Minggu, 16 Februari 2014

Flappy Birds Vs Gangnam Style



Vietnam dan Korea Selatan menjadi dua negara berpengaruh dalam industri kreatif di Asia Tenggara. Berkat kesuksesan permainan ponsel (game) dan lagu, dua negara ini sukses mendatangkan pundi-pundi uang ke negaranya.

Hanoi, Ibu Kota negara Vietnam dalam hal statistik perekonomian masih berada di bawah Indonesia. Namun industri game mampu menjadi bisnis besar bagi pribadi maupun perusahaan pengembang (developer) game di Vietnam. 

Salah satu game yang populer bulan ini yaitu Flappy Bird yang dibuat developer indie Nguyen Ha Dong. Ia hanya perlu beberapa hari untuk menciptakan game yang mirip Super Mario Bross di Nintendo, game video klasik dari tahun 1980-an. Meski dibuat hanya beberapa hari, game besutan lelaki berusia 29 tahun tersebut bisa meraup keuntungan sekitar Rp 600 juta per hari.

Keuntungan itu diperoleh dari jumlah unduhan game terpopuler di aplikasi ponsel dengan sistem operasi iOS milik Apple maupun Android besutan Google. Ia mendapat untung dari iklan yang wira-wiri ada di bawah game tersebut.

Editor Tech in Asia Anh Minh Do mengatakan, kesuksesan game tersebut tidak terduga sebelumnya, dan tidak bisa dijelaskan, sama seperti hits Gangnam Style milik bintang pop Korea Selatan Psy.

“Saya bicara tentang bagaimana orang-orang meniru prinsip-prinsip Angry Birds, dan saya pikir orang-orang akan mencoba meniru prinsip-prinsip Flappy Bird. Mungkin kepopuleran Flappy Bird tidak bisa ditiru. Mungkin ini adalah salah satu kebetulan. Saya pikir sulit untuk mengulangi kesuksesanya,” ujar Minh seperti dikutip dari VOA Indonesia.
Meski akhirnya Flappy Bird ditarik oleh pembuatnya dari aplikasi Apple Store dan Google Play, Minh menganggap warisan Nguyen Ha Dong ini bisa tinggal lebih lama di Vietnam.

Minh menyebut Vietnam adalah pasar game online terbesar di Asia Tenggara dengan penghasilan lebih dari US$ 250 juta pada 2013. Pasar lokal didominasi oleh VNG, yang memegang 60 persen pasar game Vietnam. Tapi Nguyen Ha Dong adalah salah satu dari ribuan developer independen yang mulai bermunculan, yang sebagian besar fokus menciptakan game mobile.

Walaupun ada kompetisi yang besar, Minh dari Tech In Asia mengatakan kualitas game yang mereka ciptakan rendah.

“Tidak banyak yang berkelas dunia dan tidak banyak yang ingin masuk ke pasar global. Kalau mau memasuki pasar global, Anda harus jauh lebih baik,” ujarnya.

Di Vietnam, sangat mahal untuk menciptakan game dan developer terhambat oleh prosedur licensing yang rumit. Sebagai hasilnya, sebagian besar pemain game Vietnam memainkan game dari luar negeri, khususnya dari China yang diadaptasi untuk pasar lokal.

Do Quy Doan, yang baru-baru ini pensiun dari jabatannya sebagai Wakil Menteri Komunikasi mengatakan, industri game di Vietnam masih baru dan masih banyak tantangan. Begitu pula mekanisme untuk mendorongnya.

Doan mengatakan, kesuksesan Flappy Bird memberikan harapan besar bagi masa depan industri game. Untuk saat ini, suka atau tidak, pencipta Flappy Bird, Nguyen Ha Dong tetap mendapatkan sorotan, walaupun game tersebut tidak lagi tersedia di pasaran untuk diunduh. 

