Bisnis PC Vaio yang baru dilepas oleh Sony ternyata punya sejarah unik yang melibatkan Apple dan pendirinya, Steve Jobs.
Hal ini diungkapkan oleh Kunitako Ando, mantan presiden Sony dalam sebuah cerita yang dikutip oleh The Verge. Alkisah, pada 2001, Ando bermain bermain golf bersama eksekutif Sony lainnya di Hawaii.
"Pada
akhir permainan, Steve Jobs dan sejumlah petinggi lain dari Apple telah
menunggu kami. Jobs memegang laptop Sony Vaio yang menjalankan Mac OS,"
tutur Ando.
Sebelumnya, saat kembali ke Apple pada 1997, Jobs
menutup bisnis "kloning" Macintosh yang melisensi sistem operasi Apple
untuk dipakai di komputer buatan perusahaan lain. Jobs menilai bisnis
ini merusak ekosistem dan brand Mac.
Seluruh produsen
komputer selain Apple pun tak boleh memakai Mac OS lagi, kecuali Sony.
Menurut Ando, ini karena Jobs mengagumi lini notebook Vaio sehingga
"bersedia membuat pengecualian".
Tapi waktunya ketika itu kurang
tepat. Penjualan laptop berbasis Windows milik Sony sedang mulai
menanjak. Hardware komputer ini pun dioptimalkan untuk platform besutan
Microsoft tersebut. Pada akhirnya, negosiasi antara Sony dan Apple gagal
membuahkan kolaborasi laptop Vaio dan Mac OS.
Jobs sendiri
memang dikenal dekat dengan Sony. Pendiri Apple ini mengagumi pendiri
Sony, Akio Morita, dan pernah menyatakan belasungkawa saat Morita
meninggal dunia pada 1999.
Apple juga disebut menggunakan laptop
Sony Vaio untuk keperluan pengujian saat masa transisi dari hardware
berbasis PowerPC ke prosesor Intel.
Kini, Sony telah memutuskan
untuk menjual unit bisnis Vaio ke perusahaan investasi Japan Industrial
Partners (JIP). Nilai penjualan tidak diungkapkan, tetapi harian Nikkei
memprediksi besar angkanya mencapai 490 juta dollar AS.
Andai saja saat itu Sony "melepas" Vaio memakai Mac OS, mungkin nasibnya tak akan seperti ini. Selamat tinggal, Sony Vaio.
Sumber: Kompas.com
Kamis, 06 Februari 2014
Sony Pernah Akan Pakai Mac OS
Bitcoin Bukan Alat Pembayaran Sah
Bank Indonesia (BI) akhirnya
resmi memberikan sikap terhadap alat pembayaran virtual yang belakangan mulai
digunakan, bitcoin.
Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacob mengatakan, sikap itu diambil dengan mengacu pada Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009.
"BI menyatakan bahwa bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/2).
BI mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap bitcoin dan virtual currency lainnya. "Segala risiko terkait kepemilikan atau penggunaan bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik atau pengguna bitcoin dan virtual currency lainnya," lanjutnya.
BI akhirnya mengambil sikap mengenai bitcoin, setelah selama ini melakukan kajian mengenai alat pembayaran virtual tersebut. Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis dan Humas BI Difi A Johansyah saat itu melakukan kajian atas transaksi pembayaran dengan menggunakan bitcoin guna melihat efektivitas penggunaan mata uang virtual tersebut terhadap peredaran rupiah.
"Bitcoin ini nilainya dapat berubah-ubah, bisa naik dan turun, yang dinamikanya sedang diteliti oleh BI. Motif penggunaan bitcoin, lihat landasan hukum penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran dan berbagai risiko dalam penggunaan bitcoin tersebut," kata Difi.
Selama ini, segala bentuk alat maupun sistem pembayaran baik berupa fisik maupun uang elektronik (e-money) harus digunakan dengan izin dari BI. Adapun bitcoin, ujar Difi, belum terdapat permintaan untuk memakai bitcoin sebagai alat pembayaran.
Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacob mengatakan, sikap itu diambil dengan mengacu pada Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009.
"BI menyatakan bahwa bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/2).
BI mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap bitcoin dan virtual currency lainnya. "Segala risiko terkait kepemilikan atau penggunaan bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik atau pengguna bitcoin dan virtual currency lainnya," lanjutnya.
BI akhirnya mengambil sikap mengenai bitcoin, setelah selama ini melakukan kajian mengenai alat pembayaran virtual tersebut. Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis dan Humas BI Difi A Johansyah saat itu melakukan kajian atas transaksi pembayaran dengan menggunakan bitcoin guna melihat efektivitas penggunaan mata uang virtual tersebut terhadap peredaran rupiah.
"Bitcoin ini nilainya dapat berubah-ubah, bisa naik dan turun, yang dinamikanya sedang diteliti oleh BI. Motif penggunaan bitcoin, lihat landasan hukum penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran dan berbagai risiko dalam penggunaan bitcoin tersebut," kata Difi.
Selama ini, segala bentuk alat maupun sistem pembayaran baik berupa fisik maupun uang elektronik (e-money) harus digunakan dengan izin dari BI. Adapun bitcoin, ujar Difi, belum terdapat permintaan untuk memakai bitcoin sebagai alat pembayaran.
Awal Mula Bitcoin
Bitcoin ditemukan oleh Satoshi Nakamoto. Diduga sosok ini
adalah nama samaran yang bisa jadi digunakan oleh sekelompok orang. Identitas
aslinya masih belum diketahui.
Mata uang ini menawarkan kepemilikan utuh tanpa perlunya
ikatan dengan pihak ketiga baik dari swasta dan pemerintah, menjadi daya tarik
tersendiri bagi penggunanya. Tapi seiring berjalannya waktu, hal ini disadari
sebagai kelemahan mata uang yang ditemukan pada 2009 ini.
Bitcoin menjadi sangat berguna bagi para pelaku kejahatan
yang ingin menyembunyikan uang hasil kejahatannya. Karena jika mereka menyimpan
uang di bank, uang hasil kejahatannya dapat dengan mudah terlacak.
Bitcoin juga dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang
ingin menyembunyikan pendapatannya dari pemerintah, dan menghindari kewajiban
membayar pajak. Lantas, pendapatan negara dari pajak itu akan hilang karena
uang yang tidak terlacak.
