Selasa, 19 Agustus 2008

Satu Gadget Segala Keinginan

Samsung Omnia i900 mirip dengan iPhone
Samsung i900 Omnia, produk terbaru Samsung yang full multimedia, fashionabable, business & pokoknya segala fitur komplet banget telah diluncurkan hari ini di Samsung Plaza, Pacific Place Mall SCBD lantai 3.  Ponsel ini kabarnya bakal menjelma jadi kompetitor langsung iPhone 3G yang udah cukup lama dinanti-nanti pecinta ponsel.

Menggunakan Operating System (OS) Windows Mobile 6.1 Pro, Samsung i900 menawarkan kenyamanan pada displaynya yang luas dengan dimensi layar 3.2-inch WideQVGA display (240 x 400 pixels). Ponsel ini juga sudah dilengkapi dengan Built-in accelerometer, yang memudahkan tampilan layar bisa mengikuti arah orientasi horizontal, mirip sekali dengan yang digunakan pada iPhone.

Samsung i900 Omnia dilengkapi kamera digital dengan resolusi 5 megapixel, auto focus dengan deteksi wajah dan senyuman serta fitur auto-panorama. Selain itu fitur Geotagging juga melekat pada kameranya karena i900 sudah dilengkapi dengan penerima GPS built in.

Soal desain, i9000 Omnia memang mirip sekali dengan iPhone. Dimensinya 12,5 mm yang dibalut metal di sisi belakang, plus memori internal 8 GB dan 16 GB (eksternal hingga 32 GB melalui slot memori tambahan) membuat ponsel ini mirip dengan iPhone.

Pertama kali nyoba tadi, gw seneng ama kibor QWERTY. Walau kibornya maya alias touchscreen, ini yang membuat beda dgn yg lain. Apalagi bisa dipilih, mau yg horizontal / vertikal dlm ngetiknya. Kameranya pun sudah ada fitur smile detection yang bisa motret sendiri jika obyek yang akan dipotret tersenyum. Buseett dah!! Tanpa sentuh loh!!

Plus dengan storage penyimpanan 23 DVD, 18 ribu MP3 dan 12 ribu pieces foto kualitas 5MP. Wah, gede banget deh!!Apalagi kalo ngelihat DVD & dicolokin ke TV. Wah, serasa home theater loohh!!

Tanpa takut kesasar jika traveling, ada fitur GPS yang sudah terintegrasi dengan Nusa Map, peta Jawa Bali terbaru sekaligus tempat-tempat terpenting di dalamnya. So, ga perlu susah cari panduan mo jalan-jalan. Kalo mo keliling dunia, tinggal koneksikan dengan Google Map yang sudah terjamin kualitasnya (kerjasama dengan Garmin TX).

Sayang, harganya Rp7.449.000. Masih mahal untuk ukuran kita2. Kira-kira kapan Samsung mo ngasih Samsung Omnia ini ke gue ya??deeuuhhh..ngarep.com.

Buat temen2 di Jkt, bs cek langsung ke Samsung Plaza. Di sana bakal ada demo baik HPnya langsung maupun prototipe lebih besar. Kondisinya sangat mirip (90%) namun hanya beda ukuran saja. Kebetulan Pak Eric Suryana tadi sebagai Product Manager Samsung Mobile Indonesia telah mendemokannya.

Buat Mr Hee Hong Park, ngasih satu hpnya donk ke saya??sekali lagi ngarep.com. Beliau ini adalah Managing Director PT Samsung Electronik Indonesia.

SPESIFIKASI Samsung i900 Omnia

- 2G Network: GSM 850/900/1800/1900
- 3G Network: HSDPA 850/1900/2100
- Dimensions: 112 x 56.9 x 12.5 mm
- Weight: 127 g
- Display: TFT touchscreen, 65K colors
- Size: 240 x 400 pixels, 3.2 inches
- Accelerometer sensor for auto-rotate
- Handwriting recognition
- Ringtones Type: Polyphonic, MP3
- Card slot: microSD (TransFlash), up to 16GB
- 128 MB RAM, 256 MB ROM
- 624MHz Marvell PXA312 processor
- 8 GB/16 GB internal memory
- Data: GPRS Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 - 48 kbps
- EDGE: Class 10, 236.8 kbps
- 3G: HSDPA, 7.2 Mbps
- WLAN: Wi-Fi 802.11b/g
- Bluetooth: v2.0 with A2DP
- USB: v2.0
- Features: OS Microsoft Window Mobile 6.1 Professional
- Messaging: SMS, EMS, MMS, Email, Instant Messaging
- Browser: WAP 2.0/xHTML, HTML, RSS feeds
- Games: Yes + Java downloadable
- Colors: Silver
- Camera: 5 MP, 2592х1944 pixels, autofocus, image stabiliser, video,

flash; secondary videocall camera
- Built-in GPS receiver
- Java MIDP 2.0
- FM Radio with RDS
- MSOffice document viewer
- MP3/AAC/AAC+/WMA/OGG/AMR player
- DivX/XviD/WMV/MP4 player
- TV Out
- Voice memo
- Built-in handsfree
- Battery Standard battery, Li-Ion 1440 mAh

