Sabtu, 01 Februari 2014

Google Jual Motorola ke Lenovo

Lenovo telah mengumumkan kesepakatan dengan Google untuk membeli divisi handset Motorola senilai 2,91 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 trilliun. Pembelian tersebut merupakan transaksi teknologi terbesar yang dilakukan Lenovo sejauh ini.

Sebelumnya, memang telah terdapat "tanda-tanda" bahwa Google akan melepas Motorola setelah mengakuisisi perusahaan ini pada 2012 lalu senilai 12,5 miliar dollar AS. Ketika itu, banyak yang menduga bahwa tujuan Google tak lain adalah menguasai portfolio paten mobile milik Motorola yang berjumlah sekitar 17.000.

Tapi alasan sebenarnya mungkin lebih dari itu. Christopher Mims dari Quartz menduga bahwa dulu Google membeli Motorola untuk mengimbangi Samsung yang telah meraksasa di ranah Android.

Hubungan antara Google dan Samsung memang agak unik. Di satu sisi, Google diuntungkan oleh penyebarluasan Android lewat handset Samsung. Akan tetapi, posisi Samsung yang terlalu mendominasi ekosistem Android disinyalir membuat khawatir raksasa internet itu.

Di sisi lain, Samsung telah menunjukkan sinyalemen bahwa pihaknya tak mau terlalu tergantung dengan platform Android besutan Google. Hubungan Samsung-Google menegang setelah Google membeli divisi handset Motorola, terlebih setelah Motorola menelurkan model-model Android ciamik seperi Moto X dan Moto G.

Akusisi atas Motorola menjadikan Google bukan hanya kawan Samsung, tapi juga lawannya secara langsung di bisnis perangkat keras. Produsen elektronik Korea tersebut lantas meningkatkan tekanan terhadap Google dengan merilis OS mobile buatan sendiri dengan nama Tizen.

Rujuk

Belakangan, Samsung dan Google terlihat "rujuk" melalui kerja sama lisensi paten. Minggu ini Samsung juga menyatakan bakal berhenti menyediakan layanan yang serupa milik Google di handset buatannya.

Layanan dimaksud antara lain toko aplikasi Samsung Hub dan Media Hub yang ditempatkan di muka interface berbagai seri handset Galaxy. Kedua layanan tersebut mengancam layanan Google Play dan media library di Android karena memiliki fungsi yang mirip.

Samsung juga menebar berbagai aplikasi inti yang serupa dengan pilihan default di Android, termasuk browser, sistem e-mail, notifikasi, messaging, dan lain-lain. Akibatnya, pengguna handset Samsung harus memilih aplikasi mana yang akan dipakai: milik Samsung atau Google?

Kini, dengan berhentinya Samsung meniru layanan-layanan tersebut, kebingungan tak akan terjadi lagi. Segera setelah pemberitahuan Samsung, Google mengumumkan bakal menjual Motorola ke Lenovo sehingga tak lagi menjadi pesaing Samsung di bisnis handset.

Apakah ada kaitan di balik penjualan Motorola dengan perjanjian kerjasama Google-Samsung? Apakah itu harga yang harus "dibayar" agar Samsung setia dengan Android?

Motorola di Lenovo

Lalu, apa yang akan terjadi dengan Motorola setelah dibeli Lenovo? Produsen asal China ini memiliki posisi yang kuat di negara-negara berkembang, sementara Moto G banyak disebut sebagai handset Android murah terbaik.

Dengan membeli Motorola, Lenovo membuka jalan ke wilayah-wilayah pasar di Amerika Tengah dan Utara dimana Moto X dan Moto G disambut baik oleh konsumen. Boleh jadi, Lenovo akan memperbarui Moto X dan Moto G tahun ini, dan menjadikannya sebagai produk andalan.

"Kami akan menggunakan mereknya (Motorola) untuk meningkatkan bisnis kami. Brand Motorola juga sangat kuat di China," ujar CEO Lenovo Yang Yuanqing.

Apapun yang dilakukan Lenovo, Google akan menciptakan kompetitor untuk Samsung yang dikepalai oleh mantan orang Google (CEO Motorola Dennis Woodside), setidaknya untuk saat ini. Lenovo yang juga merupakan produsen PC terbesar di dunia pun telah terbukti mampu sukses di bisnis hardware dengan margin tipis.

Sumber: Kompas.com

Facebook Siap Saingi Google

Google masih tidak terkalahkan sebagai perusahaan mesin pencari. Namun dalam 10 tahun mendatang, Facebook akan menyainginya.

Facebook benar-benar memikirkan masa depan bisnisnya. Di tengah isu penurunan jumlah pengguna situs jejaring sosial itu, Facebook menyatakan seruannya ingin menyaingi Google.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada analis Wall Street seperti dirilis Business Insider pekan ini saat mengumumkan kinerja kuartal IV-2013 bila situs besutannya akan menantang Google dalam bisnis mesin pencari (search engine).