Korea Selatan Jadi Populer
Tahun lalu, dunia juga gempar karena goyang Gangnam Style. Korea Selatan langsung menjadi sorotan hanya dari seorang musisi bernama Psy. 

Gangnam Style merupakan salah satu video yang paling banyak dilihat di Internet. Lagu tersebut mencapai posisi atas di tangga-tangga lagu di Asia, Eropa dan Amerika Utara, dan disebut-sebut sebagai ekspor budaya Korea Selatan paling berhasil.

Untuk alasan-alasan tersebut, beberapa pihak percaya Gangnam Style dapat digunakan untuk mendatangkan banyak turis asing dan uang.

“Saya kira Gangnam Sytle meningkatkan nilai merek dagang Korea,” ujar Je Sang-won, yang mengepalai divisi Halyu (gelombang Korea) pada Organisasi Pariwisata Korea.

“Lagu tersebut telah menarik banyak penggemar dari Barat dan membuat mereka tertarik dengan Korea. Kami melakukan sebuah survei di Los Angeles dan menemukan 70 persen responden mengatakan mereka ingin mengunjungi Korea setelah melihat video tersebut,” katanya.

Di jalanan daerah Gangnam, di bagian selatan Sungai Han di ibukota Seoul, para pemilik usaha menggunakan Psy dan lagunya untuk membantu menjual produk-produk mereka.
Beberapa pedagang mengatakan sejak Gangnam Style menyebar, jumlah pengunjung asing ke toko-toko mereka telah meningkat.

“Terkadang ada lebih banyak pelanggan orang asing dibandingkan pengunjung lokal datang ke toko saya. Jika saya memainkan lagu Gangnam Style dan membuka pintu, beberapa orang datang dari jalan. Mereka banyak tersenyum,” ujar Kwon Da-na, yang mengelola toko pakaian di daerah trendi Apgujeong di Gangnam.

Korea Selatan berharap bisa mendatangkan lebih dari 10 juta turis asing tahun 2012 lalu. Dan menurut Organisasi Pariwisata Korea (KTO), musik pop Korea atau yang dikenal dengan K-POP, merupakan penarik turis terbesar. Dan berkat Psy, KTO berencana menggunakan Gangnam Style untuk menarik lebih banyak turis asing.

Bercermin dari dua negara itu, apa yang bisa dibanggakan Indonesia untuk mendatangkan devisa negara? Ekspor tenaga kerja wanita (TKW) lagi?

Senin, 10 Februari 2014

Surat Kabar Akan Punah?

Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Pers (SPS) Asmono Wikan menyebutkan gempuran media sosial digital dan media online cukup membuat industri cetak (print) terpengaruh.

Hal ini tercatat dari rendahnya pertumbuhan sirkulasi oplah dari 1.100 media di Indonesia pada akhir tahun 2013, yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 0,25 persen. Angka itu sedikit lebih baik dibanding pertumbuhan oplah media di Amerika.

Namun, jika dibandingkan dengan negara lain seperti China, India dan Brazil, pertumbuhan oplah media cetak di Indonesia masih kalah jauh.

"Karena itu media harus meng-update diri di era digitalisasi. Konsepsi industri print bahwa digitalisasi belum menghasilkan uang harus dibongkar. Tanpa upgrade dan update, ya repot," ujar Wiskan saat menggelar konfrensi pers Serikat Perusahaan Pers (SPS) di Bengkulu, Kamis (6/2/2014).

Dari hasil kajian SPS, perkembangan media cetak di Indonesia memang mengalami turbulensi yang kuat. Generasi pembaca baru mulai bermunculan, yakni generasi pembaca yang tidak lagi membaca hal-hal serius, generasi yang tidak menyenangi kerumitan bahasa di media cetak dan generasi yang tidak menyenangi tata wajah di media cetak.

"Inilah yang menjadi tantangan bagi industri media cetak saat ini. Bagaimana media melayani pembacanya menjadi sangat penting. Kalau tetap ingin bertahan menghadapi konvergensi di era multiplatform saat ini," ujar Wiskan.

