Rabu, 18 Desember 2013

Siap-siap Krisis Pangan

Seluruh negara di dunia termasuk Indonesia siap-siap akan krisis pangan di masa mendatang. Hal ini terjadi bila pemerintah tidak segera memproteksi kebijakan pangan di negaranya masing-masing.

Pengamat pertanian dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, indikasi Indonesia akan krisis pangan adalah mulai membanjirnya produk pangan impor ke pasar domestik. Sementara hasil petani domestik justru kalah bersaing dengan produk impor.

"Impor pangan yang terus meningkat membuat ketergantungan kita semakin tinggi. Sementara harga pangan dunia terus meningkat. Hal itu akan membuat satu titik tertentu kita akan kolaps, mengalami krisis pangan," kata Andreas di Jakarta, Rabu (18/12).

Ia mengkhawatirkan krisis pangan ini akan terjadi dalam waktu dekat karena krisis pangan ini merupakan siklus 10 tahunan sejak era krisis tahun 1997-1998. Saat itu, Australia dan negara penghasil pangan lainnya mengalami kekeringan hebat yang menyebabkan produktivitas pertaniannya menurun. Harga pangan dunia melonjak dan menyebabkan krisis di seluruh negara.

Siklus berikutnya terjadi pada 2007-2008 dengan kejadian yang sama yaitu kekeringan hebat di Australia dan sebagian besar Amerika Serikat. Begitu juga China dan 36 negara di dunia mengalami hal sama.

"Kekhawatiran kami, siklus itu akan berulang di 2017. Kalau pertanian kita anjlok, itu bisa berulang seperti krisis 1997-1998," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak Januari-Juni 2013, volume impor sektor pangan Indonesia terus meningkat. Terbesar di sektor daging ayam dan kedelai yang masing-masing mencapai 826,33 ribu ton dengan nilai impor US$ 509,47 juta, disusul jagung dengan 1,29 juta ton senilai US$ 393,31 juta, beras sebesar 239,31 ribu ton senilai US$ 124,36 juta dan bawang putih sebesar 187,86 ribu ton senilai US$ 144,43 juta.

Dari data Congressional Research Services tahun 2012, Indonesia memiliki jumlah pengeluaran untuk pangan terbesar di dunia sebesar 31,9 persen dari total pengeluaran US$ 1.981. Indonesia hanya lebih baik dibanding Filipina yang mengeluarkan biaya untuk pangan sebesar 36 persen dari total pengeluaran per orang sebesar US$ 1.703.

"Jumlah pengeluaran pangan terkecil di AS yaitu 6,7 persen dari total pengeluaran per orang US$ 33.575," katanya.

Salah satu alasan Indonesia akan siap-siap krisis pangan adalah kebijakan yang salah tentang ketahanan pangan. Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP), tahun 1960 Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mampu menjadi eksportir pangan dan produk pertanian utama.

Di akhir 1980-an terjadi pergeseran peran dan awal 1990-an berubah menjadi importir netto.

"Saat ini 70 persen negara berkembang tergantung impor pangan dan sebaliknya negara maju menguasai produksi dan perdagangan pangan dunia," katanya.

Andreas menyebut negara-negara berkembang dirugikan sekitar US$ 50 miliar per tahun akibat hilangnya potensi ekspor produk pertaniannya. Sementara saat ini 90 persen perdagangan dunia didominasi oleh AS, Jepang dan Inggris, baik dalam hal input pertanian, pasar benih hingga benih transgenik.

Di Indonesia, pasar pestisida, benih hingga pupuk pun mayoritas sudah dikuasai asing. Cuma industri pupuk yang masih 70 persen dimiliki oleh perusahaan Indonesia dan sisanya asing.

"Apalagi kalau melihat industri makanan dan minuman di Indonesia yang juga dimiliki asing, mulai dari industri kecap, teh, makanan ringan, susu hingga air minum sudah di atas 60 persen dikuasai asing," katanya.

