Sabtu, 04 April 2009

Sang Penjual Barang Inovatif

Wow..gw kagum ama orang ini. Beliau gw wawancara di kantornya di kawasan Cideng Jakarta Barat pada 4 April 2009 lalu. Siapa tahu bisa menginspirasi!!

Banyak orang berkata bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras (work hard) dan kerja cerdas (work smart). Di DRTV, semangat kerja keras dan kerja cerdas tersebut dituangkan dalam Lima Keberanian (5ive Brave) yang menjadi falsafah kesuksesan DRTV di Indonesia. Bagaimana kisah Salim Kartono, sang penjual barang-barang inovatif ini merintis karir sekaligus CEO PT Paramitra Media Perkasa (sebuah holding company yang membawahi beberapa anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang) dan menjadikan tokonya sebagai salah satu toko ritel berpengaruh di pasar?

Bagaimana awal usaha DRTV ini?

Pada tahun 1983, kami mulai merintis usaha melalui direct sale dengan nama PT. Panji Metal Perkasa yang saat itu banyak menjual produk home appliance merek Imarflex, Narumi, Demeyere dan produk alat kesehatan merek Medo hingga panci stainless steel dan panci gelas tahan panas dari pintu ke pintu.

Pada tahun 1995, kami melihat peluang bisnis yang baru yaitu menjual product lewat TV atau direct respond TV yang bisa dibeli lewat pemesanan lewat telephone atau telemarketing yang selanjutnya dikembangkan menjadi Call Center. Karena direct respond TV cukup mendapat tanggapan maka di tahun mendatang kami juga mengembangkan outlet di mal-mal yang memudahkan customer untuk mengunjungi dan melihat display product kami yang diberi nama Innovation Store.

Apa yang membuat Anda semangat menggeluti bisnis ritel tersebut?

Modal utama saya hanya satu yaitu semangat hidup (passion of life). Bisnis ritel telah menjadi tumpuan hidup saya selama 25 tahun ini dan menjadikan hidup lebih bermakna. Di tengah persaingan bisnis ritel yang ketat, kami terus membekali diri dengan pengetahuan (knowledge), membangun jaringan (relationship) dan memupuk modal (money).

Apalagi bisnis ritel (menjual barang langsung ke konsumen) sudah ada sejak jaman prasejarah yang manusianya saja sama sekali belum mengenal uang. Tapi bagi saya, bisnis ritel (berdagang) tidaklah semudah halnya sekadar jual beli biasa namun harus dijadikan sebagai suatu usaha yang diminati atau dilandasi dengan rasa ketertarikan. Dengan menyatukan segala vitalitas dan semangat jiwa, maka tujuan dan harapan yang telah kita rencanakan akan terwujud dan menjadi nyata. Bisnis ritel adalah pilihan saya dan bisa jadi, pilihan Anda juga.

Lantas, bagaimana usaha ini bisa bersaing dengan peritel lokal dan asing?

Yang selalu saya tanamkan pada diri sendiri dan karyawan adalah kita perlu belajar tentang pengetahuan baru, menciptakan kreativitas baru dan termasuk ide baru. Menurut saya, If you take the same Action everyday, you will always get the same Result. Maksudnya kita selalu melihat peluang baru dan bagus di masyarakat. Karena kondisi (termasuk kesenangan masyarakat dalam pola berbelanja) berbeda dan terus berubah setiap saat, kita juga terus menekankan inovasi baik dalam produk maupun pemasarannya.

Apa yang membuat usaha ritel Anda berbeda dengan yang lain?

Karena semua product yg kami tawarkan ada added value yang dituangkan dalam 5 category. Jadi kami punya banyak pilihan. Hal lain yang membuat kami mempunyai nilai added value adalah selain punya outlet kami mempunyai pelayanan telemarketing yang bisa memenuhi permintaan customer secara langsung. Jadi jika anda memesan via telepon, product bisa alangsung dikirim.

Produk apa yang Anda tawarkan?

Hingga saat ini kami fokus ke lima kategori produk yaitu kecantikan (beauty), kesehatan (healthy), olahraga dan fitness (sport), peralatan rumah tangga (household) dan suplemen (supplement) yang manca negara.

Kondisi krisis seperti ini, apakah produk yang Anda tawarkan laku?

Memang sejak krisis global menggurita di Amerika akhir tahun 2007 lalu, ada sedikit pengaruh penurunan terhadap penjualan produk kami yaitu sekitar 10-20%. Namun bukanlah DRTV yang tidak mampu menyediakan produk-produk dengan inovasi tertinggi. Buktinya penjualan tetap ada. Ini berarti pula masyarakat masih punya duit untuk membelanjakan barang kebutuhannya. Krisis global justru tidak terlalu berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat kita. Alhasil, dalam setahun kita mengeluarkan sedikitnya 20 produk, selalu saja ada peminatnya.



Siapa konsumen Anda?

Kosumen kami banyak berasal dari kalangan middle up yang punya gaya hidup innovatif dan visioner. Kemajuan teknologi telah membuat pola tingkah laku masyarakat sangat berbeda. Banyak kecenderungan produk yang kami tawarkan bukan saja memenuhi kebutuhan hidup tapi lebih pada persoalan gaya hidup (lifestyle). Misalnya, sekarang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pusat kebugaran (fitness center). Kita melihat ceruk peluang dari situ contohnya. Untuk bisa sehat, kini orang bisa memulainya dari rumah sendiri dan tanpa perlu keluar rumah. Apalagi kalau pergi ke pusat kebugaran akan memerlukan biaya dan waktu tidak sedikit. Kita menyediakan satu alat yang bisa dipakai untuk melatih kebugaran semua otot tubuh. Setelah selesai, kita bisa melipat dan menyimpannya serta tidak perlu memakan banyak tempat.

Berarti Anda menyasar personal konsumen?
Bisa jadi, karena kecenderungan masyarakat sekarang ini memilih fleksibilitas (kemudahan, kenyamanan dan kalau perlu tidak usah meninggalkan rumah) dalam berbelanja. Di DRTV kita menyediakan itu semua. Dengan strategi marketing above the line (membuat sebuah program di televisi), masyarakat akan semakin tahu (aware) pada produk DRTV. Di situ akan dijelaskan manfaat produk, cara penggunaan hingga cara praktis penyimpanannya. Lantas untuk memesan produk tersebut, masyarakat bisa langsung menghubungi call center (atau datang ke Innovation Store terdekat) dan barang akan langsung dikirim serta dirakit di tempat (jika perlu perakitan).

Mengapa Anda memakai teknik marketing seperti itu?
Itulah diferensiasi produk DRTV. Produk yang kita jual bukan produk biasa (ordinary) tapi justru luar biasa (extra ordinary). Fitur-fitur unik dan manfaat produk lainnya perlu kita jelaskan secara gamblang dalam sebuah program selama sekitar setengah jam.

Visi seperti apa yang membuat DRTV sanggup bertahan hingga seperempat abad ini?

Ini adalah perjalanan panjang saya selama berkecimpung dalam usaha ini. Concern saya adalah bagaimana mengembangkan 2 P  Product dan People supaya perusahaan bisa bertahan terhadap perubahan dunia yang sangat cepat dan perusahaan bisa terus berkembang.

