via didikpurwanto.com
Sabtu, 03 Oktober 2015
Ponsel Berkualitas Pacu Produktivitas
via didikpurwanto.com
Senin, 21 September 2015
Federal Oil, Pelumas Spesial Kendaraan Andal
Tak banyak yang berkesempatan mengunjungi sebuah pabrik oli. Apalagi mengetahui seluk beluk oli dari awal hingga akhir pengemasan.
Saya cukup beruntung mendapatkan kesempatan itu. Paling tidak, ini menjadi pengalaman berharga dalam hidup karena pernah mengunjungi pabrik oli.
Teman-teman saya ada yang mencibir. “Mengapa harus ke pabrik oli sih? Ngga enak tahu. Pasti bau, becek, ga ada ojek (eh salah itu mah Cinta Laura saja). Lebih enak kan mengunjungi pabrik roti atau minuman. Di situ kan bisa sekaligus bisa mencicipi. Kalau oli, apa yang bisa dicicipi? Mau minum oli?,” kata temanku.
Ah temanku keterlaluan juga. Maunya enaknya saja. Padahal sebagai pengguna sepeda motor, oli atau pelumas sangat penting bagi kelancaran aktivitasku setiap hari.
Mungkin dia tidak pernah bersusah payah mengganti oli sepeda motor karena dia memakai taksi atau ojek. Tapi sopir mobil dan pengojek kan juga harus mengganti oli pada kendaraannya. Sama saja kan? Harus mengetahui oli yang baik untuk kendaraan kita.
Namun banyak masyarakat menyepelekan oli. Padahal itu menjadi salah satu bagian yang mendorong mesin sepeda motor atau kendaraan kita lebih dingin. Coba kalau motor atau kendaraan kita ngebul karena panas tanpa oli, bisa meledak deh.
Pada 9 September lalu saya berkesempatan bersama 29 Kompasianers mengunjungi pabrik Federal Oil milik PT Federal Karyatama di kawasan Industri Pulogadung, Jakarta.
Pandangan saya tentang pabrik oli berubah total. Memang awalnya saya berpikir mengunjungi pabrik oli pasti becek. Saat kunjungan ke pabrik tersebut, sopir bus yang membawa rombongan sempat salah lokasi.
“Kok pabriknya jelek sih. Serem. Tidak pernah dirawat ya. Aneh,” begitulah celetukan saat bus pertama kali berhenti di salah satu lokasi di Pulogadung.
Setelah berhenti dan bertanya, ada satpam yang menunjukkan bila pabrik Federal Oil bukan di tempat kita berhenti. Satpam tersebut pun menunjukkan lokasi.
Saat tiba di lokasi kedua, bus berhenti lagi dan sebenarnya sudah betul karena di depan gedung tertulis PT Federal Karyatama. Bangunannya lebih rapi, minimalis dengan kardus berisi tumpukan oli di sampingnya.
“Tapi kok kecil banget ya? Mungkin salah kali. Pabriknya bukan di sini. Mungkin di sini bagian administrasi saja. Pabriknya entah di mana gitu,” Salah satu Kompasianers menyeletuk lagi.
Setelah bertanya kepada Satpam, bus pun melaju berputar-putar mengelilingi pabrik demi pabrik di kawasan Pulogadung. Akhirnya kami menemukan lokasi pabrik tersebut, di Jalan Rawa Bali.
Sekilas pabrik tersebut berukuran dua kali lipat dibandingkan pabrik sungguhan yang kami temui sebelumnya. Di samping gedung juga masih ditemukan tumpukan kardus dan tentu saja berisi oli. Ya iyalah masa makanan atau minuman?
Tapi saya masih belum percaya kalau ini pabrik oli sungguhan. Akhirnya kami dipersilakan masuk.
General Manager Marketing PT Federal Karyatama Erika Dianasari mengatakan, gedung ini menjadi salah satu fasilitas yang dimiliki. Fasilitas pertama pabrik Federal Oil ada di sekitar 500 meter dari gedung yang ditempati saat ini.
“Ini adalah fasilitas kedua. Di sini kami mencampur hingga mengemas oli Federal Oil. Di sini kita akan belajar tentang pelumasan dan nanti kita kebetulan ada konferensi pers tentang Endurance Journey (tulisan disiapkan ke bagian kedua. Tetap pantau ya),” kata Erika.
“Hari ini akan menjadi pengalaman menarik bagi Kompasianers. Selain belajar tentang pelumasan, pengalaman yang diperoleh hari ini akan menjadi oleh-oleh yang berkesan,” tambahnya.
