Sabtu, 31 Oktober 2015

Rencana Pendidikan Anak, Pentingkah?

dana-pendidikan-untuk-anak-mre-600x400-5634c4486323bd2509c0eec6

“Jangan tanya anakmu, kalau besar nanti mau jadi apa. Tapi tanyalah dirimu sendiri, sudah menyiapkan apa untuk masa depan anakmu.”

Begitu status pesan BlackBerry Messenger salah satu teman yang kebetulan sudah memiliki anak meski masih berusia dua tahun. Saya cukup kaget membaca pesan tersebut.

Biasanya, dan kebanyakan orang tua dan guru kita dulu selalu menanyakan hal tersebut. Kalau sudah besar, mau jadi apa? Semua pasti berebut menjawab, mau jadi dokter, pilot, insinyur dan sebagainya.

Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut meski saat besar nanti biasanya pekerjaan yang mereka pilih justru tidak sesuai dengan jawaban saat kecil. Bicara masalah pendidikan, tentu semua menginginkan yang terbaik untuk anak.

Pandangan yang masih lekat di benak kita adalah dengan pendidikan yang tinggi akan mengangkat harkat dan derajat kita. Terlebih orangtua yang menyekolahkan kita.

Namun kita tidak sadar betapa biaya pendidikan anak saat ini begitu mahal. Teman sekantor yang baru memiliki anak usia empat tahun kini harus berjibaku menyiapkan dana pendidikan anaknya.

Ia memerlukan dana Rp 150 juta untuk biaya masuk Sekolah Dasar (SD) di Bogor dua tahun nanti, tepat usia anaknya enam tahun.

“Gila, sekolah apaan itu?”tanyaku.“Kebetulan itu sekolah bagus, mas. Selain diajar dalam dua bahasa, ekstrakurikulernya pun macam-macam. Mulai dari berenang, memanah hingga berkuda,”jawab temanku.

Terlepas dari seberapa bagusnya sekolah itu, aku terdiam mendengar jawabannya dan mulai memikirkannya. Mengapa harus menyiapkanrencana pendidikan dan dana begitu besar untuk pendidikan anak? Tapi saya kembali tertegun dengan jawabannya.

“Pendidikan sekarang begitu penting mas. Bukan hanya mencari ilmu, tapi juga diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat orang tua. Dengan pendidikan yang bagus, anak akan mampu mandiri. Entah menjadi wirausahawan atau menjadi karyawan yang berguna bagi bangsa dan negara, terlebih bagi keluarganya.”

“Memasukkan anak pada sekolah bagus juga bukan gengsi, apalagi demi mencari materi, selepas lulus nanti. Urusan materi, itu hanya rezeki. Tugas kita sebagai orang tua hanya menyiapkan bekal sekolah anak sambil terus mengawasi perkembangannya.”

Saya kembali ingat kepada orangtuaku yang sempat menjual sawah sekitar Rp 10 juta. Padahal sawah itu merupakan warisan nenek bagi keluarga kami.

Dana itu digunakan untuk biaya masuk kuliahku dan saya baru tahu bapak menjual sawah untuk biaya kuliahku dua tahun kemudian. Memang dana tersebut hanya cukup untuk biaya masuk. Namun ia berpesan untuk sekolah yang benar supaya bisa membantu adik nantinya. Hingga kini saya berusaha untuk mengumpulkan uang demi mengembalikan sawah yang dulu dijual.

Saat itu saya menjadi orang pertama di kampung yang masuk kuliah. Saya juga takjub dengan pemikiran orang tuaku. Padahal ia tidak lulus Sekolah Rakyat (SR). Bapak dulu juga tidak tamat. Ibu terpaksa kawin muda karena nenek tak memiliki dana cukup untuk menyekolahkannya.

“Bapak dan ibu dulu tak sempat menamatkan pendidikan. Kini, giliran kamu yang harus sekolah tinggi supaya bisa membantu harkat dan martabat keluarga. Nanti kalau kamu sukses, giliranmu untuk membantu kuliah adikmu.”Begitu pesan ayah saat mengantarku kuliah di Bali.