Intinya kalau perusahaan ini mau besar dan bermakna harus ditanamkan fondasi yang kuat yaitu filosofi company. Tentunya, filosofi itu perlu dibangun tidak hanya melalui fisik semata tapi juga melalui mental (mind). Hingga terlahirlah filosofi 5S, 5C dan 10 Roh yang terus memberi semangat pada diri pribadi maupun karyawan yang saya pimpin.

Konsep 5S yaitu ketulusan (Sincere) dalam bekerja dan bukan main-main, berani memulai (Start), harus belajar dan terus mengasah kemampuan (Skill), tidak takut gagal dan memiliki semangat (Stamina) hingga harus berhasil dan sukses (Success).
Konsep 5S yang mulai dibuat sejak 1983 terus mengalami perkembangan. 10 tahun kemudian, terlahir konsep 5C.

Konsep 5S yang sudah diciptakan hanya mengena satu sisi saja yaitu market share. Konsep ini hanya memfokuskan pekerjaan di lapangan. Sementara itu, setelah saya mengikuti beberapa seminar dari MarkPlus, ada tiga konsep yang harus dikuasai yaitu “Market Share, Mind Share dan Heart Share”. Konsep 5C ini mewakili unsure mind share yang harus tetap dianut oleh staf dan karyawan.

Konsep 5C yaitu Care and trus the company, Create Positive Thingking, Choose the right people, Consistency of all performance dan Consolidate the power of teamwork.
Tak berhenti di situ, saya mendapat inspirasi lagi dari guru Ethos, Jansen Sinamo yang mengungkapkan pentingnya ethos kerja. Filosofi perusahaan akan semakin lengkap dengan hadirnya roh yang sanggup menyentuh sisi spiritual staf dan karyawan.
Lahirlah konsep 10 Roh yang menjembatani konsep 5S sebagai landasan berpijak di lapangan dan konsep 5C sebagai jalan berpikir. Seperti konsep Markplus, 5S sebagai market share, 5C sebagai mind share dan 10 roh sebagai hearth share. Kesemuanya kita sebut sebagai Five Brave.

Yang dimunculkan dalam 5 maskot karakter yang sekaligus menjadi icon values DRTV yaitu Messenger (menyatukan sincerity, care and trust, serta kerja adalah rahmat dan amanah), Trailblazer (menyatukan self starter, create positive thinking serta kerja adalah panggilan dan aktualisasi), Team Leader (menyatukan skill, choose the right people serta kerja adalah ibadah dan seni), Gladiator (menyatukan stamina, consistency of all performance serta kerja adalah kehormatan dan pelayanan) dan Achiever (menyatukan spirit of success, consolidate the power of teamwork serta kerja adalah pengabdian dan pusaka).

Apa maksud pusaka?
Yang namanya pusaka adalah peninggalan. Nah, untuk membagi ilmu pengetahuan kepada semua orang (terutama tentang bisnis ritel), saya mewariskan buku sebagai pusakanya. Sejak awal berkecimpung dalam bisnis, ada suatu keinginan untuk mengabadikan pengalaman bergelut di bidang ritel. Namun keinginan itu baru terwujud pada tahun 2005 dengan terbit buku perdana “CE-Balance, The Road to Seko Bansai” tentang memenangkan persaingan melalui keseimbangan komunikasi dan eksekusi. Tahun berikutnya (2006), muncul buku “5ive Actions To Drive Change on Demand” tentang kiat sukses melakukan transformasi perusahaan. Disusul dengan buku “5 Jurus Sukses Berbisnis Retail di Modern Market” (2007) dan buku “Daring to Begin” (2008).

Anda juga membuat buku dalam format cerita bergambar, untuk apa?
Saya membuat buku “Kisah Petualangan IO Angel” tiga tahun lalu sebagai implikasi dari corporate values yang menyatukan 5S, 5C dan 10 Roh. Saya membuat ide ceritanya sendiri dan membuat tokoh-tokohnya sesuai dengan 5 karakter yang mewakili fokus produknya untuk mempopulerkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam product di IO Store dan Innovation Store.

Kenapa IO? Apa hubungannya dengan Innovation Store?
IO store adalah flagship shop of Innovation Store yang kami konsepkan sebagai tempat berbelanja product innovatif yang lebih exclusive.

Apa isi buku yang justru pantas disebut komik itu?
Ceritanya adalah tentang penyelamatan planet bumi yang sedang dilanda malapetaka. Saat itu, planet tempat manusia hidup tersebut banyak dipenuhi orang sakit akibat penggunaan alat kosmetik hingga peralatan rumah tangga yang salah. Berita itu terdengar hingga ke planet IO. Datanglah sosok mirip malaikat (angel) yang membawa lima pasukan untuk mengalahkan 4 musuh penyebar sakit tersebut. IO saat itu terkenal di bumi sebagai planet yang cantik sehingga banyak manusia ingin berbondong-bondong pergi ke sana. Namun Angel tersebut melarangnya. Tidak perlu lah ke planet IO karena di sini (bumi) sudah ada IO juga yaitu Innovation Store yang menyediakan semua produk kecantikan, alat kebugaran hingga alat rumah tangga. Sehingga “sakit” dari manusia di bumi ini bisa teratasi dari produk IO tersebut.

Di tengah kesibukan mengurus perusahaan, bagaimana Anda membagi waktu untuk menulis buku?
Saya meluangkan waktu setengah hingga dua jam sehari untuk menuliskan semua pemikiran dan ide-ide yang terlintas. Mudah-mudahan rencana saya menerbitkan satu buku setiap tahun bisa terwujud.

Kenapa Anda menulis buku? Toh, dari perusahaan Anda juga sudah meraup laba?
Bagi saya buku akan saya jadikan pusaka yang tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan sendiri tapi juga masyarakat luas. Apalagi buku yang saya tulis cenderung berisi motivasi berwirausaha (terutama bisnis ritel) dan langkah-langkah memajukan perusahaan (dari hasil 25 tahun bergelut di bisnis ritel).

Apa menariknya buku Anda?

Sebenarnya buku yang saya tulis menggunakan prinsip keseimbangan yin dan yang sebagai kerangka berpikir. Untuk bisa sukses, pemimpin harus berani menggerakkan transformasi (perubahan). Pemimpin transformasi harus bisa menjamin kualitas pelaksanaan eksekusi sama baiknya dengan kualitas rancangan strategi. Intinya, harus terjadi keseimbangan antara strategy fit (yin) dan execution fit (yang). Uniknya, semua buku saya selalu tertoreh petuah bijak dari pepatah Cina termasuk huruf-huruf Kanji yang hampir mewarnai setiap halaman. Inilah diferensiasi buku saya dengan buku bisnis lainnya.

Apa yang Anda lakukan di kala senggang?
Biasanya saya libur kerja pada Sabtu dan Minggu. Di hari itu, saya mencurahkan waktu penuh untuk keluarga. Sempatkan juga dalam satu hari untuk membaca selama dua jam. Jangan clubbing dan jangan minum alkohol.

