pacar tentu bikin hati tak tenang. Apalagi kalau kebetulan ada janjian sepulang latihan. Tapi menurut Kevin (15) memboyong cewek dalam latihan malah akan membuat konsentrasi bubar. “Aku pernah bawa cewekku saat latihan, ternyata dia minta macam-macam. Malah bikin ribet. Minta inilah, itulah, temenin ke cafĂ© lah, ada saja permintaannya,” keluh Kevin yang disapa B Boy VNZ.

Membawa pacar saat latihan atau saat kompetisi bagi sebagian B Boy memang wajar. Namun kebanyakan B Boy malah sengaja meninggalkan atau sengaja tidak membawa serta pacar karena membuat ribet. “Pikir kondisi sendiri mau latihan atau kompetisi saja sudah ribet apalagi mengurus orang lain, meski dia pacar kita,” jelasnya.

Pemanasan Cukup Push Up
Sebelum memulai latihan, B Boy dianjurkan melakukan pemanasan. Tak harus yang lama tapi harus berkualitas dan bisa melatih otot tubuh keseluruhan yang berkaitan dengan permainan break dance. Biasanya pemanasan cukup dengan push up, sit up atau pemanasan biasa layaknya olah raga lainnya. “Olah raga atau pemanasan dengan menggunakan barbel sebelum latihan harus sangat dihindari. Latihan tersebut justru akan membuat kaku otot tangan kita,” sergah David yang kram saat latihan selepas menggunakan barbel.

Untuk menghindari kesalahan dalam latihan atau kompetisi, B Boy selalu mengadakan pertemuan rutin. Istilahnya open circle. Biasanya B Boy akan mengadakan open circle di mall, lapangan terbuka atau aula. Tempat nongkrong yang biasa dikunjungi bagi B Boy saat akhir pekan  adalah Discovery Shopping Mall Centro di kawasan jalan Dewi Sartika Kuta. Pertemuan dilakukan pada pukul 8 hingga 11 malam.

Tak hanya berbagi keluh kesah, B Boy juga mengadakan sharing ilmu atau ide teknik dance terbaru. Bahkan tak segan pula memerlihatkan video terbaru dari B Boy seantero jagat terutama melalui temannya, B Boy Chris, B Boy Koruyun atau B Boy lainnya yang kebetulan ada di Bali dan ketemu komunitas Bali Breaking di Centro.

Aksesoris Simple
Masalah aksesoris biasanya memerlukan perhatian khusus bagi semua orang. Namun bagi B Boy malah membuat sederhana dalam pemilihan aksesoris yang akan dikenakan sewaktu latihan maupun kompetisi.

Aksesoris atau perlengkapan yang wajib ada adalah sepatu kets yang ringan dan mudah dibuat freestyle, kaos oblong dan celana pendek (baik dari jenis kain maupun parasut). Aksesoris di luar itu diperbolehkan asal tidak mengganggu permainan. Bagi Kevin, celana panjang juga boleh asal tidak ribet saat dipakai. Begitupun topi biasa atau topi pets, kupluk, hand band, anting, jaket dan sebagainya. “Aksesori kan hanya tambahan, jadi boleh dipakai asal tidak membuat ribet. Toh yang dinilai juga gayanya bukan aksesorisnya,” jawab Kevin.

Penilaian
Dalam kompetisi Break Dance, B Boy dituntut untuk bisa melakukan semua jenis maneuver atau jenis tarian yang dikreasi seasli mungkin. Menurut Chris, kriteria penilaian B Boy terletak pada kekompakan (saat main bersama), orisinalitas (keaslian teknik), maupun power move (kecepatan bergerak disesuaikan dengan irama dan teknik kekuatan dalam bergerak).

Kompetisi yang sering dilombakan adalah Battle Team (anggota terbatas) dan Battle Crew (anggota tak terbatas). Selain itu ada juga kompetisi Seven to Smoke (11 orang), Battle Foot Walk (freestyle individu), Battle Top Rock (freestyle individu), dan Battle Power Move (freestyle individu). Ada juga kompetisi satu lawan satu, dua lawan dua dan three on three (tiga lawan tiga) antar tim.

Menjadi B Boy juga bisa menjadi tumpuan hidup perekonomian. Bagi David, job sering datang menghampiri saat ada pesta ataupun kegiatan lembaga. “Pernah saya dikontrak untuk main di 12 SMA oleh sebuah radio, fee nya lumayanlah, bisa nambah uang saku. Ortu juga sangat mendukung terlebih saat mendapat piala atau piagam penghargaan,” seru David asal Bima.

