Perusahaan
teknologi mana yang memiliki kapitalisasi pasar lebih besar dari Cisco,
Hewlett Packard, Twitter atau bahkan Facebook?
Anda akan menemukannya di China.
Ada perusahaan bernama Tencent yang telah mengubah haluan bisnis web
mobile, ponsel dan bisnis ritel online yang cukup dipandang dunia.
Tencent didirikan di Shenzhen 15 tahun lalu. Perusahaan ini hanya
menawarkan segala sesuatu yang bisa dicari di dunia maya, mobile games,
pengembangan perangkat lunak (software), e-commerce dan pesan instan.
Tencent
juga dikenal karena menjadi operator telekomunikasi QQ, sebuah layanan
pesan melalui desktop dan hingga saat ini telah memiliki 816 juta
pengguna aktif bulanan. Sedangkan layanan yang baru diluncurkan, layanan
pesan instan WeChat telah memiliki 272 pengguna aktif bulanan.
Kinerja di pasar keuangan, Tencent juga menunjukkan kemoncerannya.
Tencent merupakan salah satu perusahaan dengan kinerja saham terbaik
dalam satu dekade terakhir.
Saham Tencent meningkat lebih dari
12.200 persen sejak menawarkan saham perdana (initial public
offering/IPO) di bursa Hongkong pada 2004 lalu. Kapitalisasi pasarnya
kini sebesar US$ 120 miliar, lebih besar dibanding McDonalds, Boeing
ataupun American Express.
Mungkin agak aneh bila Tencent ini tidak memiliki satu bisnis yang
menonjol. Namun eksekutif Tencent mengatakan, pendekatan platform
memungkinkan seluruh lini bisnisnya tidak selalu tergantung dengan
internet.
Hal ini berbeda dengan pesaingnya, termasuk Twitter, Google dan
Facebook. Ketiga perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini sama-sama baru
mendapatkan untung dari pendapatan iklan. Sebaliknya, Tencent justru
menambang uang dari menjual produk virtual khususnya bagi penyuka game
online yang ingin meningkatkan permainan interaktifnya.
Pendiri dan CEO Pony Ma Huateng mengatakan, bisnis Tencent tidak
menunjukkan tanda-tanda melambat. Huateng justru mendorong Tencent
memiliki bisnis baru seperti perusahaan asuransi dan perbankan. Dengan
kondisi ini akan meningkatkan perekonomian, khususnya di China.
Namun kesuksesan Tencent ini bukan tanpa saingan di China.
Manajemen Tencent menghabiskan banyak dana dalam beberapa tahun
terakhir untuk menempatkan bisnis tetap di jalannya dan mampu menangguk
keuntungan, termasuk melakukan investasi di perusahaan layanan pemanggil
taksi Didi Dache.
Pengamat lain melihat Tencent belum bisa unjuk gigi dengan perusahaan lain, khususnya di luar kandang China.
Namun Tencent menganggap enteng komentar tersebut dan terus
mempromosikan WeChat di seluruh Asia Tenggara. Aplikasi ini juga telah
menjajaki pasar Arab Saudi dan Meksiko.
Saat ini, beberapa perusahaan China memang
sedang menjajaki pasar AS dan mengeluarkan investasi sekitar US$ 150
juta per tahun di bisnis internet. Tencent juga termasuk salah satu
perusahaan yang berminat menawar Snapchat, aplikasi unik pesaing
Instagram, yang juga ditawar oleh Facebook dan raksasa Silicon Valley
lainnya. Namun Snapchat dengan tegas menolak Facebook.
Pertarungan Apple di China
Apple saat ini sedang menjalin kesepakatan dengan China Mobile terkait akan menjual iPhone terbaru ke lebih dari 700 juta pengguna operator telekomunikasi di China tersebut. Namun tampaknya perjuangan perusahaan teknologi asal AS di China ini tidak akan gampang.
Salah satu sebab Apple susah masuk di China
adalah harga produk Apple yang mahal. Misalnya produk iPhone 5C yang
menurut perkiraan analis menjadi iPhone versi murah, ternyata harganya
mahal dengan cangkang (casing) plastik.
Di China, semua operator tidak memberikan
subsidi untuk penjualan ponselnya. Kondisi ini berbeda dengan operator
telekomunikasi di AS yang memberikan subsidi saat menjual ponsel,
sehingga berharga lebih murah. Misalnya iPhone 5C dijual di pasar China seharga CNY 4.488 atau sekitar US$ 733 (bisa menjadi Rp 8,7 juta dengan kurs Rp 12 ribu).
Akankah Apple akan berhasil di China? Sampai saat ini, Apple telah menjual iPhone di China melalui operator kecil, seperti China Unicom dan China Telecom yang hanya memiliki sekitar 425 juta pengguna. Sementara China Mobile sudah memiliki pengguna lebih dari 700 juta.
Di China, pangsa pasar produk Apple masih di
peringkat bawah. Samsung masih merajai dengan 21 persen, disusul Lenovo
13 persen, Yulong 11 persen, Huawei 9 persen dan Apple di posisi buncit
dengan 6 persen.
Analis Wall Street mengharap Apple mampu
menjual 20 juta hingga 30 juta iPhone di tahun ini agar pangsa pasarnya
melonjak. Itu pun hanya penjualan kecil bila dibanding pasar pengguna
ponsel yang bisa disasar mencapai 200 juta pengguna. Apple tahun lalu
mampu menjual 150,2 juta iPhone tahun lalu dan analis berharap bisa
meningkat antara 165 juta hingga 180 juta iPhone di tahun ini.
