Minggu, 22 November 2015

Kreasi Oshibana Pendulang Laba

IMG_20151118_125109

Ketertarikan menekuni seni pressed flower mendorong Pengelola Kebun Raya Bogor mengajak Sri Alderina ikut melestarikan dan memerkenalkan kekayaan flora Indonesia melalui bisnis seni kerajinan bunga tekan (oshibana).

Ia menekuni oshibana sejak 2010. Rina, panggilan akrab Sri Alderina, juga sempat menerbitkan buku berjudul Seni Bunga Press dari Jepang pada 2011.

“Saya sekarang dalam tahap kerja sama dengan Kebun Raya Bogor. Mereka punya garden shop. Manajer tokonya meminta saya memasok produk-produk flora karena selama ini mereka jual produk fauna yang mendapat protes pengunjung asing,” ujarnya.

Nantinya produk karya Rina akan memakai merek dari Kebun Raya Bogor. “Tapi saya minta mencantumkan made by Rina Oshibana karena itu brand saya,” katanya.

Oshibana istilah seni pengeringan bunga berasal dari Negeri Sakura. Oshibana berasal dari dua kata yaitu Oshi berarti tekan, bana berarti bunga. Secara global, seni ini dikenal dengan The Art of Press Flowers. “Kalau di luar negeri, seni ini sudah lama dikenal,” katanya.

“Saya adaptasi seni press bunga ini ke bunga-bunga khas Indonesia. Kita kan floranya kaya banget. Mungkin paling kaya sedunia kalau boleh sombong. Sekarang bagaimana caranya mengenalkan ke orang luar kalau kita punya bunga keren dan cantik,” kata Rina.

Selain kekayaan flora yang beragam, kecintaanya pada hal-hal berbau seni menjadi inspirasi berbisnis. Saat itu, seni bunga press belum ada.  Ia mulai berbisnis sejak 2011 dengan modal awal sekitar Rp 500 ribu.

Uang Rp 350 ribu digunakan untuk biaya pelatihan dan sisanya untuk membeli alat-alat press. “Lama-lama saya bikin sendiri alat press karena saya ingin harga alat murah meriah. Akhirnya saya menjual alat dan buku juga,” ujarnya.

IMG_20151118_102132

Ia menjual seni bunga tekan mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500 ribu. Produk dijual mulai dari pembatas buku hingga pajangan dalam bingkai. Untuk meningkatkan penjualan, ia juga ikut pameran dan menggelar workshop ke wilayah di luar Jakarta.

“Saya mendapatkan pembinaan dari Dinas Perindutrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Depok. Setelah itu, saya baru mengerti keuangan,” katanya.

IMG_20151118_102146

Awalnya, omzet yang diterima sekitar Rp 1 juta per bulan dari menjual hasil kesenian, pesanan buku dan alat press satu set. Sejak dibina Disperindag Depok ada peningkatan, terutama ketika pameran.

“Sekarang omzet termasuk dari pelatihan di atas Rp 3 juta. Pendapatan terbanyak dari pelatihan meski dari pendapatan pelatihan tidak menentu,” katanya.

Ia berharap perusahaan ritel besar mau menerima penjualan produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan sistem bagi hasil. Selama ini banyak perusahaan ritel menolak produk UKM karena dianggap tak layak jual.

“Ada juga perusahaan ritel baru membayar tiga bulan sekali. Masalanya, itu terlalu lama karena barang lama akan susah dijual. Sekarang lebih baik dijual online,” katanya.

 

IMG_20151118_102045

Ajari Anak Berwirausaha

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Sri Alderina menilai berbisnis merupakan seni berbagi, khususnya ilmu yang bisa menjadi pengalaman orang lain dalam berkarya.

Ia secara aktif mendorong orang tua mendidik anaknya belajar kreatif melalui wirausaha. “Orang tua lebih baik mendidik anaknya dengan wirausaha. Jangan mendidik game online. Dengan belajar membuat produk seni, anak bisa belajar kreativitas dan mengurangi penggunaan gadget,” katanya.