Biodata pribadi:
Nama : Salim Kartono
TTL : Medan, 31 Januari 1950
Jabatan : CEO DRTV Group Company
Nama anak : Erni Kartono, Jeni Kartono, Chandra Kartono
Sekolah formal : SMA di Medan
Hobi : Membaca dan bertamasya
Motto : Success is daring to begin
Riwayat karir :
1968 : Pembungkus sabun mandi di salah satu pabrik di Medan
1970-1975 : Salesman di perusahaan elektronik di Medan
1976-1979 : Sales Manager PT Indo Machine Jakarta
1980-1982 : Direktur PT Widjaja Indonesia Plastic Industry
1983 : Mendirikan PT Panji Metal Perkasa dan berkembang terus hingga sekarang (sebagai CEO DRTV Group)

Selasa, 10 Maret 2009

Setahun di Jakarta

Pas berangkat kerja tadi siang, secara g sengaja mendengarkan lagu dari Kahitna berjudul "Setahun Kemarin". Walahhh..hari ini pas setahun gw di Jakarta.

Ah, tak terasa sudah setahun aku menginjakkan kaki di ibukota. Padahal, dahulu memang aku berjanji untuk tidak datang ke Jakarta lagi. Karena apa? ya, kemacetanlah yang membuatku enggan datang ke sini lagi.

Dulu, pas tahun 2003, tepat saat pra munas Forum Lingkar Pena aku pernah ke Jakarta selama dua hari. Seneng sih, ketemu ama penulis hebat macam Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, dan sederet penulis terkenal dari seantero negeri. Waktu itu kumpul di TIM, aku ingat tempatnya ada di atas studio Wisata 21. Kayaknya di situ tempat mangkal Dewan Kesenian Jakarta. Maklum saja, mbak Helvy kan jadi pengurus di sana. Aku juga masih ingat saat sholat Jumat di Masjid Arif Rahman Hakim, belakang TIM.

Aku jadi kayak orang bego di tengah penulis terkenal. Sementara aku hanya penulis pemula dari kalangan kampus (yang sebenarnya) malah tidak tahu apa-apa tentang kepenulisan. Tapi tekadku untuk belajar dan menekuni dunia kepenulisan ini sudah bulat. Apalagi aku mengemban tugas dari temen-temen FLP di Bali untuk menimba ilmu di sini. Sesampainya di sana, tugasku untuk menyebarkannya.

Salah satu temen yang harus kubuat repot saat di Jakarta adalah Rusdi. Dia tinggal di Mampang. Dulu pas di Jakarta, aku nginep di sana, dia juga dengan sabar mengantarkanku ke depan studio TRANS TV. Saat itu aku ngefans sekali ama tayangannya. Semoga suatu saat aku bekerja di sana ( I hope), tapi sampai sekarang pun juga tidak kesampaian.

Dia juga mengantarku untuk pergi ke Monas. Kalo tempat ini mah wajib bagi pendatang. Kalo belum mengunjungi Monumen Nasional ini serasa belum mengunjungi Jakarta. Aku mampir juga ke Istiqlal, walau hanya berpotret di depan papan namanya doank.

Selepas itu kukubur dalam-dalam pergi di Jakarta. Apalagi dari 2003 itu aku nyaman sekali tinggal di Pulau Dewata. Bahkan sampai kuliahku selesai, aku tetap tinggal di sana. Someday, i'll build home in Ubud or somewhere in Bali. One of the beautiful and peacefull places in the world. Halahhh..

Sampe pada November 2008, aku ditawari untuk bekerja di salah satu koran nasional. Memang masih baru, tapi akan ekspansi ke Bali. Aku sih cuma lihat iklannya di televisi. Kayaknya sih menarik. Apalagi sesuai dengan visiku, Inspirasi Cerdas.

Bekerja di mingguan dan harian, kurasa bener-bener beda. Di sinilah tantangan kurasakan begitu kuat. Beda sekali dengan kerjaanku sebelumnya yang hanya berkutat di dunia pertanian, budaya dan sedikit masalah sosial. Di harian, kehidupanku malah berputar 180 derajat.

Dulu, aku sangat anti untuk pergi dugem apalagi ke luar malam untuk hal-hal yang ngga' jelas. Di sini aku dituntut lebih. Mulai menyentuh kehidupan malam, tempat hingga orang-orangnya. Untung saja, ngajiku tetap jalan sehingga bisa mengimbangiku untuk pergi ke dunia maksiat (anggapanku kala itu).

Tapi, secara profesional, pekerjaan itu harus kulakukan dengan baik tanpa harus mengikuti arus mereka. Contoh saja, aku harus mengikuti cerita orang gay, waria, tempat transaksi mereka hingga tanda-tanda dan cara mereka berkenalan. Semua kuketahui dari seorang temenku yang katanya gay juga. Tapi entahlah..bagiku kehidupanku..bagimu kehidupanmu..aku bekerja secara profesional aja.

Sampe suatu saat ada tawaran untuk pergi selama 3 bulan ke Jakarta. Katanya sih training. Sebenarnya sih yang diperlukan wartawan bagian ekonomi. Tapi tidak ada yang mau untuk berangkat. Dengan bismillah, walau aku dulu pernah berjanji untuk tidak datang ke Jakarta lagi, terpaksa aku melanggar janjiku sendiri. Niatku kala itu, aku hanya ingin belajar. Kapan lagi meninggalkan Bali untuk belajar. Toh, hanya tiga bulan. Habis itu aku akan bertemu kalian lagi.

Penawaran kala itu datang tgl 8 Maret 2008. Hanya ada satu hari untuk memikirkan secara matang-matang. Aku pun mengiyakannya. Setelah OK, aku pun mulai menyiapkan semuanya, mulai dari tiket hingga perbekalan pakaian dan semacamnya.

Aku pergi bareng Sahlan, bagian olahraga kala itu. Sebenarnya bagi dia, sudah tidak asing lagi ke Jakarta karena dia pernah bekerja di Jakarta, koran lokal juga tapi punya cabang di ibukota. Aku pikir, tenang saja. Toh ada temannya. Apalagi di sana, ada Andika dan Regina, temen dari Bali yang sama-sama nanti akan dibalikin lagi ke Bali.

Akhirnya tanggal 10 Maret 2008, aku lepas landas dari bandara Ngurah Rai ke Soekarno Hatta Cengkareng naik Adam Air. Sempat was-was, apalagi pesawat ini pernah hilang di Sulawesi. Bahkan penumpangnya hingga kini juga tidak diketemukan, apalagi bangkai pesawatnya. Tapi, Bismillah saja.

Eh, saat mau lepas landas, ada berita di Medan, bahwa roda pesawat Adam Air pecah. Untung semua penumpangnya selamat. Aku sempat khawatir karena pesawat dari Denpasar sempat ditunda keberangkatannya. Fiuuhhhh..aku hanya bisa menghela nafas. Inilah kedua kali aku naik pesawat. Pertama saat ke Jakarta dulu bareng temen naik Merpati, sekarang naik Adam Air yang pernah menghilangkan penumpangnya...Mau gimana lagi, pesawat satu grup ya cuma itu. Tidak bisa ganti yang lain. Karena kalo ganti pesawat, nanti tiketnya tidak bisa diganti.

Akhirnya sampe juga di Jakarta. Aku menginap di tempat Andika, di kawasan Jaksa, tempat yang hampir mirip ama Kuta. Tapi kalah jauh dengan yang di Bali. Terutama bulenya..

