Sabtu, 26 Juli 2008

Mereka Peduli Jakarta

Ah, sudah lama tidak menulis nih. Tapi kali ini gw ingin repost tulisan gw yang sudah menyebar seantero negeri (lebay) dan bisa dikorek-korek via mbah Google.

Btw, ini ada beberapa tulisan yang ketemu di lapak mbah Google. Cekidot gan!!



Artikel ini dimuat oleh Koran Sindo pada Sabtu, 26 Juli, 2008 dan ditulis oleh Didik Purwanto. Baca langsung artikel di Koran Sindo di sini.

Dibalik kemegahannya, Jakarta menyimpan segudang masalah sosial dan lingkungan. Jakarta harus berubah! Dibutuhkan revolusi budaya untuk memperbaikinya.

Memang bukan hal mudah untuk mengubah Jakarta menjadi lebih baik. Namun, itu bukan hal mustahil apabila terdapat seseorang yang berani dan mau menyelesaikan masalah-masalah yang ada seperti kemacetan, polusi udara, gelandangan, pengangguran, dan sebagainya.

Kata orang bijak, mulailah perubahan itu dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan mulai sekarang. Inilah jargon yang sering dikumandangkan, namun hanya sedikit yang mau melakukannya. Contoh paling sederhana adalah nilai kejujuran,keberanian, toleransi, menghargai sesama, disiplin, keimanan, kebersihan, kerja keras, kebangsaan, dan lain-lain.

Daftar nilai-nilai tersebut sudah ”berserakan” di berbagai buku yang mengulas persoalan budi pekerti.Yang terpenting justru pelaksanaannya, integritas pribadi sebagai perwujudan kejujuran, do what you said and say what you meant. Selama ini kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri.

Di tembok sekolah tidak jarang kita saksikan slogan ”kebersihan sebagian dari iman”, tetapi sampah masih terserak di mana-mana. Sebanyak 99% WC di sekolah negeri jorok. Guru-guru pun tidak berkomentar apa-apa. Salah siapa? Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) adalah sebuah komunitas sosial anak muda Jakarta yang peduli terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar mereka.

Komunitas ini menyebarkan pesan perihal pentingnya perubahan budaya ke arah positif bagi Kota Jakarta dan sekitarnya. Dibentuk pada 30 Juni 2007, komunitas yang memiliki moto ”Impikan Jakartamu di sini” ini mulai melakukan gerakan nyata tanpa basa-basi atau sekadar cuapcuap. Melalui blog www.jakartabutuhrevolusibudaya. com, JBRB menyebar tulisan hasil pemikiran para kontributor, yang merupakan anggota JBRB sendiri.

Selain itu, dimuat juga tulisan-tulisan para penulis tamu, yaitu para tokoh yang peduli terhadap JBRB di antaranya Harris Iskandar (atase pendidikan dan kebudayaan RI di Washington DC, AS), Jennie S Bev (Pesta Blogger 2007 Celebrity Blogger Award), dan Deden Rukmana (asisten profesor dan koordinator Master’s Program in Urban Studies & Planning di Savannah State University, AS).

”JBRB merupakan perwujudan nyata dari rasa kepedulian kami terhadap Jakarta. Kami yang tergabung di dalam komunitas ini sudah muak dan bosan dengan kondisi Kota Jakarta yang kami saksikan setiap hari,” kata Ketua JBRB Mohamad Rusdi Indradewa, yang juga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta.

Komunitas JBRB memiliki lima target utama atau tema yang akan dijalankan selama 20 sesi, yaitu menjaga ketertiban, cinta lingkungan, menghargai sesama, membaca itu seru, dan mencintai budaya Indonesia. Sebagai langkah awal, JBRB masih membidik siswa tingkat TK dan SD.Dalam waktu dekat, kurikulum atau modul pelatihan pun bakal disiapkan untuk siswa SMP, SMA, dan umum.

Di tingkat TK dan SD, JBRB menyiapkan modul Berbudaya Itu Seru (Berburu) yang berisi materi, simulasi, permainan, dan diskusi. Sedangkan di tingkat SMP dan SMA, modulnya adalah Berburu Plus yang meliputi materi yang sama, namun dengan penambahan pelatihan motivasi (personal development).

Tak hanya melakukan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, JBRB lebih menekankan pelatihan ekstrakurikuler yang fun serta metode audio visual yang akan menambah ketertarikan siswa untuk belajar sekaligus berbudaya. Komunitas yang semula bernama More Power Indonesia ini dahulu hanya concern terhadap pelatihan di tingkat mahasiswa.