Dia menuturkan, keberlanjutan hidup dari sebuah media sangat bergantung dengan kemampuannya menangkap keinginan pembaca. Melalui penyajian konten berita yang berkaitan dengan kebutuhan pembaca, diyakini akan tetap menghidupkan industri media, khususnya cetak di Indonesia.

"Salah satu kuncinya adalah lewat penyajian konten berita. Konten harus nyambung dengan pembaca, tanpa ini bisa berbahaya bagi media," bebernya.

Sumber: Tribunnews

Sabtu, 08 Februari 2014

Inikah Akhir Bisnis Sony?



Sony baru saja menjual lini bisnis komputer pribadi (personal computer) Vaio pekan lalu. Kali ini, Sony dikabarkan bakal menjual lini bisnis televisinya. Inikah akhir bisnis perusahaan Sony?

Perjuangan bos baru Sony Corp Kazuo Hirai tahun ini bakal makin berat. Bukan hanya menghadapi persaingan bisnis dengan Apple dan Samsung, tapi juga harus membenahi perusahaan agar tetap bisa bertahan. Sony dianggap memiliki kinerja lebih buruk dibanding Panasonic Corp dan Sharp Corp, terutama setelah berencana melepas lini bisnis televisi.

Hirai saat ini memiliki tantangan untuk bisa merevitalisasi bisnis televisi Sony yang telah mengalami kerugian US$ 7,8 miliar lebih dari satu dekade terakhir. Namun Hirai juga diminta untuk mempercepat keputusan tentang strategi masa depan Sony agar tidak semakin jatuh.

Tahun ini Sony memerkirakan mengalami rugi bersih 110 miliar yen (US$ 1,1 miliar). Produsen TV Bravia dan konsol game Playstation ini juga berencana akan memangkas 5.000 karyawannya, meski hanya 3 persen dari total karyawan.

Salah satu strategi yang akan dilakukannya adalah memisahkan bisnis televisi ke divisi tersendiri, namun tetap diharapkan bisa berkontribusi pada perusahaan. Hirai menganggap langkah tersebut sebagai proses restrukturisasi lebih luas.

Saat diwawancara media di Tokyo, Hirai mengatakan tidak akan melakukan dalam waktu dekat soal pemisahan unit bisnis televisinya. "Jika Anda bertanya, apakah kita memiliki rencana untuk menjual bisnis televisi, saya dapat mengatakan kita sama sekali tidak memiliki rencana tersebut sekarang," kata Hirai seperti dikutip dari Reuters.

Kendati demikian, Hirai yakin akan bisa mengembalikan kejayaan Sony seperti sebelumnya. "Saya pikir kita sedang menuju ke arah yang benar dan dengan membuat sebuah perusahaan terpisah, kami akan mempercepat pengambilan keputusan. Adapun rencana masa depan, ada banyak kemungkinan dan bukan hanya untuk bisnis televisi kami," katanya.

Sony sebelumnya memerkirakan laba bersihnya bisa mencapai 30 miliar yen untuk tahun fiskal saat ini. Namun ternyata Sony sekarang menuju rugi bersih kelima dalam enam tahun terakhir. Salah satu keuntungan yang terjadi di Maret 2013, saat Hirai mengalami tahun pertama bertugas menjadi CEO, dikontribusikan dari penjualan dua properti Sony yaitu di New York dan Tokyo.

Dikecam Investor
Penurunan kinerja Sony membuat berang investor seperti Third Point Daniel Loeb. Investor menilai jajaran direksi Sony gagal memaksimalkan beberapa lini bisnisnya. Sony dinilai kalah dengan Panasonic yang telah merestrukturisasi bisnis, meski dengan biaya mahal dan kini justru sudah mengalami keuntungan.