Di sini aku kembali menghubungi teman-temanku terutama teman satu blog. Aku menghubungi Syaamil untuk ketemuan di TIM dan mencarikanku kos. Akhirnya kutemukan dia dan kudapatkan kos yang sampai saat ini kutempati di kawasan Salemba. Kos itu merupakan kos teman kerjanya. Alhamdulillah dapat murah, tapi memang cukup jauh dari kantor. Aku harus mengeluarkan ongkos lebih untuk transportnya. Thanks to Syaamil dan anak-anak blog Bukukita. Cuma selama ini yang sering ketemu adalah Syaamil dan Aal doank.(thanks untuk kalian berdua, aku selalu merepotkan kalian). Semoga Allah membalas budi baik kalian..hiks

Hari ini aku ingin mengenang satu tahun menguras tenaga dan pikiran di ibukota:
1. Tidak terbayang bisa ngantor di menara lantai 22. Dasar wong ndeso. Tapi biarlah, dari tingkat 22 bisa ngelihat Monas hingga kota dan Pantai Laut Selatan. Lantas Tanah Abang beserta rentetan gedung tinggi kawasan Thamrin Sudirman.

2. Dua minggu di bagian ekonomi, cukup puyeng juga ngurusi angka yang ga jelas itu. Aku kan ga tahu asal usulnya. Mbulet. Habis itu disuruh mangkal di Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal). Capek deh

3. Jalan-jalan ke Kudus untuk liputan bus canggih, kenalan ama anak Global tapi sekarang sudah lupa namanya. Lalu kenalan ama anak BusMania

4. Disuruh ngelatih anak-anak UNJ tentang media. Padahal aku hanya kenalan di friendster lohh..sampe sekarang hubungan itu tetap terjaga kok

5. Ketemu ama mbak Helvy di UNJ (he..he..anak Bali pindah ke Jakarta mbak)..trus Teh Pipiet di pusat Dokumen Sastra HB Jassin TIM

6. Wawancara ama Melly, Dimas Seto dan Widi AB Three. Untung orangnya enak semua. Habis itu gw ga mau wawancara lagi dengan artis

7. Lantas ngurusi bagian fit, gerakan-gerakan senam di pusat kebugaran. Jadi gw harus muter ke gym dan menemui (kadang) orang lebay..hi..hi..yang paling parah di Celebrity Fitness. Pelatihnya malah dibisikin kalo Teuku Zacky (calonnya Peggy Melati Sukma yang pusiiiing itu) adalah gay. Makin senang aja tuh pelatih. But, who cares with them

8. Liputan sembari menikmati hidangan khas hotel berbintang mulai dari Nikko, JW Marriot, Novotel, Mulia, Melia dan sederet hotel lainnya serta mall-mall yang bikin pusing dengan harganya yang selangit

9. Liputan ke UI Depok, naik bus gratisannya, serasa masih mahasiswa lagi yaaa..
10. Liputan ke Pekalongan, jalan-jalan aja bareng Dinas Kelautan dan Perikanan..Sempat ketinggalan, akhirnya naik kereta sendiri. Untung aja ada temen dari Gatra, jadi ada barengan. He..he..

11. Liputan ke Bandung (2x) bareng Indosat dan Ion. Sambil jalan-jalan ahhh..mampir juga ke biro Bandung. Ketemu Ulum, Nova dan Rahmat di sana

12. Naik kereta kepresidenan (Nusantara)..cuma gerbongnya aja kok. Tapi di dalamnya emang lengkap dan nyaman banget. Isinya lengkap mulai dari tempat tidur, sofa, televisi dan sebagainya

13. Liputan ke Aceh, CSR Samsung. Mampir ke Masjid Baitur Rahman dan sempat sholat di sana walau tidak khusyuk benar karena harus melanjutkan ke perjalanan selanjutnya. Sempat ketemu juga dengan Kak Mardiana dan temannya, dibawakan pula bakpia khas Sabang. Enaknya..Eh, pertama kali naik Garuda (wong ndeso lagi). Kan masuk terminalnya beda banget..

14. Dapat doorprize hape LG, ada radio dan kamera VGAnya. Lumayanlah buat hiburan di kos

15. Dapat doorprize hadiah dari Toshiba, menang lomba tulisan. Gw dapat DVD player. G bs dipake karena ga ada TV. Kasihan...
16. Bisa beli kamera Samsung dengan duit tabungan plus kupon voucher dari Carrefour. Alhamdulillah

17. Seneng deh, satu per satu temenku di Bali kumpul lagi. Ada Fahmi, Pasti, Saiful, Novi, Dede, Indah hingga mbak Wuri

18. Harus disyukuri bisa kenalan ama vendor ama operator. Siapa tahu nanti bisa usaha sendiri bikin dealer di Kediri atau buka cabang di sana. Amiiin

19. Menang lomba Best Write Up Samsung, dapat hape Samsung M3510. Satu bulan kemudian, dicopet di busway...

20. Baru kali ini dan semoga terakhir kalinya, opname Demam Berdarah plus Typus selama 5 hari. Istirahat total hingga 2 minggu. Lumayan liburnya..cuma kambuh lagi satu bulan kemudian, dengan batuk dan muntah-muntah..

21. Hak gw selama 4 bulan dipotong gopek. Gara-gara hal ini gw kesulitan untuk mengatur keuangan gw, akhirnya gw tepar di RS itu

22. Kangen ama rumah euyyy..dua tahun belum pulkam. Udah di ultimatum ama keluarga kalo ultah bulan depan harus balik. Bisa ga ya??

23. Kangen juga ama Bali. Kangen ama makanan di Tukad Melangit ama dekat setra (kuburan) Monang-Maning. Ada tahu campur khas Kediri sih. Trus kangen juga ama temen-temen di sana baik di Tawakkal, Albanna hingga Kampus Unud beserta LDK-nya. Kangen juga ama kos lama, Fajar dan keluarga. Semoga semua sehat-sehat saja. Next time semoga masih bisa ketemu ngajak istri...he..he..

24. Setahun di Jakarta, belum pernah lihat pantai dan bermain di sana, apalagi memegangnya..Fiuhhh..

25. Alhamdulillah masih bisa kirim untuk adik dan keluarga, walau ga banyak, semoga cukup. Maklum lagi nabung baik untuk beli motor, laptop apalagi nikah.

yang ke-26 dan seterusnya, pikir sendiri. Aku juga lagi menghadapi usia 26 nih. Udah apa aja yang aku lakukan ya??kok belum nikah-nikah juga????hiks...

Senin, 09 Februari 2009

Hape Baruku Hilang

"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput (hilang) dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. " (QS Al Hadid-57: 23)
 
Sesaat habis liputan di Senci, aku ingin pulang langsung ke kos dan tidak ingin ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 wib. Tahu sendiri kalo jam segitu, Sudirman-Thamrin dan jalan-jalan gede selalu ramai dipenuhi oleh pekerja kantoran yang ingin pulang. Menunggu hampir satu jam, bus P67 jurusan Blok M-Senen selalu penuh.

Akhirnya aku pilih naik busway, meski harus transit ke sana-ke mari. Aku naik dari halte depan Ratu Plaza. Saat transit di Dukuh Atas, ternyata antrinya luar biasa sampai ke pintu jembatan. Kayaknya jam 7 malam baru bisa masuk bis selanjutnya.Aku pilih melanjutkan lagi ke arah kota dan nanti berencana turun di BI dan langsung naik 937/916 ke arah Kampung Melayu. Dobel sih (ongkosnya), tapi mau gimana lagi. Nah sesaat di halte Sarinah, terasa ada yang menggesek-gesekkan di celanaku. Maklum saja, karena mau turun di halte BI aku langsung mendekat ke pintu ke luar dan tangan kananku memegang pegangan di atas. Pas aku lihat ke bawah, ternyata orang di sebelah menggesekkan tasnya. Aku pikir tidak jadi masalah. Toh, di dalam juga desak-desakan.