Solusinya, petani di Indonesia harus bisa berdaulat dan harus mampu meningkatkan produksinya sendiri. Sementara pemerintah pun harus terus berpihak pada kepentingan petani domestik.

"Kalau pemerintah bisa mengubah kebijakan (tidak terlalu impor) dan melindungi petani, kita pun tidak akan ribut impor daging atau kedelai, kita akan bisa swasembada seperti dulu. Itu yang dilakukan pemerintah China. Kalau petani Indonesia, malah dibiarkan sendiri dan pemerintah sibuk impor. Padahal itu kebijakan instan," katanya.

Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, bila pemerintah terus membanjiri dengan kebijakan impor sementara petani dibiarkan bergerak sendiri, maka sebentar lagi petani juga akan tiarap dan segera melakukan urbanisasi.

"Pemerintah belum memihak kepentingan nasional. Kita malah menjadi penyalur aspirasi global di Indonesia," kata Hendri.

Ia menilai kebijakan yang disepakati di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) beberapa waktu lalu pun sia-sia karena sama sekali tidak menguntungkan Indonesia maupun negara berkembang yang selama ini berkontribusi pada pangan dunia.

Padahal Indonesia bersama India seharusnya bisa menggertak negara maju untuk menyepakati bahwa pangan dan industri pertanian bisa dikeluarkan dari WTO. Sehingga kebijakan pangan dan industri pangan ini akan menjadi kebijakan masing-masing negara.

"Kalau mau mengeluarkan sektor pertanian dari WTO, sangat mungkin itu. Indonesia dengan 240 juat penduduk dan India dengan 1,2 miliar penduduk sudah bisa bergerak sendiri. Tapi kan kita tidak bisa melakukan. Malah negara maju ingin Indonesia meninggalkan pertanian (dengan kebijakan impor pangan) dan sekarang itu terbukti," katanya.

Selasa, 03 Desember 2013

Octocopters, Pesawat Pengirim Barang Tanpa Awak

Kecepatan mengirim barang menjadi sebuah keharusan bagi pebisnis toko online ataupun perusahaan pengiriman paket barang. Ke depan, pengiriman barang akan bisa dilakukan menggunakan pesawat tanpa awak.

Amazon, toko online terbesar di Amerika Serikat sudah merancang pesawat tanpa awak tersebut. Dengan menggunakan wahana terbang tak berawak (drone), barang bisa dikirim dengan cepat maksimal 30 menit sejak pembeli memesan barang di tokonya. Namun, pengiriman itu masih sebatas jangkauan 16 km dari tokonya.

Octocopter, nama pesawat tanpa awak itu, mampu mengantarkan barang belanjaan Amazon dengan berat beban hingga 2,3 kg. Jumlah barang yang bisa diantar Octocopter hingga 86 persen barang yang ada di katalog Amazon.

Chief Executive Officer Amazon Jeff Bezos mengatakan, Octocopter masih membutuhkan uji keamanan dan kelayakan dari FAA (Federal Aviation Administration) Amerika Serikat. Namun ia yakin metode pengiriman dengan drone yang disebut Amazon dengan "Prime Air" ini bisa dinikmati konsumennya dalam waku 4-5 tahun ke depan.

"Aku tahu ini kelihatannya seperti di film fiksi ilmiah (science fiction). Tapi ini tidak," kata Bezos seperti dikutip Reuters.

Saat ini, FAA baru menyetujui penggunaan wahana terbang tak berawak hanya untuk agen polisi maupun agen pemerintahan. Izin yang sudah diberikan sekitar 1.400 izin selama beberapa tahun terakhir.

Sementara ruang udara sipil di Amerika Serikat diharapkan akan bisa dibuka bagi wahana terbang tak berawak pada 2015 mendatang dan di Eropa bisa dibuka pada 2016.

Ahli kendaraan tak berawak dari Universitas Central Lancashire Darren Ansell mengatakan, drone ini belum memiliki pengetahuan tentang lingkungan di sekitarnya. Misal bagaimana menghadapi pemukiman padat penduduk dan menghindari penerbangan di atas kerumunan masyarakat, sebab wahana ini akan mengganggu warga.

"Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan selama pengiriman barang. Karena pesawat ini tidak ada yang menjaga, paket bisa dicuri atau dibajak oleh orang tidak dikenal dan resikonya barang tidak sampai ke pemesan," kata Ansell.

FAA berharap agar regulator penerbangan ini mampu memberikan izin penerbangan bagi drone, khususnya di awal 2015 mendatang. "Suatu hari nanti, Prime Air milik Amazon ini akan bisa berjalan normal seperti bus pengirim paket di jalan," demikian tanggapan FAA.

Ide penggunaan pesawat tak berawak ini sebenarnya sudah mulai akan diberlakukan di Australia. Zookal, sebuah perusahaan penyewaan buku di negeri Kanguru ini akan menggunakan drone untuk pengiriman barang mulai 2015. Itupun bila disetujui oleh Civil Aviation Safety Authority Australia. Hukum penerbangan di Australia memungkinkan penggunaan pesawat tak berawak untuk penggunaan komersial.

Akankah ini mengancam bisnis pengiriman paket melalui penerbangan terbang umum ataupun perusahaan pengiriman paket konvensional? Tunggu saja.

Sumber: Reuters, BBC dan Amazon

RI Dibanjiri Ponsel Impor

Ponsel saat ini sudah menjadi kebutuhan vital masyarakat, bukan saja sekadar sebagai alat komunikasi, tapi juga pembuka akses informasi lebih luas. Sayangnya bila Indonesia dianggap pasar menggiurkan bagi sejumlah produsen ponsel kakap dari luar negeri karena penetrasi ponsel yang tumbuh signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, China paling getol memasok ponsel ke Indonesia dengan nilai impor mencapai US$ 1,32 miliar pada periode Januari-Oktober 2013. Angka ini meningkat dari periode yang sama sebelumnya dengan impor sebesar US$ 993,36 juta.

Sedangkan pada bulan kesepuluh saja, impor ponsel negeri Tirai Bambu ini menembus US$ 163,92 juta seberat 1,14 juta kilogram (kg).

Negara kedua pengimpor ponsel terbesar adalah Vietnam yang tercatat US$ 459,51 juta atau naik hampir separuhnya dari US$ 269,95 juta dengan berat 183,61 ribu kg.

Sementara di urutan ketiga negara pemasok ponsel terbanyak yakni Meksiko dengan nilai impor sebesar US$ 201,97 juta, mengalami penurunan dari Januari-Oktober lalu sebesar US$ 295,52 juta.

Berikut ini 15 negara pemasok ponsel terbesar ke Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2013:

1. China: US$ 1,32 miliar
2. Vietnam: US$ 459,51 juta
3. Meksiko: US$ 201,97 juta
4. Taiwan: US$ 186,79 juta
5. India: US$ 55,67 juta
6. Hungaria: US$ 49,37 juta
7. Hong Kong: US$ 36,29 juta
8. Korea: US$ 20,53 juta
9. Kanada: US$ 11,71 juta
10.Rumania: US$ 3,02 juta
11.Singapura: US$ 2,86 juta
12.Malaysia: US$ 1,40 juta
13.Finlandia: US$ 495,87 ribu
14.Amerika Serikat: US$ 193,75 ribu
15.Austria: US$ 70,95 ribu

Rabu, 27 November 2013

Telkom Akan Lepas Telkomsel

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berencana melepas sahamnya di PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), baik melalui penawaran publik perdana (initial public offering/IPO) maupun masuk melalui perusahaan terbuka lain (backdor listing).

Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom menyatakan rencana tersebut telah disetujui oleh pihak Singapore Telecomunications Limited (SingTel). Seperti diketahui, SingTel memiliki 35 persen saham di Telkomsel.

Namun demikian, dia tidak menjelaskan lebih lanjut waktu pelaksanaannya. "Nanti setelah Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi) selesai penjualannya," tuturnya.