"Langkah restrukturisasi ini merupakan perkembangan positif bagi Sony, namun masih terlalu dini untuk mengatakan apakah langkah ini cukup. Perlu waktu yang cukup (bagi perkembangan bisnis Sony ke depan). Namun hal itu akan sangat bergantung pada seberapa cepat mereka mampu melaksanakan niat mereka," kata Masashi Oda, Kepala Investasi di Sumitomo Mitsui Investment Trust.

Tiga Masalah
Sony saat ini sedang dihadapkan pada tiga masalah besar. Pertama, rencana penjualan lini bisnis PC Vaio ke Japan Industrial Partners. Sony berencana mendirikan perusahaan terpisah atas penjualan Vaio tersebut dan hanya akan memegang 5 persen saham Vaio. Sony juga tidak bersedia menjelaskan nilai penjualan Vaio tersebut.

Kedua, rencana memisahkan bisnis televisi ke unit terpisah di Sony pada Juli 2014. Ketiga, Sony akan memangkas karyawan terutama karyawan di luar Jepang yang akan mulai dilakukan Maret 2015. Sony beranggapan akan menghemat biaya operasional setidaknya pada 2015-2016. Hingga September 2013, total karyawan Sony mencapai 145.800 orang.

Para pejabat Sony mengatakan, mereka berharap hanya akan mengalami kerugian 25 juta yen terutama dari bisnis televisi di tahun ini. Padahal satu dekade lalu, bisnis televisi Sony masih menghasilkan untung. Di Maret 2014 ini, Sony memerkirakan akan mengalami kerugian hingga 786,9 miliar yen (sekitar US$ 7,8 miliar).

Fokus Tiga Bisnis
Untuk bisa memertahankan bisnis Sony ke depan, Hirai mencoba untuk fokus pada tiga lini bisnis yaitu foto (imaging), game dan mobile. Namun analis memerkirakan, tiga lini bisnis yang menjadi fokus Sony ke depan ini juga akan menjadi taruhan bagi kepemimpinan Hirai untuk pasar konsumen, sebab kecenderungan konsumen pun sangat bergejolak (volatile).

Dalam hal perangkat bergerak (mobile), Sony berencana memangkas penjualan ponsel dari 42 juta unit menjadi 40 juta unit. Hal itu karena kelemahan pasar di Asia dan Eropa. Hirai sebenarnya ingin melipatgandakan penjualan unit ponsel seri Xperia di 2015. Namun, karena kurangnya kontrak dengan operator besar di Amerika Serikat dan produsen ponsel China terus merangsek ke pasar tersebut, dinilai menjadi hambatan tersendiri bagi Sony untuk masuk ke pasar Negara Paman Sam.
Sony merasa tertolong terutama akibat penjualan konsol game Playstation 4 yang kuat di pasar. Jumlah penjualan konsol tersebut akan mencapai 5 juta unit di akhir Maret 2014, setelah berhasil menjual 4,2 juta unit di akhir Desember 2013.

Namun penjualan konsol tersebut juga menjadi masalah bagi Sony. Pasalnya, biaya pengembangan konsol tersebut lumayan mahal. Butuh waktu dua tahun lebih untuk mencapai titik impas keuntungan bagi bisnis konsol.

Sony sepanjang 2013 ini diperkirakan juga memangkas laba operasional menjadi hanya 80 miliar yen, dibanding perkiraan sebelumnya 170 miliar yen. Bisnis Sony diuntungkan dari laba usaha selama tiga bulan terakhir di 2013 sebesar 90,3 miliar yen, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dan melampaui konsesi analis sebesar 71,9 miliar yen. Akankah Sony mampu bertahan?

Kamis, 06 Februari 2014

Sony Pernah Akan Pakai Mac OS

Bisnis PC Vaio yang baru dilepas oleh Sony ternyata punya sejarah unik yang melibatkan Apple dan pendirinya, Steve Jobs.