Tidak hanya pada tindakan kriminal semata, kekurangan
bitcoin paling mendasar juga terjadi karena bentuknya yang tidak riil.
Meskipun bentuknya tidak riil, bukan berarti bitcoin bebas
dari pencurian. Salah satu contoh pencurian dialami oleh Sheep Marketplace,
sebuah situs web ilegal jual beli obat terlarang, yang kehilangan US$ 220 dalam
bitcoin akibat ulah para peretas sistem komputer.
Belum lagi ketidakstabilan nilai mata uang bitcoin jika
dikonversi ke mata uang konvensional lainnya yang sangat fluktuatif. Hari ini,
boleh jadi pemilik bisa sangat kaya dengan memiliki bitcoin senilai US$ 1.000.
Namun, siapa yang tahu jika di kemudian hari nilai uang tersebut hanya tersisaUS$
50.
Desember lalu, Bank Sentral China sudah melarang penggunaan
bitcoin. Begitu juga dengan Bank Sentral Malaysia yang melarang sejak Januari
2014.
Sabtu, 01 Februari 2014
Google Jual Motorola ke Lenovo
Lenovo telah mengumumkan kesepakatan dengan Google untuk membeli divisi handset
Motorola senilai 2,91 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 trilliun.
Pembelian tersebut merupakan transaksi teknologi terbesar yang dilakukan
Lenovo sejauh ini.
Sebelumnya, memang telah terdapat "tanda-tanda" bahwa Google akan melepas Motorola setelah mengakuisisi perusahaan ini pada 2012 lalu senilai 12,5 miliar dollar AS. Ketika itu, banyak yang menduga bahwa tujuan Google tak lain adalah menguasai portfolio paten mobile milik Motorola yang berjumlah sekitar 17.000.
Tapi alasan sebenarnya mungkin lebih dari itu. Christopher Mims dari Quartz menduga bahwa dulu Google membeli Motorola untuk mengimbangi Samsung yang telah meraksasa di ranah Android.
Hubungan antara Google dan Samsung memang agak unik. Di satu sisi, Google diuntungkan oleh penyebarluasan Android lewat handset Samsung. Akan tetapi, posisi Samsung yang terlalu mendominasi ekosistem Android disinyalir membuat khawatir raksasa internet itu.
Di sisi lain, Samsung telah menunjukkan sinyalemen bahwa pihaknya tak mau terlalu tergantung dengan platform Android besutan Google. Hubungan Samsung-Google menegang setelah Google membeli divisi handset Motorola, terlebih setelah Motorola menelurkan model-model Android ciamik seperi Moto X dan Moto G.
Akusisi atas Motorola menjadikan Google bukan hanya kawan Samsung, tapi juga lawannya secara langsung di bisnis perangkat keras. Produsen elektronik Korea tersebut lantas meningkatkan tekanan terhadap Google dengan merilis OS mobile buatan sendiri dengan nama Tizen.
Rujuk
Belakangan, Samsung dan Google terlihat "rujuk" melalui kerja sama lisensi paten. Minggu ini Samsung juga menyatakan bakal berhenti menyediakan layanan yang serupa milik Google di handset buatannya.
Layanan dimaksud antara lain toko aplikasi Samsung Hub dan Media Hub yang ditempatkan di muka interface berbagai seri handset Galaxy. Kedua layanan tersebut mengancam layanan Google Play dan media library di Android karena memiliki fungsi yang mirip.
Samsung juga menebar berbagai aplikasi inti yang serupa dengan pilihan default di Android, termasuk browser, sistem e-mail, notifikasi, messaging, dan lain-lain. Akibatnya, pengguna handset Samsung harus memilih aplikasi mana yang akan dipakai: milik Samsung atau Google?
Kini, dengan berhentinya Samsung meniru layanan-layanan tersebut, kebingungan tak akan terjadi lagi. Segera setelah pemberitahuan Samsung, Google mengumumkan bakal menjual Motorola ke Lenovo sehingga tak lagi menjadi pesaing Samsung di bisnis handset.
Apakah ada kaitan di balik penjualan Motorola dengan perjanjian kerjasama Google-Samsung? Apakah itu harga yang harus "dibayar" agar Samsung setia dengan Android?
Motorola di Lenovo
Lalu, apa yang akan terjadi dengan Motorola setelah dibeli Lenovo? Produsen asal China ini memiliki posisi yang kuat di negara-negara berkembang, sementara Moto G banyak disebut sebagai handset Android murah terbaik.
Dengan membeli Motorola, Lenovo membuka jalan ke wilayah-wilayah pasar di Amerika Tengah dan Utara dimana Moto X dan Moto G disambut baik oleh konsumen. Boleh jadi, Lenovo akan memperbarui Moto X dan Moto G tahun ini, dan menjadikannya sebagai produk andalan.
"Kami akan menggunakan mereknya (Motorola) untuk meningkatkan bisnis kami. Brand Motorola juga sangat kuat di China," ujar CEO Lenovo Yang Yuanqing.
Apapun yang dilakukan Lenovo, Google akan menciptakan kompetitor untuk Samsung yang dikepalai oleh mantan orang Google (CEO Motorola Dennis Woodside), setidaknya untuk saat ini. Lenovo yang juga merupakan produsen PC terbesar di dunia pun telah terbukti mampu sukses di bisnis hardware dengan margin tipis.
Sumber: Kompas.com
Sebelumnya, memang telah terdapat "tanda-tanda" bahwa Google akan melepas Motorola setelah mengakuisisi perusahaan ini pada 2012 lalu senilai 12,5 miliar dollar AS. Ketika itu, banyak yang menduga bahwa tujuan Google tak lain adalah menguasai portfolio paten mobile milik Motorola yang berjumlah sekitar 17.000.
Tapi alasan sebenarnya mungkin lebih dari itu. Christopher Mims dari Quartz menduga bahwa dulu Google membeli Motorola untuk mengimbangi Samsung yang telah meraksasa di ranah Android.
Hubungan antara Google dan Samsung memang agak unik. Di satu sisi, Google diuntungkan oleh penyebarluasan Android lewat handset Samsung. Akan tetapi, posisi Samsung yang terlalu mendominasi ekosistem Android disinyalir membuat khawatir raksasa internet itu.