Banyak analis mengatakan bila Apple mampu bekerja sama dengan China
Mobile akan mendorong 20 persen ke penjualan iPhone di tahun ini. CEO
Apple Tim Cook sedang berusaha melobi agar kerja sama tersebut sukses.
Itu pun bila Apple mau menjual iPhone dengan harga sedikit murah, meski
strategi tersebut tidak akan pernah dilakukan Apple. Lalu siapa yang
akan menang, China atau AS? Tunggu saja.
Sumber: CNN 1 dan 2
Minggu, 12 Januari 2014
AS vs China, Siapa Terkuat?
Rabu, 18 Desember 2013
Siap-siap Krisis Pangan
Seluruh negara di dunia
termasuk Indonesia siap-siap akan krisis pangan di masa mendatang. Hal
ini terjadi bila pemerintah tidak segera memproteksi kebijakan pangan di
negaranya masing-masing.
Pengamat pertanian dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, indikasi Indonesia akan krisis pangan adalah mulai membanjirnya produk pangan impor ke pasar domestik. Sementara hasil petani domestik justru kalah bersaing dengan produk impor.
"Impor pangan yang terus meningkat membuat ketergantungan kita semakin tinggi. Sementara harga pangan dunia terus meningkat. Hal itu akan membuat satu titik tertentu kita akan kolaps, mengalami krisis pangan," kata Andreas di Jakarta, Rabu (18/12).
Ia mengkhawatirkan krisis pangan ini akan terjadi dalam waktu dekat karena krisis pangan ini merupakan siklus 10 tahunan sejak era krisis tahun 1997-1998. Saat itu, Australia dan negara penghasil pangan lainnya mengalami kekeringan hebat yang menyebabkan produktivitas pertaniannya menurun. Harga pangan dunia melonjak dan menyebabkan krisis di seluruh negara.
Siklus berikutnya terjadi pada 2007-2008 dengan kejadian yang sama yaitu kekeringan hebat di Australia dan sebagian besar Amerika Serikat. Begitu juga China dan 36 negara di dunia mengalami hal sama.
"Kekhawatiran kami, siklus itu akan berulang di 2017. Kalau pertanian kita anjlok, itu bisa berulang seperti krisis 1997-1998," katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak Januari-Juni 2013, volume impor sektor pangan Indonesia terus meningkat. Terbesar di sektor daging ayam dan kedelai yang masing-masing mencapai 826,33 ribu ton dengan nilai impor US$ 509,47 juta, disusul jagung dengan 1,29 juta ton senilai US$ 393,31 juta, beras sebesar 239,31 ribu ton senilai US$ 124,36 juta dan bawang putih sebesar 187,86 ribu ton senilai US$ 144,43 juta.
Dari data Congressional Research Services tahun 2012, Indonesia memiliki jumlah pengeluaran untuk pangan terbesar di dunia sebesar 31,9 persen dari total pengeluaran US$ 1.981. Indonesia hanya lebih baik dibanding Filipina yang mengeluarkan biaya untuk pangan sebesar 36 persen dari total pengeluaran per orang sebesar US$ 1.703.
"Jumlah pengeluaran pangan terkecil di AS yaitu 6,7 persen dari total pengeluaran per orang US$ 33.575," katanya.
Salah satu alasan Indonesia akan siap-siap krisis pangan adalah kebijakan yang salah tentang ketahanan pangan. Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP), tahun 1960 Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mampu menjadi eksportir pangan dan produk pertanian utama.
Di akhir 1980-an terjadi pergeseran peran dan awal 1990-an berubah menjadi importir netto.
"Saat ini 70 persen negara berkembang tergantung impor pangan dan sebaliknya negara maju menguasai produksi dan perdagangan pangan dunia," katanya.
Andreas menyebut negara-negara berkembang dirugikan sekitar US$ 50 miliar per tahun akibat hilangnya potensi ekspor produk pertaniannya. Sementara saat ini 90 persen perdagangan dunia didominasi oleh AS, Jepang dan Inggris, baik dalam hal input pertanian, pasar benih hingga benih transgenik.
Di Indonesia, pasar pestisida, benih hingga pupuk pun mayoritas sudah dikuasai asing. Cuma industri pupuk yang masih 70 persen dimiliki oleh perusahaan Indonesia dan sisanya asing.
"Apalagi kalau melihat industri makanan dan minuman di Indonesia yang juga dimiliki asing, mulai dari industri kecap, teh, makanan ringan, susu hingga air minum sudah di atas 60 persen dikuasai asing," katanya.
Solusinya, petani di Indonesia harus bisa berdaulat dan harus mampu meningkatkan produksinya sendiri. Sementara pemerintah pun harus terus berpihak pada kepentingan petani domestik.
"Kalau pemerintah bisa mengubah kebijakan (tidak terlalu impor) dan melindungi petani, kita pun tidak akan ribut impor daging atau kedelai, kita akan bisa swasembada seperti dulu. Itu yang dilakukan pemerintah China. Kalau petani Indonesia, malah dibiarkan sendiri dan pemerintah sibuk impor. Padahal itu kebijakan instan," katanya.
Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, bila pemerintah terus membanjiri dengan kebijakan impor sementara petani dibiarkan bergerak sendiri, maka sebentar lagi petani juga akan tiarap dan segera melakukan urbanisasi.
"Pemerintah belum memihak kepentingan nasional. Kita malah menjadi penyalur aspirasi global di Indonesia," kata Hendri.