Ilustrasi pendidikan anak

Ayahku bukan konglomerat, bukan pengusaha. Dia hanya petani biasa yang benar-benar memikirkan masa depan anaknya. Pendidikan anak, baginya, begitu penting sampai ia rela membanting tulang hingga menjual sawah untuk biaya pendidikan anaknya.

Berbicara dana pendidikan, kini banyak perbankan memudahkan nasabahnya merencanakan tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan. Benar kata perencana keuangan, menabung saja tidak cukup untuk membiayai masa depan kita. Dana tabungan pun meski segunung, tetap akan tergerus inflasi.

Berdasarkan riset perencana keuangan ZAPFIN, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia mencapai 15 persen per tahun. Apalagi, kalau gaji kita atau pendapatan kita tak sampai naik dengan rata-rata tersebut, tentu kita akan kesusahan mengimbanginya.

Lantas mengapa kita harus menyiapkan dana segitu banyak untukpendidikan anak kita? Padahal kan kita bisa menyekolahkan anak di sekolah yang murah?

Nah, besarnya biaya pendidikan akan memengaruhi saat memilih sekolah untuk anak. Sebagai orang tua tentu ingin anak-anaknya mendapatkan sekolah hingga perguruan tinggi yang sesuai dengan potensi dan membantu anak mewujudkan cita-citanya.

Kini pilihan ada di tangan Anda. Maukah menyiapkan dana pendidikan anak mulai dari sekarang atau sibuk mencari utang saat kebutuhan itu datang?

Salah satu pesan yang mengingatkan kita tentang pentingnya dana pendidikan anak


via didikpurwanto.com

Kamis, 29 Oktober 2015

Penjualan iPhone 6s Di Bawah Estimasi

iPhone-6S-Leak-Reveals-Bit-Thicker-and-Bigger-iPhone

Apple Inc mencatatkan penjualan bersih naik 22 persen menjadi US$ 51,50 miliar pada kuartal IV tahun fiskal yang berakhir 26 September. Laba bersih Apple naik dari US$ 8,47 miliar menjadi US$ 11,12 miliar.

Saham Apple juga berhasil naik menjadi US$ 114,80 setelah perusahaan mengumumkan telah menjual 48,05 juta unit iPhone meski jumlah tersebut lebih rendah dari prediksi jajak pendapat Majalah Fortune di level 48,72 juta unit di seluruh dunia.

Penjualan Apple di China daratan naik hampir dua kali lipat menjadi US$ 12,52 miliar, hampir seperempat dari total penjualan secara global. “Kami terus berhasil secara indah di sana,” kata Kepala Keuangan Apple Luca Maestri. Apple kini memiliki 25 toko di China dan hampir setiap bulan membuka toko baru.

China pada kuartal sebelumnya juga menghasilkan penjualan bagi Apple sekitar US$ 13,2 miliar. Pasar tersebut dianggap berpotensi mengalahkan pasar Amerika Serikat yang kini masih mengontribusikan pendapatan terbesar.

Analis Creative Strategies Ben Bajarin mengatakan, penjualan di China melonjak seiring menjelang liburan akhir tahun.

Untuk kuartal terakhir 2015, Apple memerkirakan pendapatan sekitar US$ 75,5-77,5 miliar yang ditopang penjualan iPhone 6s dan 6s Plus. Perkiraan tersebut sejalan dengan Wall Street di level US$ 77,17 miliar. “Biasanya di akhir tahun penjualan memang melonjak,” kata analis FBR Capital Markets Daniel Ives.

Analis Morningstar Brian Colello mengatakan, perkiraan penjualan memang di bawah ekspektasi namun investor tetap menganggap performa Apple masih baik sehingga saham perusahaan naik.

Penjualan Apple masih baik juga ditopang iPhone warna rose gold dan mendorong rekor penjualan di pekan pertama setelah penjualan resmi.

Analis Cross Research Shannon Cross mengatakan, penjualan tahun ini merupakan keberhasilan dibandingkan tahun sebelumnya. “Ini menunjukkan mereka bekerja keras mendongkrak penjualan,” katanya.