Di sisi lain, Samsung telah menunjukkan sinyalemen bahwa pihaknya tak mau terlalu tergantung dengan platform Android besutan Google. Hubungan Samsung-Google menegang setelah Google membeli divisi handset Motorola, terlebih setelah Motorola menelurkan model-model Android ciamik seperi Moto X dan Moto G.
Akusisi atas Motorola menjadikan Google bukan hanya kawan Samsung, tapi juga lawannya secara langsung di bisnis perangkat keras. Produsen elektronik Korea tersebut lantas meningkatkan tekanan terhadap Google dengan merilis OS mobile buatan sendiri dengan nama Tizen.
Rujuk
Belakangan, Samsung dan Google terlihat "rujuk" melalui kerja sama lisensi paten. Minggu ini Samsung juga menyatakan bakal berhenti menyediakan layanan yang serupa milik Google di handset buatannya.
Layanan dimaksud antara lain toko aplikasi Samsung Hub dan Media Hub yang ditempatkan di muka interface berbagai seri handset Galaxy. Kedua layanan tersebut mengancam layanan Google Play dan media library di Android karena memiliki fungsi yang mirip.
Samsung juga menebar berbagai aplikasi inti yang serupa dengan pilihan default di Android, termasuk browser, sistem e-mail, notifikasi, messaging, dan lain-lain. Akibatnya, pengguna handset Samsung harus memilih aplikasi mana yang akan dipakai: milik Samsung atau Google?
Kini, dengan berhentinya Samsung meniru layanan-layanan tersebut, kebingungan tak akan terjadi lagi. Segera setelah pemberitahuan Samsung, Google mengumumkan bakal menjual Motorola ke Lenovo sehingga tak lagi menjadi pesaing Samsung di bisnis handset.
Apakah ada kaitan di balik penjualan Motorola dengan perjanjian kerjasama Google-Samsung? Apakah itu harga yang harus "dibayar" agar Samsung setia dengan Android?
Motorola di Lenovo
Lalu, apa yang akan terjadi dengan Motorola setelah dibeli Lenovo? Produsen asal China ini memiliki posisi yang kuat di negara-negara berkembang, sementara Moto G banyak disebut sebagai handset Android murah terbaik.
Dengan membeli Motorola, Lenovo membuka jalan ke wilayah-wilayah pasar di Amerika Tengah dan Utara dimana Moto X dan Moto G disambut baik oleh konsumen. Boleh jadi, Lenovo akan memperbarui Moto X dan Moto G tahun ini, dan menjadikannya sebagai produk andalan.
"Kami akan menggunakan mereknya (Motorola) untuk meningkatkan bisnis kami. Brand Motorola juga sangat kuat di China," ujar CEO Lenovo Yang Yuanqing.
Apapun yang dilakukan Lenovo, Google akan menciptakan kompetitor untuk Samsung yang dikepalai oleh mantan orang Google (CEO Motorola Dennis Woodside), setidaknya untuk saat ini. Lenovo yang juga merupakan produsen PC terbesar di dunia pun telah terbukti mampu sukses di bisnis hardware dengan margin tipis.
Sumber: Kompas.com
Facebook Siap Saingi Google
Google masih tidak terkalahkan sebagai perusahaan mesin pencari. Namun dalam 10 tahun mendatang, Facebook akan menyainginya.
Facebook benar-benar memikirkan masa depan bisnisnya. Di tengah isu penurunan jumlah pengguna situs jejaring sosial itu, Facebook menyatakan seruannya ingin menyaingi Google.
CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada analis Wall Street seperti dirilis Business Insider pekan ini saat mengumumkan kinerja kuartal IV-2013 bila situs besutannya akan menantang Google dalam bisnis mesin pencari (search engine).
Hingga saat ini, Google belum terkalahkan dalam bisnis mesin pencari. Walau ingin menyaingi, Facebook akan menyiapkan amunisi baru meski dalam bisnis yang hampir mirip.
Ada tiga hal yang diungkapkan Zuckerberg tentang perusahaannya di masa depan. Pertama, Facebook mengklaim memiliki indeks data lebih banyak dibanding dengan mesin pencari lainnya. Kedua, Facebook memiliki fitur Graph Search, si mesin pencari khasnya.
Ketiga, produk akhir ini akan dirilis pada perangkat bergerak (mobile) sehingga pengguna akan dapat memanfaatkan fitur ini di pengenalan suara (voice recognition) melalui ponselnya. Zuckerberg ingin benar-benar dapat menyaingi Google dalam 10 tahun mendatang.
Saat ditanya analis tentang fitur Graph Search, Zuckerberg sebenarnya masih malu-malu. Fungsi mesin pencari antara milik Google dan Facebook belum ditemukan secara rinci perbedaannya.
Zuckerberg menganggap bahwa mesin pencari besutan Google hanya akan lebih menampilkan hasil lebih nyata tentang kata kunci yang dicari melalui mesinnya. Sedangkan fitur Graph Search milik Facebook akan memberi jawaban atas pertanyaan yang tidak tetap atau tidak jelas, misalnya apa restoran favorit teman-teman saya?
Zuckerberg mengklaim Google tidak akan mampu menyediakan jawaban atas pertanyaan itu. Sementara Facebook akan memberikannya.
Graph Search
Pendiri Facebook menilai keunikan fitur Graph Search yang akan dirilisnya ini adalah situs jejaring tersebut memiliki satu triliun koneksi yang menghubungkan semua orang, kepentingan, acara dan apa pun yang terkait pertemanan manusia di dunia.
Fitur Graph Search ini juga akan menghubungkan satu triliun update status, posting teks, foto hingga potongan konten yang sudah dikirimkan pengguna Facebook sejak 10 tahun terakhir.
"Kami mengklaim memiliki basis data yang lebih besar dari Google. Kami tidak mengatakan ini sebagai mesin pencari (search engine) tapi mesin pencari web (web search engine). Ini bisa diartikan mesin pencari Google masih terbatas, sementara Facebook akan lebih berpengalaman dalam hal ini," kata Zuckerberg.