Langkah penjualan itu dilakukan dengan alasa untuk memaksimalkan potensi aset, khususnya menara. Saat ini, Telkomsel memiliki 14.000 unit menara.

Sementara itu, saat ini Telkom tengah memproses calon mitra Mitratel. Pilihannya, tinggal dua, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

TLKM akan menukar (swap) 49 persen saham Mitratel dengan saham calon mitra. Dengan begitu, keduanya bisa tumbuh secara bersama-sama. Saat ini, Mitratel memiliki 4.000 menara. Total aset Mitratel per akhir September 2013 sebesar Rp 4,93 triliun.

Sumber: Kompascom

Minggu, 24 November 2013

Yves Rossy, Si Manusia Jet

Banyak orang memiliki hobi yang menarik. Namun bagi Yves Rossy, bisa terbang tanpa memakai pesawat terbang adalah mimpinya sejak lama.

Rossy memulai karir sebagai seorang pilot di pesawat tempur untuk Angkatan Udara Swiss. Lalu karirnya menanjak sebagai pilot profesional di dua maskapai Swiss.

Lelaki kelahiran 27 Agustus 1959 itu lantas tidak puas dengan pencapaian karirnya. Pada tahun 1993, ia mulai memikirkan cara-cara untuk terbang tanpa memakai pesawat terbang.

Lalu dia pun belajar cara sederhana meluncur menggunakan sistem sayap. Setelah banyak latihan meluncur, ia pun membuat sesuatu yang lebih dekat dengan pesawat jet, namun mampu terbang dengan tanpa pesawat.

Mantan pilot Swiss Air Force ini kemudian merancang sayap yang terbuat dari serat karbon Kevlar dan dilengkapi dengan mesin jet kecil. Rossy yang sering dipanggil Airman atau Jetman ini kemudian mampu membuat penerbangan bertenaga jet pertamanya dan hanya dia yang terbang memakai alat tersebut. Dia menganggap bahwa idenya ini benar-benar gila.

Sejak saat itu, lelaki yang juga pernah bekerja di Swiss International Airlines ini terus menyempurnakan penerbangan dan idenya lebih berani lagi. Rossy berusaha memecahkan rekor pertamanya dengan terbang di atas Selat Inggris pada tahun 2008.

"Dengan penyeberangan perdana (di atas Selat Inggris) itu, ini menunjukkan bahwa manusia bisa terbang seperti burung," kata Rossy seperti dikutip Guardian.

Kini, penerbangannya pun sudah didokumentasikan, baik melalui website maupun channel YouTube. Saat ini, pesawat jet yang mampu menerbangkannya ini dilengkapi dengan empat mesin jet dan memiliki berat lebih dari 120 kg. Ini juga termasuk parasut untuk penyelamatannya khususnya bila mesin jet mati.

Pesawat jet Rossy pernah mengalami gagal mesin saat ia menyeberangi Selat Gibraltar pada 2009. Lantas ia jatuh ke Samudera Atlantik. Sejak saat itu, Rossy telah terbang dengan sayap jet di beberapa benua dan bahkan bisa berseberangan dengan pesawat terbang lainnya.

Setelah menyeberangi Selat Inggris dan Selat Gibraltar, Rossy juga pernah terbang dengan pesawat sayap jetnya ini ke Grand Canyon hingga ke Rio de Janiero. Awal November ini, Rossy menambah jam terbangnya ke Gunung Fuji di Jepang.

Penerbangan ke Gunung Fuji tersebut menandai prestasinya dalam usaha mengalahkan dirinya sendiri dan menginspirasi orang lain. "Terbang di sini bagi saya adalah mimpi. Aku adalah orang yang beruntung yang mendapat kesempatan melakukan ini. Tapi saya harap saya bisa memotivasi generasi berikutnya agar bisa memikirkan lebih baik dan bisa melakukan hal berbeda, bahkan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin," katanya.