Rabu, 05 Maret 2008

Ogoh-Ogoh Atribut Punk


Pawai ogoh-ogoh saat pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) tak hanya didominasi oleh kaum dewasa. Buktinya masih banyak anak-anak yang sengaja ikut memeriahkan pawai tersebut dengan membuat ogoh-ogoh mini ala mereka.

Salah satunya adalah di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Warga tersebut sengaja membuat Lomba Ogoh-Ogoh dengan peserta anak-anak. Ogoh-ogoh ini akan diarak di Lapangan Pegok, Denpasar Selatan, Kamis sore hingga malam menjelang pengerupukan.

Menurut Kadek Adhi Indrayana, ketua panitia acara lomba tersebut mengatakan jumlah peserta yang sudah mendaftar adalah 31 kelompok. Jumlah ini naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 16 kelompok ogoh-ogoh. Untuk peserta lomba dibatasi maksimal berusia 16 tahun.

Karena tema bebas, maka banyak peserta yang membuat tema sesuai kreativitas masing-masing. Meski begitu semangat ogoh-ogoh yang mencerminkan raksasa jahat (Bathara Kala) masih mendominasi bentuk ogoh-ogohnya. Tak hanya diambil dari cerita pewayangan seperti Mahabaratha dan Ramayana, anak-anak banyak yang mengubah bentuk ogoh-ogoh menjadi ogoh-ogoh punk lengkap dengan aksesorisnya. “Anak-anak cenderung ekspresif dibandingkan dengan orang dewasa. Makanya mereka membuat tokoh ala mereka sendiri,” jelas Adhi.

Menurut Kadek Agus Astika Putra (8) yang ditemui saat menunggu ogoh-ogoh kreasinya di jalan Sesetan Denpasar ini mengatakan ogoh-ogoh tersebut adalah ciptaan dari 20 orang teman dekatnya dibantu orang tua masing-masing. Bentuk raksasa mini yang berbentuk anak muda gaya punk dengan rambut jabrik dan aksesoris rantai ini sudah dibuat sebulan lalu. “Saya suka musik dan membuat ogoh-ogoh seorang pemusik, salah satunya adalah punk,” ujar Agus sambil mengacungkan ibu jari, telunjuk dan jari kelingking khas anak punk.

Bahkan orang tua mereka pun rela menyumbang demi terwujudnya keinginan anak dalam memeriahkan malam pengerupukan. Untuk membuat satu ogoh-ogoh tersebut biasanya paling sedikit membutuhkan biaya satu juta. Itu pun tergantung bahan dan aksesoris penunjangnya. “Saya ingin melestarikan tradisi yang sudah lama ada pada anak-anak. Kegiatan ini sangat bermakna melawan kekuatan jahat dan besok (hari Jumat pada saat Nyepi) adalah saat yang paling baik untuk mawas diri, bagaimana perilaku kita selama ini,” tambah Kadek Suardana, ayah Agus Astika Putra yang sedang merampungkan aksesoris baik lampu ataupun penataan musik. Ikutan nonton yukkk!!!

Selasa, 04 Maret 2008

Tutup Tahun Ala Clubbers Transeksual (1)

Kuta diguyur hujan lebat dan angin kencang menjelang perayaan malam pergantian tahun. Suasana jalan Imam Bonjol menuju Kuta terlihat sedikit lengang meski ada rombongan remaja sambil mengendarai motor dan membunyikan terompet.

Hujan yang mengguyur kota sejak pukul 11 malam baru bisa berhenti sekitar pukul 01.30 wita. Pertigaan jalan Patih Jelantik – Legian menuju Ground Zero terpaksa ditutup oleh dua sepeda motor polisi. Sebagian pengunjung yang ingin merayakan sisa tahun baru di Kuta memberanikan diri memecah jalan yang ditutup tersebut di tengah banjir setinggi mata kaki. Pengguna jalan banyak yang menyerobot balik arah ke utara karena banjir makin tinggi. “Saya sedang menunggu teman. Jalan menuju Ground Zero banjir setinggi lutut. Saya terpaksa naik di trotoar jalan menuju ke sini. Di trotoar saja air masih setiggi setengah lutut. Untung polisi diam saja meski saya melawan arus jalan,”kata Yanuar (22) asal Jakarta.