Jumat, 15 Agustus 2008

Who Moves My Cheese

LENTERA JIWA (on behalf of Andi F. Noya) --> Pelajaran dari Kick Andy

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit.Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki.Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri.

Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.

Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personil Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone.. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. "Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.Hidup saya,"katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Kamis, 14 Agustus 2008

Wartawan Kebal Hukum?

Td mlm habis nonton Teater Tribute to Srimulat yang dipentaskan ama anak2 alumni IKJ di Gedung Kesenian Jakarta. Ngocol habis deh, dengan logat Jawa, Sunda, Madura, Batak hingga Ambon. Jika digabung tambah semakin lucu. Malah logat Indonesia itu digabung ama logat sok Inggris-Indonesia. Makin srimulat banget!!

Habis ngocol bareng trus makan Soto Lamongan di dekat Taman Ismail Marzuki. Lumayan mengenyangkan, habis di GKJ tadi cuma snack doang. Pulang lebih dari jam12 malam, aku bawa sepeda motor dgn sempoyongan. Ngantuk banget sih. Trus lewat Raden Saleh & Kenari. Pas depan Plaza Kenari Mas, seperti biasa aku nyelonong belok kanan. Sebenarnya ada plang dilarang belok, tp aku cuek aja. Habis puter baliknya ada di matraman, jauh dari kosku itu.

Ternyata, ada polisi yg mengikutiku dari belakang & menyetopnya.

"Belum pernah ikut sidang di Jakarta?" tanya polisi itu sembari minta SIM & STNK.

Aku sih diem aja. Polisi itu terus membalik2an SIm & STNK-ku.Bosan dengan basa-basi, aku keluarkan ID Card Pressku.

"Oh, dari pers!jawabnya sembari membolak-balik lg. Pikirku dgn ID Card pers tsb bs langsung jalan. Habis udah larut malam banget sih!!

"Emangnya wartawan bisa kebal hukum??tanya polisi itu sembari mengacungkan ID Card persku.

Sontak jawaban tadi membuatku kaget & ga mungkin aku ngasih duit langsung ke dia karena aku cuma bawa maksimal Rp20 ribu. Temenku jg sama. Tp dia enjoy aja.

"Ya udah kita proses di kantor," jawab polisi itu sambil menggiring kita ke pos.

Sepanjang perjalanan udah bingung aja. Antara ngasih / pasrah sidang. Toh, kalo sidang uangnya sebagian masuk kas negara. Kalo ngasih langsung kan cuma masuk ke kantong pribadinya. Ngga mendidik.

Polisi itu mengajak ke kantor dekat perempatan di depan Hotel Arcadia. Sempat polisi itu menanyakan sesuatu yang ga penting. Seperti asal, wartawan apa, dan sebagainya. Tiba-tiba HPku bunyi.

"Eh, loe dimana? koq ga nyampe2??mampir kemana lg??"tanya salah satu temenku yang ikutan makan bareng Soto Lamongan td. Kebetulan td dia kutinggal karena mo beli balsem di Alfamart Raden Saleh. Pas aku telp mo minta beliin sabun, dia ngga ngangkat. Smg dia th ada panggilan drku. Eh, ternyata dapat sabun dari polisi.

    Setelah jawab pertanyaan tmnku, aku balik lagi ke tmnku yg disidang. Eh, ternyata SIM & STNKnya dibalikin. Polisi itu cuma aksi corat-coret aja. Apa dikira aku telp kantor / pihak berwenang di atasnya??mo laporan gitu??

Lepas dari semua itu. Semua selamat dgn damai. Tanpa uang sogokan & apapun itu. Bisa aja aku memilih sidang & Sim serta STNK ku dibawa. Toh, aq jg ingin mendidik polisi malam itu supaya tidak melakukan tindak "penodongan sadar".