Hingga saat ini, Google belum terkalahkan dalam bisnis mesin pencari. Walau ingin menyaingi, Facebook akan menyiapkan amunisi baru meski dalam bisnis yang hampir mirip.

Ada tiga hal yang diungkapkan Zuckerberg tentang perusahaannya di masa depan. Pertama, Facebook mengklaim memiliki indeks data lebih banyak dibanding dengan mesin pencari lainnya. Kedua, Facebook memiliki fitur Graph Search, si mesin pencari khasnya.

Ketiga, produk akhir ini akan dirilis pada perangkat bergerak (mobile) sehingga pengguna akan dapat memanfaatkan fitur ini di pengenalan suara (voice recognition) melalui ponselnya. Zuckerberg ingin benar-benar dapat menyaingi Google dalam 10 tahun mendatang.

Saat ditanya analis tentang fitur Graph Search, Zuckerberg sebenarnya masih malu-malu. Fungsi mesin pencari antara milik Google dan Facebook belum ditemukan secara rinci perbedaannya.

Zuckerberg menganggap bahwa mesin pencari besutan Google hanya akan lebih menampilkan hasil lebih nyata tentang kata kunci yang dicari melalui mesinnya. Sedangkan fitur Graph Search milik Facebook akan memberi jawaban atas pertanyaan yang tidak tetap atau tidak jelas, misalnya apa restoran favorit teman-teman saya?

Zuckerberg mengklaim Google tidak akan mampu menyediakan jawaban atas pertanyaan itu. Sementara Facebook akan memberikannya.

Graph Search

Pendiri Facebook menilai keunikan fitur Graph Search yang akan dirilisnya ini adalah situs jejaring tersebut memiliki satu triliun koneksi yang menghubungkan semua orang, kepentingan, acara dan apa pun yang terkait pertemanan manusia di dunia.

Fitur Graph Search ini juga akan menghubungkan satu triliun update status, posting teks, foto hingga potongan konten yang sudah dikirimkan pengguna Facebook sejak 10 tahun terakhir.

"Kami mengklaim memiliki basis data yang lebih besar dari Google. Kami tidak mengatakan ini sebagai mesin pencari (search engine) tapi mesin pencari web (web search engine). Ini bisa diartikan mesin pencari Google masih terbatas, sementara Facebook akan lebih berpengalaman dalam hal ini," kata Zuckerberg.

Keyakinan Bisnis
Zuckerberg sudah memiliki keyakinan besar saat membuat Facebook. Hingga saat ini, jumlah penggunanya sudah mencapai 1,2 miliar lebih di seluruh dunia.

Memang saat Facebook meramaikan situs jejaring sosial, Google pun ikut serta dengan membuat Google+, namun ternyata situs jejaring itu malah tidak laku. Sedangkan mesin pencari Bing milik Yahoo diklaim hanya sebagian bisnis kecil dari Google.

Namun dengan klaim Zuckerberg tadi, apakah mungkin mesin pencari web besutan Facebook akan mengalahkan raja mesin pencari Google? Ini jawaban Mark Zuckerberg.

Cara kami berpikir tentang bisnis ini adalah kami melihat begitu banyak konten yang telah dibagikan di Facebook dan kami akan membuat infrastrukturnya, membuat indeks, membuat peringkat dan akan memudahkan pengguna dalam mencarinya.

Aku sudah bicara dengan beberapa orang terkait bisnis ini, terutama seorang profesor di Universitas New York dan saya mengajak profesor tersebut bergabung dengan bisnis tersebut. Ini adalah kelompok riset jangka panjang yang kami miliki dan ini akan masuk dalam strategi jangka panjang, mungkin dalam 10 tahun mendatang.

Tujuan dari bisnis ini adalah benar-benar hanya mencoba memahami bagaimana segala sesuatu di Facebook bisa terhubung. Kami berusaha memahami saat pengguna menulis status, berbagi konten, foto, video hingga bisa berbagi melalui pesan instan baik melalui tulisan maupun suara. Ini akan memudahkan pengguna.

Ini adalah beberapa tugas besar yang akan kami lakukan bersama tim dari waktu ke waktu. Kami akan memiliki implikasi yang jelas untuk produk yang akan kita lakukan. Tapi seiring waktu kita akan mulai memahami arti dari semua konten yang sudah dibagikan pengguna, bahwa kita akan memberikan pengalaman yang jauh lebih relevan bagi orang-orang di seluruh dunia.

Secara internal, kami juga sudah memiliki rencana dalam tiga tahun, lima tahun hingga strategi 10 tahun. Untuk rencana tiga tahun pun, kami sudah menyiapkan rencana baru dan untuk rencana lima tahun, kami akan membantu orang-orang yang berada dalam jaringan kami untuk menjawab pertanyaan apa yang mereka ajukan dan memecahkan masalah yang mereka miliki.