Hal ini diungkapkan oleh Kunitako Ando, mantan presiden Sony dalam sebuah cerita yang dikutip oleh The Verge. Alkisah, pada 2001, Ando bermain bermain golf bersama eksekutif Sony lainnya di Hawaii.

"Pada akhir permainan, Steve Jobs dan sejumlah petinggi lain dari Apple telah menunggu kami. Jobs memegang laptop Sony Vaio yang menjalankan Mac OS," tutur Ando.

Sebelumnya, saat kembali ke Apple pada 1997, Jobs menutup bisnis "kloning" Macintosh yang melisensi sistem operasi Apple untuk dipakai di komputer buatan perusahaan lain. Jobs menilai bisnis ini merusak ekosistem dan brand Mac.

Seluruh produsen komputer selain Apple pun tak boleh memakai Mac OS lagi, kecuali Sony. Menurut Ando, ini karena Jobs mengagumi lini notebook Vaio sehingga "bersedia membuat pengecualian".

Tapi waktunya ketika itu kurang tepat. Penjualan laptop berbasis Windows milik Sony sedang mulai menanjak. Hardware komputer ini pun dioptimalkan untuk platform besutan Microsoft tersebut. Pada akhirnya, negosiasi antara Sony dan Apple gagal membuahkan kolaborasi laptop Vaio dan Mac OS.

Jobs sendiri memang dikenal dekat dengan Sony. Pendiri Apple ini mengagumi pendiri Sony, Akio Morita, dan pernah menyatakan belasungkawa saat Morita meninggal dunia pada 1999.

Apple juga disebut menggunakan laptop Sony Vaio untuk keperluan pengujian saat masa transisi dari hardware berbasis PowerPC ke prosesor Intel.

Kini, Sony telah memutuskan untuk menjual unit bisnis Vaio ke perusahaan investasi Japan Industrial Partners (JIP). Nilai penjualan tidak diungkapkan, tetapi harian Nikkei memprediksi besar angkanya mencapai 490 juta dollar AS.

Andai saja saat itu Sony "melepas" Vaio memakai Mac OS, mungkin nasibnya tak akan seperti ini. Selamat tinggal, Sony Vaio.

Sumber: Kompas.com

Bitcoin Bukan Alat Pembayaran Sah



Bank Indonesia (BI) akhirnya resmi memberikan sikap terhadap alat pembayaran virtual yang belakangan mulai digunakan, bitcoin.

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacob mengatakan, sikap itu diambil dengan mengacu pada Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009.

"BI menyatakan bahwa bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/2).

BI mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap bitcoin dan virtual currency lainnya. "Segala risiko terkait kepemilikan atau penggunaan bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik atau pengguna bitcoin dan virtual currency lainnya," lanjutnya.

BI akhirnya mengambil sikap mengenai bitcoin, setelah selama ini melakukan kajian mengenai alat pembayaran virtual tersebut. Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis dan Humas BI Difi A Johansyah saat itu melakukan kajian atas transaksi pembayaran dengan menggunakan bitcoin guna melihat efektivitas penggunaan mata uang virtual tersebut terhadap peredaran rupiah.

"Bitcoin ini nilainya dapat berubah-ubah, bisa naik dan turun, yang dinamikanya sedang diteliti oleh BI. Motif penggunaan bitcoin, lihat landasan hukum penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran dan berbagai risiko dalam penggunaan bitcoin tersebut," kata Difi.