Sebelum memasuki lokasi produksi Federal Oil, Kompasianers ditunjukkan keunggulan produk PT Federal Karyatama yang memproduksi Federal Oil.
Research & Development Laboratories Manager PT Federal Karyatama Rais Rahman mengatakan, ada tiga fungi utama pelumas yaitu mengurangi gesekan dan keausan, mendinginkan dan memindahkan panas, dan mengendalikan kontaminan atau deposit.
Sedangkan proses pembuatan pelumas berawal dari hasil pengolahan pertambangan minyak bumi, misal Pertamina. Hasil pengolahan tersebut diambil yang bagian base oil-nya. “Base oil ini yang dijadikan bahan pelumas,” katanya.
Untuk menjadi pelumas, base oil tersebut perlu campuran zat aditif. Namun sebelumnya, jenis base oil ada dua yaitu mineral dan sintesis.
Untuk pelumas mineral hanya mencampur base oil mineral dan zat aditif biasa. Namun untuk yang sintesis, dari yang mineral tadi disintesis lagi menghasilkan molekul lebih stabil. “Jadi yang membedakan dua pelumas itu adalah base oil-nya,”katanya.
Di Federal Oil, pelumas yang dipakai adalah yang berjenis pelumas sintesis sehingga menghasilkan kestabilan panas, oksidasi, dan kinerja optimal.
Zat aditif yang dipakai untuk pelumas Federal Oil pun sangat beragam. Tercatat ada sembilan bahan tambahan dengan kegunaan masing-masing.
Dari sisi kekentalan, Federal Oil telah memiliki kekentalan berdasarkan Society of Automotive Engineer (SAE) dan American Petroleum Institute (API).
SAE memberi klasifikasi pelumas mesin berdasarkan kekentalannya (viskositas) pada temperatur 100 derajat celcius dan di bawah nol derajat celcius.
API membeli klasifikasi pelumas berdasarkan desain, konstruksi, serta material mesin menurut kualitas kinerja dengan jenis tugasnya.
Untuk memakai oli, biasakan melihat kode klasifikasi API untuk mesin yang selalu diawali dengan huruf “S”. Misalnya SG untuk mesin kendaraan tahun 1989 ke atas dan sebagainya.
Federal Oil juga sudah memenuhi klasifikasi pelumas otomotif Japanese Automobile Standard Organization (JASO). Ada dua klasifikasi di sini yaitu MB (oli semakin licin) dan MA atau MA 2 yang memberi gesekan semakin besar.
Untuk JASO MB khusus bagi motor matic (kopling kering) sehingga pelumas hanya melumasi mesin.
Khusus JASO MA untuk motor nonmatic (kopling basah), kemungkinan terjadi friksi lebih besar karena gear (roda gigi) sehingga pelumas tidak boleh licin.
Lantas mengapa teknologi mesin sekarang perlu oli encer? Rais menjelaskan celah antarkomponen bergerak lebih rapat, suhu mesin lebih panas, beban gesekan lebih tinggi, lebih cepat melumasi, dan oli encer akan lebih irit BBM.
Jajaran produk Federal Oil sangat cocok untuk motor 4T transmisi manual dan otomatis. Berikut alasan mengapa harus memakai produk Federal Oil.
Nah sudah jelas kan mengapa harus memakai produk Federal Oil? Pelumas spesial hanya untuk kendaraan andal. Jadi jangan coba-coba pakai pelumas abal-abal.
Satu lagi nih biar memantapkan Anda untuk memakai Federal Oil. CEO PT Federal Karyatama Patrick Adhiatmadja mengatakan, pabrik di kawasan Pulogadung ini benar-benar asli. Barang yang diproduksi juga berkualitas. “Ini juga sebagai produk lokal yang kita banggakan,” katanya.
Yuk pakai Federal Oil!!
via didikpurwanto.com
Bujang sang Pendulang Uang
Berbisnis bisa berawal dari segala sesuatu yang disukai. Tak terkecuali bagi Angga Kesnha yang suka potong rambut, bahkan hampir setiap minggu dia berganti gaya rambut.
Kesenangannya itu ternyata membuahkan ide membuka barber shop atau rumah potong rambut di kawasan Bekasi Utara, Jawa Barat. Ia memilih nama usahanya Bujang Barbershop sebagai nama keberuntungan berusaha.
Bujang berasal dari kata buyung dan ujang. Paduan dua kata dalam dua bahasa daerah yakni Palembang dan Sunda yang artinya laki-laki. Menurut Angga, berkat nama itu dia mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 10 juta per bulan dari modal usaha sebesar Rp 50 juta. Angka itu sangat memuaskan untuk sebuah usaha yang baru dirintisnya selama dua tahun.