Sabtu, 25 Januari 2014

Samsung dalam Tekanan Apple




Samsung mencatat laba operasional di kuartal IV-2013 mengalami penurunan 6 persen menjadi 8,3 triliun won atau sekitar US$ 7,7 miliar. Penurunan tersebut merupakan pertama kalinya sejak dua tahun terakhir.

Samsung mengklaim alasan penurunan laba operasional karena perusahaan memberi bonus ke karyawan sebesar 800 miliar won atau sekitar US$ 745 juta. Alasan pemberian bonus ini untuk memperingati 20 tahun setelah Ketua Samsung Lee Kun Hee mengumumkan strategi manajemen baru yang menganggap karyawan sebagai katalis pertumbuhan perusahaan.

Penurunan laba operasional ini semakin menekan Samsung. Apalagi investor perusahaan teknologi asal Negeri Ginseng ini menekan direksi agar mampu membuat percepatan bisnis. Direksi juga telah berjanji ke investor untuk memberi keuntungan deviden US$ 2 miliar, dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya dan ini menjadi rekor baru dalam pemberian deviden di Samsung.

Investor juga menekan direksi agar memberikan keuntungan lebih baik dari sisi penjualan televisi, ponsel cerdas (smartphone) dan chip memori. Namun, Samsung enggan mengubah kebijakan pembayaran deviden lebih sebab hasil keuntungan akan lebih diinvestasikan ke pertumbuhan perusahaan masa mendatang.

Tahun ini pangsa pasar Samsung juga makin tertekan, terutama oleh pesaing utama, Apple. Perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs tersebut mulai menjual iPhone melalui China Mobile Ltd, operator terbesar dengan pelanggan terbanyak di dunia.

Jika rencana Apple berhasil untuk bekerja sama dengan China Mobile, jumlah pengguna iPhone di Negeri Tirai Bambu tersebut akan meroket. Sampai saat ini, iOS, sistem operasi besutan Apple masih mendominasi perangkat ponsel di China. Tentunya, hal ini menjadi ancaman bagi Samsung yang masih setia dengan sistem operasi Android besutan Google.

Dalam laporan keuangan, Samsung juga menyebut alasan penurunan laba operasional karena penjualan iPhone buatan Apple mulai melesat, terutama sepanjang musim liburan akhir tahun di Amerika Serikat dan Jepang.

Meski mulai kalah dalam hal penjualan ponsel cerdas di akhir 2013, Samsung mulai memberikan rasio pembayaran deviden hingga dua kali lipat menjadi 1 persen. Nilai tersebut hanya kalah tipis dengan Apple yang memberikan rasio pembayaran deviden sebesar 2 persen kepada investornya.

"Rasio pembayaran deviden tahun 2013 sudah meningkat signifikan. Tapi kami tidak bisa mengatakan secara pasti berapa banyak kita akan membayar (ke investor)," kata Head of Investor Relations Samsung Robert Yi seperti dikutip Reuters.

Produsen ponsel dari Korea Selatan ini mengumumkan deviden per saham sebesar 14.300 won sepanjang 2013 atau total 2,1 triliun won (sekitar US$ 2 miliar). Jumlah tersebut 79 persen lebih banyak dibandingkan dengan deviden tahun sebelumnya, tetapi hanya 6,9 persen dari laba 2013.

"Samsung jelas dalam tekanan investor," kata Fund Manager HDC Asset Management Park Jung Hoon.

Dengan nilai saham Samsung yang terus turun, Jung Hoon menilai Samsung harus terus mempertimbangkan langkah-langkah tambahan seperti rencana pembelian saham kembali untuk mengatasi tekanan pemegang saham.

Saham Samsung terus menurun hingga Jumat (24/1) senilai US$ 204 miliar, naik 0,62 persen dibandingkan dengan Indeks Kospi yang melemah 0,36 persen. Saham Samsung telah jatuh 8,8 persen di Desember 2013 akibat kekhawatiran perlambatan pertumbuhan penjualan ponselnya.

"Tahun ini akan menjadi tahun yang menantang bagi Sammsung untuk meningkatkan pendapatan khususnya di kuartal I-2014 sebagai efek pelemahan industri telekomunikasi (IT), baik permintaan komponen maupun produk televisi," tambah Robert Yi.

Penjualan Ponsel Mengecewakan
Samsung tahun ini akan menganggarkan belanja modal sebesar 23,8 triliun won, relatif sama dengan belanja modal di 2013. Namun, pengeluaran untuk biaya pemasaran akan dipangkas untuk menyiasati kenaikan laba operasional.