Keyakinan Bisnis
Zuckerberg sudah memiliki keyakinan besar saat membuat Facebook. Hingga saat ini, jumlah penggunanya sudah mencapai 1,2 miliar lebih di seluruh dunia.
Memang saat Facebook meramaikan situs jejaring sosial, Google pun ikut serta dengan membuat Google+, namun ternyata situs jejaring itu malah tidak laku. Sedangkan mesin pencari Bing milik Yahoo diklaim hanya sebagian bisnis kecil dari Google.
Namun dengan klaim Zuckerberg tadi, apakah mungkin mesin pencari web besutan Facebook akan mengalahkan raja mesin pencari Google? Ini jawaban Mark Zuckerberg.
Cara kami berpikir tentang bisnis ini adalah kami melihat begitu banyak konten yang telah dibagikan di Facebook dan kami akan membuat infrastrukturnya, membuat indeks, membuat peringkat dan akan memudahkan pengguna dalam mencarinya.
Aku sudah bicara dengan beberapa orang terkait bisnis ini, terutama seorang profesor di Universitas New York dan saya mengajak profesor tersebut bergabung dengan bisnis tersebut. Ini adalah kelompok riset jangka panjang yang kami miliki dan ini akan masuk dalam strategi jangka panjang, mungkin dalam 10 tahun mendatang.
Tujuan dari bisnis ini adalah benar-benar hanya mencoba memahami bagaimana segala sesuatu di Facebook bisa terhubung. Kami berusaha memahami saat pengguna menulis status, berbagi konten, foto, video hingga bisa berbagi melalui pesan instan baik melalui tulisan maupun suara. Ini akan memudahkan pengguna.
Ini adalah beberapa tugas besar yang akan kami lakukan bersama tim dari waktu ke waktu. Kami akan memiliki implikasi yang jelas untuk produk yang akan kita lakukan. Tapi seiring waktu kita akan mulai memahami arti dari semua konten yang sudah dibagikan pengguna, bahwa kita akan memberikan pengalaman yang jauh lebih relevan bagi orang-orang di seluruh dunia.
Secara internal, kami juga sudah memiliki rencana dalam tiga tahun, lima tahun hingga strategi 10 tahun. Untuk rencana tiga tahun pun, kami sudah menyiapkan rencana baru dan untuk rencana lima tahun, kami akan membantu orang-orang yang berada dalam jaringan kami untuk menjawab pertanyaan apa yang mereka ajukan dan memecahkan masalah yang mereka miliki.
Facebook benar-benar memikirkan masa depan bisnisnya. Di tengah isu penurunan jumlah pengguna situs jejaring sosial itu, Facebook menyatakan seruannya ingin menyaingi Google.
CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada analis Wall Street seperti dirilis Business Insider pekan ini saat mengumumkan kinerja kuartal IV-2013 bila situs besutannya akan menantang Google dalam bisnis mesin pencari (search engine).
Hingga saat ini, Google belum terkalahkan dalam bisnis mesin pencari. Walau ingin menyaingi, Facebook akan menyiapkan amunisi baru meski dalam bisnis yang hampir mirip.
Ada tiga hal yang diungkapkan Zuckerberg tentang perusahaannya di masa depan. Pertama, Facebook mengklaim memiliki indeks data lebih banyak dibanding dengan mesin pencari lainnya. Kedua, Facebook memiliki fitur Graph Search, si mesin pencari khasnya.
Ketiga, produk akhir ini akan dirilis pada perangkat bergerak (mobile) sehingga pengguna akan dapat memanfaatkan fitur ini di pengenalan suara (voice recognition) melalui ponselnya. Zuckerberg ingin benar-benar dapat menyaingi Google dalam 10 tahun mendatang.
Saat ditanya analis tentang fitur Graph Search, Zuckerberg sebenarnya masih malu-malu. Fungsi mesin pencari antara milik Google dan Facebook belum ditemukan secara rinci perbedaannya.
Zuckerberg menganggap bahwa mesin pencari besutan Google hanya akan lebih menampilkan hasil lebih nyata tentang kata kunci yang dicari melalui mesinnya. Sedangkan fitur Graph Search milik Facebook akan memberi jawaban atas pertanyaan yang tidak tetap atau tidak jelas, misalnya apa restoran favorit teman-teman saya?
Zuckerberg mengklaim Google tidak akan mampu menyediakan jawaban atas pertanyaan itu. Sementara Facebook akan memberikannya.
Graph Search
Pendiri Facebook menilai keunikan fitur Graph Search yang akan dirilisnya ini adalah situs jejaring tersebut memiliki satu triliun koneksi yang menghubungkan semua orang, kepentingan, acara dan apa pun yang terkait pertemanan manusia di dunia.
Fitur Graph Search ini juga akan menghubungkan satu triliun update status, posting teks, foto hingga potongan konten yang sudah dikirimkan pengguna Facebook sejak 10 tahun terakhir.
"Kami mengklaim memiliki basis data yang lebih besar dari Google. Kami tidak mengatakan ini sebagai mesin pencari (search engine) tapi mesin pencari web (web search engine). Ini bisa diartikan mesin pencari Google masih terbatas, sementara Facebook akan lebih berpengalaman dalam hal ini," kata Zuckerberg.
Keyakinan Bisnis
Zuckerberg sudah memiliki keyakinan besar saat membuat Facebook. Hingga saat ini, jumlah penggunanya sudah mencapai 1,2 miliar lebih di seluruh dunia.
Memang saat Facebook meramaikan situs jejaring sosial, Google pun ikut serta dengan membuat Google+, namun ternyata situs jejaring itu malah tidak laku. Sedangkan mesin pencari Bing milik Yahoo diklaim hanya sebagian bisnis kecil dari Google.
Namun dengan klaim Zuckerberg tadi, apakah mungkin mesin pencari web besutan Facebook akan mengalahkan raja mesin pencari Google? Ini jawaban Mark Zuckerberg.
Cara kami berpikir tentang bisnis ini adalah kami melihat begitu banyak konten yang telah dibagikan di Facebook dan kami akan membuat infrastrukturnya, membuat indeks, membuat peringkat dan akan memudahkan pengguna dalam mencarinya.