Dengan mesin jet buatannya itu, Rossy bisa terbang di atas Gunung Fuji selama 9-10 menit di ketinggian 12.000 kaki atau sekitar 9,3 kilometer di atas laut dengan kecepatan 190 mil per jam. Bagi Rossy, Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang dan merupakan salah satu dari tiga gunung suci di Jepang. Fuji bisa dilihat dari Tokyo, meski dengan jarak 60 mil.

Sumber: Mirror dan MNN


Senin, 02 September 2013

Goh Liang, Jadi Miliarder Berkat Cat

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan Goh Cheng Liang. Dialah salah satu orang terkaya di Singapura yang mengawali kesuksesannya dari tingkat bawah.

Meski ia kaya raya, Goh ini belum termasuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Namun di Singapura, Goh menjadi orang penting karena memiliki sejumlah properti dan landmark Singapura seperti rumah sakit Mt Elizabeth hingga pusat perbelanjaan Liang Court di Clarke Quay.

Uniknya, kesuksesan Goh ini tidak didapat dari bangku sekolah. Ia lahir dari keluarga miskin di rumah petak satu kamar pada tahun 1928. Menjadi anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya ini sejak kecil sudah aktif membantu keluarganya untuk menjual jaring ikan lantas bekerja di sebuah toko perangkat keras. Di sinilah ia belajar tentang bisnis.

Pada tahun 1949, saat terjadi Perang Dunia kedua, banyak perusahaan lantas dijual rugi. Berbekal uang yang telah dikumpulkannya, ia pun lantas membeli salah satu perusahaan cat di Singapura dengan harga murah. Lalu ia pun membuat perusahaan cat sendiri dengan merek Pigeon.

Namun kesuksesan membeli perusahaan ini tidaklah semulus yang diperkirakan. Tahun berikutnya, pecah perang Korea yang menyebabkan larangan impor barang khususnya ke China. Larangan impor bahan baku ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

Beruntung, ada investor asal Jepang yang mau mengakuisisi sebagian saham perusahaan Goh yaitu perusahaan cat Nippon Paint yang mengambilalih 40 persen saham Pigeon. Kini perusahaannya makin membesar karena merek Nippon sendiri kini telah dijual di 15 negara di luar Jepang dengan sekitar 15.000 karyawan dan pabrik di 30 lokasi. Omset perusahaannya kini 2,6 miliar dollar AS. Tapi kini, bisnis tersebut telah dilanjutkan oleh anak Goh yaitu Hup Jin.

Goh ini memang layak disebut pengusaha. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan, membangun dan menjual bisnis untuk meningkatkan asetnya. Selama bertahun-tahun, dia menginvestasikan sebagian keuntungannya dari bisnis cat ke properti hingga membangun pusat perbelanjaan, hotel, service residences hingga bisnis distribusi ritel yang bekerjasama dengan perusahaan Jepang. Bahkan Goh juga membangun bisnis manufaktur bisnis elektronik, bisnis kemasan, logistik bahkan membangun perusahaan tambang di China.

Untuk memperbesar bisnisnya, ia pun tidak takut untuk menjual sebagian saham perusahaannya. Terbukti ia menjual 41 persen pusat perbelanjaan Liang Court sebesar 175 juta dollar AS pada Pidemco Land pada 1999. Kemudian Omni Industries dijual ke Celestica CLS dari Kanada senilai 1 miliar dollar AS pada 2001.

Lalu rumah sakit Mt Elizabeth juga dijual. Baru-baru ini, bersama Crown Holdings dari AS, dia mengakuisisi perusahaan layanan kemasan. Awal tahun ini, dia juga ingin membeli kembali 30 persen saham Pigeon dari Nippon Paint senilai 751 juta dollar AS. Namun rencana tersebut kandas seiring dengan pertumbuhan bisnis cat di Asia.

Meski ia masih mengawasi seluruh bisnisnya, dia pun tidak lupa untuk memberikan beasiswa, membuat perusahaan non profit riset kanker serta pendidikan melalui yayasan Goh Foundation.