Aduh, manusia penuh salah & dosa!!apa maksudnya coba dengan tilang tidak kena itu?? Pokoknya aman!!

Senin, 11 Agustus 2008

Foto Dengan Asmirandah

Awal pekan yang menyenangkan. Walau tadi pagi sempat ngambek mo ngga ngantor, habis gimana lagi, dah kewajiban sih!!padahal pusiiingg banget!trus sakit perut. Pasti habis makan mie rebus di taman Suropati kemarin malam.Ah, sudah lah!!lagian juga gretongan, ditraktir teman.

Pas nyampe kantor siang tadi, gw lgsng diajak liputan ke Mall Glodok Kemayoran. Ceritanya mo bahas GPS di mobil. Lumayan sukses. Dua jam interview cukup dah. Meski bapak yg pny toko pelit kasih info. Coz bapaknya lagi badmood, habis kaca mobilnya diembat orang lain saat di parkiran. Kasihan, tiap telfon ngumpat mulu. Dah, biarin aja.

Lantas gw ama temen naik mobilnya ke kawasan Gatot Subroto di Hotel Sultan. Sekarang ada acara peluncuran handphone Mito. Serinya lupa. Ada tiga yg baru, pokoknya yg dual GSM-CDMA, dual GSM & semua ada tv-nya. Di sini, lagi-lagi, pas ada doorprize nama gw kesebut. Wuaduuhh girang banget.Kirain dapat hape, walau jelek2an gpp deh!!

Tp ternyata cuma dapat jaket Mito. Lho..koq???gmn sih??Tp gpp deh, yg ngasih Asmirandah.



Foto dengan Asmirandah

Wuiiihhh, cakep banget tadi. Sempat foto bareng.Tp blm bs diupload krn td yg motret tmn gw. Padahal yg nafsu pingin foto bareng itu tmnq. Kasihan...

Di akhir acara ternyata tmnq dapat DVD player. Bosan dah kebanyakan goody bag, dia kasihkan ke aku.Walaaah...rejeki nomplok deh!!

Sabtu, 26 Juli 2008

Mereka Peduli Jakarta

Ah, sudah lama tidak menulis nih. Tapi kali ini gw ingin repost tulisan gw yang sudah menyebar seantero negeri (lebay) dan bisa dikorek-korek via mbah Google.

Btw, ini ada beberapa tulisan yang ketemu di lapak mbah Google. Cekidot gan!!



Artikel ini dimuat oleh Koran Sindo pada Sabtu, 26 Juli, 2008 dan ditulis oleh Didik Purwanto. Baca langsung artikel di Koran Sindo di sini.

Dibalik kemegahannya, Jakarta menyimpan segudang masalah sosial dan lingkungan. Jakarta harus berubah! Dibutuhkan revolusi budaya untuk memperbaikinya.

Memang bukan hal mudah untuk mengubah Jakarta menjadi lebih baik. Namun, itu bukan hal mustahil apabila terdapat seseorang yang berani dan mau menyelesaikan masalah-masalah yang ada seperti kemacetan, polusi udara, gelandangan, pengangguran, dan sebagainya.

Kata orang bijak, mulailah perubahan itu dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan mulai sekarang. Inilah jargon yang sering dikumandangkan, namun hanya sedikit yang mau melakukannya. Contoh paling sederhana adalah nilai kejujuran,keberanian, toleransi, menghargai sesama, disiplin, keimanan, kebersihan, kerja keras, kebangsaan, dan lain-lain.

Daftar nilai-nilai tersebut sudah ”berserakan” di berbagai buku yang mengulas persoalan budi pekerti.Yang terpenting justru pelaksanaannya, integritas pribadi sebagai perwujudan kejujuran, do what you said and say what you meant. Selama ini kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri.

Di tembok sekolah tidak jarang kita saksikan slogan ”kebersihan sebagian dari iman”, tetapi sampah masih terserak di mana-mana. Sebanyak 99% WC di sekolah negeri jorok. Guru-guru pun tidak berkomentar apa-apa. Salah siapa? Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) adalah sebuah komunitas sosial anak muda Jakarta yang peduli terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar mereka.

Komunitas ini menyebarkan pesan perihal pentingnya perubahan budaya ke arah positif bagi Kota Jakarta dan sekitarnya. Dibentuk pada 30 Juni 2007, komunitas yang memiliki moto ”Impikan Jakartamu di sini” ini mulai melakukan gerakan nyata tanpa basa-basi atau sekadar cuapcuap. Melalui blog www.jakartabutuhrevolusibudaya. com, JBRB menyebar tulisan hasil pemikiran para kontributor, yang merupakan anggota JBRB sendiri.