Rina selalu mengajarkan seni kerajinan pada tiga anaknya. Misalkan anak pertama, Fayza Sabira yang lebih suka merajut, membuat kerajinan tas, dan sweater. Anak kedua, Najmi Hamizan lebih suka menjual produk secara online dan lebih suka masak. “Walau sebenarnya ia bercita-cita menjadi pengusaha sapi,” katanya.

Anak bungsu, Zhafran Ahmad lebih suka menggambar dan berjualan di sekolah. Ia ingin menjadi ustadz sekaligus pengusaha. Namun ia tak mengharapkan upah dari hasil ceramahnya. “Intinya ia ingin mencerahkan umat tapi tidak ingin membebani umat dengan membayar fee untuk ceramahnya,” katanya.

Ia berharap ketiga anaknya kelak mampu menekuni kegemarannya masing-masing dan menjadikan bisnis bagi mereka.

IMG_20151118_102250

PROFIL

Nama : Sri Alderina
Nomor Telepon : 081295281276
WhatsApp: 08118113627
Email: rinafitrayanan@gmail.com
Facebook : Sri Alderina
Instagram/Twitter : Rina Oshibana
Pendidikan Terakhir : D3 Sastra Jerman Univeristas Indonesia.
Alamat: Kompleks Kavling Universitas Indonesia JL Cahaya Titis, Blok G NO 3B Beji Tanah Baru, Depok



via didikpurwanto.com

Rabu, 18 November 2015

McDonald’s Siap Rilis Menu Baru

mcdonalds-copy1

McDonald’s Corp menyatakan akan merilis menu baru di Amerika Serikat pada Januari 2016 sebagai upaya mendongkrak bisnis perusahaan yang selama ini memiliki penurunan pendapatan.

McDonald’s akan merilis menu promosi mulai 4 Januari hingga 8 Februari. Juru bicara McDonald’s Lisa McComb mengatakan, menu akan menawarkan pilihan dan fleksibilitas.

McDonald’s masih akan menawarkan berbagai varian menu dengan harga mulai US$ 1-2. Tujuan McDonald’s merilis menu dengan harga murah karena ingin meyakinkan pelanggan.

Selain itu, McDonald’s ingin mengguncang perusahaan lain yang memiliki varian menu dengan harga lebih murah dan berharap pelanggan mau beralih ke McDonald’s.

“Kami percaya kami memiliki menu makanan modern,” kata CEO McDonald’s Steve Easterbrook pada pertemuan investor pekan lalu. Ia siap merilis berbagai platform dalam menjual menu-menunya.

Easterbrook yang telah berjanji mendongkrak bisnis perusahaan menjadi restoran modern dan perusahaan burger progresif telah mengambil langkah-langkah meningkatkan rasa dan kualitas makanan McDonald’s dengan menggunakan mentega dan bukan margarin, khususnya di menu Egg Muffins.

Untuk telur akan menggunakan ayam kandang, bukan ayam yang dibesarkan dengan antibiotik. Ia percaya telur dari ayam kandang ini akan memiliki citarasa lebih enak dibandingkan telur dari ayam suntikan.

Pada Oktober, McDonald’s melaporkan peningkatan penjualan di kuartal III, mengakhiri enam kuartal berturut-turut dengan pendapatan stagnan dan menurun.

Cabang McDonald’s di Amerika Serikat yang menjadi penyumbang pertama bagi keuntungan perusahaan melaporkan kenaikan penjualan 0,9 persen, kenaikan pertama dalam 13 bulan terakhir. Ia menilai, keputusan menukar mentega pada menu Egg Muffins dapat mendongkrak penjualan yang selama dua tahun menurun.