Aku masih menyalakan musik di hape kesayanganku, Samsung M3510 melalui headset bluetooth Nokia BH-503. Karena headset tersebut tanpa kabel, aku melenggang begitu saja dengan nyaman. Pas nyampe halte BI dan sampai pintu palangan ke luar, headsetku tiba-tiba mati. Aku pikir hapeku ada masalah, kepencet atau kenapa gitu. Aku cek ke saku celana.Hahhhh???hapeku tidak ada. Mungkin karena saking tipisnya, jadi tak kerasa meski ada yang ngambil. Atau aku kena guna-guna, jd dibikin ga terasa?? au ah..gelap!!

Aku melongok ke jalan, busway yang aku tumpangi tadi terus melenggang. Aku tanya ke petugas tiket busway. "Wah, Mas jadi korban kedua hari ini," kata petugas itu. "Yee...gimana sih, bukannya malah menolong malah ngeles," pikirku. "Trus gimana??"Petugas itu hanya memberikan kartu gratis untuk bisa masuk ke busway berikutnya.

Naas sekali busway selanjutnya kosong sehingga lanjut terus. Otomatis, busway-nya tertinggal dan makin jauh. Baru busway berikutnya, aku bisa masuk.Pas sampe di dalam busway, aku mulai nelfon ke hapeku. Ternyata sudah dimatikan. Aku pikir sudah tidak mungkin ditemukan karena bagaimana mungkin menemukan hape di tengah banyak orang.

Pas nyampe di halte Harmoni, aku sudah linglung. Bagaimana mencarinya??Ya sudah deh, aku relakan saja. Aku anggap semoga menjadi amalku saja. Mungkin saja ini teguran kepadaku karena aku jarang beramal. Kalau lihat ayat di atas, aku jadi lega. Jadi kita diingatkan agar tidak terlalu bersedih saat orang atau barang yang kita sayangi hilang. Begitu sebaliknya, tidak terlalu gembira saat ada rejeki lebih diberikan kepadamu. Yaa..hapeku..baru sebulan aku mengenalmu. Semoga aku mendapat ganti dirimu yang lebih baik lagi (apalagi gratis lagi).

Seminggu sesudah kejadian itu, narasumberku mulai menghubungiku lagi (maklum aku baru saja lapor ke XL Center bahwa kartuku hilang seminggu setelah kejadian).

"Kok dihubungi ga bisa??" tanya seorang narasumberku.
"Hape saya hilang mbak?"jawabku lemas.
"Lho..hape yang saya beri itu?" tanya wanita diseberang telfon itu makin gemas.
"Iya mbak," jawabku sambil menunduk.

Tahu ga siapa yang menelfonku itu? dia Ellie, PR ARC dari Samsung yang memberikan hape itu sebagai hadiah pemenang juara I Best Write Up Samsung dan sebagai hadiah sehabis opname DB-ku.

Sabtu, 31 Januari 2009

Opname DB Pertama Kali

Januari ini menjadi nasib sial bagiku. Apa pasal?? selama lima hari aku harus menginap di rumah sakit (opname) karena terserang nyamuk Aedes Aegepty. Tahu kan?? yap, nyamuk demam berdarah.

Peristiwa itu menjadi sejarah bagiku karena baru pertama kali opname. Sebenarnya saat cek awal cuma gejala typus. Tapi, kata dokter klinik itu, kalau panasnya tidak turun mohon segera cek up ke rumah sakit.
Ternyata benar, panasnya tidak turun walau aku masih kuat untuk berjalan. Panas hanya terjadi waktu malam terutama mulai dari jam 12 malam hingga pagi. Itu membuatku tidak bisa tidur.

Sebenarnya gejala awalnya adalah pusing dan demam (istilah jawa-nya meriang). Aku hampir tiap hari minum Tolak Angin, berharap masuk anginnya (pikirku) segera hengkang. Ternyata salah, penyakit yang kusangka masuk angin itu malah merembet ke yang lain, yaitu pusing, mual, demam, capek-capek hingga muntah. Alhasil, temanku (Lili, yang duduk bersebelahan dengan meja kerjaku) memaksaku untuk periksa. Jangan-jangan penyakit akut...

Itu terjadi menjelang deadline gadget (tgl 6 Januari) jam 3 sore. Aku udah sempoyongan. Lily memaksaku untuk ke klinik dekat kantor. Dokter memvonis typus karena kecapekan. Maklum aja menjelang akhir tahun, liputan menyerang tanpa ampun. Bahkan sehari sampe empat liputan dan tidak ada yg membantu. Alhasil, habis liputan aku langsung pulang. Ngetik kapan aja deh, kalo senggang..

Begitulah ritme kuli tinta. Ditambah lagi jadwal makan yang ga tetap. Tergantung undangan...(he..he..). Itu baru makan agak bergizi..maklum makannya kan minimal di cafe atau hotel berbintang, minimal bintang empat...(harus banyak bersyukur deh)..

Selepas ngetik gadget, ku abaikan telefon dari redaktur. Entah kekurangan tulisan atau apa, terserah. I dont care..Serasa kepalaku malah kayak ditusuk pedang. Silih berganti...
"Mas, Didik lagi di klinik. Pingsan. Nih aku yang nganter ke klinik sebelah," kata Lili menjawab pertanyaan dari hape Fren-ku. Sontak redakturku diam saja.

Selepas periksa, aku langsung diantar pake mobil kantor untuk pulang ke kos di daerah Salemba. Dua hari berikutnya, aku tidak masuk. Hingga tgl 9, teman-teman Lifestyle (kebetulan desk-ku Lifestyle) datang ke kos untuk menjemputku dan mengantarku ke rumah sakit.

Semua urusan sudah diurus. Termasuk asuransi. Maklum bagi wartawan, minimal harus satu tahun bekerja baru dapat asuransi jiwa. Di kantor menganut Asuransi Sinar Mas. Cuma karena aku baru saja beberapa hari melewati masa satu tahun, asuransinya belum turun. Kantor akan membantu membayar semua biaya opname.
Alhasil, dengan ogah-ogahan ku masuk mobil kantor diiringi teman-teman. Ada Yohana, Inda, Novi, Ita, Sari, Mamak sampe Kelmi dengan sopir Pak Agus. Mereka merujukku ke RSCM, dekat kos. Itu merupakan RS pilihan kantor. G tahu kenapa harus di situ. Padahal, Bu Kos sudah memperingatkan jangan dibawa ke situ. Tapi mo gimana lagi, tanggungan cuma berlaku di RSCM...

Tidak sampe 10 menit, kita nyampe melewati kamar mayat yang membelah gang sempit dari kosku menuju RSCM. Kuterangkan di sinilah awal cerita Suster Ngesot..Semua pada nengok, jembatan yang menghubungkan antara RS dengan kamar mayat itu. Sereeemmmm..