Setelah mereka lulus, banyak alumnus yang tergerak untuk kembali mengaktifkan komunitas tersebut, meskipun di luar negeri. Alumni yang berada di luar negeri itu kemudian membuat sebuah modul atau kurikulum yang disesuaikan dengan pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta.

Hingga saat ini, JBRB sudah memiliki proyek percontohan dan melakukan kegiatan pelatihan revolusi budaya di TK-TK binaan Lembaga Pembinaan Riayatul Ummah serta SDN Selong 01 Pagi Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setiap Sabtu. Selain divisi-divisi yang bergerak di bidang pendidikan, JBRB mempunyai divisi umum, yaitu divisi dalam komunitas JBRB yang menyelenggarakan penyuluhan, penghijauan, pengecatan zebra cross, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kontribusi bagi masyarakat di Minggu keempat tiap bulannya.

Pada Minggu kedua tiap bulan, JBRB memiliki program khusus untuk relawan internal dengan mendatangkan pakar-pakar atau narasumber berkompeten yang bisa memotivasi anggota.

”Saat ini relawan JBRB di Jakarta ada 46 orang. Terdiri atas siswa, mahasiswa, dan pekerja yang sangat concern terhadap kondisi pendidikan maupun lingkungan di Jakarta. Komunitas ini terus meluas bahkan hingga ke mancanegara, yakni Sidney (Australia) dan Washington (AS),” tambah Rusdi.

Suatu saat nanti, komunitas ini akan berkembang dan mungkin saja bisa berubah nama menjadi Indonesia Butuh Revolusi Budaya. Saat ini Jakarta hanya menjadi proyek percontohan, karena kota ini dipandang telah memiliki masalah yang kompleks dan butuh penyelesaian. Cabang JBRB ada di Yogyakarta, Surabaya, Sidney, dan Washington.

Bahkan di Semarang dan Padang,ada guru yang sudah mengajukan modul JBRB untuk diberikan kepada siswa-siswanya. Relawan JBRB di mancanegara merupakan alumni More Power Indonesia, plus hasil penjaringan saat sosialisasi bersama konsulat jenderal Republik Indonesia di Amerika Serikat.

Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri Paman Sam. Relawan ini kerap memakai uang pribadi ataupun menyisihkan gaji untuk membantu kas JBRB saat menggelar pertemuan tiap minggu. Saat ini, berkat keikhlasan relawan, JBRB sudah memiliki laptop, in focus atau perlengkapan untuk memberi pelatihan kepada siswa.

”Dalam menggali dana, kami yang di Amerika menjual makanan khas Indonesia kepada mahasiswa. Karena harga yang ditawarkan memang murah meriah, apalagi kami memiliki misi sosial di dalamnya, barang kami pun laris manis,” jelas Cut Reza Rahmadani.

Tujuan Mulia Para Sukarelawan

BEKERJA sebagai sukarelawan JBRB tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain harus mampu melatih anak didik usia pemula agar peduli terhadap lingkungan, di JBRB para sukarelawan juga bisa menuangkan kreativitas sekaligus menyumbangkan ”sesuatu” untuk kota kelahiran mereka.

Anggie Naditha Oktanesya, salah seorang relawan JBRB, aktif di kegiatan non-profit ini sejak Maret lalu. Wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung itu tertarik pada dunia pendidikan dan misi sosial JBRB.

Selain menemukan komunitas berisikan anggota yang nyambungsaat diajak berkomunikasi, Anggie juga merasa menemukan kecocokan dengan mereka. Terutama menyangkut kepedulian terhadap masalah yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.

Mulai pendidikan, kelestarian lingkungan hidup, masalah sosial, hingga menjadi fasilitator siswa sekolah dasar. ”Rasanya asyik saat saya bisa menjadi fasilitator bagi anak SD. Saya jadi terkenang kenakalan ketika SD dulu dan merasa seru bisa menjadi guru atau lebih tepatnya teman di antara mereka. Padahal, saya tidak punya pengalaman mendidik sama sekali,” ungkap Anggie yang bekerja di sebuah lembaga advokasi masyarakat.

Saat ini Anggie menjadi koordinator tim Berburu SD yang bekerja secara sukarela. Tugasnya menetapkan sekolah mana yang bisa dijadikan proyek percontohan selanjutnya. Setelah sukses menyelenggarakan pelatihan di SDN Selong 01 Pagi, banyak SD di sekitarnya yang merasa iri, ingin mendapatkan pelatihan serupa.