Aku sudah bicara dengan beberapa orang terkait bisnis ini, terutama seorang profesor di Universitas New York dan saya mengajak profesor tersebut bergabung dengan bisnis tersebut. Ini adalah kelompok riset jangka panjang yang kami miliki dan ini akan masuk dalam strategi jangka panjang, mungkin dalam 10 tahun mendatang.
Tujuan dari bisnis ini adalah benar-benar hanya mencoba memahami bagaimana segala sesuatu di Facebook bisa terhubung. Kami berusaha memahami saat pengguna menulis status, berbagi konten, foto, video hingga bisa berbagi melalui pesan instan baik melalui tulisan maupun suara. Ini akan memudahkan pengguna.
Ini adalah beberapa tugas besar yang akan kami lakukan bersama tim dari waktu ke waktu. Kami akan memiliki implikasi yang jelas untuk produk yang akan kita lakukan. Tapi seiring waktu kita akan mulai memahami arti dari semua konten yang sudah dibagikan pengguna, bahwa kita akan memberikan pengalaman yang jauh lebih relevan bagi orang-orang di seluruh dunia.
Secara internal, kami juga sudah memiliki rencana dalam tiga tahun, lima tahun hingga strategi 10 tahun. Untuk rencana tiga tahun pun, kami sudah menyiapkan rencana baru dan untuk rencana lima tahun, kami akan membantu orang-orang yang berada dalam jaringan kami untuk menjawab pertanyaan apa yang mereka ajukan dan memecahkan masalah yang mereka miliki.
Sabtu, 25 Januari 2014
Samsung dalam Tekanan Apple
Samsung mengklaim alasan penurunan laba operasional karena
perusahaan memberi bonus ke karyawan sebesar 800 miliar won atau sekitar US$
745 juta. Alasan pemberian bonus ini untuk memperingati 20 tahun setelah Ketua
Samsung Lee Kun Hee mengumumkan strategi manajemen baru yang menganggap
karyawan sebagai katalis pertumbuhan perusahaan.
Penurunan laba operasional ini semakin menekan Samsung.
Apalagi investor perusahaan teknologi asal Negeri Ginseng ini menekan direksi
agar mampu membuat percepatan bisnis. Direksi juga telah berjanji ke investor
untuk memberi keuntungan deviden US$ 2 miliar, dua kali lipat dibandingkan
dengan sebelumnya dan ini menjadi rekor baru dalam pemberian deviden di
Samsung.
Investor juga menekan direksi agar memberikan keuntungan lebih
baik dari sisi penjualan televisi, ponsel cerdas (smartphone) dan chip
memori. Namun, Samsung enggan mengubah kebijakan pembayaran deviden lebih sebab
hasil keuntungan akan lebih diinvestasikan ke pertumbuhan perusahaan masa
mendatang.
Tahun ini pangsa pasar Samsung juga makin tertekan, terutama
oleh pesaing utama, Apple. Perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs tersebut
mulai menjual iPhone melalui China Mobile Ltd, operator terbesar dengan
pelanggan terbanyak di dunia.
Jika rencana Apple berhasil untuk bekerja sama dengan China
Mobile, jumlah pengguna iPhone di Negeri Tirai Bambu tersebut akan meroket.
Sampai saat ini, iOS, sistem operasi besutan Apple masih mendominasi perangkat
ponsel di China. Tentunya, hal ini menjadi ancaman bagi Samsung yang masih
setia dengan sistem operasi Android besutan Google.
Dalam laporan keuangan, Samsung juga menyebut alasan
penurunan laba operasional karena penjualan iPhone buatan Apple mulai melesat,
terutama sepanjang musim liburan akhir tahun di Amerika Serikat dan Jepang.
Meski mulai kalah dalam hal penjualan ponsel cerdas di akhir
2013, Samsung mulai memberikan rasio pembayaran deviden hingga dua kali lipat
menjadi 1 persen. Nilai tersebut hanya kalah tipis dengan Apple yang memberikan
rasio pembayaran deviden sebesar 2 persen kepada investornya.
"Rasio pembayaran deviden tahun 2013 sudah meningkat
signifikan. Tapi kami tidak bisa mengatakan secara pasti berapa banyak kita
akan membayar (ke investor)," kata Head of Investor Relations Samsung
Robert Yi seperti dikutip Reuters.
Produsen ponsel dari Korea Selatan ini mengumumkan deviden
per saham sebesar 14.300 won sepanjang 2013 atau total 2,1 triliun won (sekitar
US$ 2 miliar). Jumlah tersebut 79 persen lebih banyak dibandingkan dengan deviden
tahun sebelumnya, tetapi hanya 6,9 persen dari laba 2013.
"Samsung jelas dalam tekanan investor," kata Fund
Manager HDC Asset Management Park Jung Hoon.
Dengan nilai saham Samsung yang terus turun, Jung Hoon
menilai Samsung harus terus mempertimbangkan langkah-langkah tambahan seperti
rencana pembelian saham kembali untuk mengatasi tekanan pemegang saham.
Saham Samsung terus menurun hingga Jumat (24/1) senilai US$
204 miliar, naik 0,62 persen dibandingkan dengan Indeks Kospi yang melemah 0,36
persen. Saham Samsung telah jatuh 8,8 persen di Desember 2013 akibat
kekhawatiran perlambatan pertumbuhan penjualan ponselnya.
"Tahun ini akan menjadi tahun yang menantang bagi
Sammsung untuk meningkatkan pendapatan khususnya di kuartal I-2014 sebagai efek
pelemahan industri telekomunikasi (IT), baik permintaan komponen maupun produk
televisi," tambah Robert Yi.
Penjualan Ponsel
Mengecewakan
Samsung tahun ini akan menganggarkan belanja modal sebesar
23,8 triliun won, relatif sama dengan belanja modal di 2013. Namun, pengeluaran
untuk biaya pemasaran akan dipangkas untuk menyiasati kenaikan laba
operasional.
"Kami secara aktif akan memanfaatkan acara olahraga
global seperti Olimpiade dan saluran ritel kami. Tapi kami akan mencoba untuk
meningkatkan efisiensi biaya pemasaran kami dan menurunkan anggaran mobile marketing secara keseluruhan agar
pendapatan dan laba tetap terjaga," kata Senior Vice President Samsung
Mobile Business Kim Hyun Joon.