Sesampai di RS, kita langsung masuk dan diperiksa oleh suster. Lantas disuruh berbaring di tempat tidur dorong dan dibawa ke sebuah ruangan. Namun apesnya semua ruangan penuh. Alhasil, aku ditaruh di lorong-lorong kamar yang sudah penuh dengan pasien. Macem-macemlah.

Ternyata sampe se-jam, aku juga belum diapa-apakan oleh dokter, apalagi suster. Cuma ada gelang berisi nama pertanda aku sebagai pasien RS tersebut. Teman yang lain masih mengurus pendaftaran hingga segala macamnya..

Selama sejam itu pula, aku harus terima terbaring di situ. Menyaksikan orang mengerang, menangis hingga menjerit histeris. Ternyata ada orang tua yang meninggal dan anaknya histeris hingga satu lorong kedengaran semua dan menuju kamar orang itu. Tidak jelas mereka sakit apa. I dont care, pikirku bagaimana aku harus ditangani segera.

Ternyata teman-teman punya inisitif untuk keluar dari RSCM. Bagaimana tidak, selama sejam, aku tidak diapa-apakan. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kan tidak mungkin membiarkan teman-teman menjadi kelelawar malam walau kerja biasanya selalu ngalong. Kan mereka butuh istirahat juga...
Aku langsung loncat dari tempat tidur itu. Untung aku masih kuat berjalan. Panas belum menjalar di seluruh tubuh. Tiba-tiba administrasi RSCM berteriak,"Mas, ga bisa keluar begitu saja,"teriak admin itu.
Kelmi yang mengurus administrasiku tak kalah lantang berteriak
,"Enak saja, temanku sudah satu jam tidak diapa-apakan. Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang tanggung????" jawab Kelmi (Helmi Firdaus) ketus.

"Pokoknya g bisa Mas. Harus tanda tangan surat pernyataan keluar dulu," terang petugas itu masih dengan sungutnya..

"Ga perlu...ayo cabut,"Kelmi menunjukkan kartu pers sembari mengajak teman-teman keluar RSCM. Petugas itu terdiam.

Kita menyewa taksi dan segera meluncur ke RS. Thamrin Internasional. Tidak jauh pula dari kosku. Bahkan lebih dekat lagi. Maklum saja, di sekitar Kampus UI Salemba berhamburan RS mulai dari pemerintah hingga swasta. Ada RSCM, Thamrin, Santa Carolus dan lain-lain.

Tiba pukul 23.30, petugas RS Thamrin langsung cekatan. Maklum aku langsung dimasukkan ke UGD. Cuma ada satu pasien di situ dan tidak sakit serius. Setelah diperiksa sejenak, aku disuruh Rontgen. Aku disuruh buka baju dan disuruh menatap sebuah alat. Tak lama kemudian diagnosa petugas dikeluarkan dan mengatakan,"Mas, ini bukan typus. Mas kena demam berdarah. Sehingga Mas harus opname di sini," tegas petugas itu. Aku pun hanya lemas.

Aku dibawa dengan kursi roda menuju lantai lima. Sepanjang perjalanan menuju lantai lima melalui lift, teman-teman berfoto ria. Aku pun tak kalah action. Petugasnyapun hanya geleng-geleng dan tersenyum. Mungkin dalam hati hanya berujar," Ini sakit kok malah foto-fotoan kayak orang kawinan. Rame banget dan sempat membikin gaduh suasana RS."

Aku menempati kamar 517 dan aku pilih tempat tidur nomor 1. Paling pojok. Di situ ada 6 bed tapi cuma terisi satu pasien. Ternyata dia DB juga. Tapi sudah 6 hari di situ. Mungkin besok dia sudah bisa pulang.
Akhirnya aku harus opname...selama 5 hari..Di situ aku harus tersiksa kena infus & sudah berganti berapa botol. Mungkin lebih dari 15 botol dalam 5 hari itu. Apalagi karena bengkak, tempat selang infus itu harus berganti tempat tiga kali di tangan kanan-kiriku...Waduuuhhh..sakit sih ga, tapi tersiksa. Apalagi kalo harus ke kamar mandi..

Tersiksanya lagi, aku pernah BAB tanpa sengaja di bed. Ceritanya aku ingin kentut, tahunya yang keluar malah BAB cair. Wiiiiihhhhh...

Yang menderita lagi, tiap malam aku g bs tidur gara-gara panas tinggi. Aku baru bisa tidur selepas shubuh dan itu selepas disuntik dan minum obat ( g th namanya). Baru bangun jam 9 atau 10 pagi...
Uniknya, pelayanan mereka (RS Thamrin) seperti hotel berbintang. Minimal mulai dari petugas Office boy hingga cleaning service bahkan sampe pengantar makanan. Kalo kita butuh sesuatu, tinggal pencet tombol dekat bed.

Padahal, harga kamar di sini cuma Rp100ribu. Beda tipis ama RSCM yang Rp 94ribu. Di sini sudah termasuk makan 3 kali dan snack siang 1 kali. Yummy...kita pun bebas memilih makanan sesuai menu hari ini. Waaaahh, andaikan aku tidak sakit, pasti makanan itu sudah langsung masuk perut. Standar gizi lah. Tapi apa jadinya kalo sakit, makan setengah piring aja sudah untung. Mual melulu....

Apalagi aku sampe tiga bulan belum boleh makan asam dan pedas. Lambungku belum sehat (kena typus) kemarin. Jd hrs ekstra hati-hati terhadap makanan.

Tiap hari, teman-teman kantor bergantian jaga aku. Terima kasih ya...Apalagi mereka sudah bawa oleh-oleh yang tentunya tidak bisa langsung termakan semua olehku. Mulai dari anak Internasional yaitu Muhammad Syarifuddin, Andika Hendra Mustaqim, (thanks udah nyuciin celanaku), Muhammad Ismail. Anak news yaitu Pasti Liberty Mapappa dan Maya Sofia. Anak Ekonomi, Meutia Rahmi. Serta anak olahraga (Esa, thanks sprei Juventusnya), meski aku g suka sepak bola, tapi lumayan buat ganti spreiku yg mau ku laundry. Capek buat cuci sendiri, 2 tanganku msh gemetar...karena infus..
 
Lalu buat temenku di Okezone spt Devy Lubis, Dede Suryana & Muhammad Syaifullah serta wartawan Republika Indah Wulandari sudah bersedia datang. Thanks atas semua. Termasuk yang sudah kirim sms, thanks semuanya. Tidak dapat ku sebutkan nama kalian di sini satu per satu.

Alhasil, dengan segala upaya dan sholat tahajud..aku berhasil keluar dari sarang nyamuk (eh, salah. sarang pasien) pada tgl 14 Januari. Habis itu rehat ampe 20 Januari dan baru masuk kantor 21 Januari dengan masih sempoyongan (seperti kurang darah gitu). So, aku menghindari pulang malam lebih dari jam 9 malam.
Beruntung selama opname dan rehat itu, aku bisa merasakan istirahat sesungguhnya. Walau setiap waktu orang iklan atau klien yang mengundang acara selalu menelfonku. Disyukuri aja, karena setiap penyakit, pasti ada berkahnya.
Thanks juga buat Agrakom PR, yang udah kasih parcel berisi buah ke kos. Aku sampe kaget, kiriman dari siapa?? perasaan ga pernah aneh-aneh deh..
Semoga aku tak kan pernah opname lagi...