Tak ayal, Anggie yang menjadi ketua tim di antara tujuh anggotanya harus bekerja lebih giat demi menyukseskan program JBRB. Minimal hingga akhir 2008, Anggie punya target bisa merangkul tiga sekolah untuk mendapatkan pelatihan berbudaya dari JBRB.

Relawan lainnya, Cut Reza Rahmadani atau akrab disapa Reza, mulai bergabung dengan JBRB pada September 2007. Wanita kelahiran Jakarta dan peraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Amerika Washington DC itu tertarik bergabung dengan JBRB berkat informasi teman kuliahnya.

Meski awalnya kagok, tidak tahu harus berbuat apa, Reza yang baru beberapa pekan terakhir kembali ke Jakarta itu tetap serius merumuskan modul pelatihan JBRB. Reza menilai orang Amerika, anak-anak hingga manula, bisa hidup teratur. Ia lalu mengadopsi tingkah laku mereka. Masalah-masalah yang terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta, diolah dan dijadikan modul bersama 11 mahasiswa Indonesia lainnya di Amerika.

Prinsip modul itu cukup sederhana. Yaitu menggabungkan atau mengombinasikan pelajaran yang sudah diterima di sekolah dengan kejadian sehari-hari di rumah. Selain dengan metode diskusi terbuka dan kelompok, modul rumusan JBRB juga memberikan pembelajaran sederhana, seperti sampah.

Reza membuat modul yang bisa dilakukan oleh fasilitator, yaitu pengenalan sampah. Membedakan sampah kering dan basah, bahaya membuang sampah di sembarang tempat, dan lain-lain. Dalam program tersebut, bukan hanya fasilitator yang bertugas sepenuhnya.

Mengingat pelatihan berbudaya ini hanya dilakukan seminggu sekali, peran orangtua yang bisa melakukan pendekatan lebih intens kepada anak harus dimaksimalkan. Caranya dengan membuat program khusus (pekerjaan rumah yang bisa dibawa pada pertemuan satu minggu kemudian) tentang sampah. Orangtua dapat menjelaskan lebih lanjut tentang sampah kering dan basah kepada anak di rumah. Hal ini dilakukan untuk memberi kesamaan pandangan antara anak dan orangtua.

sumber : http://sl-si.facebook.com/note.php?note_id=36980832575

Jumat, 25 Juli 2008

Latihan Menembak

Hari ini diajak anak AE (marketing) ke Blok M Plaza. Setelah puas muter-muter, kita liputan ke lapangan tembak di lantai 4 Plaza Blok M sekaligus mencoba main tembak dgn pistol & senapan. Kl pake pistol nilaiku ga lebih dari 6. Sementara kalo pake senapan bisa sampe 8 lebih. Gile...Padahal gw baru sekali ini pegang senapan/ pistol.

Ini gara2 seharian belum makan, cuma minum air  putih doank. Jadi pas megang pistol, jadi gemetaran. Grogi deh & akhirnya meleset terus.Lain kali mo cobain lagi ahhhh...

Kenapa aku semangat banget??

Kata Rasulullah,di suatu zaman nanti, kita akan kembali ke zaman baheula. Ke zaman yg tak ada teknologi sama sekali. Nah, aku lupa apakah itu hadits atau apa, bahwa kita harus bisa berenang, menembak/ memanah & berkuda. Kita akan berperang dengan orang kafir seperti jaman perang Rasulullah dulu

Sabtu, 21 Juni 2008

Komunitas Penulis Lepas

BERAWAL dari diskusi di sebuah milis,Komunitas PenulisLepas berusaha memfasilitasi para anggotanya agar mampu mengembangkan keahlian menulis.

Komunitas bermoto ”Situsnya Penulis!” itu lalu membuat website yang bisa mengakomodasi kepentingan anggota, mulai proses kirim karya, diskusi, hingga pengembangan jaringan penulis. Sejarah awal milis PenulisLepas berdiri tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin tiga sahabat,yakni Jonru,Rini Nurul Badariah, dan Subhan Afifi.

Three musketeers ini memosisikan milis PenulisLepas sebagai media komunikasi sejumlah orang yang berprofesi sebagai penulis lepas. Itu sebabnya, milis yang berdiri 15 Februari 2001 itu diberi nama PenulisLepas.Komunitas tersebut semula bersifat tertutup dan hanya orang tertentu yang diundang. Lambat laun komunitas ini berkembang dan anggotanya membludak hingga 5.200 orang.

Susah untuk mengatur orang sebanyak itu dari seluruh Indonesia. Milis ini sempat vakum karena kekurangan pengelola.Beruntung,masih ada sekitar 10% dari jumlah tersebut yang bersemangat untuk tetap melanjutkan diskusi online maupun melakukan kopi darat,sambil membuat sebuah acara. Tahun 2005 komunitas semakin solid dan memutuskan membuat sebuah kepengurusan.