Penjualan di China yang sejak Juli 2014 terus menurun kini naik 26,8 persen. Australia, Inggris, dan Kanada juga memberi kontribusi kenaikan penjualan kuartalan setidaknya dalam 13 bulan terakhir.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Berburu Lomba demi Hadiah?

hadiahuntukhariibu_zpsae90e92e

Tahun ini menjadi tahun cukup berarti bagiku. Dari berbagai macam lomba, hanya beberapa yang menang. Itu harus disyukuri.

Sebenarnya, saya ikut lomba karena hanya ingin berekspresi. Urusan menang atau kalah, itu urusan belakangan. Yang penting bisa menulis dan memajang kenangan.

Kebetulan artikel yang saya tulis (dari beberapa lomba tersebut) berasal dari pengalaman pribadi sehingga cukup mengalir. Intinya cuma curhat saja daripada hilang dalam kenangan. Haha..

Dari berbagai macam lomba, tulisan tentang Daihatsu Sirion dan Sunpride hanya menang dalam babak semifinal. Pemenangnya hanya diundang pada acara khusus di Jakarta.

Tulisan lain yang cukup membanggakan bagiku adalah tulisan tentang Nescafe dan Smartfren.

Khusus Nescafe, saya juga menang dalam babak penyisihan dan diundang dalam kunjungan ke Pabrik Nescafe di Lampung, beberapa waktu lalu. Bukti lomba bisa dilihat dalam favorit akun Twitter saya (@ditopuccino)

Beruntung, dalam penulisan artikel berhasil mendapat juara III dengan hadiah Rp 1 juta. Alhamdulillah.

Terakhir, tulisan iseng tentang Smartfren berhasil menjadi juara harapan dengan hadiah modem Andromax M2Y, mirip dengan modem yang saya miliki, M2P. Pengumumannya bisa dilihat di sini.

Semoga di tahun mendatang bisa lebih berhasil lagi. Amiiin.



via didikpurwanto.com

Selasa, 17 November 2015

Kudo, Kios Online Berbasis Agen

kudo

Situs belanja online semakin marak di Tanah Air. Potensi pasar yang besar tak menyurutkan minat perusahaan rintisan (startup) berlomba-lomba menyuguhkan situs belanja online yang efisien, gampang diakses, dan memudahkan dalam pembayaran.

Selama ini situs belanja online memang belum banyak dipercaya masyarakat. Apalagi sistem pembayaran rata-rata dengan mekanisme perbankan, seperti kartu kredit, kartu debit, transfer hingga Cash on Delivery (COD).

Sistem COD hingga kini masih menjadi sistem yang dipercaya masyarakat. Sistem ini memungkinkan penjual dan pembeli bertemu dan bertatap muka hingga mencapai kesepakatan jual beli.

Namun bila jarak antara penjual dan pembeli jauh, sistem ini akan terkendala. Nah, perusahaan rintisan Kudo bisa menjawab solusi di atas.

Kudo adalah startup asli bikinan anak Indonesia. Berdiri Juli 2014, Kudo (Kios Untuk Dagang Online) ingin mengembangkan solusi praktis untuk marketplace dan ekosistem pembayaran di Tanah Air.

Apa itu Kudo selengkapnya? Bisa cek di sini:

Kudo bekerja sama dengan perusahaan e-commerce lain yang memungkinkan belanja online semakin mudah. Di sini, Kudo menyediakan agen yang dipercaya penjual untuk memfasilitasi dengan pembeli.

Situs ini didirikan dua anak muda Indonesia yaitu Albert Lucius sebagai CEO dan Agung Nugroho sebagai COO.

Menurut Agung, agen akan menjadi tumpuan Kudo dan menjembatani antara penjual dan pembeli dalam bertransaksi online. Mekanisme pembelian barang tetap memakai cara online.

Agen akan dibekali sebuah tablet yang berisi katalog online produk yang dijual di Kudo. Nah, pembeli yang ingin bertransaksi bisa membayar sejumlah harga barang kepada agen tersebut.

Di sini akan muncul kepercayaan antara penjual dan pembeli dalam bertransaksi, khususnya bisa membayar secara tunai ke agen.