Hujan sedikit reda menjelang pukul dua pagi. Ditemani seorang gay, Inank (bukan nama sebenarnya, 24 tahun), menemani saya makan malam di Mc Donald Kuta. Hanya mengambil paket panas seharga Rp 17.000, cowok yang sudah melakukan profesi ini sejak 2003 lalu bercerita tentang masa lalunya.

Akhir 2003 menjadi sejarah tak terlupakan bagi Inank. Akibat diajak teman kuliah tiap malam minggu ke Kudos (pusat hiburan kaum gay di jalan Abimanyu Seminyak), Inank malah ketagihan main ke situ. Awalnya sempat risih tatkala harus dikuntit oleh bule dan warga lokal menuju ke toilet. Bule dan warga lokal yang gay tersebut menepuk pantat, memegang puting susu, memegang area Mr P seraya memeluk dari belakang dan memegang leher. “Karena saya tolak, dua orang itu pun langsung pergi,”kenangnya.

Untuk memasuki pusat hiburan kaum gay ini pengunjung akan dikenakan tarif Rp 30.000. Jika ada kegiatan atau party khusus, harga tiket masuk bisa melonjak Rp 60.000 hingga Rp 100.000. Karena tidak membawa kartu VIP Kudos, saya batal diajak memasuki pusat “jajanan” kaum lelaki transeksual tersebut.

Ngobrol santai dilakukan di dekat Circle K 56. Jalan Abimanyu masih disesaki pengunjung yang habis party, entah di Kudos, Q Bar, Bahiana atau pusat hiburan lain di kawasan tersebut. Inank mulai menceritakan ciri-ciri kaum transeksual itu. “Ciri utamanya ada tindik di telinga sebelah kiri, kaos warna hitam putih atau warna menyolok, modis dan biasa berpegangan tangan atau jalan beriringan (untuk pasangan gay atau biasa disebut couple),”ujarnya sembari menunjuk seseorang sebagai contoh.

Waktu telah menunjukkan pukul empat pagi. Suasana Kudos sudah mulai terlihat lengang. Hanya tinggal beberapa orang yang sedang dugem ditemani musik disko dan lampu warna-warni.  Setiap hari bahkan akhir pekan atau malam liburan, Kudos dijadikan tempat pertemuan para kucing (istilah bagi para kaum gay untuk menyebut pasangannya).

Tak jarang beberapa kucing ini melakukan ciuman, pegang-pegangan bahkan seks di tengah temaram ruangan Kudos. Di toilet Kudos, pengelola biasa menyediakan kondom beragam merek. Terlebih jika ada kegiatan atau pesta besar (akhir pekan, liburan tahun baru atau liburan nasional lainnya) atau saat ada sponsor kondom. “Di toilet ini banyak juga kucing yang making love (ML) dengan pasangannya,”katanya.

Beragam kegiatan juga marak digelar oleh Kudos. Tarian striptease cowok bahkan hampir selalu digelar tiap malam minggu. Cowok-cowok judi (jual diri) ini sengaja hanya memakai G string tipis atau bahkan tanpa sehelai kain apapun alias bugil. Bak seorang penari Ledek, cowok “judi” tersebut menanti saweran minimal Rp 50.000 yang biasa diselipkan di G String-nya atau dengan sambutan tangannya.

Tatkala libur panjang seperti malam tahun baru, Kudos juga ramai oleh pengusaha, kaum eksekutif bahkan artis ibu kota untuk menghabiskan masa liburannya di sini. Bahkan Ivan Gunawan, Oscar Lawalata, dan desainer terkemuka ibu kota lainnya sengaja membuat disain busana khusus bagi kaum gay atau waria di sini.

Selepas mengadakan kesepakatan transaksi atau pertemuan singkat dengan tarif Rp 200.000 ke atas untuk sekali main, kaum kucing ini lantas langsung pergi ke Double Six Club di jalan Pantai Double Six untuk mengadakan pesta selanjutnya. Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan dugem  karena musik di tempat tersebut sangat cocok dengan jiwa para kucing ini. Karakteristik house musik diiringi disc jockey (dj) akan membuat  prestice kaum kucing terangkat. Karena yang bisa memasuki Double Six Club hanyalah orang borjuis atau dengan kantong tebal. Apalagi ditambah permainan bungy jumping yang turut menyemarakkan arena. “Saat saya masih punya kucing bule, dompet saya selalu terisi penuh. Kiriman paling tinggi yang pernah saya terima adalah Rp 5 juta,”jelasnya yang selalu habis untuk clubbing.