Keuntungan yang didapat tentu tidak dengan cuma-Cuma. Angga merancang konsep Bujang Barbershop agar menarik bagi pelanggannya. Kapster atau penata rambut yang dipekerjakannya berasal dari profesional di bidangnya. Mereka memiliki bekal hair stylish paling up to date di era modern sekarang ini.
“Pelanggan bisa konsultasi dengan kapster untuk model rambut yang disesuaikan dengan bentuk kepala dan muka,” katanya.
Para kapster pun setiap bulan mendapat training khusus dari Angga untuk mengikuti model rambut paling terbaru. Kebetulan konsumen Bujang Barbershop mayoritas anak muda dan kalangan pekerja yang sangat fashionable. “Setiap bulan saya cekoki YouTube untuk pelajari model rambut paling terbaru,” katanya.
Untuk meningkatkan kepercayaan dan kesetiaan pelanggan, Bujang Barbershop menyediakan berbagai pelayanan yang menarik. Setiap selesai cukur rambut, pelanggan mendapat pelayanan pijit gratis.
Bagi yang menunggu disediakan ruang tunggu dengan berbagai majalah, diputarkan film Hollywood menarik, dan musik-musik yang tenang. “Kami juga sediakan kopi. Jadi kalau sedang ramai tidak bosanan menunggu,” ujar dia.
Hingga kini ia hanya memiliki tiga orang pegawai. Namun dalam sehari mampu melayani sedikitnya 20 orang pada hari biasa. Pada hari libur satu orang kapster mampu melayani hingga 40 orang. Meski tergolong ramai, konsumen hanya perlu membayar Rp 20 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.
Untuk penyemangat, Angga kerap memberi bonus kepada ketiga pekerjanya. Bagi yang mampu melayani hingga 30 orang sehari, Angga akan memberi bonus seperti gadget terbaru atau jalan-jalan gratis ke sejumlah tempat wisata. Terakhir Angga membawa pegawai beserta keluarga liburan ke Dunia Fantasi Ancol.
Angga tak hanya menyediakan jasa potong rambut tapi juga menjual pomade atau minyak rambut yang eksis di era 80-an. Kini pomade kembali eksis dan Bujang Barbershop kerap memberi diskon hingga 30 persen bagi pelanggan setia.
Pada saat-saat tertentu Angga mengajak pelanggannya berbagi kebahagiaan. Seperti pada bulan Ramadhan, Angga selalu menyediakan takjil berupa kurma, gorengan, dan teh manis untuk pelanggan berbuka puasa gratis.
Angga berharap ke depan usahanya semakin berkembang. Rencananya ayah satu anak ini akan membuka cabang di Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Kalau perkembangan di Bekasi semakin baik, saya mau buka di Kelapa Gading,” ujar dia.
Sempat Dirugikan Pegawai
Membangun sebuah usaha yang kuat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pelaku usaha kerap merugi hingga jutaan rupiah jika tidak pandai mengatur keuangan, pegawai, dan memberi pelayanan terbaik kepada pelanggan.
Hal ini pun dirasakan Angga Kesnha, pemilik Bujang Barbershop di Bekasi Utara, Jawa Barat. Angga pernah merugi hingga 50 persen dari penghasilannya sebulan Rp 10 juta. Itu karena perilaku pegawainya yang tak ramah kepada pelanggan.
Menurut Angga, pegawainya terlalu cepat memotong rambut pegawai sehingga pelanggannya tidak puas. Terkadang pegawainya salah memotong rambut pelanggan.
“Awalnya ngomongnya besar, tapi pas saya lihat ternyata kerjanya tidak beres. Pelanggan tidak puas, akhirnya dia kabur,” katanya.
Angga kembali berupaya membangun kepercayaan pelangganya. Belajar dari pengalaman tersebut, Angga menyeleksi pegawai secara ketat mulai dari pengalaman kerja hingga penilaian sikap dan perilaku. “Biasanya saya terapkan training supaya saya benar-benar tahu kelayakan calon pegawai itu dan tidak mengecewakan,” ujarnya.
Untuk kembali meningkatkan kepercayaan pelanggan, Angga menerapkan standar pelayanan, seperti menawarkan jasa konsultasi potong rambut, memberikan pelayanan pijat, dan tidak boleh memotong rambut dengan cepat dan terburu-buru. Pegawainya kerap dilatih untuk memberi pelayanan terbaik agar pelanggan puas. “Kalau buru-buru, pelanggan tidak puas dan potongan pun menjadi berantakan,” katanya.