Bila barang tidak sampai atau rusak, si agen yang akan bertanggung jawab kepada Kudo dan akan diteruskan kepada si penjual. Kudo juga sudah melakukan kesepakatan dengan penjual, khususnya barang atau jasa yang dijual merupakan produk asli, bukan tipu-tipu.

Nah, bedanya dengan situs belanja online lain, Kudo memang menyediakan agen tersebut untuk memfasilitasi antara penjual dan pembeli. Di sini agen bisa siapa saja yang ingin mendaftar, baik karyawan, ibu rumah tangga, pensiunan.

Uniknya, bila mau menjadi agen akan berkesempatan mendapat komisi dari penjualan tadi. Visi Kudo ingin menciptakan jutaan pengusaha teknologi secara gampang dengan penghasilan menggiurkan.

Untuk menjadi agen, kita diharuskan deposit minimal Rp 500 ribu sebagai saldo untuk transaksi. Jumlah deposit seterusnya akan tergantung besarnya transaksi belanja online nantinya. Cara ini seperti jualan pulsa online namun Kudo menyediakan beragam barang dan jasa.

Kudo juga akan meminjamkan sebuah tablet mungil sebagai alat untuk memudahkan kita berjualan online. Pembeli bisa langsung melihat produk yang ditawarkan Kudo melalui perangkat tersebut.

Kudo mengklaim menawarkan dua juta barang mulai dari tiket, barang elektronik, busana, kosmetik, barang rumah tangga, makanan, dan semua kebutuhan seperti pulsa, pembayaran listrik, air, asuransi, dan cicilan pembayaran.

Dengan menjadi agen, kita seperti memiliki supermarket pribadi meski sebenarnya itu barang milik orang lain. Kita bisa membeli sendiri atau memfasilitasi orang lain untuk membeli produk dalam katalog Kudo tadi. Asyiknya, kita bisa mendapat penghasilan dari menjadi agen tersebut.

Tertarik?



via didikpurwanto.com

Senin, 16 November 2015

Akik Cantik Berbalut Tembaga

IMG-20151114-WA0054

Bisnis batu akik akhir-akhir ini lesu seiring penurunan minat beli masyarakat. Lambat laun masyarakat mulai meninggalkan hobi mengoleksi batu akik.

Namun bisnis serupa tapi tak sama dilakukan Oki Octo Yulius. Lelaki keturunan Minang Sumatera Barat ini tetap mencintai batu akik dengan sedikit modifikasi.

Lulusan Sarjana Desain Komunikasi Visual Interstudi ini membuat batu akik menjadi perhiasan yang sedikit mewah. Ia membalut dengan tembaga sehingga tampilan semakin menarik. Kerajinan tersebut dinamakan wire wrapping.

Oki yang memiliki koleksi lebih dari 100 jenis batu itu memulai wire wrapping pada Maret 2015. Ia membuka usaha kios batu akik di Blok M Square.

Ternyata batu akik yang pesonanya kian meredup itu mulai digemari lagi saat batu akik masih jaya atau berharga jutaan rupiah. Penikmatnya pun kini meluas, tak hanya kalangan orangtua saja.

“Sekarang mahasiswa hingga karyawan muda sudah mulai banyak yang cari karena rancangannya menarik dan tidak kuno,” ujar Oki.

Ia sekarang memiliki berbagai macam koleksi perhiasan berbahan dasar batu akik dan permata mulai dari cincin bermata mutiara, gelang batu Onix Kalimantan, anting, hingga kalung batu Bacan.

Harga yang dibanderol pun tergolong murah mulai dari Rp 200 ribu untuk jenis cincin, Rp 50-75 ribu jenis gelang, hingga Rp 1 juta lebih untuk koleksi sesuai tingkat kerumitan desain tembaga.

IMG-20151114-WA0057

Tidak hanya menjual perhiasan jadi, ia pun melayani pemesanan dengan desain rangkai sesuai keinginan pelanggan. Harga yang dipatok untuk merakit batu akik dengan sehelai tembaga mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu tergantung tingkat kerumitan.