"Kami secara aktif akan memanfaatkan acara olahraga global seperti Olimpiade dan saluran ritel kami. Tapi kami akan mencoba untuk meningkatkan efisiensi biaya pemasaran kami dan menurunkan anggaran mobile marketing secara keseluruhan agar pendapatan dan laba tetap terjaga," kata Senior Vice President Samsung Mobile Business Kim Hyun Joon.

Laba operasional di divisi mobile stagnan di 5,47 triliun won, tetapi turun 18 persen dibandingkan dengan laba operasional di kuartal III-2013 yang masih tercatat 6,7 triliun won.

Penurunan laba operasional divisi mobile ini karena penjualan ponsel terutama ponsel Samsung seri Galaxy S4 kurang mencapai target. Laba operasional khusus dari ponsel Galaxy S4 anjlok 90 persen menjadi 110 miliar won. 

Samsung mengatakan tanpa penjelasan lebih lanjut bahwa smartphone akan masih menjadi kontributor laba terbesar perusahaan, di samping masih akan memperluas pasar tablet di segmen menengah ke bawah (low end) dan layar lebih besar.


Selasa, 21 Januari 2014

Jaringan ATM Terancam Bahaya


Microsoft akan menghentikan dukungan teknis untuk Windows XP pada 8 April 2014. Imbasnya, 95 persen jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di dunia yang masih menggunakan sistem operasi Windows XP akan terancam bahaya.

Penghentian dukungan teknis untuk Windows XP tersebut menimbulkan ketiadaan update terbaru, termasuk sistem keamanan untuk perlindungan sistem dari virus, spyware atau software berbahaya lainnya.

"Akan ada banyak mesin ATM yang berbagai komponennya harus di-upgrade atau tidak dipakai lagi dan dijual ke pasar barang bekas atau bahkan dibuang sama sekali," kata editor ATM Marketplace Suzanne Cluckey, seperti dikutip Bloomberg Businessweek.

Jika sebuah mesin ATM tidak di-upgrade, mesin tersebut tetap akan berfungsi sebagaimana mestinya, namun mesin-mesin tersebut akan lebih rentan terhadap berbagai tindak kejahatan cyber dan serangan lain.

Untuk memperbarui sistem operasi mesin ATM dari Windows XP menjadi Windows 7 atau sistem operasi lain yang lebih baru akan menghadapi beberapa kendala. "Hanya sedikit mesin ATM yang mampu melakukan upgrade tersebut," kata Kepala Eksekutif Penyedia Software ATM KAL Aravinda Korala.

Di AS, hanya sekitar 15 persen dari 420.000 mesin ATM yang sudah akan menggunakan OS Windows 7 saat April nanti. "ATM yang tersebar di dunia belum akan benar-benar siap. ATM berjalan lebih lambat daripada komputer pribadi," katanya.

Berdasarkan firma konsultasi Retail Banking Research, jumlah total seluruh mesin ATM yang ada di dunia mencapai sekitar 3 juta mesin. Sedangkan biaya untuk meng-upgrade satu mesin ATM Windows XP menjadi Windows 7 bisa berkisar antara beberapa dollar AS jika masih cocok, hingga ribuan dollar AS jika membutuhkan komponen baru.

Masih Ditinjau Ulang

General Manajer Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha mengatakan, masih harus meninjau kembali kabar terkait penghentian dukungan teknis kepada Windows XP ini. “Masih harus dilihat dulu apakah penghentian itu berlaku di luar negeri saja atau juga di Indonesia,” kata Steve. 

Menurutnya, Microsoft terkadang memiliki kebijakan yang berbeda antara Micrososft dunia, Microsoft Asia, ataupun Microsoft Indonesia. Tidak hanya Microsoft, Oracle Service juga memiliki kebijakan seperti itu. “Jadi kebijakan yang diberlakukan oleh Microsoft dunia belum tentu berlaku di Indonesia, begitu juga sebaliknya,” katanya.

Steve mengatakan, jika memang kabar penghentian dukungan teknis itu benar dan berlaku di Indonesia, bank yang menggunakan sistem Windows XP tersebut harus segera mengganti software-nya. Namun, Steve juga mengingatkan, di Indonesia sendiri tidak semua bank menggunakan ATM dengan sistem operasi Windows XP.

“Misalnya seperti Diebold, dia menggunakan sistem sendiri. Mestinya tidak menjadi masalah,” kata Steve.

Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, penghentian dukungan dari sebuah vendor teknologi informatika (TI) bukan merupakan hal yang baru. Setiap tahun vendor TI akan menghentikan layanan dukungan pada produk yang lama setelah mereka mengeluarkan yang baru. “Hal ini biasa terjadi di semua software jadi Windows bukan yang pertama,” katanya.

BCA akan menggunakan versi Windows terbaru secara bertahap, dimulai dari pembelian ATM, PC, atau server yang baru. Sedangkan untuk ATM yang saat ini menggunakan Windows XP, akan diganti dengan versi terbaru pada saat peremajaan ATM. 

Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Muhamad Ali mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan vendor-vendor mesin ATM yang digunakannya terkait adanya penghentian dukungan teknis dari Microsoft untuk Windows XP. “Dalam jangka pendek kami akan berkoordinasi dengan tiga vendor yaitu Hyosung, Wincor, dan NCR serta TSI. Tentunya untuk membahas langkah ke depan,” katanya.

Sabtu, 18 Januari 2014

BlackBerry Buntung, Kanada Limbung

Analis Pasar Uang di Amundi Asset Management yang berbasis di London, James Kwok mengatakan, tahun lalu perekonomian Kanada tumbuh paling lambat sejak resesi 2008. Pelemahan perekonomian itu sebagai buntut panjang defisit perdagangan sejak 25 tahun berturut-turut.

Negara produsen BlackBerry ini dipaksa untuk memberikan diskon ekspor terbesarnya, minyak mentah hingga harus memotong operasional BlackBerry agar bisa bersaing dengan produk ponsel lain.

Laporan terbaru pekan lalu menunjukkan defisit perdagangan Kanada tercatat sembilan kali lebih dibanding pendapatan negaranya. Mata uang dolar Kanada juga turun terendah selama empat tahun terakhir di level C$ 1,0991 di Kamis (16/1).

Kwok bertaruh pelemahan ini hanya awal dan diperkirakan akan melemah kembali dalam sembilan bulan mendatang.

"Apalagi sekarang masyarakat Kanada justru lebih senang membeli iPhone (dari AS) dibanding harus mengekspor BlackBerry ke seluruh dunia," kata Kwok seperti dikutip Bloomberg.

Kwok menilai di masa lalu Kanada banyak mendapat manfaat dari ekonomi AS karena kedua negara ini saling dekat satu dengan lainnya. Sebagian besar ekspor Kanada menuju AS.

"Namun kali ini berbeda, saya pikir pemulihan akan jauh lebih lambat kecuali dolar Kanada akan bisa sedikit melemah," katanya.

Loonie, satuan mata uang dolar Kanada, mencapai level terendahnya terhadap dolar AS sejak September 2009 hingga Kamis (16/1). Di tahun ini, dolar Kanada ini juga sudah melemah 3,3 persen, lebih buruk dibanding mata uang dolar Namibia.

Dorong Pertumbuhan

Bank Sentral Kanada mengharapkan pemerintah mau meningkatkan ekspor perdagangannya ke seluruh dunia, khususnya AS. Meski Gubernur Bank Sentral Kanada Stephen Poloz tidak memahami mengapa pengiriman ekspor belum kuat.

Taruhan Kwok atas Loonie yang terus menurun didasarkan pada jaminan Poloz yang tetap mempertahankan suku bunga acuan yang rendah hingga ekonomi pulih. Asumsi Bank Sentral, ekspor akan pulih. Satu-satunya cara adalah melemahkan mata uangnya.

Namun defisit perdagangan Kanada hingga November 2013 masih melebar hingga C$ 940 juta atau sekitar US$ 857 juta. Perkiraan survei Bloomberg, masih ada perkiraan defisit perdagangan yang lebih mencapai C$ 100 juta.

Di bulan yang sama, Kanada justru mengimpor C$ 1,1 miliar lebih peralatan komunikasi, termasuk ponsel cerdas yang merupakan pesaing BlackBerry, salah satunya Apple. Hal ini justru membuat defisit perdagangan Kanada dua kali lipat besarnya dari defisit enam tahun lalu.

BlackBerry Jatuh

Saham BlackBerry telah jatuh lebih dari 90 persen dari puncaknya di 2008. Penurunan harga saham perusahaan karena kehilangan pangsa pasar ponsel cerdas (smartphone) selama bertahun-tahun, khususnya kalah saing dengan Apple dan Samsung.

Konsekuensinya, BlackBerry tahun lalu memangkas jumlah pekerjanya hingga 30 persen. Juru bicara BlackBerry Lisette Kwong menolak berkomentar soal penurunan mata uang dolar Kanada yang berdampak ke penurunan harga saham BlackBerry.

UBS AG menurunkan proyeksi Loonie saat ini ke C$ 1,12 dalam tiga bulan ke depan, dibanding perkiraan sebelumnya hanya C$ 1 di kuartal I-2014. Analis berbasis di Singapura Gareth Berry mengatakan dolar Kanada mengalami perlambatan mendapatkan keuntungan dari pemulihan AS.