Masuk RS Dapat HP

Di hari yang sama saat tragedi pingsanku itu (padahal bohong, cuma ga kuat berdiri aja), tepatnya 6 Januari, sebelumnya gw ditelfon ama ARC, PR Samsung. Namanya mbak Ellie.

Katanya gw menang lomba penulisan (Best Write Up) saat peluncuran 7 hape Samsung akhir tahun kemarin. Mereka cuma mengambil dua pemenang. Satu wartawan yang dimenangkan oleh gw dan satu fotografer dari koran Investor Daily.

G biasanya mereka membuat lomba. Saat peluncuran apapun, mereka selalu menggelar doorprize (ambil kartu nama). Tapi selama gw di SINDO belum pernah dapat rejeki. Kecuali satu kali, gw dapat hape Esia yang udah ada kamera VGA & radionya. Cuma hape itu di lock dan tidak bisa diganti dengan operator lain. Itu berkah Ramadhan kemarin..
 
Sebagai hadiahnya, kata Mbak Ellie, berhak mendapatkan salah satu dari 7 handphone itu. Gw sih penasaran, dapat hape apa. Secara, di situ ada hape tertinggi dari Samsung varian kamera. Yaitu Samsung Innov8, ponsel berkamera 8MP.

Saking serunya, dia sampe mengundang Jerry Aurum, salah satu fotografer kondang Indonesia untuk mencobanya. Alhasil, SUKSES!!tidak ada interpolasi (manipulasi kamera). Beda dengan ponsel Cina.

"Biasanya resolusi tinggi selalu menipu, tapi Samsung Innov8 ini sudah setara dengan kamera digital biasa bahkan lebih karena dapat ponsel,"ujar Jerry Aurum saat prescon itu.

Untung saja, semua perkataan Jerry itu aku tulis dengan detail. Sampe aku minta hasil fotonya segala. Sayang, pas deadline malah ga dipake. Cuma komentarnya saja. Ya udah gpp. Pokoke gw udah bisa menang mendapatkan........................Eng..Ing..Eng..

SAMSUNG BEAT SGH-M3510
(kira-kira beginilah bentuk hape-nya, berhari-hari nguber yang warna merah g dpt sih. posting aja yg kuning. apalagi merah dan kuning kan hrs berdamai. apalagi kuning ama hitam. harus lebh damai lagi. ini ngomong apa ya?? partai??)

Salah satu ponsel musik dari Samsung dengan ketipisan cuma 9.9mm. Desainnya unik, mirip Express Music Nokia 5310. Gw dulu kepingin banget hape itu, cuma harganya masih di atas 2 jeti..Terpaksa dikubur dulu..
Ternyata hape itu berhasil menggeser Siemens A55 yang sudah 3 tahun aku pakai. Hiks...terlalu banyak kenangan denganmu. Apalagi seumur hidup gw cuma ganti hape cuma 2 kali. Pertama, hape Siemens C45 dan kedua, Siemens A55 yang sudah dimodifikasi isinya menjadi C55. Yang pertama Rp150ribu (bekas loo) dan kedua Rp350ribu (bekas juga).(punya gw yang warna biru, secara gw seneng jg ama biru). trus yang paling kusuka adalah tagline-nya, Be Inspired!! itu sangat korelasi denganku yg pny motto, Pena Emas, Inspirasi Cerdas!!

Selebihnya gw dapat gratisan, termasuk hape Fren ZTE. Hape itu kudapatkan saat ada prescon Fren masuk Bali. Pihak Fren sendiri menjanjikan satu hape untuk berita yang dimuat. Karena saat itu gw sudah menyandang wartawan SINDO Bali, otomatis tidak akan muncul beritanya. Lha wong, semua masih cetak di Jakarta. Dan g akan mungkin masuk karena dari Jakarta pasti sudah mengcover..

Alhasil, gw punya rencana untuk masukin berita itu ke Koran Pak Oles. Secara, waktu itu gw belum resign dari tempat kerja sebelumnya. Ternyata lolos karena saat itu Redpel sedang membuat rubrik Bisnis yang isinya tentang bisnis di Bali termasuk provider.

Berita itulah yang akhirnya ku tukar dengan hape Fren ZTE itu. Dulu, kalo dijual di konter seharga Rp388ribu. Bonus pulsanya mannnn, ga tanggung-tanggung, Rp800ribu. Ngomong terus sampe dower...
Lantas ada lagi THR dari Mito, gw dapet hape Mito 828. Ya, ponsel Cina dengan fitur radio aja. Lumayanlah..Padahal gw naksir dapat televisi...kan harganya sama..Alhasil, ponsel itu gw kasih ke adik gw. Hape lamanya dicuri orang. Adik gw diem aja. Yang penting masih bisa buat nelfon. Padahal dia udah minta hape high class. Maklum, dia sekolah di tempat agak elit. Jd muridnya jg elit, termasuk bawaanya. Entah hape, laptop ampe dianter pake mobil. Nah, adik gw....(sabar lahhh)...

Back to laptop..

Karena gw keburu opname dan sampe pulang, gw sms aja si Ellie. Kok hapenya belum dikirim???
Ternyata hape itu sudah dikirim tgl 9 Januari. Ellie jg udah tahu kalo aku opname dan hape itu dikirim via kantor. Alhasil, gw suruh temen gw Sahlan, untuk ngambil hape itu dari Sekred.

Tgl 16 Januari, secara resmi gw pegang tuh hape dan secara resmi pula menggantikan Siemens A55. Hape jadul itu kumasukkan laci dengan baik-baik. Sampe kapanpun, hape itu g akan aku jual. Biarlah menjadi saksi...

Alhamdulillah pula, warna yang aku inginkan terkabul, merah. Kan ada tiga warna utama: merah, kuning dan ungu. Aku pingin banget yang merah. Terkesan eye catchy dan macho. Ga malu-maluin kalo dibawa mejeng..

Bahkan, di hari yang sama pula, gw ngoprek tuh hape ampe tengah malam. Hape itu seakan menjadi temen gw saat rehat selama seminggu itu. Untunglah, sudah ada kamera 2MP dan MP3, sekaligus FM radio. Komplit sih...

Makin komplit lagi, gw bisa gunain bluetooth Nokia BH-503 yang udah lama gw dapet. Produk itu gw dapet dari goody bag saat acara peluncuran Express Music 5320 dan 5220 di Pacific Place Jakarta pertengahan 2008.
Tumben aja tuh Nokia kasih barang mahal. Harganya sekitar Rp300ribuan sih..Tapi lumayan, secara headset bawaan Samsung kurang nyaman di telinga (terutama airbud-nya). Kurang nyantol di kuping.

Kalo pake ini, kan g perlu ribet dengan kabel lagi. Bs langsung dengerin lagu (tp g bs buat radio). Y udah via MP3 aja..lumayan kok (dibanding headset). Secara lebih techy gitu loohh..Inilah berkah masuk rumah sakit..

Senin, 29 Desember 2008

Aksi Solidaritas Palestina

Kemarin gw baru dapat sms dari Murobbi ane, kangen juga ma beliau. Soalnya sudah jarang kasih tausyiah via hape lg. Mungkin aja beliau repot berat.
Isinya cukup mencengangkan bahwa beliau mengajak untuk munashoro (penggalangan dana) bagi rakyat Palestina yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia tepat pas perayaan Tahun Baru Islam, 29 Desember 2008.
 