“Kalau rangkaian sederhana, jasa merakit sekitar Rp 50 ribu. Kalau rumit bisa sampai Rp 150 ribu, tergantung permintaan,” ujarnya.

Untuk memulai usaha ini, Oki sempat mengeluarkan modal sebesar Rp 16 juta, termasuk dengan modal batu akik koleksi pribadinya. Dengan keahliannya, Oki mampu meraup omzet hingga Rp 5 juta per bulan.

Desain pesona batu akik rancangannya ini tidak hanya diminati kolektor dalam negeri. Beberapa pelanggannya merupakan wisatawan mancanegara yang sengaja datang untuk memesan perhiasan batu akik buatannya.

“Harga di sini cukup murah. Kalau di luar negeri (menurut informasi konsumennya) batu itu dijual hingga puluhan dolar,” ujarnya.

IMG-20151114-WA0061

Penjualan online pun dilakoninya untuk mendulang uang lebih banyak. Oki menjajakan dagangannya melalui akun Instagram.

Keuntungan yang didapat dari penjualan online pun tidak sedikit. Setiap pekan Oki mampu meraup omzet hingga Rp 2 juta.

Setelah menjajal bisnis batu akik, kini pria kelahiran 1980 ini menambah koleksi perhiasannya dengan membuat gelang berbahan kulit sapi. Caranya, kulit-kulit sapi dirajut menjadi gelang yang cantik.

“Tentu ini akan menjadi koleksi untuk pria. Jadi tidak melulu wanita yang memakai perhiasan,” katanya.

Dia berharap batu akik kreasinya akan dikenal hingga ke mancanegara dan mampu bersaing dengan produk luar. “Mudah-mudahan saya bisa jadi perancang perhiasan mewah,” katanya.

 

IMG-20151114-WA0069

Tutup Kios di Mal

Pelemahan ekonomi dalam negeri ternyata berdampak buruk terhadap Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Itu juga dirasakan Oki dua bulan terakhir sehingga ia tidak dapat lagi membuka kios di Blok M Square lantaran penurunan daya beli.

Padahal sebelumnya Oki merelakan pekerjaan tetap sebagai desain label produk dan desain grafis di salah satu perusahaan swasta terbesar di Indonesia dengan gaji hingga jutaan rupiah.

Namun Oki tak pantang menyerah. Ia mulai memerluas bisnis dengan mengikuti berbagai bazar untuk mengembalikan modal usaha. Penjualan online pun terus digenjot, tak hanya melalui Instagram, tapi juga media sosial lainnya, seperti Line dan BlackBerry Messenger (BBM).

Tak lama setelah toko di Blok M Square tutup, penjualan melalui media sosial justru mengalami peningkatan. Tidak sedikit pula toko perhiasan lain yang memesan perhiasan batu akik buatannya untuk kembali dijual.

IMG-20151114-WA0059

Paling tidak, kata dia, ada pemasukan untuk mengembalikan modal. “Sekarang penjualan kembali membaik setelah digenjot melalui media sosial,” katanya.

Beberapa model produk clothing ternama pun sempat dipadupadankan dengan perhiasan buatannya. Menurut Oki, hal ini sebagai wadah pemasaran agar nama Yokoo_handmade banyak dikenal orang.

“Sekalian bantu-bantu teman sekaligus menyosialisasikan ada perhiasan cantik dan unik buatan tangan anak muda Indonesia,” ujar dia.

IMG-20151114-WA0052

Nama: Oki Octo Yulius
Tempat/tanggal lahir: Padang, 4 Oktober 1980
Pendidikan: Desain Komunikasi Visual InterStudi
Instagram: @yokoo_handmade
Telepon : 0812 9919 6663



via didikpurwanto.com

Minggu, 08 November 2015

Peluang Double Usaha Reseller

IMG_7882

Berprofesi menjadi ibu rumah tangga tak menghalangi Novita Juanda untuk tetap menghasilkan uang. Ia menilai kegiatan tersebut bisa membantu suami dalam mencari rezeki.