Ia menilai kebijakan yang disepakati di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) beberapa waktu lalu pun sia-sia karena sama sekali tidak menguntungkan Indonesia maupun negara berkembang yang selama ini berkontribusi pada pangan dunia.
Padahal Indonesia bersama India seharusnya bisa menggertak negara maju untuk menyepakati bahwa pangan dan industri pertanian bisa dikeluarkan dari WTO. Sehingga kebijakan pangan dan industri pangan ini akan menjadi kebijakan masing-masing negara.
"Kalau mau mengeluarkan sektor pertanian dari WTO, sangat mungkin itu. Indonesia dengan 240 juat penduduk dan India dengan 1,2 miliar penduduk sudah bisa bergerak sendiri. Tapi kan kita tidak bisa melakukan. Malah negara maju ingin Indonesia meninggalkan pertanian (dengan kebijakan impor pangan) dan sekarang itu terbukti," katanya.
Pengamat pertanian dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, indikasi Indonesia akan krisis pangan adalah mulai membanjirnya produk pangan impor ke pasar domestik. Sementara hasil petani domestik justru kalah bersaing dengan produk impor.
"Impor pangan yang terus meningkat membuat ketergantungan kita semakin tinggi. Sementara harga pangan dunia terus meningkat. Hal itu akan membuat satu titik tertentu kita akan kolaps, mengalami krisis pangan," kata Andreas di Jakarta, Rabu (18/12).
Ia mengkhawatirkan krisis pangan ini akan terjadi dalam waktu dekat karena krisis pangan ini merupakan siklus 10 tahunan sejak era krisis tahun 1997-1998. Saat itu, Australia dan negara penghasil pangan lainnya mengalami kekeringan hebat yang menyebabkan produktivitas pertaniannya menurun. Harga pangan dunia melonjak dan menyebabkan krisis di seluruh negara.
Siklus berikutnya terjadi pada 2007-2008 dengan kejadian yang sama yaitu kekeringan hebat di Australia dan sebagian besar Amerika Serikat. Begitu juga China dan 36 negara di dunia mengalami hal sama.
"Kekhawatiran kami, siklus itu akan berulang di 2017. Kalau pertanian kita anjlok, itu bisa berulang seperti krisis 1997-1998," katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak Januari-Juni 2013, volume impor sektor pangan Indonesia terus meningkat. Terbesar di sektor daging ayam dan kedelai yang masing-masing mencapai 826,33 ribu ton dengan nilai impor US$ 509,47 juta, disusul jagung dengan 1,29 juta ton senilai US$ 393,31 juta, beras sebesar 239,31 ribu ton senilai US$ 124,36 juta dan bawang putih sebesar 187,86 ribu ton senilai US$ 144,43 juta.
Dari data Congressional Research Services tahun 2012, Indonesia memiliki jumlah pengeluaran untuk pangan terbesar di dunia sebesar 31,9 persen dari total pengeluaran US$ 1.981. Indonesia hanya lebih baik dibanding Filipina yang mengeluarkan biaya untuk pangan sebesar 36 persen dari total pengeluaran per orang sebesar US$ 1.703.
"Jumlah pengeluaran pangan terkecil di AS yaitu 6,7 persen dari total pengeluaran per orang US$ 33.575," katanya.
Salah satu alasan Indonesia akan siap-siap krisis pangan adalah kebijakan yang salah tentang ketahanan pangan. Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP), tahun 1960 Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mampu menjadi eksportir pangan dan produk pertanian utama.
Di akhir 1980-an terjadi pergeseran peran dan awal 1990-an berubah menjadi importir netto.
"Saat ini 70 persen negara berkembang tergantung impor pangan dan sebaliknya negara maju menguasai produksi dan perdagangan pangan dunia," katanya.
Andreas menyebut negara-negara berkembang dirugikan sekitar US$ 50 miliar per tahun akibat hilangnya potensi ekspor produk pertaniannya. Sementara saat ini 90 persen perdagangan dunia didominasi oleh AS, Jepang dan Inggris, baik dalam hal input pertanian, pasar benih hingga benih transgenik.
Di Indonesia, pasar pestisida, benih hingga pupuk pun mayoritas sudah dikuasai asing. Cuma industri pupuk yang masih 70 persen dimiliki oleh perusahaan Indonesia dan sisanya asing.
"Apalagi kalau melihat industri makanan dan minuman di Indonesia yang juga dimiliki asing, mulai dari industri kecap, teh, makanan ringan, susu hingga air minum sudah di atas 60 persen dikuasai asing," katanya.
Solusinya, petani di Indonesia harus bisa berdaulat dan harus mampu meningkatkan produksinya sendiri. Sementara pemerintah pun harus terus berpihak pada kepentingan petani domestik.
"Kalau pemerintah bisa mengubah kebijakan (tidak terlalu impor) dan melindungi petani, kita pun tidak akan ribut impor daging atau kedelai, kita akan bisa swasembada seperti dulu. Itu yang dilakukan pemerintah China. Kalau petani Indonesia, malah dibiarkan sendiri dan pemerintah sibuk impor. Padahal itu kebijakan instan," katanya.
Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, bila pemerintah terus membanjiri dengan kebijakan impor sementara petani dibiarkan bergerak sendiri, maka sebentar lagi petani juga akan tiarap dan segera melakukan urbanisasi.
"Pemerintah belum memihak kepentingan nasional. Kita malah menjadi penyalur aspirasi global di Indonesia," kata Hendri.