Namun,dalam perkembangannya, para anggota sepakat tidak membentuk kepengurusan, melainkan jadi komunitas saja. Jonru, sebagai penggagas milis ini, bertanggung jawab melanjutkan keberadaan komunitas PenulisLepas. Setelah itu,komunitas ini semakin serius menggarap kemampuan atau keahlian masing-masing anggota, sekaligus memperluas jaringan dengan enam orang sebagai moderator.

Diskusi online tentang kegiatan tulis-menulis pun semakin terarah. ”Selain milis, kami juga membangun situs www.penulislepas. com.Awalnya,situs ini berisi info seputar penawaran jasa di bidang penulisan dan murni bertujuan bisnis,” ungkap Jonru. Namun, setelah berjalan beberapa lama, bisnis itu belum juga menampakkan profit. Jonru yang bekerja sebagai content editor di CBN, perusahaan penyedia layanan internet, tidak bisa berdiam diri.

Dia lalu mengubah www.penulislepas. com menjadi situs komunitas, dengan harapan suatu saat situs ini bisa menjadi basis bisnis baru bagi para penulis. Saat itu Jonru dibantu sahabatnya, Bambang Trim, yang mengelola penerbitan MQS Publishing dan wakil ketua IKAPI Jawa Barat.Komunikasi intensif mereka membuahkan hasil,yakni perubahan format situs menjadi komunitas penulis di dunia maya.

Sejak saat itu, komunitas ini terus menggeliat dan sering mengadakan pertemuan. Pertemuan perdana terjadi pada 16 Oktober 2005, yang ditandai dengan antusiasme anggota untuk berkiprah di milis dan situs penulis lepas. ”Saya tidak mengira PenulisLepas bisa menjadi komunitas yang sangat berharga dan potensial.

Ini adalah aset yang tak terlihat dan merupakan harta karun,”ujar Jonru, yang menggelar pertemuan kedua lewat seminar bertajuk Kiat Sukses Menerbitkan Bukupada 2 Juli 2006. Kegiatan para anggota komunitas terus berlanjut hingga 13 Agustus 2006 meski hanya berupa diskusi internal yang dihadiri tujuh peserta. Lantas, pada 24 November 2006 diadakan pula diskusi online via konferensi di Yahoo! Messenger,dihadiri sekitar 50 peserta.

Alhasil, milis dan situs penulis lepas kini menjadi milis dan situs penulisan terbesar di Indonesia.Namanya pun semakin diperhitungkan dan banyak orang penting di bidang penulisan yang bergabung di sini.Ada Bambang Trim,Yanusa Nugroho, Damhuri Muhammad, Kinoysan, Akmal Nasery Basral,Femmy Syahrani, Beni Jusuf, Arul Khan,dan masih banyak lagi.

Maret 2007, Jonru memutuskan keluar dari perusahaan dan memfokuskan diri pada bisnis penulisan,termasuk mengurus milis dan situs penulis lepas.Jonru menangkap peluang, komunitas ini bisa menjadi sebuah ladang wirausaha di bidang tulis-menulis.

Beragam paradigma lama, seperti menulis sebagai sampingan dan hanya mengandalkan honor tulisan yang dimuat di media atau royalti penjualan buku, langsung diubah oleh founder PenulisLepas tersebut. Masih menurut Jonru, kegiatan menulis pun dapat menjadi sumber penghasilan dan kita bisa kaya karenanya. Contoh nyata bisa dilihat dari penulis buku best seller Ayat Ayat Cintaatau Laskar Pelangi.

Meski untuk meraih keberhasilan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berwirausaha lewat produk tulisan jangan hanya dilihat dari royalti sebagai sumber kekayaan. Buku, misalnya, sebagai sebuah produk, bisa memperlihatkan kredibilitas seseorang,dan sumber kekayaan biasanya muncul di luar produk itu sendiri. Seperti diundang berbicara di depan forum, menerima proyek tulisan dari seseorang, dan sebagainya.

Dengan langkah mantap, Jonru lantas mengibarkan Sekolah Menulis Online (www.sekolahmenulisonline. com) pada Juli 2007, sebuah sekolah menulis di dunia maya.Tentu saja sekolah ini memiliki modul, bedah karya, hingga pertemuan online rutin dua kali seminggu. Layanan konsultasi via online pun dilakukan untuk mempermudah komunikasi jarak jauh apabila ada siswa yang kesulitan selama proses pembelajaran. Sekolah yang diadakan tiga bulan sekali dan sudah memasuki angkatan ketiga itu bisa meluluskan minimal 30 orang per angkatan.