Laba operasional di divisi mobile stagnan di 5,47 triliun won, tetapi turun 18 persen
dibandingkan dengan laba operasional di kuartal III-2013 yang masih tercatat
6,7 triliun won.
Penurunan laba operasional divisi mobile ini karena penjualan ponsel terutama ponsel Samsung seri
Galaxy S4 kurang mencapai target. Laba operasional khusus dari ponsel Galaxy S4
anjlok 90 persen menjadi 110 miliar won.
Samsung mengatakan tanpa penjelasan lebih lanjut bahwa smartphone akan masih menjadi
kontributor laba terbesar perusahaan, di samping masih akan memperluas pasar
tablet di segmen menengah ke bawah (low
end) dan layar lebih besar.
Selasa, 21 Januari 2014
Jaringan ATM Terancam Bahaya
Microsoft akan menghentikan dukungan teknis untuk Windows XP pada 8 April 2014. Imbasnya, 95 persen jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di dunia yang masih menggunakan sistem operasi Windows XP akan terancam bahaya.
Penghentian dukungan teknis untuk Windows XP tersebut menimbulkan ketiadaan update terbaru, termasuk sistem keamanan untuk perlindungan sistem dari virus, spyware atau software berbahaya lainnya.
"Akan ada banyak mesin ATM yang berbagai komponennya harus di-upgrade atau tidak dipakai lagi dan dijual ke pasar barang bekas atau bahkan dibuang sama sekali," kata editor ATM Marketplace Suzanne Cluckey, seperti dikutip Bloomberg Businessweek.
Jika sebuah mesin ATM tidak di-upgrade, mesin tersebut tetap akan berfungsi sebagaimana mestinya, namun mesin-mesin tersebut akan lebih rentan terhadap berbagai tindak kejahatan cyber dan serangan lain.
Untuk memperbarui sistem operasi mesin ATM dari Windows XP menjadi Windows 7 atau sistem operasi lain yang lebih baru akan menghadapi beberapa kendala. "Hanya sedikit mesin ATM yang mampu melakukan upgrade tersebut," kata Kepala Eksekutif Penyedia Software ATM KAL Aravinda Korala.
Di AS, hanya sekitar 15 persen dari 420.000 mesin ATM yang sudah akan menggunakan OS Windows 7 saat April nanti. "ATM yang tersebar di dunia belum akan benar-benar siap. ATM berjalan lebih lambat daripada komputer pribadi," katanya.
Berdasarkan firma konsultasi Retail Banking Research, jumlah total seluruh mesin ATM yang ada di dunia mencapai sekitar 3 juta mesin. Sedangkan biaya untuk meng-upgrade satu mesin ATM Windows XP menjadi Windows 7 bisa berkisar antara beberapa dollar AS jika masih cocok, hingga ribuan dollar AS jika membutuhkan komponen baru.
Masih Ditinjau Ulang
General Manajer Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha mengatakan, masih harus meninjau kembali kabar terkait penghentian dukungan teknis kepada Windows XP ini. “Masih harus dilihat dulu apakah penghentian itu berlaku di luar negeri saja atau juga di Indonesia,” kata Steve.
Menurutnya, Microsoft terkadang memiliki kebijakan yang berbeda antara Micrososft dunia, Microsoft Asia, ataupun Microsoft Indonesia. Tidak hanya Microsoft, Oracle Service juga memiliki kebijakan seperti itu. “Jadi kebijakan yang diberlakukan oleh Microsoft dunia belum tentu berlaku di Indonesia, begitu juga sebaliknya,” katanya.
Steve mengatakan, jika memang kabar penghentian dukungan teknis itu benar dan berlaku di Indonesia, bank yang menggunakan sistem Windows XP tersebut harus segera mengganti software-nya. Namun, Steve juga mengingatkan, di Indonesia sendiri tidak semua bank menggunakan ATM dengan sistem operasi Windows XP.
“Misalnya seperti Diebold, dia menggunakan sistem sendiri. Mestinya tidak menjadi masalah,” kata Steve.
Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, penghentian dukungan dari sebuah vendor teknologi informatika (TI) bukan merupakan hal yang baru. Setiap tahun vendor TI akan menghentikan layanan dukungan pada produk yang lama setelah mereka mengeluarkan yang baru. “Hal ini biasa terjadi di semua software jadi Windows bukan yang pertama,” katanya.
BCA akan menggunakan versi Windows terbaru secara bertahap, dimulai dari pembelian ATM, PC, atau server yang baru. Sedangkan untuk ATM yang saat ini menggunakan Windows XP, akan diganti dengan versi terbaru pada saat peremajaan ATM.
Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Muhamad Ali mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan vendor-vendor mesin ATM yang digunakannya terkait adanya penghentian dukungan teknis dari Microsoft untuk Windows XP. “Dalam jangka pendek kami akan berkoordinasi dengan tiga vendor yaitu Hyosung, Wincor, dan NCR serta TSI. Tentunya untuk membahas langkah ke depan,” katanya.
Sabtu, 18 Januari 2014
BlackBerry Buntung, Kanada Limbung
Analis Pasar Uang di Amundi Asset Management yang berbasis di London, James Kwok mengatakan, tahun lalu perekonomian Kanada tumbuh paling lambat sejak resesi 2008. Pelemahan perekonomian itu sebagai buntut panjang defisit perdagangan sejak 25 tahun berturut-turut.
Negara produsen BlackBerry ini dipaksa untuk memberikan diskon ekspor terbesarnya, minyak mentah hingga harus memotong operasional BlackBerry agar bisa bersaing dengan produk ponsel lain.
Laporan terbaru pekan lalu menunjukkan defisit perdagangan Kanada tercatat sembilan kali lebih dibanding pendapatan negaranya. Mata uang dolar Kanada juga turun terendah selama empat tahun terakhir di level C$ 1,0991 di Kamis (16/1).
Kwok bertaruh pelemahan ini hanya awal dan diperkirakan akan melemah kembali dalam sembilan bulan mendatang.
"Apalagi sekarang masyarakat Kanada justru lebih senang membeli iPhone (dari AS) dibanding harus mengekspor BlackBerry ke seluruh dunia," kata Kwok seperti dikutip Bloomberg.