Namun analis Gartner Tuong Nguyen pesimis terhadap penjualan Apple, khususnya di negara berkembang. “Apple harus waspada karena pangsa pasarnya masih jauh di negara berkembang,” katanya.

Saat ini penjualan ponsel di China masih didominasi Apple dan Samsung. Posisi berikutnya diperebutkan Huawei, Xiaomi, Lenovo dan beberapa ponsel China dan Taiwan lainnya.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Rabu, 28 Oktober 2015

Penjualan Huawei Lampaui Xiaomi

huawei-2015-07-31-01

Produsen ponsel Huawei mencatat pertumbuhan tercepat tahun ini di China dan mulai mengalahkan Xiaomi di peringkat ketiga sebelumnya. Dua peringkat di atasnya masih ditempati Samsung dan Apple.

Pengiriman ponsel cerdas Huawei pada kuartal III naik 63 persen (yoy) menjadi 27,4 juta unit. Penjualan perangkat kelas atasnya juga tumbuh demi menyaingi Apple dan Samsung.

Pengiriman ponsel sepanjang tahun ini juga naik 33 persen menjadi lebih dari 100 juta unit, melampaui proyeksi pertumbuhan ponsel Xiaomi dan Lenovo. Sebelumnya, Xiaomi memprediksikan hingga akhir tahun ini akan menjual 100 juta unit.

“Sulit menemukan pesaing kuat untuk Huawei di posisi ketiga (setelah Samsung dan Apple) dalam jangka pendek. Itu pertumbuhan mengesankan,” kata Direktur Canalys Asia Pasifik Nicole Peng.

Huawei kini menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar senilai US$ 7 miliar pada kuartal II-2015, sekitar seperlima dari Apple dan Samsung, berdasarkan riset Canalys.

Posisi Huawei terdongkrak karena pergeseran ke model perangkat premium yang memberikan margin tinggi serta hubungan yang kuat terhadap pelanggan di China. Sebelumnya, Huawei sempat terlibat perang harga dengan Xiaomi yang memberi perangkat kelas tinggi dengan harga relatif terjangkau.

Pengiriman ponsel Huawei di China dan Eropa masing-masing naik 81 persen dan 98 persen dibandingkan kuartal tahun lalu. Sekitar sepertiga dari pengiriman kuartal ini berupa ponsel kelas menengah yang naik 25 persen dari tahun sebelumnya.

Sekitar setengah dari pendapatan Huawei pada semester I berasal dari China. Kontribusi tersebut menekan penjualan Xiaomi dan Samsung.

Meski kuat di Eropa dan China, analis menilai Huawei masih perlu memenangkan pasar di Amerika Serikat karena penetrasinya masih rendah. Langkah tersebut perlu dilakukan bila ingin menyaingi Samsung dan Apple sebagai merek yang diakui secara global.

Huawei tahun ini merilis ponsel baru demi menarik pembeli baru. Namun perusahaan menolak menyebut penjualannya di AS. “Ini sangat menarik untuk melihat apakah mereka akan melakukannya dengan baik di AS. Mereka masih memiliki beberapa ruang untuk tumbuh,” kata analis Nomura Leping Huang.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Senin, 26 Oktober 2015

Sepatu Unik Kloom Clogs

DSCF4077[1]

Berwirausaha adalah profesi penuh tantangan. Beberapa orang tak membutuhkan pendidikan tinggi untuk mandiri.

Namun kejelian melihat peluang mendorong Muhamad Ridwan Pristiwana memutuskan menjadi wirausahawan. Ia melihat peluang dari kemenakan yang doyan berbelanja sepatu ke luar negeri.

Ia berpikir mengapa tidak memproduksi sendiri karena beberapa produsen sepatu asing justru memproduksi di Indonesia. Berawal dari kejeliannya tersebut, ia mulai berbisnis memproduksi sepatu mulai 2009.

Ayah dua anak ini memilih bahan baku lokal namun dengan kualitas yang jauh lebih unggul dari produk asing. “Ini untuk mengantisipasi agar produknya tak terkesan murahan meski barang lokal,” katanya.