Selama ini, segala bentuk alat maupun sistem pembayaran baik berupa fisik maupun uang elektronik (e-money) harus digunakan dengan izin dari BI. Adapun bitcoin, ujar Difi, belum terdapat permintaan untuk memakai bitcoin sebagai alat pembayaran.
Awal Mula Bitcoin
Bitcoin ditemukan oleh Satoshi Nakamoto. Diduga sosok ini adalah nama samaran yang bisa jadi digunakan oleh sekelompok orang. Identitas aslinya masih belum diketahui.
Mata uang ini menawarkan kepemilikan utuh tanpa perlunya ikatan dengan pihak ketiga baik dari swasta dan pemerintah, menjadi daya tarik tersendiri bagi penggunanya. Tapi seiring berjalannya waktu, hal ini disadari sebagai kelemahan mata uang yang ditemukan pada 2009 ini.
Bitcoin menjadi sangat berguna bagi para pelaku kejahatan yang ingin menyembunyikan uang hasil kejahatannya. Karena jika mereka menyimpan uang di bank, uang hasil kejahatannya dapat dengan mudah terlacak.
Bitcoin juga dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin menyembunyikan pendapatannya dari pemerintah, dan menghindari kewajiban membayar pajak. Lantas, pendapatan negara dari pajak itu akan hilang karena uang yang tidak terlacak.
Tidak hanya pada tindakan kriminal semata, kekurangan bitcoin paling mendasar juga terjadi karena bentuknya yang tidak riil.
Meskipun bentuknya tidak riil, bukan berarti bitcoin bebas dari pencurian. Salah satu contoh pencurian dialami oleh Sheep Marketplace, sebuah situs web ilegal jual beli obat terlarang, yang kehilangan US$ 220 dalam bitcoin akibat ulah para peretas sistem komputer.
Belum lagi ketidakstabilan nilai mata uang bitcoin jika dikonversi ke mata uang konvensional lainnya yang sangat fluktuatif. Hari ini, boleh jadi pemilik bisa sangat kaya dengan memiliki bitcoin senilai US$ 1.000. Namun, siapa yang tahu jika di kemudian hari nilai uang tersebut hanya tersisaUS$ 50.
Desember lalu, Bank Sentral China sudah melarang penggunaan bitcoin. Begitu juga dengan Bank Sentral Malaysia yang melarang sejak Januari 2014.

Sabtu, 01 Februari 2014

Google Jual Motorola ke Lenovo

Lenovo telah mengumumkan kesepakatan dengan Google untuk membeli divisi handset Motorola senilai 2,91 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 trilliun. Pembelian tersebut merupakan transaksi teknologi terbesar yang dilakukan Lenovo sejauh ini.

Sebelumnya, memang telah terdapat "tanda-tanda" bahwa Google akan melepas Motorola setelah mengakuisisi perusahaan ini pada 2012 lalu senilai 12,5 miliar dollar AS. Ketika itu, banyak yang menduga bahwa tujuan Google tak lain adalah menguasai portfolio paten mobile milik Motorola yang berjumlah sekitar 17.000.

Tapi alasan sebenarnya mungkin lebih dari itu. Christopher Mims dari Quartz menduga bahwa dulu Google membeli Motorola untuk mengimbangi Samsung yang telah meraksasa di ranah Android.

Hubungan antara Google dan Samsung memang agak unik. Di satu sisi, Google diuntungkan oleh penyebarluasan Android lewat handset Samsung. Akan tetapi, posisi Samsung yang terlalu mendominasi ekosistem Android disinyalir membuat khawatir raksasa internet itu.

Di sisi lain, Samsung telah menunjukkan sinyalemen bahwa pihaknya tak mau terlalu tergantung dengan platform Android besutan Google. Hubungan Samsung-Google menegang setelah Google membeli divisi handset Motorola, terlebih setelah Motorola menelurkan model-model Android ciamik seperi Moto X dan Moto G.

Akusisi atas Motorola menjadikan Google bukan hanya kawan Samsung, tapi juga lawannya secara langsung di bisnis perangkat keras. Produsen elektronik Korea tersebut lantas meningkatkan tekanan terhadap Google dengan merilis OS mobile buatan sendiri dengan nama Tizen.

Rujuk

Belakangan, Samsung dan Google terlihat "rujuk" melalui kerja sama lisensi paten. Minggu ini Samsung juga menyatakan bakal berhenti menyediakan layanan yang serupa milik Google di handset buatannya.