Di sisi lain, ia ingin dekat dengan anak sehingga pekerjaan yang menghasilkan uang tersebut bisa dilakukan dari rumah. Pilihannya berjualan produk namun bisa dikerjakan dari rumah.

Ia memilih bergabung dengan menjual produk anak muslim Afrakids, mulai dari kaus, perlengkapan makan siang, tempat minum hingga tas. Ia menilai, menjual produk orang lain akan lebih gampang dibandingkan membuatnya sendiri.

“Saya tetap ingin berpenghasilan meski menjadi ibu rumah tangga. Apalagi bisnis ini menebarkan pesan edukasi dan islami,” ujar Ita, sapaan Novita.

Produk Afrakids memiliki kelebihan dibandingkan produk lainnya karena memberikan pesan edukasi di setiap desain produknya. Pesan ini disukai oleh anak-anak dan orang tua.

Di sisi lain, anak-anak yang memakai produk ini sekaligus bisa belajar dan menerapkan pesan edukasi di dalamnya.

“Di samping berbisnis, saya ingin bisa menyampaikan pesan positif dan menyebarkan kebaikan. Itulah mengapa saya memilih bergabung dengan Afrakids,” katanya.

Beberapa perlengkapan yang dijual Ita yaitu bermacam-macam kaus anak, baik lengan panjang dan pendek, perlengkapan makan siang, tempat minum, hingga tas sekolah. Harga kaus dan perlengkapan anak dijual mulai Rp 59 ribu hingga Rp 200 ribu. Ia mengakui mampu menggaet 450 reseller yang membantunya menjual produk ke seluruh Indonesia.

“Ke depan kami ingin mengeluarkan produk baru, celana panjang dan celana jeans khusus untuk anak-anak,” katanya.

Ia mengakui pelambanan ekonomi cukup melemahkan permintaan produk jualannya. Namun ia pantang putus asa dan terus memberi semangat kepada masing-masing penjualnya untuk meningkatkan penjualan.

Menurut dia, pembeli tetap saja ada karena setiap ibu sangat ingin memercantik anak mereka dengan produk-produknya. “Pembelinya dari kalangan menengah ke atas sehingga tetap laku. Paling laku produk yang warnanya cerah, seperti merah muda, ungu, dan lain-lain,” kata Ita.

Ita berharap agar fluktuasi rupiah cepat teratasi karena sangat berpengaruh pada ongkos produksi kaus. Sebagian besar bahan dasar kaos masih berasal dari impor.

“Kalau tidak impor susah karena bahan kaus dari impor memang bagus dan sesuai dengan keinginan orang tua. Tapi produk ini asli Indonesia, cuma bahan bakunya masih dari impor,” katanya.

Ia memulai bisnis sejak Oktober 2014. Ita mengaku hanya bermodalkan Rp 1,75 juta. Hingga saat ini omzet ibu satu orang anak tersebut sudah mencapai Rp 850 juta. “Target saya hingga akhir tahun bisa mencapai Rp 1 miliar. Semoga tercapai,” katanya.

IMG_7880

 

Berhenti Kuliah Strata Dua

Berbisnis tentu membutuhkan keseriusan. Tak terkecuali bagi Novita Juanda yang harus rela berhenti dari studi strata dua di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Lingkungan Hidup.

Saat itu ia harus membagi waktu antara mengurus anak, menjadi istri, berbisnis, dan kuliah. Setelah berdiskusi dengan suami, ia memilih untuk berhenti kuliah. Menurut dia, kuliah cukup menyita waktunya.

“Saya memilih berhenti kuliah dan fokus menggeluti bisnis ini. Tentunya ini demi keluarga pastinya,” katanya.

Dalam berbisnis, ia menemukan pengalaman yang tak didapati selama di bangku kuliah. Ia juga harus membagi waktu mengurus suami, anak, dan bisnisnya.