Bagi Jonru,menulis bukan sekadar mencari materi, tapi lebih pada pengungkapan segala pemikiran dan idealisme kita. Salurkan segala ide liar positif itu dan tetap konsisten. Uang hanya efek samping.

Jonru semakin mengibarkan bisnis penulisan dengan menerbitkan buku secara self publishing (dalam bentuk ebook) berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang! melalui situs www.naskahoke.com,mendirikan lembaga pelatihan penulisan, seperti yang sedang dirintis lewat situs www.belajarmenulis. com, dan masih banyak cita-cita tentang kepenulisan yang akan ditanganinya lagi.

Salah seorang yang sukses berwirausaha di bidang ini adalah Ariyanto MB. Sejak 2007, Ariyanto telah mampu menulis 24 buku nonfiksi populer. Bahkan,dia berani memantapkan langkah untuk menjadikan menulis sebagai sumber kekayaan. Penemu danpengembangmetode”menulis tanpa harus berpikir”itu juga merupakan owner sekaligus founder MR Pen Indonesia (pabrik tulisan pertama di Indonesia), sekretaris jenderal pengurus pusat Aliansi Penulis Indonesia (API), dan penulis entrepreneur.

”Modal utama yang Anda butuhkan sebenarnya hanyalah keberanian untuk percaya dan yakin bahwa Anda bisa. Di dunia ini banyak sekali orang yang sebenarnya bisa, tapi mereka merasa tidak bisa.Mereka telah membatasi diri sendiri, padahal Tuhan telah memberi mereka potensi yang amat luar biasa,” tuturnya.

SINDO Minggu,29 Juni 2008 halaman 41

Selasa, 17 Juni 2008

Doraemon Jadi Duta Animasi Dunia

Kementerian Luar Negeri Jepang menunjuk tokoh kartun asal Jepang Doraemon sebagai duta budaya animasi seluruh dunia. Penunjukan ini dilakukan atas dasar rapat dari Kementerian Luar Negeri Jepang, ahli budaya pop, ahli komik, kaum professional dan pihak Shogakkan Production selaku pemegang lisensi Doraemon di Jepang.

Tokoh berupa kucing dengan kantung ajaib ini telah dilantik sebagai Duta Besar Budaya Animasi pada bulan Maret 2008 di Jepang untuk memerkenalkan budaya dan adat istiadat masyarakat Jepang ke seluruh dunia. “Kunjungan Doraemon ke Indonesia sudah dua kali. Tapi kunjungan kali ini sangat spesial karena bertepatan dengan 50 tahun persahabatan Indonesia-Jepang,” sambut atase Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang Yukari Kaji saat jumpa pers di Jakarta, (17/6).


Keberadaan tokoh kartun yang sudah menyapa masyarakat Indonesia sejak 18 tahun lalu ini sudah dikagumi oleh masyarakat di seluruh dunia. Selama ini tokoh kartun yang diputar di RCTI tersebut memberikan inspirasi kepada anak-anak hingga orang tua. Lanjut Yukari, melalui film-filmnya Doraemon mampu memberikan gambaran tentang cara berpikir dan cara bertindak masyarakat Jepang.

Pemerintah Jepang telah membuka hubungan diplomatik kedua ke Indonesia mulai 20 Januari 1958. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri Jepang Aiichiro Fujiyama menandatangani perjanjian Perdamaian dengan Indonesia yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Dr.Soebandri. “Indonesia telah bersahabat dengan Jepang sejak 50 tahun lalu. Dengan penunjukan Doraemon sebagai Duta Besar Budaya Animasi ini semoga makin mengukuhkan persahabatan kedua negara dalam 50 tahun ke depan bahkan selamanya,” tegas Susi Luhulima, sekretaris Komite Budaya Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ).


Organisasi PPIJ sendiri adalah organisasi yang mengedepankan hubungan persahabatan dan saling pengertian kedua negara sejak 1981. Hubungan yang dimotori oleh  alumni pelajar Indonesia di Jepang ini telah mengadakan pertukaran bidang budaya, olahraga, pendidikan, teknologi, aktivitas sosial dan ekonomi, termasuk mendatangkan Doraemon ke Indonesia.  Dalam kunjungannya ke Indonesia ini, Doraemon akan mengadakan roadshow untuk film Doraemon the Movie, Nobita dan Dinosaurus yang akan tayang mulai 9 Juli 2008 ke Jabodetabek, Medan, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Palembang, Batam, Pontianak dan Tanjung Pinang.