Ia menilai, produk sepatu yang dibuatnya dirancang secara unik. Misalnya membuat sepatu dengan bahan dasar kayu mahoni, kulit sapi, dan kulit domba. Bahan baku tersebut selama ini jarang dilirik produsen asing atau pun produsen domestik. “Produksi sepatu berbahan dasar kayu sangat jarang di Indonesia, kecuali bakiak (terompah kayu). Ini pengembangan dari bakiak,” ujarnya.

Ternyata sepatu buatannya disukai kemenakan dan teman-temannya. Tahap awal Ridwan memproduksi lima kodi pasang sepatu yang dijual online. Saat ini tren belanja online sedang marak dan ia ingin memanfaatkan peluang tersebut.

Ia menamakan produk sepatunya Kloom Clogs. Bagi yang doyan belanja online, pembeli biasanya turut melihat merek. Ridwan ingin mengesankan produk tersebut seakan produk asing padahal sebenarnya asli produk dalam negeri.

“Saya awalnya menjual di Facebook ternyata responnya luar biasa. Saya langsung mulai menambah jumlah produksi seiring kenaikan jumlah permintaan,” ujarnya.

Ia mengaku menghabiskan uang ratusan juta rupiah sebagai modal usaha. Ia bahkan sempat menjual satu unit rumah dan mobil. “Saya kalau niat sesuatu tidak akan setengah-setengah. Saya akan all out di situ, termasuk urusan modal usaha,” katanya.

Tentunya ia sudah memelajari karakteristik pasar sebelum memutuskan berwirausaha tersebut. Ia juga niat hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta. “Keputusan itu saya akui sangat berat tapi saya sudah memutuskan,” katanya.

Akhirnya ia membuka workshop produksi sepatu di di Jalan Lembata 3 SC/7 Sektor 14.6 Nusa Loka BSD City, Tangerang Selatan. Pemilihan lokasi yang dekat Ibu Kota Negara dimaksudkan agar mendekati pasar yang besar.

Di lokasi produksi tersebut, ia mampu merekrut 25 pegawai dari lingkungan sekitar sebagai tenaga ahli. Ia memproduksi sepatu untuk level menengah karena banderol harga mulai Rp 250 ribu.

Khusus sandal jepit setinggi 5 cm atau 7 cm dibanderol Rp 250-450 ribu. Sepatu high heels dipatok Rp 850 ribu-Rp 1,2 juta dengan tinggi 14 cm. “Terbukti kini omzet saya mencapai Rp 200 juta per bulan,” katanya.

DSCF4081[1]

Jari Pernah Terputus

Menjalani usaha dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan tentu tidak mudah. Pasang surut usaha tentu dirasakan Ridwan, bahkan hingga jarinya pernah terputus.

Namun pria kelahiran Pandeglang 39 tahun lalu ini tidak pernah menganggap sebuah musibah sebagai kerugian melainkan diserap sebagai pembelajaran. Prinsip hidupnya itu dipegang teguh sejak awal memulai usaha hingga sukses seperti sekarang.

“Makanya saya pakai filosofi warna hitam putih. Setiap ada masalah pasti selalu ada solusinya. Bila ada hitam selalu ada putih. Hidup akan terus seperti itu,” katanya.

Dalam sebuah usaha tentu ia mengalami kendala. Misalnya cuaca yang sering hujan sehingga menyulitkan sepatu untuk dikeringkan. Pengeringan kulit pun menjadi tidak maksimal bahkan finishing kerap terbengkalai menunggu matahari muncul dan memberi harapan.  “Kendala itu bukan sebuah alasan keterpurukan, tapi justru membangkitkan semangat,” kata dia.

Kesuksesan Kloom Clogs merupakan bukti nyata dari keteguhan usaha dan hati Ridwan. Usaha yang dijalaninya sebagai hobi ini berjalan dengan baik tanpa keluhan dan lalai. Ia lebih memilih banyak bersyukur agar terus mendapat berkah.

“Dengan segala hal yang saya yakini, kalau dengan berdoa dan bersyukur, bisnis ini semakin berkah dan menyenangkan,” ujarnya.