Ia menilai kebijakan yang disepakati di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) beberapa waktu lalu pun sia-sia karena sama sekali tidak menguntungkan Indonesia maupun negara berkembang yang selama ini berkontribusi pada pangan dunia.
Padahal Indonesia bersama India seharusnya bisa menggertak negara maju untuk menyepakati bahwa pangan dan industri pertanian bisa dikeluarkan dari WTO. Sehingga kebijakan pangan dan industri pangan ini akan menjadi kebijakan masing-masing negara.
"Kalau mau mengeluarkan sektor pertanian dari WTO, sangat mungkin itu. Indonesia dengan 240 juat penduduk dan India dengan 1,2 miliar penduduk sudah bisa bergerak sendiri. Tapi kan kita tidak bisa melakukan. Malah negara maju ingin Indonesia meninggalkan pertanian (dengan kebijakan impor pangan) dan sekarang itu terbukti," katanya.

Selasa, 03 Desember 2013
Octocopters, Pesawat Pengirim Barang Tanpa Awak
Kecepatan mengirim barang menjadi sebuah keharusan bagi pebisnis toko online ataupun perusahaan pengiriman paket barang. Ke depan, pengiriman barang akan bisa dilakukan menggunakan pesawat tanpa awak.
Amazon, toko online terbesar di Amerika Serikat sudah merancang pesawat tanpa awak tersebut. Dengan menggunakan wahana terbang tak berawak (drone), barang bisa dikirim dengan cepat maksimal 30 menit sejak pembeli memesan barang di tokonya. Namun, pengiriman itu masih sebatas jangkauan 16 km dari tokonya.
Octocopter, nama pesawat tanpa awak itu, mampu mengantarkan barang belanjaan Amazon dengan berat beban hingga 2,3 kg. Jumlah barang yang bisa diantar Octocopter hingga 86 persen barang yang ada di katalog Amazon.
Chief Executive Officer Amazon Jeff Bezos mengatakan, Octocopter masih membutuhkan uji keamanan dan kelayakan dari FAA (Federal Aviation Administration) Amerika Serikat. Namun ia yakin metode pengiriman dengan drone yang disebut Amazon dengan "Prime Air" ini bisa dinikmati konsumennya dalam waku 4-5 tahun ke depan.
"Aku tahu ini kelihatannya seperti di film fiksi ilmiah (science fiction). Tapi ini tidak," kata Bezos seperti dikutip Reuters.
Saat ini, FAA baru menyetujui penggunaan wahana terbang tak berawak hanya untuk agen polisi maupun agen pemerintahan. Izin yang sudah diberikan sekitar 1.400 izin selama beberapa tahun terakhir.
Sementara ruang udara sipil di Amerika Serikat diharapkan akan bisa dibuka bagi wahana terbang tak berawak pada 2015 mendatang dan di Eropa bisa dibuka pada 2016.
Ahli kendaraan tak berawak dari Universitas Central Lancashire Darren Ansell mengatakan, drone ini belum memiliki pengetahuan tentang lingkungan di sekitarnya. Misal bagaimana menghadapi pemukiman padat penduduk dan menghindari penerbangan di atas kerumunan masyarakat, sebab wahana ini akan mengganggu warga.
"Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan selama pengiriman barang. Karena pesawat ini tidak ada yang menjaga, paket bisa dicuri atau dibajak oleh orang tidak dikenal dan resikonya barang tidak sampai ke pemesan," kata Ansell.
FAA berharap agar regulator penerbangan ini mampu memberikan izin penerbangan bagi drone, khususnya di awal 2015 mendatang. "Suatu hari nanti, Prime Air milik Amazon ini akan bisa berjalan normal seperti bus pengirim paket di jalan," demikian tanggapan FAA.
Ide penggunaan pesawat tak berawak ini sebenarnya sudah mulai akan diberlakukan di Australia. Zookal, sebuah perusahaan penyewaan buku di negeri Kanguru ini akan menggunakan drone untuk pengiriman barang mulai 2015. Itupun bila disetujui oleh Civil Aviation Safety Authority Australia. Hukum penerbangan di Australia memungkinkan penggunaan pesawat tak berawak untuk penggunaan komersial.
Akankah ini mengancam bisnis pengiriman paket melalui penerbangan terbang umum ataupun perusahaan pengiriman paket konvensional? Tunggu saja.
Sumber: Reuters, BBC dan Amazon
Amazon, toko online terbesar di Amerika Serikat sudah merancang pesawat tanpa awak tersebut. Dengan menggunakan wahana terbang tak berawak (drone), barang bisa dikirim dengan cepat maksimal 30 menit sejak pembeli memesan barang di tokonya. Namun, pengiriman itu masih sebatas jangkauan 16 km dari tokonya.
Octocopter, nama pesawat tanpa awak itu, mampu mengantarkan barang belanjaan Amazon dengan berat beban hingga 2,3 kg. Jumlah barang yang bisa diantar Octocopter hingga 86 persen barang yang ada di katalog Amazon.
Chief Executive Officer Amazon Jeff Bezos mengatakan, Octocopter masih membutuhkan uji keamanan dan kelayakan dari FAA (Federal Aviation Administration) Amerika Serikat. Namun ia yakin metode pengiriman dengan drone yang disebut Amazon dengan "Prime Air" ini bisa dinikmati konsumennya dalam waku 4-5 tahun ke depan.
"Aku tahu ini kelihatannya seperti di film fiksi ilmiah (science fiction). Tapi ini tidak," kata Bezos seperti dikutip Reuters.