Maya Barack, ketua pelaksana dari Go Ad Communication pun merasa bangga bisa menyelenggarakan kegiatan bersama Doraemon di Indonesia. Kegiatan terdekat ini adalah Doraemon Dreamland, sebuah atraksi permainan berupa 17 wahana yang diperuntukkan bagi anak usia TK hingga dewasa.  Selain itu, kegiatan yang akan bertempat di Kartika Expo, Balai Kartini Jakarta 20 hingga 29 Juni 2008 ini ada festival makanan Jepang, gambar asli kartun Doraemon dari pengarang aslinya, Fujiko Fujio serta penyediaan komik Doraemon jilid penuh dalam dua bahasa, Indonesia dan Jepang.

Apa tokoh kartun favoritmu??

Rabu, 11 Juni 2008

TIM Dulu dan Kini

Semalam aku lapar banget & pingin merasakan makanan di sekitar Teater Ismail Marzuki daerah Cikini. Biasanya di sekitar area pintu masuk maupun di dalam akan ditemukan banyak makanan. Mulai dari beragam soto, seafood, nasi gila, nasi bebek & minuman aneka macam bisa kamu jajal mulai dari petang hingga dini hari. Biasanya mereka senang makan di tempat ini karena menjanjikan suasana kenyamanan sekaligus bisa lesehan (seperti angkringan di Jogja). Tapi, semalam nihil.

Aku mulai curiga, pihak TIM atau pemerintah daerah setempat menertibkan pedagang liar ini. Bisa juga pedagang makanan yang ada di sebelah dalam protes karena dagangan mereka tidak laku akibat pedagang makanan liar di pintu masuk & pintu luar. Tak mau berprasangka, semalam mobil satpol PP lengkap dengan petugasnya berjaga-jaga di depan area ini. Mungkinkan mereka direlokasi? atau bahkan diusir saja?


Sempat aku diskusi dengan temanku, bisa saja mereka diusir karena menjual minuman keras. Pasalnya, temanku ini pernah melihat ada pedagang di TIM yang menjual minuman keras tapi tidak langsung dengan botolnya. Pedagang ini memindahkan isi minuman ke dalam teko dan menuangnya ke dalam gelas. Pantas saja, mereka melayani seperti biasa (seperti menuang teh atau kopi). Biasanya anak muda yang nongkrong sambil mendendangkan gitar di sudut pintu keluar ini minum di situ. Ini masih praduga. Entah benar atau salah. Tapi bisa saja.


Jakarta, dengan segala kemajemukannya telah mendatangkan rejeki bagi kaum rural. Walau BBM naik, mereka tetap berupaya survive berjualan apa saja, yang penting bisa menghidupi anak & istri atau minimal bisa untuk biaya makan sendiri. Tapi kasihan juga bagi pedagang di TIM tersebut, walau sebenarnya makanan di sini tidak terlalu enak, mereka hanya melihat peluang ada tempat bagi anak muda atau dewasa untuk nongkrong. Kesempatan tersebut ditangkap dengan membuka warung tenda yang menyediakan makanan (biasa) dengan suasana nyaman tadi.


Bisa saja, dalam rangka ulang tahun ini Jakarta akan menertibkan pedagang liar yang ada di pinggir jalan. Termasuk pedagang koran atau penutup hidung dari polusi yang biasa menjajakannya dagangan di sekitar Tugu Tani. Pagi tadi, ada mobil satpol PP yang berjaga di depan lampu merah. Dan penjual koran sepi. Tak ada satu pedagang pun yang nongol di sana.
Trus kemana mereka berjualan??


Akankah pemda memberikan lahan berjualan bagi mereka?
Kalau di Bali, ada semacam lahan khusus Food Court ( di depan Pantai Kuta atau sekitar jalan Sunset Road) yang menyediakan beragam penjual makanan. So, bagi mereka yang ingin makan, ya memang harus ke sini. Bukan di pinggir jalan. Apalagi bagi mereka yang suka makan dengan membawa mobil pribadi, bisa memacetkan jalan.Jalanan kian sumpek.

Rabu, 04 Juni 2008

Pengamen Bangsat

Kemarin waktu mau ke Planet Hollywood di kawasan Gatot Subroto untuk acara press conference film "Mengaku Rasul", aku sengaja naik P67 dari Salemba, kosku. Hal ini aku lakukan karena lebih menghemat waktu jika harus berangkat dari Sarinah naik 640. Meski ada tanda masuk yg ketinggalan di kantor, aku pilih langsung datang aja. Nanti jika ga boleh masuk, ya balik kanan aja!Beres!