Minggu, 02 Maret 2008

Semua Rujak Ada di Bali

Jika kangen dengan makanan rujak, Anda bisa mampir ke rujak Buleleng Jl. Letda made Putra 39 Denpasar. Apa saja menu rujaknya?

Tentu Anda sudah tidak asing dengan makanan rujak. Makanan khas Indonesia dari berbagai daerah ini memiliki kekhasan sendiri. Contoh di daerah Jakarta terkenal dengan asinan. Di Surabaya dikenal dengan rujak Cingur. Di Bali ada Rujak Kuah Pindang, Rujak Gula, Rujak Kacang dan Rujak Rumput Laut.

Usaha yang dikelola oleh Kadek Rohani (50) asal Desa Sawan Singaraja ini sudah berjalan 12 tahun. Resep turun temurun dari keluarganya untuk melestarikan makanan khas daerah Buleleng dan khas daerah lain di Indonesia ini terus berjalan hingga sekarang. “Resep ini saya peroleh dari ibu saya dan semua menggunakan bahan mentah (tidak dimasak),” ujar Kadek.

Rujak yang ada di warung Rujak Buleleng ini memakai bahan sayur dan buah-buahan. Sayur yang dipakai adalah kacang panjang, kangkung, tauge, pare dan terung. Untuk buah digunakan semua buah yang sedang musim seperti salak, belimbing, nanas, mentimun, kedondong, bengkoang, mangga bahkan jeruk Bali dan terung Belanda.

Untuk membuat rujak ini pun cukup sederhana. Cukup menghaluskan garam, terasi, cabe dan gula sebagai bumbu. Gula yang dipakai bisa gula pasir, gula merah ataupun pemanis buatan. Untuk rujak Buleleng hanya ditambahkan pisang batu (pisang biji) dan 5 sdm cuka.

Sedangkan untuk rujak kacang, bumbu hanya ditambahkan dengan kacang tanah yang sudah digoreng. Jika rujak kuah pindang ada tambahan khusus seperti pepaya dan ubi tanah yang diserut serta kuah dari rebusan ikan tuna. Ini yang menjadi ciri khas Rujak Kuah Pindang dan hanya satu-satunya di Indonesia. Bahkan tak jarang, jika pembeli suka bisa ditambahkan terung Belanda dan buah Mengkudu.

Sedangkan untuk membuat kuah pindang cukup merebus ikan tuna dalam panci yang telah diisi air. Bumbu yang diberikan cukup memakai serai, daun salam dan tomat. Masak ikan tuna dan bumbu hingga mendidih. Untuk dua kg ikan tuna bisa digunakan rujak selama sehari penuh.

Kadek Rohani mengaku sayur dan buah yang dipakai masih mentah atau setengah matang. Sayur dan buah tersebut sengaja tidak dimasak agar kandungan gizi tidak larut dalam air dan hilang. Sayur dan buah tersebut juga dipercaya bisa menyembuhkan penyakit seperti uluhati, panas dalam, sembelit bahkan mencret. “Dari dulu sampai sekarang, jika saya sakit langsung makan rujak dan tidak ada keluhan sama sekali bahkan ke dokter pun tidak pernah,” jelasnya.

Sedangkan untuk rujak rumput laut hanya ditambahkan bumbu biasa seperti rujak Buleleng dan ditambah parutan kelapa. Menu lain yang ditawarkan adalah Plecing Kobles. Menu khas Singaraja ini mirip dengan Serombotan yang ada di Klungkung atau seperti Urap yang ada di Jawa. Di sini pun juga ada Tipat Cantok, Tipat Plecing dan Serombotan.

Rujak Buleleng ini buka setiap hari dari pukul 9 pagi hingga 8 malam. Pembeli harus mengantri terutama jika akhir pekan antara Jumat, Sabtu dan Minggu. Untuk memesan makanan, pembeli hanya menulis menu yang akan dipesan berikut jumlahnya pada secaraik kertas yang sudah digunakan. Jangan lupa untuk menulis selera masing-masing. Misal jika ingin pedas cukup tulis 15 cabe, memakai gula merah, tanpa buah “ini” atau tanpa sayur “itu”.