Layanan dimaksud antara lain toko aplikasi Samsung Hub dan Media Hub yang ditempatkan di muka interface berbagai seri handset Galaxy. Kedua layanan tersebut mengancam layanan Google Play dan media library di Android karena memiliki fungsi yang mirip.

Samsung juga menebar berbagai aplikasi inti yang serupa dengan pilihan default di Android, termasuk browser, sistem e-mail, notifikasi, messaging, dan lain-lain. Akibatnya, pengguna handset Samsung harus memilih aplikasi mana yang akan dipakai: milik Samsung atau Google?

Kini, dengan berhentinya Samsung meniru layanan-layanan tersebut, kebingungan tak akan terjadi lagi. Segera setelah pemberitahuan Samsung, Google mengumumkan bakal menjual Motorola ke Lenovo sehingga tak lagi menjadi pesaing Samsung di bisnis handset.

Apakah ada kaitan di balik penjualan Motorola dengan perjanjian kerjasama Google-Samsung? Apakah itu harga yang harus "dibayar" agar Samsung setia dengan Android?

Motorola di Lenovo

Lalu, apa yang akan terjadi dengan Motorola setelah dibeli Lenovo? Produsen asal China ini memiliki posisi yang kuat di negara-negara berkembang, sementara Moto G banyak disebut sebagai handset Android murah terbaik.

Dengan membeli Motorola, Lenovo membuka jalan ke wilayah-wilayah pasar di Amerika Tengah dan Utara dimana Moto X dan Moto G disambut baik oleh konsumen. Boleh jadi, Lenovo akan memperbarui Moto X dan Moto G tahun ini, dan menjadikannya sebagai produk andalan.

"Kami akan menggunakan mereknya (Motorola) untuk meningkatkan bisnis kami. Brand Motorola juga sangat kuat di China," ujar CEO Lenovo Yang Yuanqing.

Apapun yang dilakukan Lenovo, Google akan menciptakan kompetitor untuk Samsung yang dikepalai oleh mantan orang Google (CEO Motorola Dennis Woodside), setidaknya untuk saat ini. Lenovo yang juga merupakan produsen PC terbesar di dunia pun telah terbukti mampu sukses di bisnis hardware dengan margin tipis.

Sumber: Kompas.com

Facebook Siap Saingi Google

Google masih tidak terkalahkan sebagai perusahaan mesin pencari. Namun dalam 10 tahun mendatang, Facebook akan menyainginya.

Facebook benar-benar memikirkan masa depan bisnisnya. Di tengah isu penurunan jumlah pengguna situs jejaring sosial itu, Facebook menyatakan seruannya ingin menyaingi Google.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada analis Wall Street seperti dirilis Business Insider pekan ini saat mengumumkan kinerja kuartal IV-2013 bila situs besutannya akan menantang Google dalam bisnis mesin pencari (search engine).

Hingga saat ini, Google belum terkalahkan dalam bisnis mesin pencari. Walau ingin menyaingi, Facebook akan menyiapkan amunisi baru meski dalam bisnis yang hampir mirip.

Ada tiga hal yang diungkapkan Zuckerberg tentang perusahaannya di masa depan. Pertama, Facebook mengklaim memiliki indeks data lebih banyak dibanding dengan mesin pencari lainnya. Kedua, Facebook memiliki fitur Graph Search, si mesin pencari khasnya.

Ketiga, produk akhir ini akan dirilis pada perangkat bergerak (mobile) sehingga pengguna akan dapat memanfaatkan fitur ini di pengenalan suara (voice recognition) melalui ponselnya. Zuckerberg ingin benar-benar dapat menyaingi Google dalam 10 tahun mendatang.

Saat ditanya analis tentang fitur Graph Search, Zuckerberg sebenarnya masih malu-malu. Fungsi mesin pencari antara milik Google dan Facebook belum ditemukan secara rinci perbedaannya.