Perkiraan analis Brandywine Global Investment Management Jack McIntyre, Loonie akan melemah C$ 1,17 per dolar AS di semester kedua 2014 dan C$ 1,3 per dolar AS di akhir tahun depan. Dia mengatakan AS merupakan pasar terbesar tujuan ekspor Kanada, mencapai 75 persen dari perdagangan ekspornya. Padahal dulu 1 persen pertumbuhan ekonomi AS berarti mengontribusikan 1,5 persen pertumbuhan ekonomi Kanada. "Itu tidak ada lagi. Dolar Kanada masih dianggap terlalu tinggi," katanya.

Kurangnya infrastruktur pipa untuk pasar internasional mengakibatkan harga ekspor minyak di Kanada terpangkas. Harga minyak mentahnya dihargai US$ 18,5 per barel, padahal rekor sebelumnya pernah mencapai US$ 42,5 per barel di Desember 2012. Kanada harus membayar impor minyak mentah dengan harga internasional sebesar C$ 1,5 miliar hanya untuk impor di November 2013.

Saat yang sama, impor minyak mentah AS turun terendah dalam tiga tahun terakhir karena kemampuan produksi minyak di negara adidaya tersebut. Hal ini menyebabkan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia 2015, mengurangi ketergantungan pada produsen asing.

Di kegiatan manufaktur, Kanada juga mengalami perlambatan karena hanya mengontribusikan 10,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Oktober 2013, turun dibanding 16 persen di Agustus 2010.

Persaingan Ponsel

Hingga kuartal III-2013, total penjualan perangkat BlackBerry hanya 4,3 juta unit dengan pendapatan US$ 1,2 miliar. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya, BlackBerry mencatatkan pendapatan US$ 2,7 miliar. Ini berarti terjadi penurunan  56 persen. Dari 4,3 juta unit yang terjual itu sendiri 1,1 juta unit di antaranya adalah perangkat yang menggunakan sistem operasi BB 10.

Jika dibandingkan dengan penjualan pada waktu yang sama dua tahun yang lalu, BlackBerry terjual 14.2 juta unit ponsel. Jumlah itu sangat jauh bila dibanding penjualan ponsel Apple dan Samsung.

Penjualan ponsel Samsung dan Apple jika digabungkan mencapai 110 juta unit di kuartal III-2013. Saingan terdekat BlackBerry, Nokia dengan Windows Phone  berhasil menjual lebih banyak dengan jumlah 8,8 juta unit.

Jika tidak terus berbenah, perjalanan BlackBerry yang beberapa waktu lalu mendapatkan suntikan dana segar US$ 1 triliun itu dan mendapatkan bos baru, bakal makin berat. Nokia yang sudah diakuisisi Microsoft akan terus menggempur pasar Apple dengan teknologi iOS. Sedangkan Samsung dengan OS Android, terus menggerojok pasar dengan sejumlah gadget Android dengan banyak variasi. Akankah ini akhir BlackBerry dan Kanada?

Sumber: Bloomberg

Minggu, 12 Januari 2014

AS vs China, Siapa Terkuat?

Perusahaan teknologi mana yang memiliki kapitalisasi pasar lebih besar dari Cisco, Hewlett Packard, Twitter atau bahkan Facebook?

Anda akan menemukannya di China. Ada perusahaan bernama Tencent yang telah mengubah haluan bisnis web mobile, ponsel dan bisnis ritel online yang cukup dipandang dunia.

Tencent didirikan di Shenzhen 15 tahun lalu. Perusahaan ini  hanya menawarkan segala sesuatu yang bisa dicari di dunia maya, mobile games, pengembangan perangkat lunak (software), e-commerce dan pesan instan.

Tencent juga dikenal karena menjadi operator telekomunikasi QQ, sebuah layanan pesan melalui desktop dan hingga saat ini telah memiliki 816 juta pengguna aktif bulanan. Sedangkan layanan yang baru diluncurkan, layanan pesan instan WeChat telah memiliki 272 pengguna aktif bulanan.

Kinerja di pasar keuangan, Tencent juga menunjukkan kemoncerannya. Tencent merupakan salah satu perusahaan dengan kinerja saham terbaik dalam satu dekade terakhir.

Saham Tencent meningkat lebih dari 12.200 persen sejak menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa Hongkong pada 2004 lalu. Kapitalisasi pasarnya kini sebesar US$ 120 miliar, lebih besar dibanding McDonalds, Boeing ataupun American Express.

Mungkin agak aneh bila Tencent ini tidak memiliki satu bisnis yang menonjol. Namun eksekutif Tencent mengatakan, pendekatan platform memungkinkan seluruh lini bisnisnya tidak selalu tergantung dengan internet.

Hal ini berbeda dengan pesaingnya, termasuk Twitter, Google dan Facebook. Ketiga perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini sama-sama baru mendapatkan untung dari pendapatan iklan. Sebaliknya, Tencent justru menambang uang dari menjual produk virtual khususnya bagi penyuka game online yang ingin meningkatkan permainan interaktifnya.