Dia berharap, ke depan usahanya terus berkembang hingga mampu menembus pasar ekspor dan mampu bersaing dengan produk luar. Meski dikerjakan home industry dan hand made, produk sepatu Ridwan telah mendapat penghargaan pada 2013 sebagai produk terunik dari Pemerintah Swedia, Pemenang Stand Terunik pada pameran di Kementerian Perindustrian 2013, dan penghargaan disain sepatu terunik dari Kementerian Perindustrian pada 2014.

DSCF4090[1]

Nama : Muhamad Ridwan Pristiwana

Tempat, tanggal lahir : Pandeglang 14 Agustus 1976

Pendidikan akhir: Sekolah Menengah Atas (SMA)

Alamat workshop : Jalan Lembata 3 SC/7 Sektor 14.6 Nusa Loka BSD City, Tangerang Selatan.

Status : Ayah dua anak

Nomor Telepon : 085714149133

Email : kloomers@gmail.com

Instagram : @kloomclogshop



via didikpurwanto.com

Celestial Movies-Little Big Master: Potret Buruk Wajah Pendidikan

Little-Big-Master

Pendidikan yang selama ini dijanjikan menjadi hak setiap warga negara ternyata belum bisa dinikmati seluruh warga. Pendidikan seakan hanya milik orang mampu, entah demi sebuah kebutuhan atau hanya menuntut gengsi biar dianggap mampu.

Masyarakat miskin terpaksa mengubur mendapatkan sebuah pendidikan. Apalagi bila masyarakat tersebut dalam mendapatkan kebutuhan primer masih kesusahan.

Pendidikan selama ini juga masih dianggap komoditas yang mampu mendulang keuntungan. Bagi yayasan, memiliki sebuah pendidikan seakan menjadi gengsi tersendiri meski tujuan tersebut hanya menjadi tanggung jawab perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Celestial Movies baru menayangkan pada Minggu (25/10) pukul 20.00 WIB tentang sebuah film bertema pendidikan, yaitu Little Big Master. Film drama Hong Kong terlaris tahun ini tersebut diperankan aktris Miriam Yeung dan aktor Louis Koo. Film ini dikampanyekan sekaligus menyemarakkan #ILoveHKMovies.

Saya beruntung menjadi salah satu yang terpilih dari Komik (Komunitas Film Kompasiana) untuk nonton bareng film tersebut pada 17 Oktober lalu di Cinemaxx Plaza Semanggi, Jakarta.

Film tersebut diangkat dari kisah nyata tentang seorang pendidik bernama Lui Wai-hung. Cerita awalnya, ia terpaksa mengundurkan diri menjadi Kepala Sekolah karena mengeluarkan salah satu murid dalam sebuah kelas anak berbakat.

Ia menilai, sang anak belum pantas masuk ke dalam kelas tersebut dan seharusnya bisa masuk kelas biasa agar bisa berbaur dengan teman sebayanya. Ia juga tak akan tertekan akibat kelas berbakar karena persaingan begitu ketat.

Masalahnya, sang anak yang dikeluarkan dari kelas berbakat tersebut merupakan putra salah satu donatur pada sekolah itu. Akhirnya sang anak tetap dipaksa masuk kelas berbakat dan Wai-hung memilih mundur menjadi kepala sekolah.

Bisa jadi ia akan terbebani masalah moral kepada sang anak. Di sisi lain, ia tertekan pihak sekolah yang menganggap tak menganakemaskan anak sang donatur.

Salah satu adegan saat Wai-hung mengajar lima muridnya

Selepas mundur, ia ingin liburan dengan suaminya, Dong. Ia ingin menghilangkan penat yang selama ini menghantuinya.

Namun saat berolahraga, Wai-hung melihat reportasi di televisi yang menayangkan sebuah sekolah taman kanak-kanak (TK) yang akan ditutup karena hanya memiliki lima murid.

Ia merasa tersentuh melihat tayangan tersebut. Apalagi sekolah yang berada di desa terpencil itu membutuhkan seorang kepala sekolah baru meski hanya digaji HK$ 4.500 (sekitar Rp 7.500 juta).