Di masa awal menjadi reseller, ia terpaksa harus menggendong sang bayi demi mengantar pesanan, khususnya melalui jasa pengiriman barang. Untungnya, tak ada kendala dengan sang buah hati karena waktu berbisnis sangat fleksibel.

Ia pun menerapkan strategi pemasaran yang fokus pada penjualan online seperti melalui jejaring sosial di Facebook, Instagram, dan lainnya. Cara tersebut dianggap lebih murah dibandingkan iklan di media massa atau melalui iklan di pamflet.

Dari berbisnis tersebut ia juga mengetahui strategi dengan pesaing. Bahkan banyak produk yang serupa tapi tak sama.

Tapi Novita tak menganggap hal tersebut sebagai ancaman. Konsumen tentu memilih kualitas dibandingkan harga yang murah tapi produk cepat rusak. “Kami tidak takut kalau ada yang mencontek. Hitung-hitung desain kita dipakai orang untuk kebaikan. Makin banyak yang pakai desain edukasi justru semakin banyak yang menebar kebaikan,” ujar Ita.

Dari setiap kegagalan-kegagalan menjual, ia memiliki semangat motivasi untuk berjualan. Apalagi ini demi menambah pundi rezeki dari suami dan demi sang buah hati.

“Pertamanya kita bergerilya untuk belanja dan mengirimkan barang. Tapi sekarang suami saya mengakui untung penjualan produk ini lebih besar dari gaji dia,” katanya.

IMG_7884

Nama : Novita Juanda

Tanggal lahir:
Jakarta, 6 November 1988

Nama anak dan suami :
Aidan Kinza Khatulistiwa
Hendra Etri Gunawan
Hobi : Travelling

IG : Kinzakids



via didikpurwanto.com

Minggu, 01 November 2015

Rezeki Berkibar Kedai Keibar

IMG_20151101_201402

Tidak ada cara instan menjadi sukses. Semua pasti melalui kerja keras, pantang menyerah, dan doa kepada Yang Kuasa.

Ini juga berlaku bagi Vabel Primadana Putra yang saat ini menjadi pemilik tiga outlet Kedai Roti Bakar (Keibar) di kawasan Tangerang Selatan. Ia sebelumnya mencoba berbagai macam jenis usaha namun gulung tikar dan sempat ditipu rekan bisnisnya.

“Sekarang saya merasakan kalau punya sesuatu yang diyakini dan itu benar, insya Allah bisa tercapai. Sejak kuliah saya sudah jualan apa saja seperti pulsa, keripik pedas, pakaian, dan segala hal yang sesuai tren saat itu. Kini saya bisa merasakan hasilnya,” kata Vabel.

Awalnya, ia senang menyantap roti bakar dan mie instan sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegemarannya justru membuka peluang menciptakan jenis usaha serupa.

Ia menilai, warung yang menjual roti bakar dan mie instan terlalu memberikan porsi yang sedikit, padahal harga tergolong mahal saat itu. “Akhirnya saya modifikasi sendiri dengan porsi lebih besar namun dengan tetap harga terjangkau,” katanya.

Ia mulai mendirikan usaha Keibar pada 23 September 2013 melalui tenda kaki lima di kawasan Pamulang, Tangerang. Berbekal modal Rp 15 juta, ia tetap semangat mendirikan warung roti bakar.

Awalnya ia tidak berharap banyak pada bisnis roti bakarnya dalam waktu dekat. Apalagi usaha sejenis sudah menjamur, baik di Jakarta maupun Tangerang. Namun sebulan setelah diresmikan, respon pelanggan sangat bagus dan dalam dua tahun sudah memiliki tiga outlet.

“Sebulan setelah didirikan, akhirnya saya memberanikan pindah ke kios empat ruko yang saya buat jadi satu. Waktu itu saya minta sedikit bantuan orang tua untuk tambah modal dan responnya terus membaik,” ujarnya.