Kwok menilai di masa lalu Kanada banyak mendapat manfaat dari ekonomi AS karena kedua negara ini saling dekat satu dengan lainnya. Sebagian besar ekspor Kanada menuju AS.
"Namun kali ini berbeda, saya pikir pemulihan akan jauh lebih lambat kecuali dolar Kanada akan bisa sedikit melemah," katanya.
Loonie, satuan mata uang dolar Kanada, mencapai level terendahnya terhadap dolar AS sejak September 2009 hingga Kamis (16/1). Di tahun ini, dolar Kanada ini juga sudah melemah 3,3 persen, lebih buruk dibanding mata uang dolar Namibia.
Dorong Pertumbuhan
Bank Sentral Kanada mengharapkan pemerintah mau meningkatkan ekspor perdagangannya ke seluruh dunia, khususnya AS. Meski Gubernur Bank Sentral Kanada Stephen Poloz tidak memahami mengapa pengiriman ekspor belum kuat.
Taruhan Kwok atas Loonie yang terus menurun didasarkan pada jaminan Poloz yang tetap mempertahankan suku bunga acuan yang rendah hingga ekonomi pulih. Asumsi Bank Sentral, ekspor akan pulih. Satu-satunya cara adalah melemahkan mata uangnya.
Namun defisit perdagangan Kanada hingga November 2013 masih melebar hingga C$ 940 juta atau sekitar US$ 857 juta. Perkiraan survei Bloomberg, masih ada perkiraan defisit perdagangan yang lebih mencapai C$ 100 juta.
Di bulan yang sama, Kanada justru mengimpor C$ 1,1 miliar lebih peralatan komunikasi, termasuk ponsel cerdas yang merupakan pesaing BlackBerry, salah satunya Apple. Hal ini justru membuat defisit perdagangan Kanada dua kali lipat besarnya dari defisit enam tahun lalu.
BlackBerry Jatuh
Saham BlackBerry telah jatuh lebih dari 90 persen dari puncaknya di 2008. Penurunan harga saham perusahaan karena kehilangan pangsa pasar ponsel cerdas (smartphone) selama bertahun-tahun, khususnya kalah saing dengan Apple dan Samsung.
Konsekuensinya, BlackBerry tahun lalu memangkas jumlah pekerjanya hingga 30 persen. Juru bicara BlackBerry Lisette Kwong menolak berkomentar soal penurunan mata uang dolar Kanada yang berdampak ke penurunan harga saham BlackBerry.
UBS AG menurunkan proyeksi Loonie saat ini ke C$ 1,12 dalam tiga bulan ke depan, dibanding perkiraan sebelumnya hanya C$ 1 di kuartal I-2014. Analis berbasis di Singapura Gareth Berry mengatakan dolar Kanada mengalami perlambatan mendapatkan keuntungan dari pemulihan AS.
Perkiraan analis Brandywine Global Investment Management Jack McIntyre, Loonie akan melemah C$ 1,17 per dolar AS di semester kedua 2014 dan C$ 1,3 per dolar AS di akhir tahun depan. Dia mengatakan AS merupakan pasar terbesar tujuan ekspor Kanada, mencapai 75 persen dari perdagangan ekspornya. Padahal dulu 1 persen pertumbuhan ekonomi AS berarti mengontribusikan 1,5 persen pertumbuhan ekonomi Kanada. "Itu tidak ada lagi. Dolar Kanada masih dianggap terlalu tinggi," katanya.
Kurangnya infrastruktur pipa untuk pasar internasional mengakibatkan harga ekspor minyak di Kanada terpangkas. Harga minyak mentahnya dihargai US$ 18,5 per barel, padahal rekor sebelumnya pernah mencapai US$ 42,5 per barel di Desember 2012. Kanada harus membayar impor minyak mentah dengan harga internasional sebesar C$ 1,5 miliar hanya untuk impor di November 2013.
Saat yang sama, impor minyak mentah AS turun terendah dalam tiga tahun terakhir karena kemampuan produksi minyak di negara adidaya tersebut. Hal ini menyebabkan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia 2015, mengurangi ketergantungan pada produsen asing.
Di kegiatan manufaktur, Kanada juga mengalami perlambatan karena hanya mengontribusikan 10,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Oktober 2013, turun dibanding 16 persen di Agustus 2010.
Persaingan Ponsel
Hingga kuartal III-2013, total penjualan perangkat BlackBerry hanya 4,3 juta unit dengan pendapatan US$ 1,2 miliar. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya, BlackBerry mencatatkan pendapatan US$ 2,7 miliar. Ini berarti terjadi penurunan 56 persen. Dari 4,3 juta unit yang terjual itu sendiri 1,1 juta unit di antaranya adalah perangkat yang menggunakan sistem operasi BB 10.
Jika dibandingkan dengan penjualan pada waktu yang sama dua tahun yang lalu, BlackBerry terjual 14.2 juta unit ponsel. Jumlah itu sangat jauh bila dibanding penjualan ponsel Apple dan Samsung.
Penjualan ponsel Samsung dan Apple jika digabungkan mencapai 110 juta unit di kuartal III-2013. Saingan terdekat BlackBerry, Nokia dengan Windows Phone berhasil menjual lebih banyak dengan jumlah 8,8 juta unit.
Jika tidak terus berbenah, perjalanan BlackBerry yang beberapa waktu lalu mendapatkan suntikan dana segar US$ 1 triliun itu dan mendapatkan bos baru, bakal makin berat. Nokia yang sudah diakuisisi Microsoft akan terus menggempur pasar Apple dengan teknologi iOS. Sedangkan Samsung dengan OS Android, terus menggerojok pasar dengan sejumlah gadget Android dengan banyak variasi. Akankah ini akhir BlackBerry dan Kanada?
Sumber: Bloomberg
Negara produsen BlackBerry ini dipaksa untuk memberikan diskon ekspor terbesarnya, minyak mentah hingga harus memotong operasional BlackBerry agar bisa bersaing dengan produk ponsel lain.
Laporan terbaru pekan lalu menunjukkan defisit perdagangan Kanada tercatat sembilan kali lebih dibanding pendapatan negaranya. Mata uang dolar Kanada juga turun terendah selama empat tahun terakhir di level C$ 1,0991 di Kamis (16/1).