Setelah bayar ongkos Rp2500 (sekarang naik jadi gopek setelah BBM naik), aku tidak menikmati suasana bis. Habis jalannya pelan banget. Ga tahu apa aku udah telat!! tadi bangunnya juga kesiangan lagi!! Huuuhhhh, sepanjang jalan aku ngedumel sendiri.

Daripada bete aku baca majalah Readers Digest edisi Juni yg hbs kubeli di Gramedia Matraman dua hari sebelumnya. Lumayan menarik. Pas ada pengamen datang, berdiri di depanku sekaligus membelakangi diriku. Kl suaranya bagus sih ga masalah!! kl ini nih udah suaranya cempreng, gitarnya ga enak, lagunya apalagi. Jadul banget & cengeng. Masa lagu Obbie Messakh yg jaya tahun 80-an dinyanyikan sekarang. Aku yg udah semangat 45 kembali down mendengar lagu cengeng khas air mata ini. Ga pantas bangsa ini disuguhkan lagu cengeng nangis-nangisan seperti itu. Gmn bangsa ini bisa maju kl disuguhkan lagu2 spt itu terus. Itupun jg berlaku pada lagu jaman sekarang, ga ada yg membangkitkan semangat!!!

Tiga buah lagu dinyanyikan, untung aja aku ga hafal lagu itu & ga ngeh lagu itu. Di sela2 lagu emang dia nyerocos kayak salesman. Bagus jg triknya. Biasanya kl pengamen cukup ngamen aja, bilang thanks ama supir, kondektur & penumpang. Atau hati2 dgn barang Anda, banyak pencopet!!

Seketika aku dibuat takjub dengannya!!

"Kita ini harus bisa menjadi bangsa yang bersyukur. Sekecil apapun nikmat yg kita terima haruslah kita syukuri. Allah swt telah mengingatkan,"Barang siapa yg bersyukur atas nikmatku maka aku tambah nikmatnya & barang siapa kufur thd nikmatku maka adzabku sangat pedih." Bapak Ibu dan adik2 semua pasti mengalami nikmat yang berbeda2. Para penumpang yang budiman pastilah bisa menikmati indahnya dunia ini dengan segala warna-warni kehidupan. Lagu-lagu "air mata" yang saya nyanyikan tadi hanyalah sekelumit dari pengalaman harian saya. Berbeda dengan saya dengan tanpa penglihatan ini......"

Seketika aku menghentikan mataku untuk membaca & mengalihkan pandanganku ke matanya. Ternyata matanya buta & sudah tidak ada korneanya lagi, hanya putih saja. Astaghfirullah. Aku telah memfitnah orang dengan segala umpatanku tadi. Ampuni ya Allah.

Bayangkan saja kalau kita hidup seperti dia & harus bekerja keras menyambung hidup. Sementara lapangan pekerjaan hanya untuk orang normal & punya pengalaman bagus saja!!

Aduuuhh..susah sekali hidup di di dunia ini. Langsung saja aku merogoh kocek seadanya di kantong. Untung pas dia menengadahkan tangannya aku bisa memberi "sesuatu". Ingat janji Allah saja, barang siapa menabur maka ia akan menuai. Buat sedekah saja!!

Senin, 26 Mei 2008

Naik Becak Keliling Kota

Tak banyak yang tahu jika akhir pekan lalu Atiek CB, penyanyi top era 80-an yang kini bermukim di Amerika, mudik ke Kediri. Dia memanfaatkan waktunya setelah manggung bersama dalam konser Vina Panduwinata di Jakarta, 17 Mei lalu.

Dia mudik bersama ibunya, Resmiati (kini tinggal di Makassar, Red), dan adiknya, Riris. Suami keduanya, Lawrence, serta kedua putrinya, Kendall dan Kyna, tak ikut. Mereka tetap tinggal di East Coast, AS dan harus berpisah selama satu bulan.

Selama dua hari di Kota Tahu, perempuan kelahiran Kediri, 25 Mei 1963 ini telah mengunjungi banyak tempat. Selain sowan ke rumah neneknya di Wates, Kabupaten Kediri, melepas kangen dengan keluarga dan kawan-kawan lama, juga berburu makanan favoritnya.

Pelantun lagu Terserah Boy, Maafkan, dan Terapung ini pun sengaja memilih naik becak untuk berjalan-jalan keliling kota tempat dia pernah dibesarkan. Selama di Kediri, dia menginap di Wisma Rias Adilla yang juga kediaman sang tante, Dian Istiar, di Jl Pahlawan Kusuma Bangsa.