Pendiri dan CEO Pony Ma Huateng mengatakan, bisnis Tencent tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Huateng justru mendorong Tencent memiliki bisnis baru seperti perusahaan asuransi dan perbankan. Dengan kondisi ini akan meningkatkan perekonomian, khususnya di China.

Namun kesuksesan Tencent ini bukan tanpa saingan di China. Manajemen Tencent menghabiskan banyak dana dalam beberapa tahun terakhir untuk menempatkan bisnis tetap di jalannya dan mampu menangguk keuntungan, termasuk melakukan investasi di perusahaan layanan pemanggil taksi Didi Dache.

Pengamat lain melihat Tencent belum bisa unjuk gigi dengan perusahaan lain, khususnya di luar kandang China. Namun Tencent menganggap enteng komentar tersebut dan terus mempromosikan WeChat di seluruh Asia Tenggara. Aplikasi ini juga telah menjajaki pasar Arab Saudi dan Meksiko.

Saat ini, beberapa perusahaan China memang sedang menjajaki pasar AS dan mengeluarkan investasi sekitar US$ 150 juta per tahun di bisnis internet. Tencent juga termasuk salah satu perusahaan yang berminat menawar Snapchat, aplikasi unik pesaing Instagram, yang juga ditawar oleh Facebook dan raksasa Silicon Valley lainnya. Namun Snapchat dengan tegas menolak Facebook.

Pertarungan Apple di China

Apple saat ini sedang menjalin kesepakatan dengan China Mobile terkait akan menjual iPhone terbaru ke lebih dari 700 juta pengguna operator telekomunikasi di China tersebut. Namun tampaknya perjuangan perusahaan teknologi asal AS di China ini tidak akan gampang.

Salah satu sebab Apple susah masuk di China adalah harga produk Apple yang mahal. Misalnya produk iPhone 5C yang menurut perkiraan analis menjadi iPhone versi murah, ternyata harganya mahal dengan cangkang (casing) plastik.

Di China, semua operator tidak memberikan subsidi untuk penjualan ponselnya. Kondisi ini berbeda dengan operator telekomunikasi di AS yang memberikan subsidi saat menjual ponsel, sehingga berharga lebih murah. Misalnya iPhone 5C dijual di pasar China seharga CNY 4.488 atau sekitar US$ 733 (bisa menjadi Rp 8,7 juta dengan kurs Rp 12 ribu).

Akankah Apple akan berhasil di China? Sampai saat ini, Apple telah menjual iPhone di China melalui operator kecil, seperti China Unicom dan China Telecom yang hanya memiliki sekitar 425 juta pengguna. Sementara China Mobile sudah memiliki pengguna lebih dari 700 juta.

Di China, pangsa pasar produk Apple masih di peringkat bawah. Samsung masih merajai dengan 21 persen, disusul Lenovo 13 persen, Yulong 11 persen, Huawei 9 persen dan Apple di posisi buncit dengan 6 persen.

Analis Wall Street mengharap Apple mampu menjual 20 juta hingga 30 juta iPhone di tahun ini agar pangsa pasarnya melonjak. Itu pun hanya penjualan kecil bila dibanding pasar pengguna ponsel yang bisa disasar mencapai 200 juta pengguna. Apple tahun lalu mampu menjual 150,2 juta iPhone tahun lalu dan analis berharap bisa meningkat antara 165 juta hingga 180 juta iPhone di tahun ini.

Banyak analis mengatakan bila Apple mampu bekerja sama dengan China Mobile akan mendorong 20 persen ke penjualan iPhone di tahun ini. CEO Apple Tim Cook sedang berusaha melobi agar kerja sama tersebut sukses.

Itu pun bila Apple mau menjual iPhone dengan harga sedikit murah, meski strategi tersebut tidak akan pernah dilakukan Apple. Lalu siapa yang akan menang, China atau AS? Tunggu saja.

Sumber: CNN 1 dan 2

Rabu, 18 Desember 2013

Siap-siap Krisis Pangan

Seluruh negara di dunia termasuk Indonesia siap-siap akan krisis pangan di masa mendatang. Hal ini terjadi bila pemerintah tidak segera memproteksi kebijakan pangan di negaranya masing-masing.

Pengamat pertanian dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, indikasi Indonesia akan krisis pangan adalah mulai membanjirnya produk pangan impor ke pasar domestik. Sementara hasil petani domestik justru kalah bersaing dengan produk impor.

"Impor pangan yang terus meningkat membuat ketergantungan kita semakin tinggi. Sementara harga pangan dunia terus meningkat. Hal itu akan membuat satu titik tertentu kita akan kolaps, mengalami krisis pangan," kata Andreas di Jakarta, Rabu (18/12).