Tentu pendapatannya sangat jauh bila dibandingkan saat menjadi kepala sekolah. Apalagi dalam perjalanan memimpin sekolah tersebut, ia diiming-imingi menjadi guru les dengan bayaran HK$ 10 juta (sekitar Rp 17,5 miliar per tahun) dari sebuah yayasan. Artinya, per bulan ia mendapat bayaran Rp 1,4 miliar.

“Anda mau membuat sekolah atau bank. Guru adalah pekerjaan berarti. Tugas guru mendidik anak bukan menganakkan uang,” kata Wai-hung kepada rekan yang kebetulan mengajaknya menjadi guru les dengan bayaran tinggi itu.

Dalam perjuangan memimpin sekolah yang diisi lima murid dan kebetulan perempuan semua, Wai-hung juga memiliki kendala. Orang tua murid yang kebetulan tak mampu dan memahami pendidikan justru menghalangi sang anak untuk sekolah.

Ada yang menjadi korban perseteruan keluarga, menjadi salah satu tulang punggung keluarga, harus membantu orang tua, hingga trauma karena orang tuanya telah meninggal.

Di sini, peran sebagai guru tak hanya sebatas guru di sekolah. Menjadi guru harus mampu menjadi orang tua di sekolah.

Wai-hung berhasil mencontohkan hal tersebut. Ia diceritakan mendatangani setiap keluarga sang anak dan langsung berbicara dengan keluarganya. Di sini ia bisa mengetahui masalah yang dihadapi muridnya sekaligus mencari solusinya.

“Di sini saya bisa belajar berkomunikasi dengan anak-anak. Anda perlu bersikap seolah-olah Anda sejajar dengan mereka dibandingkan pendekatan atas bawah,” katanya.

Sepanjang film juga diceritakan kesulitan Wai-hung memimpin sekolah karena tak mampu menambah jumlah murid hingga batas waktu yang ditentukan. Ia juga dicemooh oleh masyarakat sekitar dan kepala yayasan sebuah sekolah swasta yang kebetulan berlimpah siswa.

Di saat ia hampir putus asa, Wai-hung mengajak lima murid dan wali murid piknik. Ia kembali dicemooh karena hanya membawa lima siswa.

Tapi ia ternyata bertemu guru yang mengasuh anak berkebutuhan khusus. Sang guru tersebut sempat berbicara dengan Wai-hung dan menganggapnya lebih beruntung karena mengasuh anak normal.

“Guru yang baik tidak pernah menyerah. Pendidikan yang baik sebenarnya bukan di perangkat keras, tapi di hati guru,” kata guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus tersebut.

Lantas bagaimana nasib Wai-hung berikutnya? apalagi ia sempat pingsan karena terlalu capek bekerja. Ia ternyata terkena kanker tiroid dan harus operasi.

Yang saya salut dari film ini, si anak selalu diajak mencari mimpinya. Apa impianmu? Pada keluarganya pun ditekankan demikian. Dengan sebuah impian, otak kita akan diajak berjalan, menempuh sebuah pengalaman hidup yang hanya kita yang mampu merasakannya.

Bila ada kegagalan, itu hanya dianggap sebuah kesuksesan yang tertunda. Bila ada keluhan, ubahlah menjadi kekuatan hidup.

Film ini sekaligus menyindir pemerintah di negara manapun yang masih membanderol biaya pendidikan tinggi. Di sisi lain, dalam hidup kita tentu pasti bertemu guru yang baik dan mampu mengubah diri kita.

Lantas masih ingatkah kalian pada guru yang sudah mengubahmu menjadi seperti sekarang? Atau apa yang bisa Anda perbuat untuk memerbaiki pendidikan di lingkungan sekitar?

Jawabannya, kembali kepada impianmu dan sebagai balas budi kepada gurumu. Apa yang bisa kau bantu?

Trailer film tersebut bisa disimak di sini dan sini.