Saat ini, FAA baru menyetujui penggunaan wahana terbang tak berawak hanya untuk agen polisi maupun agen pemerintahan. Izin yang sudah diberikan sekitar 1.400 izin selama beberapa tahun terakhir.
Sementara ruang udara sipil di Amerika Serikat diharapkan akan bisa dibuka bagi wahana terbang tak berawak pada 2015 mendatang dan di Eropa bisa dibuka pada 2016.
Ahli kendaraan tak berawak dari Universitas Central Lancashire Darren Ansell mengatakan, drone ini belum memiliki pengetahuan tentang lingkungan di sekitarnya. Misal bagaimana menghadapi pemukiman padat penduduk dan menghindari penerbangan di atas kerumunan masyarakat, sebab wahana ini akan mengganggu warga.
"Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan selama pengiriman barang. Karena pesawat ini tidak ada yang menjaga, paket bisa dicuri atau dibajak oleh orang tidak dikenal dan resikonya barang tidak sampai ke pemesan," kata Ansell.
FAA berharap agar regulator penerbangan ini mampu memberikan izin penerbangan bagi drone, khususnya di awal 2015 mendatang. "Suatu hari nanti, Prime Air milik Amazon ini akan bisa berjalan normal seperti bus pengirim paket di jalan," demikian tanggapan FAA.
Ide penggunaan pesawat tak berawak ini sebenarnya sudah mulai akan diberlakukan di Australia. Zookal, sebuah perusahaan penyewaan buku di negeri Kanguru ini akan menggunakan drone untuk pengiriman barang mulai 2015. Itupun bila disetujui oleh Civil Aviation Safety Authority Australia. Hukum penerbangan di Australia memungkinkan penggunaan pesawat tak berawak untuk penggunaan komersial.
Akankah ini mengancam bisnis pengiriman paket melalui penerbangan terbang umum ataupun perusahaan pengiriman paket konvensional? Tunggu saja.
Sumber: Reuters, BBC dan Amazon
RI Dibanjiri Ponsel Impor
Ponsel saat ini sudah menjadi kebutuhan vital masyarakat, bukan saja sekadar sebagai alat komunikasi, tapi juga pembuka akses informasi lebih luas. Sayangnya bila Indonesia dianggap pasar menggiurkan bagi sejumlah produsen ponsel kakap dari luar negeri karena penetrasi ponsel yang tumbuh signifikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, China paling getol memasok ponsel ke Indonesia dengan nilai impor mencapai US$ 1,32 miliar pada periode Januari-Oktober 2013. Angka ini meningkat dari periode yang sama sebelumnya dengan impor sebesar US$ 993,36 juta.
Sedangkan pada bulan kesepuluh saja, impor ponsel negeri Tirai Bambu ini menembus US$ 163,92 juta seberat 1,14 juta kilogram (kg).
Negara kedua pengimpor ponsel terbesar adalah Vietnam yang tercatat US$ 459,51 juta atau naik hampir separuhnya dari US$ 269,95 juta dengan berat 183,61 ribu kg.
Sementara di urutan ketiga negara pemasok ponsel terbanyak yakni Meksiko dengan nilai impor sebesar US$ 201,97 juta, mengalami penurunan dari Januari-Oktober lalu sebesar US$ 295,52 juta.
Berikut ini 15 negara pemasok ponsel terbesar ke Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2013:
1. China: US$ 1,32 miliar
2. Vietnam: US$ 459,51 juta
3. Meksiko: US$ 201,97 juta
4. Taiwan: US$ 186,79 juta
5. India: US$ 55,67 juta
6. Hungaria: US$ 49,37 juta
7. Hong Kong: US$ 36,29 juta
8. Korea: US$ 20,53 juta
9. Kanada: US$ 11,71 juta
10.Rumania: US$ 3,02 juta
11.Singapura: US$ 2,86 juta
12.Malaysia: US$ 1,40 juta
13.Finlandia: US$ 495,87 ribu
14.Amerika Serikat: US$ 193,75 ribu
15.Austria: US$ 70,95 ribu
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, China paling getol memasok ponsel ke Indonesia dengan nilai impor mencapai US$ 1,32 miliar pada periode Januari-Oktober 2013. Angka ini meningkat dari periode yang sama sebelumnya dengan impor sebesar US$ 993,36 juta.
Sedangkan pada bulan kesepuluh saja, impor ponsel negeri Tirai Bambu ini menembus US$ 163,92 juta seberat 1,14 juta kilogram (kg).
Negara kedua pengimpor ponsel terbesar adalah Vietnam yang tercatat US$ 459,51 juta atau naik hampir separuhnya dari US$ 269,95 juta dengan berat 183,61 ribu kg.
Sementara di urutan ketiga negara pemasok ponsel terbanyak yakni Meksiko dengan nilai impor sebesar US$ 201,97 juta, mengalami penurunan dari Januari-Oktober lalu sebesar US$ 295,52 juta.
Berikut ini 15 negara pemasok ponsel terbesar ke Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2013:
1. China: US$ 1,32 miliar
2. Vietnam: US$ 459,51 juta
3. Meksiko: US$ 201,97 juta
4. Taiwan: US$ 186,79 juta
5. India: US$ 55,67 juta
6. Hungaria: US$ 49,37 juta
7. Hong Kong: US$ 36,29 juta
8. Korea: US$ 20,53 juta
9. Kanada: US$ 11,71 juta
10.Rumania: US$ 3,02 juta
11.Singapura: US$ 2,86 juta
12.Malaysia: US$ 1,40 juta
13.Finlandia: US$ 495,87 ribu
14.Amerika Serikat: US$ 193,75 ribu
15.Austria: US$ 70,95 ribu
Rabu, 27 November 2013
Telkom Akan Lepas Telkomsel
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berencana melepas sahamnya di PT
Telekomunikasi Selular (Telkomsel), baik melalui penawaran publik
perdana (initial public offering/IPO) maupun masuk melalui perusahaan terbuka lain (backdor listing).
Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom menyatakan rencana tersebut telah disetujui oleh pihak Singapore Telecomunications Limited (SingTel). Seperti diketahui, SingTel memiliki 35 persen saham di Telkomsel.
Namun demikian, dia tidak menjelaskan lebih lanjut waktu pelaksanaannya. "Nanti setelah Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi) selesai penjualannya," tuturnya.
Langkah penjualan itu dilakukan dengan alasa untuk memaksimalkan potensi aset, khususnya menara. Saat ini, Telkomsel memiliki 14.000 unit menara.
Sementara itu, saat ini Telkom tengah memproses calon mitra Mitratel. Pilihannya, tinggal dua, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
TLKM akan menukar (swap) 49 persen saham Mitratel dengan saham calon mitra. Dengan begitu, keduanya bisa tumbuh secara bersama-sama. Saat ini, Mitratel memiliki 4.000 menara. Total aset Mitratel per akhir September 2013 sebesar Rp 4,93 triliun.
Sumber: Kompascom
Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom menyatakan rencana tersebut telah disetujui oleh pihak Singapore Telecomunications Limited (SingTel). Seperti diketahui, SingTel memiliki 35 persen saham di Telkomsel.
Namun demikian, dia tidak menjelaskan lebih lanjut waktu pelaksanaannya. "Nanti setelah Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi) selesai penjualannya," tuturnya.
Langkah penjualan itu dilakukan dengan alasa untuk memaksimalkan potensi aset, khususnya menara. Saat ini, Telkomsel memiliki 14.000 unit menara.
Sementara itu, saat ini Telkom tengah memproses calon mitra Mitratel. Pilihannya, tinggal dua, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
TLKM akan menukar (swap) 49 persen saham Mitratel dengan saham calon mitra. Dengan begitu, keduanya bisa tumbuh secara bersama-sama. Saat ini, Mitratel memiliki 4.000 menara. Total aset Mitratel per akhir September 2013 sebesar Rp 4,93 triliun.
Sumber: Kompascom
Minggu, 24 November 2013
Yves Rossy, Si Manusia Jet
Banyak orang memiliki hobi yang menarik. Namun bagi Yves Rossy, bisa terbang tanpa memakai pesawat terbang adalah mimpinya sejak lama.
Rossy memulai karir sebagai seorang pilot di pesawat tempur untuk Angkatan Udara Swiss. Lalu karirnya menanjak sebagai pilot profesional di dua maskapai Swiss.
Lelaki kelahiran 27 Agustus 1959 itu lantas tidak puas dengan pencapaian karirnya. Pada tahun 1993, ia mulai memikirkan cara-cara untuk terbang tanpa memakai pesawat terbang.
Lalu dia pun belajar cara sederhana meluncur menggunakan sistem sayap. Setelah banyak latihan meluncur, ia pun membuat sesuatu yang lebih dekat dengan pesawat jet, namun mampu terbang dengan tanpa pesawat.
Mantan pilot Swiss Air Force ini kemudian merancang sayap yang terbuat dari serat karbon Kevlar dan dilengkapi dengan mesin jet kecil. Rossy yang sering dipanggil Airman atau Jetman ini kemudian mampu membuat penerbangan bertenaga jet pertamanya dan hanya dia yang terbang memakai alat tersebut. Dia menganggap bahwa idenya ini benar-benar gila.
Sejak saat itu, lelaki yang juga pernah bekerja di Swiss International Airlines ini terus menyempurnakan penerbangan dan idenya lebih berani lagi. Rossy berusaha memecahkan rekor pertamanya dengan terbang di atas Selat Inggris pada tahun 2008.
"Dengan penyeberangan perdana (di atas Selat Inggris) itu, ini menunjukkan bahwa manusia bisa terbang seperti burung," kata Rossy seperti dikutip Guardian.
Kini, penerbangannya pun sudah didokumentasikan, baik melalui website maupun channel YouTube. Saat ini, pesawat jet yang mampu menerbangkannya ini dilengkapi dengan empat mesin jet dan memiliki berat lebih dari 120 kg. Ini juga termasuk parasut untuk penyelamatannya khususnya bila mesin jet mati.
Pesawat jet Rossy pernah mengalami gagal mesin saat ia menyeberangi Selat Gibraltar pada 2009. Lantas ia jatuh ke Samudera Atlantik. Sejak saat itu, Rossy telah terbang dengan sayap jet di beberapa benua dan bahkan bisa berseberangan dengan pesawat terbang lainnya.
Setelah menyeberangi Selat Inggris dan Selat Gibraltar, Rossy juga pernah terbang dengan pesawat sayap jetnya ini ke Grand Canyon hingga ke Rio de Janiero. Awal November ini, Rossy menambah jam terbangnya ke Gunung Fuji di Jepang.
Penerbangan ke Gunung Fuji tersebut menandai prestasinya dalam usaha mengalahkan dirinya sendiri dan menginspirasi orang lain. "Terbang di sini bagi saya adalah mimpi. Aku adalah orang yang beruntung yang mendapat kesempatan melakukan ini. Tapi saya harap saya bisa memotivasi generasi berikutnya agar bisa memikirkan lebih baik dan bisa melakukan hal berbeda, bahkan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin," katanya.