BUJANG Barbershop
Nama : Angga Kesnha
Alamat barbershop : Jl. Krakatau Raya Blok AB3 Komplek SBS -Harapan Jaya Bekasi Utara
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 11 September 1984
Telepon : 082113330093
Pendidikan : Sarjana Komunikasi
Kontak lain : bujangbarbers fanpage,
Instagram : bujang_barbershop
via didikpurwanto.com
Jumat, 18 September 2015
Would you mind if I cooked naked for you?
If you really want to make me hornier, then...
Pelemahan Rupiah Bukan Krisis
Nilai tukar rupiah hingga perdagangan Kamis (17/9) kembali melemah tipis menjadi Rp 14.452 dibandingkan sebelumnya Rp 14.442 per dolar AS. Penurunan mata uang juga dialami ringgit Malaysia dan beberapa negara berkembang lainnya.
Pelemahan rupiah dan ringgit hampir menyentuh level terendahnya pada saat krisis keuangan Asia pada 1997-1998. Namun penurunan mata uang ke level terendah tersebut dianggap tidak memicu krisis.
Kepala ekonom Nomura Securities Co Tomo Kinoshita mengatakan, pelemahan rupiah justru akan membantu peningkatan ekspor. “Hal-hal yang fundamental sekarang berbeda dengan kondisi pada 1997,” katanya.
Pelemahan nilai tukar juga masih diperparah devaluasi yuan China dan di tengah rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Federal Reserve. Kebanyakan negara berkembang di Asia Tenggara justru mendapatkan surplus perdagangan, bukan defisit seperti pada 1990-an.
“Pihak berwenang telah memerkenalkan langkah-langkah kehati-hatian untuk menghindari krisis mata uang. Depresiasi mata uang merupakan faktor positif bagi eksportir dan daya saing di negara-negara Asia,” katanya.
Malaysia dan Korea Selatan telah mendapatkan surplus perdagangan setiap tahun sejak 1998. Cadangan devisa bisa terkumpul serta mampu membiayai impor.
Cadangan devisa Indonesia sudah lima kali lebih besar dibandingkan 1997 dan Thailand enam kali. “Di Asia masih banyak negara yang memiliki cadangan devisa lebih baik sehingga krisis keuangan Asia diperkirakan tak terulang. AS jelas masih kuat dan ini berita baik untuk perekonomian global,” kata Mantan direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Anoop Singh.
Cadangan untuk kawasan Asia termasuk peraturan perbankan yang diperketat setelah krisis keuangan Asia dan krisis global pada 2007-2009. “Kembali ke belakang, tanpa krisis keuangan Asia, sistem perbankan tak akan sekuat sekarang,” kata Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan.
Kepala ekonom DBS David Carbon menilai, rencana kenaikan suku bunga The Fed memang akan memicu investor asing kabur dari negara berkembang. Namun arus dana keluar dari Asia diperkirakan tak signifikan.
“Aliran dana yang keluar dari Asia beberapa minggu ke depan akan tergantung pada tiga hal yaitu kekuatan ekonomi AS, kelemahan ekonomi China, dan berapa banyak negara Asia yang turun seperti krisis keuangan 1997,” katanya.
“Jangan takut. AS tak sekuat yang kita percaya. China juga tak lemah dan Asia hari ini tak terlihat seperti 1997,” katanya.
IMF mengingatkan beberapa negara di Asia Tenggara berada dalam posisi yang lebih baik dari yang lain. IMF mengingatkan masih banyak negara yang memiliki utang perusahaan lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) seperti Malaysia dan Thailand.
Di sisi lain, utang perusahaan Malaysia dan Indonesia yang sebenarnya rentan terhadap guncangan justru memiliki posisi yang aman, yaitu 38 persen di Indonesia dan 32 persen di Malaysia. “Tidak ada alasan besar menjadi takut tentang prospek perekonomian Asia. Wilayah ini masih akan tetap aman dan menjadi salah satu yang paling cepat berkembang di dunia,” kata ekonom senior Capital Economics Ltd di Singapura Daniel Martin.
Sumber: Bloomberg
via didikpurwanto.com
Kamis, 17 September 2015
Ahmed dan Doktrin Kurikulum Guru
Mohamed Elhassan Mohamed atau yang akrab disapa Ahmed Mohamed, seorang siswa MacArthur High School, America Serikat menjadi buah bibir di seluruh dunia. Bahkan Presiden AS Barack Obama, Twitter, Majalah Time membicarakannya.