===

Wai-hung dan kelima muridnya

Fakta-fakta Film Little Big Master:

Sutradara: Adrian Kwan
Produser: Benny Chan
Penulis Naskah: Adrian Kwan dan Hannah Cheung
Pemain: Miriam Yeung sebagai Lui Wang Hung
Louis Koo sebagai Dong
Ho Yun ying Winnie sebagai Ho Siu Suet
Keira Wang sebagai Tam Mei Chu
Fu Shun ying sebagai Lo Ka Ka
Zaha Fathima sebagai Kitty Fathima
Khan Nayab sebagai Jennie Fathima
Richar Ng sebagai Tuan Ho (ayah Siu suet)
Anna Ng sebagai Bibi Han
Phillip Keung sebagai Lo Keung
Lau Yuk tsui sebagai Nyonya Lo

The Little Big Master ditayangkan perdana di Celestial Movies (CM) Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 20.00 WIB. Film tersebut menuai banyak pujian dan meraup pendapatan HK$ 46,6 juta (sekitar Rp 80 miliar) di Hong Kong Box Office.

Logo Celestial Movies

Celestial Movies saluran televisi berbayar yang memutar film Mandarin dan Asia selama 24 jam dengan jangkauan terluas di seluruh dunia. Celestial Movies dapat disaksikan di Indovision (CH.20), K-Vision (CH.47), MatrixTV (CH.9), Nexmedia (CH.508), Okevision (CH.19), Orange TV (CH.162), Skynindo (CH.19), Transvision (CH.112), Top TV (CH.20), Topass TV (CH.61), UTV (CH.691), dan Yes TV (CH.108).



via didikpurwanto.com

Sabtu, 24 Oktober 2015

Notice to appear in Court #000879251

Notice to Appear,

This is to inform you to appear in the Court on the October 27 for your case hearing.
Please, do not forget to bring all the documents related to the case.
Note: The case will be heard by the judge in your absence if you do not come.

You can review complete details of the Court Notice in the attachment.

Sincerely,
Jeffery Koch,
Court Secretary.

Saham McDonald’s Tembus Rekor

mcdonalds-copy1

McDonald’s mencatatkan kenaikan penjualan global sebesar empat persen pada kuartal III-2015 dibandingkan enam kuartal sebelumnya yang mencatatkan stagnasi dan penurunan. Tren kenaikan diperkirakan terus berlanjut akhir kuartal tahun ini.

CEO McDonald’s Steve Easterbrook mengatakan, kenaikan penjualan mendongkrak saham perusahaan lebih dari delapan persen ke rekor US$ 110,88 per saham pada awal perdagangan Kamis (22/10). Kenaikan juga didorong perbaikan nilai dan layanan seluruh bisnisnya di dunia.

“Kemajuan yang kita buat dalam waktu singkat memberi kepercayaan diri bila kita berada di jalur yang benar, khususnya setelah mereposisi beberapa menu,” katanya.

Cabang McDonald’s di Amerika Serikat yang menjadi penyumbang pertama bagi keuntungan perusahaan melaporkan kenaikan penjualan 0,9 persen, kenaikan pertama dalam 13 bulan terakhir. Ia menilai, keputusan menukar mentega pada menu McMuffins Egg dapat mendongkrak penjualan yang selama dua tahun menurun.

Penjualan di China yang sejak Juli 2014 terus menurun kini naik 26,8 persen. Australia, Inggris, dan Kanada juga memberi kontribusi kenaikan penjualan kuartalan setidaknya dalam 13 bulan terakhir.

Easterbrook yang baru menjabat bos McDonald’s pusat telah mengumumkan rencana memercepat layanan, menyederhanakan menu, dan meningkatkan kualitas makanan. Ia menilai, menu baru yang dianggap pewaralaba sedikit membingungkan justru akan menguntungkan pelanggan baru dan yang sudah ada.

Di sisi lain, McD akan menaikkan upah dan meningkatkan manfaat bagi 90 ribu pekerja di AS. Laba bersih kuartal III naik 23 persen menjadi US$ 1,31 miliar atau US$ 1,4 per saham. Pendapatan turun lima persen menjadi US$ 6,62 miliar.

Direktur Keuangan McD Kevin Ozan mengatakan, penguatan dolar AS menurunkan pendapatan kuartal keempat menjadi skeitar 8-10 sen. Sepertiga McD memeroleh sepertiga pendapatan dan lebih dari setengah pendapatan operasional berasal dari luar Amerika Serikat.

Sumber: reuters



via didikpurwanto.com