Rujak yang sudah terkenal dari Sumatra dan Jawa ini hanya mematok harga Rp 3000 hingga Rp 4000 untuk rujak dan minuman. Sedangkan minuman yang ada di sini adalah es daluman, es campur dan es buah.

Bagi Eka Indriyani (32) asal Renon Denpasar bisa menyambangi Rujak Buleleng empat kali dalam seminggu. Begitu juga dengan Putu Primayuni (32) yang satu bangku dengan Eka juga memilih Rujak Buleleng karena sudah keranjingan sejak kecil. “Kalau tidak makan rujak di sini, saya sering sakit kepala,” jelas Putu yang sudah mengidam bumbu rujak kuah pindang tiap hari.

Sabtu, 01 Maret 2008

Jalan-Jalan di Jakarta

Tadi pas jam makan siang gw mampir di depan kantor BIMANTARA. Letaknya di bawah rel kereta api (atau kereta apa ya??). Aq makan soto betawi tuh. Penasaran karena belum pernah mencoba. Kita berlima bareng Andika, Sahlan, Regina & Nopiyanti (wartawan Nusa Bali, kontributor di Jkt).

Pas dah nyoba, koq gt ya rasanya??

Sebenarnya enak banget karena ada daging kambingnya. Cuma santan yang menjadi kuahx terlalu pecah. Pasti ngaduknya kurang rata. Akibatnya minyak yg ada di daging loncat ke kuah. Ini menyebabkan kuah jadi penuh kaldu / berminyak. jadi eneg. Sumpah, pas setengah main, gw rasanya mau muntah. Untung bisa ditahan. Jadi g sampe malu2 in temen.

Trus malamnya main ke Atrium. Kebetulan diajak temen (Indri & Mutia) makan di Chicken Story (bener ga ya) di lantai berapa ya (4 atau 6 gt) ga sempat ngitung. Kita makan combo. Ada ayam paha dengan  tambahan tahu kentang. Yg enak sambelnya bo.Nendang banget!! Trus kita jg cerita tentang kantor & kerjaan. Cukup lama di situ sampe mo tutup.

Pas kita pingin cari peta di Gunung Agung, ada petugas yg kutanya," di mana tempat peta??tanyaku.

"Peta mana Mas? jawab petugas.

"Jakarta," kilahku. Si petugas mengernyitkan dahi. Lha ini kan Jakarta, knp harus cari peta JKT? mungkin pikirnya gt.

Cuek aja, aku kebetulan blank di jkt. Jd perlu peta biar bisa jalan2.

Akhirnya kita pulang dengan naik Blue Bird. Padahal kita berangkat cuma habis 7rb, masak pulangnya kita bisa habis 23rb. Dengan taxi yg berbeda sih. Wualah..koq susah banget ya hidup di Jkt. Belum lagi macet. Jalanan busway dipakai untuk kendaraan lain. Gmn sih??? bukannya busway dibuat untuk mengurangi kemacetan lalin & bisa mengurangi pemakaian kendaraan pribadi serta beralih ke alat transportasi umum??

Minggu, 24 Februari 2008

Orangtua Wajib Dampingi Anak Belajar

Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua dalam menemani anak untuk belajar. Proses pendampingan tersebut hanya memerlukan waktu sedikit namun berkualitas.

Menurut Anom Widiyanti (32), untuk memberikan pendampingan belajar, tidak ada urusan perseorangan (ibu saja atau ayah saja). Namun bisa dilakukan menurut kedekatan perasaan si anak, lebih nyaman belajar dengan siapa. “Karena profesi, Ayah dan Ibu pun bisa bergantian untuk mengajari anak. Waktu yang dibutuhkan pun relatif sedikit. Cukup 15 menit per hari. Syukur kalau bisa lebih,” ujar Anom.

Waktu pendampingan paling tepat adalah saat si anak sedang bahagia. Kegiatan saat makan, minum susu atau mandi pun bisa disisipi dengan pelajaran ringan seperti mengucapkan kata-kata benda, sapaan kepada orang, atau bahkan candaan ringan. “Saat aktivitas tersebut bisa pula dibacakan buku. Jangan takut buku akan basah. Saat kesenangan pada anak sedang memuncak, anak bisa menyerap 50 kata per hari.