Siapa dia?
Ahmed hanyalah seorang siswa yang berniat memberi kejutan kepada gurunya berupa sebuah jam dengan fitur alarm yang dibuatnya sendiri. Namun sang guru Ahmed justru mencurigai bahwa alat tersebut dianggap bom. Ceritanya ada di sini.
Sang guru pun memanggil Kepala Polisi Distrik Irving, Larry Boid. Polisi tersebut sempat mengintrogasi Ahmed dan Ahmed mendapat hukuman diborgol di depan teman-teman sekelasnya serta dibawa ke tahanan remaja, meski akhirnya Ahmed berhasil dibebaskan karena tak ada bukti yang menunjukkan niat membuat bom.
Pihak sekolah dan kepolisian setempat beralasan, masyarakat Amerika Serikat masih ketakutan (fobia) terhadap alat menyerupai bom. Apalagi alat tersebut dibawa ke sekolah atau tempat umum. “Tentu saja kita sudah pernah melihat hal-hal buruk terjadi di negara kita. Jadi harus tetap waspada,”kata Boyd.
Sebenarnya ketakutan tersebut cukup beralasan. Namun ketakutan sang guru tersebut belum diketahui apakah murni karena alasan keamanan atau justru terkait agama. Ya, Ahmed seorang muslim. Di negara maju, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang anti terhadap muslim.
Apalagi selama ini negara maju menganggap muslim sebagai pelaku teror atau yang menyebarkan paham terorisme.
Lepas dari anggapan isu SARA (Suku, Agama, Ras, Adat) tersebut, sang guru seharusnya mengapresiasi apapun yang dibuat siswanya.
Pandangan miring dari guru terhadap siswa juga diungkap dalam film Fantastic 4. Saat itu Reed Richards kecil sedang mempresentasikan alat teleportasi (sebuah mesi yang mampu mengirim orang melewati jarak atau ruang) di depan kelas. Namun sang guru menganggap presentasi Reed terlalu mengada-ada karena kegiatan sekolah saat itu berkaitan dengan Hari Karir (Career Day).
“Bahkan jika kau bisa membangin hal yang kau tak bisa…,”kata guru itu yang langsung disanggah oleh Reed kecil,”Saya sudah membuat alat tersebut di garasi,”katanya.
“Apakah selanjutnya mobil terbang?” tanya guru itu yang langsung disambut tawa dari murid sekelas.
Reed lantas terus menjelaskan fungsi alat tersebut meski sangat susah diterima oleh sang guru, apalagi murid seumurannya. Namun sang guru langsung memotong pernyataan Reed kecil saat presentasi dan langsung menyuruhnya duduk kembali.
“Itu semua sangat menarik tapi tugasnya adalah untuk memilih karir yang nyata di dunia nyata. Kerjakan ulang laporanmu dan aku akan membiarkanmu mencobanya lagi besok,”kata guru tersebut.
Adegan pembuka film Fantastic 4 tersebut, bagiku, sangat keren. Guru, meski saya tidak menyebut kebanyakan guru bersifat seperti itu, hanya berkutat pada kurikulum.
Siswa kadang tidak diberikan kebebasan berkreasi sesuai minatnya dan cenderung dipaksa belajar apa yang sudah ada di kurikulum. Inilah yang menjadikan kita seolah terpaku pada kurikulum dan memicu otak kita tak berkreasi.
Lantas saya coba mencari tahu tanda pagar di Twitter #IStandWithAhmed. Ternyata begitu banyak yang bersimpati atas apa yang dilakukan Ahmed.
Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook berujar dalam akunnya. Kalian harus mengetahui kisah Ahmed, siswa 14 tahun di Texas yang membuat jam dan ditahan saat ia membawanya ke sekolah.
Memiliki sesuatu keterampilan dan ambisi membuat sesuatu seharusnya diapresiasi, bukan malah ditahan. Masa depan ada pada orang-orang seperti Ahmed.
Ahmed, jika kamu ingin datang ke Facebook, aku sangat ingin bertemu. Teruslah berkreasi.
Twitter dalam akun resminya juga menyatakan mengundang Ahmed dalam sebuah kerja magang.
Yang menarik, orang nomor satu di Amerika Serikat, Barack Obama pun akhirnya berkoar atas diskriminasi yang dialami Ahmed.
Semoga saja dunia semakin damai dengan tidak ada yang fobia Islam. Satu lagi, guru juga bisa diajarkan menghargai siswanya. Tak melulu mengajarkan doktrin kurikulum yang justru mengungkung kreativitas siswanya.
via didikpurwanto.com