Dengan mesin jet buatannya itu, Rossy bisa terbang di atas Gunung Fuji selama 9-10 menit di ketinggian 12.000 kaki atau sekitar 9,3 kilometer di atas laut dengan kecepatan 190 mil per jam. Bagi Rossy, Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang dan merupakan salah satu dari tiga gunung suci di Jepang. Fuji bisa dilihat dari Tokyo, meski dengan jarak 60 mil.
Sumber: Mirror dan MNN
Rossy memulai karir sebagai seorang pilot di pesawat tempur untuk Angkatan Udara Swiss. Lalu karirnya menanjak sebagai pilot profesional di dua maskapai Swiss.
Lelaki kelahiran 27 Agustus 1959 itu lantas tidak puas dengan pencapaian karirnya. Pada tahun 1993, ia mulai memikirkan cara-cara untuk terbang tanpa memakai pesawat terbang.
Lalu dia pun belajar cara sederhana meluncur menggunakan sistem sayap. Setelah banyak latihan meluncur, ia pun membuat sesuatu yang lebih dekat dengan pesawat jet, namun mampu terbang dengan tanpa pesawat.
Mantan pilot Swiss Air Force ini kemudian merancang sayap yang terbuat dari serat karbon Kevlar dan dilengkapi dengan mesin jet kecil. Rossy yang sering dipanggil Airman atau Jetman ini kemudian mampu membuat penerbangan bertenaga jet pertamanya dan hanya dia yang terbang memakai alat tersebut. Dia menganggap bahwa idenya ini benar-benar gila.
Sejak saat itu, lelaki yang juga pernah bekerja di Swiss International Airlines ini terus menyempurnakan penerbangan dan idenya lebih berani lagi. Rossy berusaha memecahkan rekor pertamanya dengan terbang di atas Selat Inggris pada tahun 2008.
"Dengan penyeberangan perdana (di atas Selat Inggris) itu, ini menunjukkan bahwa manusia bisa terbang seperti burung," kata Rossy seperti dikutip Guardian.
Kini, penerbangannya pun sudah didokumentasikan, baik melalui website maupun channel YouTube. Saat ini, pesawat jet yang mampu menerbangkannya ini dilengkapi dengan empat mesin jet dan memiliki berat lebih dari 120 kg. Ini juga termasuk parasut untuk penyelamatannya khususnya bila mesin jet mati.
Pesawat jet Rossy pernah mengalami gagal mesin saat ia menyeberangi Selat Gibraltar pada 2009. Lantas ia jatuh ke Samudera Atlantik. Sejak saat itu, Rossy telah terbang dengan sayap jet di beberapa benua dan bahkan bisa berseberangan dengan pesawat terbang lainnya.
Setelah menyeberangi Selat Inggris dan Selat Gibraltar, Rossy juga pernah terbang dengan pesawat sayap jetnya ini ke Grand Canyon hingga ke Rio de Janiero. Awal November ini, Rossy menambah jam terbangnya ke Gunung Fuji di Jepang.
Penerbangan ke Gunung Fuji tersebut menandai prestasinya dalam usaha mengalahkan dirinya sendiri dan menginspirasi orang lain. "Terbang di sini bagi saya adalah mimpi. Aku adalah orang yang beruntung yang mendapat kesempatan melakukan ini. Tapi saya harap saya bisa memotivasi generasi berikutnya agar bisa memikirkan lebih baik dan bisa melakukan hal berbeda, bahkan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin," katanya.
Dengan mesin jet buatannya itu, Rossy bisa terbang di atas Gunung Fuji selama 9-10 menit di ketinggian 12.000 kaki atau sekitar 9,3 kilometer di atas laut dengan kecepatan 190 mil per jam. Bagi Rossy, Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang dan merupakan salah satu dari tiga gunung suci di Jepang. Fuji bisa dilihat dari Tokyo, meski dengan jarak 60 mil.
Sumber: Mirror dan MNN
Senin, 02 September 2013
Goh Liang, Jadi Miliarder Berkat Cat
Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan Goh Cheng Liang. Dialah salah satu orang terkaya di Singapura yang mengawali kesuksesannya dari tingkat bawah.
Meski ia kaya raya, Goh ini belum termasuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Namun di Singapura, Goh menjadi orang penting karena memiliki sejumlah properti dan landmark Singapura seperti rumah sakit Mt Elizabeth hingga pusat perbelanjaan Liang Court di Clarke Quay.
Uniknya, kesuksesan Goh ini tidak didapat dari bangku sekolah. Ia lahir dari keluarga miskin di rumah petak satu kamar pada tahun 1928. Menjadi anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya ini sejak kecil sudah aktif membantu keluarganya untuk menjual jaring ikan lantas bekerja di sebuah toko perangkat keras. Di sinilah ia belajar tentang bisnis.
Pada tahun 1949, saat terjadi Perang Dunia kedua, banyak perusahaan lantas dijual rugi. Berbekal uang yang telah dikumpulkannya, ia pun lantas membeli salah satu perusahaan cat di Singapura dengan harga murah. Lalu ia pun membuat perusahaan cat sendiri dengan merek Pigeon.