IMG_20151101_202037

Ia memilih nama Keibar yang sebenarnya merupakan singkatan dari Kedai Roti Bakar. Kedai digunakan agar tidak pasaran seperti warung atau kafe. Kedai tersebut menawarkan berbagai macam roti bakar manis atau asin dan pisang bakar manis dengan harga mulai Rp 8.000-Rp 23 ribu.

Variasi mie instan dibanderol Rp 6.000-Rp 20 ribu dan untuk minuman mulai dari Rp 20 ribu per gelas, tergantung ukuran gelas. Ia juga menyediakan teh tawar gratis.

Saat ini Keibar telah memiliki tiga cabang yaitu Ruko Pamulang Permai, Ruko Ciputat Center di samping Universitas STIE Ahmad Dahlan, dan di Jalan Alternatif Cibubur yang baru diresmikan 29 September 2015.

Ia telah memekerjakan 40 orang karyawan di tiga cabang Keibar. Keuntungan terbesar diperoleh dari cabang Ciputat dengan omzet mencapai Rp 8-9 juta untuk Senin-Kamis, dan akhir pekan meningkat hingga Rp 10-12 juta.

“Kalau dijumlah, tiga cabang bisa menghasilkan keuntungan kasar Rp 18 juta per hari untuk Senin-Kamis dan akhir pekan mencapai Rp 28 jutaan,” katanya.

Ke depan, ia berencana menata manajemen bisnis kulinernya baru melanjutkan membuka cabang berikutnya.

IMG_20151101_202342

Bisnis Lancar Dibantu Pacar

Kesuksesan sebuah bisnis biasanya didukung oleh orang terdekat, tak terkecuali keluarga atau pacar. Itu juga yang dialami Vabel Primadana Putra merintis Kedai Keibar.

Saat pertama kali merintis kedai tersebut, Vabel sempat menjual barang-barang pribadi demi modal usaha. Ia juga dibantu Erina Yuliana, sang kekasih menjual barang pribadinya tersebut.

“Dengan ketekunan bersama, saya dan pacar berhasil mengumpulkan modal hingga Rp 15 juta. Semua terasa indah kalau dilakukan bersama. Kini Erina sudah jadi istri saya,” katanya.

Namun sebelum berbisnis kedai tersebut, ia sempat berbisnis jual beli aksesoris motor. Kepandaiannya dalam dunia pemasaran mendorongnya cepat menjual peralatan dunia automotif tersebut.

Tapi kelanggengan bisnis itu tak berjalan lama. Ia yang tak begitu pandai dalam teknis soal permesinan dan dunia automotif justru ditipu rekan bisnisnya sendiri.

Ia pun tak putus asa atas kegagalan di bisnis sebelumnya. Justru dengan kegagalan tersebut ia mampu belajar agar tidak terjadi kesalahan serupa. Ia juga rajin membaca buku mengenai kewirausahaan dan kerap mengikuti seminar-seminar wirausaha selama di kampus.

Berbekal pengetahuan tersebut dan ilmu tentang pemasaran yang dikuasai mendorongnya semakin semangat berbisnis kuliner sambil terus belajar dari usaha serupa.

Saat memilih bisnis makanan, ia awalnya juga tak mendapat restu dari orangtua. Lulusan Sarjana Ekonomi (S1) Indonesia Banking School ini didesak menjadi pegawai kantoran dengan penghasilan lumayan. “Orangtua tentu mau anaknya jadi yang terbaik. Namun saya memiliki keyakinan memilih jalan terbaik bagi hidup saya dengan wirausaha kuliner ini,” katanya.

d4ec0bb2-dbbc-4384-996a-ff15017c27e7 (2)

Profil:

Nama                          : Vabel primadana Putra

Pendidikan:                 : Sarjana Ekonomi (S1) Indonesia Banking School

Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 21 Juli 1990

Kontak                         : 089630050027

Email                           : rotibakar_keibar@hotmail.com

Instagram                    : @kedaikeibar



via didikpurwanto.com