Saat anak dibacakan buku, meski belum dapat mengingat secara pasti akan berdampak pada proses belajar selanjutnya. Bagi Ni Made Swasti Wulanyani, psikolog di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan membaca sangat erat kaitannya dengan menulis. Jika sang anak tidak gemar membaca, maka untuk melakukan aktivitas menulis pun sangat susah. “Orang Indonesia tidak gemar menulis karena tidak memiliki kegemaran membaca. Hal ini juga disebabkan kosakata yang dimiliki sejak lahir sangat kurang,” terang Wulan yang melihat fenomena budaya mendongeng hilang dalam pandangan orang tua.

Pendampingan belajar pun tidak memerlukan tempat mewah atau dengan sarana memadai. Cara efektif justru dapat dilakukan secara langsung di pangkuan ibu atau orang tua yang paling dekat dengan anak. Proses belajar yang disebut leap learning tersebut memungkinkan bagi anak tidak berlarian saat belajar dan memungkinkan penyerapan proses belajar berjalan optimal.

Lanjut Anom, leap learning juga sangat berarti bagi anak ketika sakit. Bukan berarti saat sakit harus langsung diberikan pertolongan pertama ke dokter atau langsung meminum obat, tapi ada langkah mujarab dan sederhana yang bisa mengatasi sakit terssebut. “Caranya cukup sederhana dan semua orang bisa melakukan. Cukup dekap si anak, belai dengan penuh kasih sayang dan bacakan berita,” terang Anom yang merawat Kalyani, putri semata wayangnya dengan cara tersebut sambil terus memberikan banyak air putih.

Begitu juga dengan masalah yang terjadi pada keluarga. Sang anak jangan sampai melihat bahkan mendengar pertengkaran tersebut. Bagi Wulan, psikolog, anak akan mudah menyerap informasi apapun yang terjadi di sekitarnya. Termasuk dengan cek cok antar orang tua. “Masalah yang timbul pada keluarga akan memengaruhi kondisi psikologis anak di saat kecil dan dewasa,” kata Wulan yang menerangkan concentration disorder pada anak.

Metode Belajar
Metode pendidikan anak usia dini (PAUD) yang disarankan pada balita (bayi di bawah umur lima tahun) harus disesuaikan dengan umurnya. Meski belum dapat membaca, sang anak harus dirangsang untuk senang dengan bacaan. Buku dengan visual yang menarik dapat menjadi acuan dalam pendidikan belajar anak balita, terutama bagi pasangan baru.

Misal, belajar hitung-hitungan tidak langsung diberikan berupa kata-kata mutlak seperti angka 1 hingga 10. Sang anak akan lebih tertarik pada hitungan saat ditunjukkan gambar benda (buah, hewan, bunga, dsb) dengan jumlah tertentu. Jumlah ini langsung mengacu pada angka. Kemudian buku-buku bersifat tebakan (buku bersirip) yang dapat dibuka dan ditebak sesuai gambar di depannya. Buku ilustrasi penuh warna juga akan merangsang kreativitas anak juga akan merangsang kesadaran dengan cerita. Saat membuka buku, orang tua bisa membacakan apapun di buku tersebut sambil bercerita baik dongeng, cerita keluarga, dan lain-lain.

Bagi Alit Setiari (27) pun tidak segan mengajarkan anak pelajaran yang positif semampunya. Pelajaran bahasa Inggris langsung diucapkan kepada anaknya meski kini belum genap berusia satu tahun. Saat usia anak di bawah 10 tahun, kemampuan anak untuk menyerap lima bahasa mudah dilakukan. Meski anak belum bisa mengucapkan secara pasti kosakata dalam bahasa masing-masing, otak anak akan memprogram sesuai kemampuannya nanti saat anak kembali belajar bahasa asing. “Saya ingin menanamkan bahasa Inggris selain bahasa ibu (bahasa Indonesia) sehari-hari kepada anak,” ujar Alit yang bersuamikan  tukang masak di sebuah hotel di Bali.

Tambah psikolog Wulan, di dalam otak ada sebuah tempat bernama Brocha Area yang dapat menyimpan kemampuan berbahasa anak. Di atas usia 10 tahun, area tersebut akan menutup. “Saat anak tidak diajarkan kebiasaan positif di masa kecil, di usia dewasanya akan terjadi gangguan konsentrasi (concentration disorder),” tambah Wulan.