Ia mengkhawatirkan krisis pangan ini akan terjadi dalam waktu dekat karena krisis pangan ini merupakan siklus 10 tahunan sejak era krisis tahun 1997-1998. Saat itu, Australia dan negara penghasil pangan lainnya mengalami kekeringan hebat yang menyebabkan produktivitas pertaniannya menurun. Harga pangan dunia melonjak dan menyebabkan krisis di seluruh negara.

Siklus berikutnya terjadi pada 2007-2008 dengan kejadian yang sama yaitu kekeringan hebat di Australia dan sebagian besar Amerika Serikat. Begitu juga China dan 36 negara di dunia mengalami hal sama.

"Kekhawatiran kami, siklus itu akan berulang di 2017. Kalau pertanian kita anjlok, itu bisa berulang seperti krisis 1997-1998," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak Januari-Juni 2013, volume impor sektor pangan Indonesia terus meningkat. Terbesar di sektor daging ayam dan kedelai yang masing-masing mencapai 826,33 ribu ton dengan nilai impor US$ 509,47 juta, disusul jagung dengan 1,29 juta ton senilai US$ 393,31 juta, beras sebesar 239,31 ribu ton senilai US$ 124,36 juta dan bawang putih sebesar 187,86 ribu ton senilai US$ 144,43 juta.

Dari data Congressional Research Services tahun 2012, Indonesia memiliki jumlah pengeluaran untuk pangan terbesar di dunia sebesar 31,9 persen dari total pengeluaran US$ 1.981. Indonesia hanya lebih baik dibanding Filipina yang mengeluarkan biaya untuk pangan sebesar 36 persen dari total pengeluaran per orang sebesar US$ 1.703.

"Jumlah pengeluaran pangan terkecil di AS yaitu 6,7 persen dari total pengeluaran per orang US$ 33.575," katanya.

Salah satu alasan Indonesia akan siap-siap krisis pangan adalah kebijakan yang salah tentang ketahanan pangan. Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP), tahun 1960 Indonesia dan negara berkembang lainnya masih mampu menjadi eksportir pangan dan produk pertanian utama.

Di akhir 1980-an terjadi pergeseran peran dan awal 1990-an berubah menjadi importir netto.

"Saat ini 70 persen negara berkembang tergantung impor pangan dan sebaliknya negara maju menguasai produksi dan perdagangan pangan dunia," katanya.

Andreas menyebut negara-negara berkembang dirugikan sekitar US$ 50 miliar per tahun akibat hilangnya potensi ekspor produk pertaniannya. Sementara saat ini 90 persen perdagangan dunia didominasi oleh AS, Jepang dan Inggris, baik dalam hal input pertanian, pasar benih hingga benih transgenik.

Di Indonesia, pasar pestisida, benih hingga pupuk pun mayoritas sudah dikuasai asing. Cuma industri pupuk yang masih 70 persen dimiliki oleh perusahaan Indonesia dan sisanya asing.

"Apalagi kalau melihat industri makanan dan minuman di Indonesia yang juga dimiliki asing, mulai dari industri kecap, teh, makanan ringan, susu hingga air minum sudah di atas 60 persen dikuasai asing," katanya.

Solusinya, petani di Indonesia harus bisa berdaulat dan harus mampu meningkatkan produksinya sendiri. Sementara pemerintah pun harus terus berpihak pada kepentingan petani domestik.

"Kalau pemerintah bisa mengubah kebijakan (tidak terlalu impor) dan melindungi petani, kita pun tidak akan ribut impor daging atau kedelai, kita akan bisa swasembada seperti dulu. Itu yang dilakukan pemerintah China. Kalau petani Indonesia, malah dibiarkan sendiri dan pemerintah sibuk impor. Padahal itu kebijakan instan," katanya.

Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, bila pemerintah terus membanjiri dengan kebijakan impor sementara petani dibiarkan bergerak sendiri, maka sebentar lagi petani juga akan tiarap dan segera melakukan urbanisasi.

"Pemerintah belum memihak kepentingan nasional. Kita malah menjadi penyalur aspirasi global di Indonesia," kata Hendri.

Ia menilai kebijakan yang disepakati di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) beberapa waktu lalu pun sia-sia karena sama sekali tidak menguntungkan Indonesia maupun negara berkembang yang selama ini berkontribusi pada pangan dunia.

Padahal Indonesia bersama India seharusnya bisa menggertak negara maju untuk menyepakati bahwa pangan dan industri pertanian bisa dikeluarkan dari WTO. Sehingga kebijakan pangan dan industri pangan ini akan menjadi kebijakan masing-masing negara.

"Kalau mau mengeluarkan sektor pertanian dari WTO, sangat mungkin itu. Indonesia dengan 240 juat penduduk dan India dengan 1,2 miliar penduduk sudah bisa bergerak sendiri. Tapi kan kita tidak bisa melakukan. Malah negara maju ingin Indonesia meninggalkan pertanian (dengan kebijakan impor pangan) dan sekarang itu terbukti," katanya.