No problem lah, coz ga da liputan khusus hari itu. Lagipula sudah lama banget ga ikutan demo. Paling akhir di Bali dl, sekitar 4 tahun lalu lah.
 
Gw datang ke Bundaran HI tepat pukul 11.30 siang. Suasana jalan (tepat di depan Hotel Indonesia) sudah penuh lautan massa. Yang gw lihat, massa terdiri dari elemen Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Indonesia, LDK Universitas Negeri Jakarta, LDK Insititut Pertanian Bogor, berbagai Lembaga Dakwah Sekolah (LDS), STIE Rawamangun, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dan lain-lain tampak mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina berukuran raksasa, dan meneriakkan takbir berulangkali.
 
Mendengar pekikan takbir dari ikhwan-akhwat itu bulu kudukku merinding. Betapa semangat mahasiswa begitu besar, di tengah terik panas & kemacetan jalan. Apalagi polisi pun mengamankan dengan memakai tameng khusus gitu. 
 
Beberapa pendemo (tepatnya korlap demo) kulihat juga ada yang digelandang oleh polisi. Kutahu mereka tidak mengantongi izin dari Polda Metro Jaya untuk melakukan demo dengan pengeras suara. Karena hal itu bisa mengganggu tamu hotel. Ya iya sih..dengan sound sebesar itu memang akan mengganggu siapa saja. Tapi kalo untuk memobilisasi massa sebanyak itu (hampir seribuan orang) tentu saja tidak gampang. Perlu cara khusus agar tidak kacau. 
 
Jika cuma pake speaker kecil saja, sudah tentu massa yang jauh tidak kedengaran. Tadi aja sempat tidak kompak, sebelah sana takbir, sebelah sini bengong. Yang lain meneriakkan yel-yel, di sini malah bengong.
"Jumlah kita berapa???," teriak salah satu pemimpin di atas mobil mengomando.
Serempak massa mengatakan,"SATUUUUUU". Hingga berulang kali.
"Jumlah kita satu bapak polisi. Jangan takut, kita tidak akan berbuat anarkis. Demo kita demo damai, memperjuangkan rakyat Palestina agar bisa menghirup aura kemerdekaan di tanah mereka sendiri. Bukan malah dibombardir oleh rudal Israel," tambah salah satu pemimpin massa demo.
 
Sontak, teriakan, yel-yel, takbir hingga lantunan lagu-lagu Palestina khas Izzatul Islam menyentak pengguna jalan terutama dari arah Blok M. Terlihat dari halte busway Bundaran HI, kemacetan melebihi Halte Busway Setiabudi atau mungkin bisa sampai Dukuh atas atau lebih. 
 
Terakhir, mereka juga menyebarkan kontak infak yang akan disalurkan melalui badan khusus untuk rakyat Palestina. Semoga saja perjuangan mereka bs membuahkan hasil. Minimal jika kita tidak bisa berjihad ke sana, ada sumbangan dana atau doa untuk kemenangan rakyat Palestina. Jangan sampai tanah yang dirahmati dan diberkati oleh Allah itu menjadi ladang bagi laknatullah Israel.
Demo akhirnya selesai kira-kira pukul 13.00 wib. Massa diatur bubar berdasarkan wilayah masing-masing. Di dekatku tadi dari Bandung dan Banten yang kumpul dekat air mancur dekat Plaza Indonesia. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Polisi pun membebaskan korlap. "
 
Ini ada beberapa cuplikan nasyid yang dilantunkan saat demo khas Palestina. 
 Merah Saga by Izzatul Islam
 
Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir
Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu
Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah di tanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad Palestina
Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
Syahid dalam cinta-Nya 

Barusan dapat sms dari teman, ga th nih dr siapa. Coz masih ganti hape, jd mungkin namanya kesimpen di hape lama. Dari 08179950xxx bunyinya," Israel berjanji akan terus menyerang Gaza untuk lumpuhkan Hamas. Israel tolak disalahkan atas serangannya selama 3 hari ini terhadap Gaza yang telah tewaskan lebih dari 300 penduduk, melukai lebih dari 1000 orang dan hancurkan kota. Israel malah balik salahkan Hamas". (MetroTv,29/12/2008).
Maunya apa sih Israel itu????

Sabtu, 27 Desember 2008

Blogger Nakal










“Tindakan memang tidak selamanya membawa kesuksesan,tetapi tidak ada kesuksesan tanpa tindakan.”


[ Greg Phillips & Benjamin Disraeli ]

Begitulah salah satu pesan motivasi dari sebuah blog (transtvnews.blogspot.com). Apa maksudnya?

Era telekomunikasi sudah demikian pesatnya. Terutama internet dengan fasilitas blog yang memungkinkan orang untuk menjadi wartawan tanpa editan. Wartawan, orang yang mewartakan berita dalam blog ini bebas mengeluarkan uneg-unegnya tanpa batas.

Kenapa saya sebut wartawan? Di era demokrasi ini, semua bebas berkreasi dan mengeluarkan pendapat. Salah satunya dengan blog tersebut. Blog menjadi salah satu yang mengancam surat kabar baik cetak maupun online. Di sini (pewarta) bisa menulis apa saja. Inilah uniknya blog, tanpa editan dan bisa dibaca dengan mudah kapan saja selama ada koneksi.

Salah satunya blog yang barusan kubaca. Coba tengok saja transtvnews.blogspot.com. Semoga situs gratisan itu masih bisa terbuka karena gosipnya akan ditutup karena mencela pemiliknya, Chairul Tanjung (bos Para Group yang menaungi stasiun Trans Tv dan Trans 7).

Di dalam blog tersebut, penulis mewartakan behind the scene stasiun yang bermarkas di jalan Kapten Tendean Jakarta Selatan itu. Bukan yang baik, malah berita yang jelek termasuk dugaan suap Ishadi SK, Direktur Utama Trans TV kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebanyak 40 juta.

Lepas dari benar atau salahnya itu berita, blog menjadi media paling murah meriah untuk menyebarkan sesuatu secara massal, cepat dan sesuai target pembaca.

Kabar dari detik.com (http://www.detikinet.com/read/2008/12/23/154743/1058435/398/ada-blogger-nakal-bapak-blogger-dipanggil-polisi), blogger nakal ini bakal tersandung pencemaran nama baik. Sampai-sampai, 'Bapak Blogger' Indonesia Enda Nasution pun dipanggil oleh pihak berwajib,Cybercrime Polda Metro Jaya terkait kasus ini sebagai saksi ahli.

Enda yang enggan menyebut nama pemilik blog tersebut hanya mengatakan pelakunya mungkin mantan karyawan stasiun televisi yang mempopulerkan acara kontroversial Extravaganza dan Empat Mata itu.

Padahal sejak tujuh tahun lalu, aku bermimpi bisa kerja di situ. Suatu pembicaraan di milis mengatakan kerja di situ meski keras namun hasil didikannya bagus. Banyak jebolannya yang sukses merintis media baik di media lain atau mendirikan stasiun televisi lokal. Kalo seperti sekarang???? kayaknya gajinya masih bagusan kerja di tempatku (walau nasib juga masih tidak jelas atas status kontraknya).

Kita tunggu saja, kabar selanjutnya. Makanya kalo ngeblog yang bener ya.. Salah-salah malah diperkarakan kayak Blogger Nakal ini. ^-^