Zuckerberg menganggap bahwa mesin pencari besutan Google hanya akan lebih menampilkan hasil lebih nyata tentang kata kunci yang dicari melalui mesinnya. Sedangkan fitur Graph Search milik Facebook akan memberi jawaban atas pertanyaan yang tidak tetap atau tidak jelas, misalnya apa restoran favorit teman-teman saya?

Zuckerberg mengklaim Google tidak akan mampu menyediakan jawaban atas pertanyaan itu. Sementara Facebook akan memberikannya.

Graph Search

Pendiri Facebook menilai keunikan fitur Graph Search yang akan dirilisnya ini adalah situs jejaring tersebut memiliki satu triliun koneksi yang menghubungkan semua orang, kepentingan, acara dan apa pun yang terkait pertemanan manusia di dunia.

Fitur Graph Search ini juga akan menghubungkan satu triliun update status, posting teks, foto hingga potongan konten yang sudah dikirimkan pengguna Facebook sejak 10 tahun terakhir.

"Kami mengklaim memiliki basis data yang lebih besar dari Google. Kami tidak mengatakan ini sebagai mesin pencari (search engine) tapi mesin pencari web (web search engine). Ini bisa diartikan mesin pencari Google masih terbatas, sementara Facebook akan lebih berpengalaman dalam hal ini," kata Zuckerberg.

Keyakinan Bisnis
Zuckerberg sudah memiliki keyakinan besar saat membuat Facebook. Hingga saat ini, jumlah penggunanya sudah mencapai 1,2 miliar lebih di seluruh dunia.

Memang saat Facebook meramaikan situs jejaring sosial, Google pun ikut serta dengan membuat Google+, namun ternyata situs jejaring itu malah tidak laku. Sedangkan mesin pencari Bing milik Yahoo diklaim hanya sebagian bisnis kecil dari Google.

Namun dengan klaim Zuckerberg tadi, apakah mungkin mesin pencari web besutan Facebook akan mengalahkan raja mesin pencari Google? Ini jawaban Mark Zuckerberg.

Cara kami berpikir tentang bisnis ini adalah kami melihat begitu banyak konten yang telah dibagikan di Facebook dan kami akan membuat infrastrukturnya, membuat indeks, membuat peringkat dan akan memudahkan pengguna dalam mencarinya.

Aku sudah bicara dengan beberapa orang terkait bisnis ini, terutama seorang profesor di Universitas New York dan saya mengajak profesor tersebut bergabung dengan bisnis tersebut. Ini adalah kelompok riset jangka panjang yang kami miliki dan ini akan masuk dalam strategi jangka panjang, mungkin dalam 10 tahun mendatang.

Tujuan dari bisnis ini adalah benar-benar hanya mencoba memahami bagaimana segala sesuatu di Facebook bisa terhubung. Kami berusaha memahami saat pengguna menulis status, berbagi konten, foto, video hingga bisa berbagi melalui pesan instan baik melalui tulisan maupun suara. Ini akan memudahkan pengguna.

Ini adalah beberapa tugas besar yang akan kami lakukan bersama tim dari waktu ke waktu. Kami akan memiliki implikasi yang jelas untuk produk yang akan kita lakukan. Tapi seiring waktu kita akan mulai memahami arti dari semua konten yang sudah dibagikan pengguna, bahwa kita akan memberikan pengalaman yang jauh lebih relevan bagi orang-orang di seluruh dunia.

Secara internal, kami juga sudah memiliki rencana dalam tiga tahun, lima tahun hingga strategi 10 tahun. Untuk rencana tiga tahun pun, kami sudah menyiapkan rencana baru dan untuk rencana lima tahun, kami akan membantu orang-orang yang berada dalam jaringan kami untuk menjawab pertanyaan apa yang mereka ajukan dan memecahkan masalah yang mereka miliki.