Sumber: Forbes

Selasa, 27 Agustus 2013

8 Kandidat Bos Baru Microsoft

Chief Executive Officer (CEO) Microsoft Steve Ballmer akan pensiun dalam 12 bulan mendatang. Banyak kalangan menyambut gembira atas kabar tersebut.

Seperti dikutip dari Bloomberg Businessweek, era kepemimpinan Ballmer ini dianggap gagal membawa Microsoft ke perusahaan yang menguntungkan. Dia dianggap gagal membawa perusahaan untuk beralih dari bisnis PC ke komputasi mobile hingga tidak memiliki landasan yang kuat untuk desain produknya.

Bahkan berita menjelang pensiunnya Ballmer sebagai orang nomor satu di Microsoft ini disambut positif oleh pasar dengan melambungnya harga saham Microsoft sebesar 8 persen. Pertanyaannya saat ini, siapakah orang yang layak menggantikan Ballmer dan apakah orang baru ini bisa membawa Microsoft seperti era Bill Gates dulu?

John Thompson, yang saat ini bertugas menjadi direktur independen akan memimpin pencarian bos baru Microsoft bersama Steve Ballmer dan sekaligus mantan pendiri Microsoft Bill Gates. Ketiga orang inilah yang akan menentukan siapa bos yang tepat memimpin Microsoft sepeninggal Ballmer.

Beredar di pasar, spekulasi orang-orang yang akan menduduki puncak orang nomor satu di Microsoft tersebut. Orang-orang itu antara lain:

1. Tony Bates
Dia eksekutif yang bertanggung jawab atas Skype. Musim panas ini dia akan mengelola pengembangan bisnis untuk Microsoft. Latar belakangnya pernah bertugas di Cisco Systems.

2. Stephen Elop
Dia adalah kepala divisi bisnis Microsoft sejak 2008-2010. Saat ini, Elop menjadi bos Nokia. Dia juga saat ini berjuang mempertahankan pangsa pasar Nokia yang terus turun sembari membuat ponsel hasil kerjasama dengan sistem operasi milik Microsoft, Windows Mobile.

3. Julie Larson Green
Dia pernah disebut-sebut sebagai pewaris Ballmer. Namun ia keluar dari jajaran manajemen dan fokus ke divisi perangkat Microsoft. Jadi karirnya saat ini memang sedang fokus membangun ponsel dan tablet serta menjalin kerjasama dengan studio film dan operator kabel bagi Microsoft.

4. Kevin Johnson
Dia meninggalkan Microsoft dan beralih ke Juniper Networks pada tahun 2008. Kini dia baru saja pensiun dari posisi itu. Selama 16 tahun di Microsoft, dia pernah bertugas mengurus jasa online perusahaan dan divisi Windows.

5. Qi Lu
Dia adalah salah satu veteran besutan Yahoo. Lu ini bekerja di mesin pencari, Bing untuk Microsoft. Kini dia mengurusi aplikasi dan rekayasa jasa bagi perusahaan.

6. Paul Maritz
Dia pernah hampir menduduki posisi puncak di Microsoft sebelum akhirnya meninggalkan Microsoft pada 13 tahun lalu. Saat ini dia menjalankan startup berbasis cloud ternama.

7. Steven Sinofsky
Dia pernah mengurus Windows dan bisa dibilang orang kedua paling penting bagi perusahaan. Namun tahun lalu dia dikabarkan tidak akur dengan Ballmer, bos Microsoft.

8. Tami Reller
Dia bergabung dengan Microsoft sejak akuisisi Great Plains Software pada 2001. Dia mengurus keuangan dan pemasaran bagi perusahaan, termasuk mengurus Windows sejak kepergian Sinofsky. Dia sekarang menjalankan pemasaran untuk Microsoft.

Di bursa Nasdaq, harga saham Microsoft hingga hari ini merosot 0,6 poin (1,73 persen) ke 34,15 dollar AS per saham.

Sumber: BusinessWeek