Kwok bertaruh pelemahan ini hanya awal dan diperkirakan akan melemah kembali dalam sembilan bulan mendatang.
"Apalagi sekarang masyarakat Kanada justru lebih senang membeli iPhone (dari AS) dibanding harus mengekspor BlackBerry ke seluruh dunia," kata Kwok seperti dikutip Bloomberg.
Kwok menilai di masa lalu Kanada banyak mendapat manfaat dari ekonomi AS karena kedua negara ini saling dekat satu dengan lainnya. Sebagian besar ekspor Kanada menuju AS.
"Namun kali ini berbeda, saya pikir pemulihan akan jauh lebih lambat kecuali dolar Kanada akan bisa sedikit melemah," katanya.
Loonie, satuan mata uang dolar Kanada, mencapai level terendahnya terhadap dolar AS sejak September 2009 hingga Kamis (16/1). Di tahun ini, dolar Kanada ini juga sudah melemah 3,3 persen, lebih buruk dibanding mata uang dolar Namibia.
Dorong Pertumbuhan
Bank Sentral Kanada mengharapkan pemerintah mau meningkatkan ekspor perdagangannya ke seluruh dunia, khususnya AS. Meski Gubernur Bank Sentral Kanada Stephen Poloz tidak memahami mengapa pengiriman ekspor belum kuat.
Taruhan Kwok atas Loonie yang terus menurun didasarkan pada jaminan Poloz yang tetap mempertahankan suku bunga acuan yang rendah hingga ekonomi pulih. Asumsi Bank Sentral, ekspor akan pulih. Satu-satunya cara adalah melemahkan mata uangnya.
Namun defisit perdagangan Kanada hingga November 2013 masih melebar hingga C$ 940 juta atau sekitar US$ 857 juta. Perkiraan survei Bloomberg, masih ada perkiraan defisit perdagangan yang lebih mencapai C$ 100 juta.
Di bulan yang sama, Kanada justru mengimpor C$ 1,1 miliar lebih peralatan komunikasi, termasuk ponsel cerdas yang merupakan pesaing BlackBerry, salah satunya Apple. Hal ini justru membuat defisit perdagangan Kanada dua kali lipat besarnya dari defisit enam tahun lalu.
BlackBerry Jatuh
Saham BlackBerry telah jatuh lebih dari 90 persen dari puncaknya di 2008. Penurunan harga saham perusahaan karena kehilangan pangsa pasar ponsel cerdas (smartphone) selama bertahun-tahun, khususnya kalah saing dengan Apple dan Samsung.
Konsekuensinya, BlackBerry tahun lalu memangkas jumlah pekerjanya hingga 30 persen. Juru bicara BlackBerry Lisette Kwong menolak berkomentar soal penurunan mata uang dolar Kanada yang berdampak ke penurunan harga saham BlackBerry.
UBS AG menurunkan proyeksi Loonie saat ini ke C$ 1,12 dalam tiga bulan ke depan, dibanding perkiraan sebelumnya hanya C$ 1 di kuartal I-2014. Analis berbasis di Singapura Gareth Berry mengatakan dolar Kanada mengalami perlambatan mendapatkan keuntungan dari pemulihan AS.
Perkiraan analis Brandywine Global Investment Management Jack McIntyre, Loonie akan melemah C$ 1,17 per dolar AS di semester kedua 2014 dan C$ 1,3 per dolar AS di akhir tahun depan. Dia mengatakan AS merupakan pasar terbesar tujuan ekspor Kanada, mencapai 75 persen dari perdagangan ekspornya. Padahal dulu 1 persen pertumbuhan ekonomi AS berarti mengontribusikan 1,5 persen pertumbuhan ekonomi Kanada. "Itu tidak ada lagi. Dolar Kanada masih dianggap terlalu tinggi," katanya.
Kurangnya infrastruktur pipa untuk pasar internasional mengakibatkan harga ekspor minyak di Kanada terpangkas. Harga minyak mentahnya dihargai US$ 18,5 per barel, padahal rekor sebelumnya pernah mencapai US$ 42,5 per barel di Desember 2012. Kanada harus membayar impor minyak mentah dengan harga internasional sebesar C$ 1,5 miliar hanya untuk impor di November 2013.
Saat yang sama, impor minyak mentah AS turun terendah dalam tiga tahun terakhir karena kemampuan produksi minyak di negara adidaya tersebut. Hal ini menyebabkan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia 2015, mengurangi ketergantungan pada produsen asing.
Di kegiatan manufaktur, Kanada juga mengalami perlambatan karena hanya mengontribusikan 10,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Oktober 2013, turun dibanding 16 persen di Agustus 2010.
Persaingan Ponsel
Hingga kuartal III-2013, total penjualan perangkat BlackBerry hanya 4,3 juta unit dengan pendapatan US$ 1,2 miliar. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya, BlackBerry mencatatkan pendapatan US$ 2,7 miliar. Ini berarti terjadi penurunan 56 persen. Dari 4,3 juta unit yang terjual itu sendiri 1,1 juta unit di antaranya adalah perangkat yang menggunakan sistem operasi BB 10.
Jika dibandingkan dengan penjualan pada waktu yang sama dua tahun yang lalu, BlackBerry terjual 14.2 juta unit ponsel. Jumlah itu sangat jauh bila dibanding penjualan ponsel Apple dan Samsung.
Penjualan ponsel Samsung dan Apple jika digabungkan mencapai 110 juta unit di kuartal III-2013. Saingan terdekat BlackBerry, Nokia dengan Windows Phone berhasil menjual lebih banyak dengan jumlah 8,8 juta unit.
Jika tidak terus berbenah, perjalanan BlackBerry yang beberapa waktu lalu mendapatkan suntikan dana segar US$ 1 triliun itu dan mendapatkan bos baru, bakal makin berat. Nokia yang sudah diakuisisi Microsoft akan terus menggempur pasar Apple dengan teknologi iOS. Sedangkan Samsung dengan OS Android, terus menggerojok pasar dengan sejumlah gadget Android dengan banyak variasi. Akankah ini akhir BlackBerry dan Kanada?
Sumber: Bloomberg
Langganan:
Postingan (Atom)