Namun kesuksesan membeli perusahaan ini tidaklah semulus yang diperkirakan. Tahun berikutnya, pecah perang Korea yang menyebabkan larangan impor barang khususnya ke China. Larangan impor bahan baku ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
Beruntung, ada investor asal Jepang yang mau mengakuisisi sebagian saham perusahaan Goh yaitu perusahaan cat Nippon Paint yang mengambilalih 40 persen saham Pigeon. Kini perusahaannya makin membesar karena merek Nippon sendiri kini telah dijual di 15 negara di luar Jepang dengan sekitar 15.000 karyawan dan pabrik di 30 lokasi. Omset perusahaannya kini 2,6 miliar dollar AS. Tapi kini, bisnis tersebut telah dilanjutkan oleh anak Goh yaitu Hup Jin.
Goh ini memang layak disebut pengusaha. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan, membangun dan menjual bisnis untuk meningkatkan asetnya. Selama bertahun-tahun, dia menginvestasikan sebagian keuntungannya dari bisnis cat ke properti hingga membangun pusat perbelanjaan, hotel, service residences hingga bisnis distribusi ritel yang bekerjasama dengan perusahaan Jepang. Bahkan Goh juga membangun bisnis manufaktur bisnis elektronik, bisnis kemasan, logistik bahkan membangun perusahaan tambang di China.
Untuk memperbesar bisnisnya, ia pun tidak takut untuk menjual sebagian saham perusahaannya. Terbukti ia menjual 41 persen pusat perbelanjaan Liang Court sebesar 175 juta dollar AS pada Pidemco Land pada 1999. Kemudian Omni Industries dijual ke Celestica CLS dari Kanada senilai 1 miliar dollar AS pada 2001.
Lalu rumah sakit Mt Elizabeth juga dijual. Baru-baru ini, bersama Crown Holdings dari AS, dia mengakuisisi perusahaan layanan kemasan. Awal tahun ini, dia juga ingin membeli kembali 30 persen saham Pigeon dari Nippon Paint senilai 751 juta dollar AS. Namun rencana tersebut kandas seiring dengan pertumbuhan bisnis cat di Asia.
Meski ia masih mengawasi seluruh bisnisnya, dia pun tidak lupa untuk memberikan beasiswa, membuat perusahaan non profit riset kanker serta pendidikan melalui yayasan Goh Foundation.
Sumber: Forbes
Meski ia kaya raya, Goh ini belum termasuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Namun di Singapura, Goh menjadi orang penting karena memiliki sejumlah properti dan landmark Singapura seperti rumah sakit Mt Elizabeth hingga pusat perbelanjaan Liang Court di Clarke Quay.
Uniknya, kesuksesan Goh ini tidak didapat dari bangku sekolah. Ia lahir dari keluarga miskin di rumah petak satu kamar pada tahun 1928. Menjadi anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya ini sejak kecil sudah aktif membantu keluarganya untuk menjual jaring ikan lantas bekerja di sebuah toko perangkat keras. Di sinilah ia belajar tentang bisnis.
Pada tahun 1949, saat terjadi Perang Dunia kedua, banyak perusahaan lantas dijual rugi. Berbekal uang yang telah dikumpulkannya, ia pun lantas membeli salah satu perusahaan cat di Singapura dengan harga murah. Lalu ia pun membuat perusahaan cat sendiri dengan merek Pigeon.
Namun kesuksesan membeli perusahaan ini tidaklah semulus yang diperkirakan. Tahun berikutnya, pecah perang Korea yang menyebabkan larangan impor barang khususnya ke China. Larangan impor bahan baku ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
Beruntung, ada investor asal Jepang yang mau mengakuisisi sebagian saham perusahaan Goh yaitu perusahaan cat Nippon Paint yang mengambilalih 40 persen saham Pigeon. Kini perusahaannya makin membesar karena merek Nippon sendiri kini telah dijual di 15 negara di luar Jepang dengan sekitar 15.000 karyawan dan pabrik di 30 lokasi. Omset perusahaannya kini 2,6 miliar dollar AS. Tapi kini, bisnis tersebut telah dilanjutkan oleh anak Goh yaitu Hup Jin.
Goh ini memang layak disebut pengusaha. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan, membangun dan menjual bisnis untuk meningkatkan asetnya. Selama bertahun-tahun, dia menginvestasikan sebagian keuntungannya dari bisnis cat ke properti hingga membangun pusat perbelanjaan, hotel, service residences hingga bisnis distribusi ritel yang bekerjasama dengan perusahaan Jepang. Bahkan Goh juga membangun bisnis manufaktur bisnis elektronik, bisnis kemasan, logistik bahkan membangun perusahaan tambang di China.
Untuk memperbesar bisnisnya, ia pun tidak takut untuk menjual sebagian saham perusahaannya. Terbukti ia menjual 41 persen pusat perbelanjaan Liang Court sebesar 175 juta dollar AS pada Pidemco Land pada 1999. Kemudian Omni Industries dijual ke Celestica CLS dari Kanada senilai 1 miliar dollar AS pada 2001.
Lalu rumah sakit Mt Elizabeth juga dijual. Baru-baru ini, bersama Crown Holdings dari AS, dia mengakuisisi perusahaan layanan kemasan. Awal tahun ini, dia juga ingin membeli kembali 30 persen saham Pigeon dari Nippon Paint senilai 751 juta dollar AS. Namun rencana tersebut kandas seiring dengan pertumbuhan bisnis cat di Asia.
Meski ia masih mengawasi seluruh bisnisnya, dia pun tidak lupa untuk memberikan beasiswa, membuat perusahaan non profit riset kanker serta pendidikan melalui yayasan Goh Foundation.
Sumber: Forbes
Langganan:
Postingan (Atom)