Ditemui Sabtu (24/5) siang lalu usai berbecak keliling kota, ibu dua anak ini tengah sibuk mengepak oleh-oleh yang akan mereka bawa. Ada stik tahu, getuk pisang, dan oleh-oleh khas Kediri lainnya. Atiek tetap terlihat muda dengan paduan jeans, blus hitam, dan kaca matanya. Bahasa dan logat Kedirinya masih sering terlontar. Berikut petikan wawancara Radar Kediri dengannya, tiga jam sebelum kembali ke Jakarta.

Kapan terakhir kali mbak Atiek mudik ke Kediri?
Tahun lalu sempat ke sini juga. Itu kepulangan pertama setelah lima tahun di Amerika.

Bagaimana pendapat Mbak Atiek setelah keliling Kota Kediri? Apa yang membuat kangen?
Wah, pastinya beda banget dibandingkan dulu saat hijrah ke Jakarta, kayak bumi dan langit. Yang paling bikin kangen selain ketemu sama saudara ya pasti makanannya. Semua warung makanan yang tak suka tak datengin semua, tak puas-puasin mumpung di sini. (Atiek lalu menyebutkan tempat favoritnya berwisata kuliner dengan muka berbinar. Ada warung pecel depan Pasar Setonobetek, Soto Ayam Podjok dan soto daging di Jl Dhoho, rujak Mbok Mat, es Mbok Bo, jajanan cenil di Pasar Pahing, dan yang paling favorit nasi goreng Pak Man di Jl Stasiun. Semua tempat itu dikunjunginya selama dua hari di Kediri sejak Jumat lalu)

Kegiatannya sekarang apa di Amerika, masih sering nyanyi?
Nggak ya, aku nggak nyanyi lagi sekarang. Aku di sana ngopeni (ngurus) suami dan anak-anakku. Mereka masih umur 13 dan 11, jadi nggak bisa dilepas. Selain itu kerja part time juga.

Gimana kesannya kembali naik panggung di konser Vina Panduwinata lalu, masih ingin nyanyi lagi sehabis acara kemarin?
Seneng banget ya. Meskipun ada ganggunan gara-gara mic-nya mati, tapi secara emosional atau mood-nya dapet. Penonton juga seneng, itu yang penting. Apalagi bisa nyanyi sama temen-temen Rumpies, jadi reuni deh, hehehe… Kemarin sih seneng banget pas konser, tapi kalau nyanyi lagi kayaknya nggak ya. (Atiek CB pernah tergabung dalam grup vokal Rumpies bersama Vina Panduwinata, Trie Utami, dan Malida yang memopulerkan lagu Nurlela).

Banyak yang merindukan kemunculan artis-artis solo seperti Mbak di era 80-an di tengah tren grup band seperti sekarang. Apa pendapat Mbak?
Ini bukan fenomena Indonesia saja kok. Tapi, di Amerika trennya sekarang juga grup band. Meskipun, penyanyi-penyanyi solo tetap ada. Tapi, yaa.. aku melihat, semuanya cenderung punya warna yang sama. Jarang yang mempunyai karakter khusus. Aku hanya melihat satu dua grup band yang punya karakter seperti itu...

Bagaimana dengan banyaknya festival di Indonesia?
Aku pikir bagus ya untuk mencari orang-orang yang talented di bidang musik. Terutama di daerah-daerah yang mungkin selama ini mereka tidak terwadahi. Dulu, kalau bicara musik kan hanya Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Masih suka mengikuti perkembangan CB Band (band asal Kediri yang dipakai menjadi nama belakang perempuan bernama asli Atiek Prasetyawati ini, Red)? Apa yang Anda harapkan?
Wah, lama banget aku nggak ngikuti. Jadi, nggak banyak tahu yang sekarang. Tapi, aku tadi sudah ketemu teman-teman. Aku kira, banyak yang talented. Kalau ingin sukses, mereka harus mengikuti perkembangan musik sekarang.




Note: CB adalah kepanjangan dari Chanda Bhirawa. Nama tersebut adalah nama sebuah stadion di kota Pare yang sekaligus menjadi nama band Atiek CB. Bahkan inisial tersebut dibawa menjadi nama belakangnya.

Stadion tersebut hanya berjarak 500 meter dari SMA 2 Pare, almamater sekolahku. 50 meter dari sekolahku (yang notabene kata orang, bekas kamar mayat sebuah rumah sakit) adalah kampung bahasa Inggris. Di sini sudah banyak lembaga kursus bahasa Inggris dengan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia.

Jadi kangen ama Pare!!