Selain itu, dimuat juga tulisan-tulisan para penulis tamu, yaitu para tokoh yang peduli terhadap JBRB di antaranya Harris Iskandar (atase pendidikan dan kebudayaan RI di Washington DC, AS), Jennie S Bev (Pesta Blogger 2007 Celebrity Blogger Award), dan Deden Rukmana (asisten profesor dan koordinator Master’s Program in Urban Studies & Planning di Savannah State University, AS).

”JBRB merupakan perwujudan nyata dari rasa kepedulian kami terhadap Jakarta. Kami yang tergabung di dalam komunitas ini sudah muak dan bosan dengan kondisi Kota Jakarta yang kami saksikan setiap hari,” kata Ketua JBRB Mohamad Rusdi Indradewa, yang juga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta.

Komunitas JBRB memiliki lima target utama atau tema yang akan dijalankan selama 20 sesi, yaitu menjaga ketertiban, cinta lingkungan, menghargai sesama, membaca itu seru, dan mencintai budaya Indonesia. Sebagai langkah awal, JBRB masih membidik siswa tingkat TK dan SD.Dalam waktu dekat, kurikulum atau modul pelatihan pun bakal disiapkan untuk siswa SMP, SMA, dan umum.

Di tingkat TK dan SD, JBRB menyiapkan modul Berbudaya Itu Seru (Berburu) yang berisi materi, simulasi, permainan, dan diskusi. Sedangkan di tingkat SMP dan SMA, modulnya adalah Berburu Plus yang meliputi materi yang sama, namun dengan penambahan pelatihan motivasi (personal development).

Tak hanya melakukan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, JBRB lebih menekankan pelatihan ekstrakurikuler yang fun serta metode audio visual yang akan menambah ketertarikan siswa untuk belajar sekaligus berbudaya. Komunitas yang semula bernama More Power Indonesia ini dahulu hanya concern terhadap pelatihan di tingkat mahasiswa.

Setelah mereka lulus, banyak alumnus yang tergerak untuk kembali mengaktifkan komunitas tersebut, meskipun di luar negeri. Alumni yang berada di luar negeri itu kemudian membuat sebuah modul atau kurikulum yang disesuaikan dengan pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta.

Hingga saat ini, JBRB sudah memiliki proyek percontohan dan melakukan kegiatan pelatihan revolusi budaya di TK-TK binaan Lembaga Pembinaan Riayatul Ummah serta SDN Selong 01 Pagi Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setiap Sabtu. Selain divisi-divisi yang bergerak di bidang pendidikan, JBRB mempunyai divisi umum, yaitu divisi dalam komunitas JBRB yang menyelenggarakan penyuluhan, penghijauan, pengecatan zebra cross, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kontribusi bagi masyarakat di Minggu keempat tiap bulannya.

Pada Minggu kedua tiap bulan, JBRB memiliki program khusus untuk relawan internal dengan mendatangkan pakar-pakar atau narasumber berkompeten yang bisa memotivasi anggota.

”Saat ini relawan JBRB di Jakarta ada 46 orang. Terdiri atas siswa, mahasiswa, dan pekerja yang sangat concern terhadap kondisi pendidikan maupun lingkungan di Jakarta. Komunitas ini terus meluas bahkan hingga ke mancanegara, yakni Sidney (Australia) dan Washington (AS),” tambah Rusdi.

Suatu saat nanti, komunitas ini akan berkembang dan mungkin saja bisa berubah nama menjadi Indonesia Butuh Revolusi Budaya. Saat ini Jakarta hanya menjadi proyek percontohan, karena kota ini dipandang telah memiliki masalah yang kompleks dan butuh penyelesaian. Cabang JBRB ada di Yogyakarta, Surabaya, Sidney, dan Washington.

Bahkan di Semarang dan Padang,ada guru yang sudah mengajukan modul JBRB untuk diberikan kepada siswa-siswanya. Relawan JBRB di mancanegara merupakan alumni More Power Indonesia, plus hasil penjaringan saat sosialisasi bersama konsulat jenderal Republik Indonesia di Amerika Serikat.

Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri Paman Sam. Relawan ini kerap memakai uang pribadi ataupun menyisihkan gaji untuk membantu kas JBRB saat menggelar pertemuan tiap minggu. Saat ini, berkat keikhlasan relawan, JBRB sudah memiliki laptop, in focus atau perlengkapan untuk memberi pelatihan kepada siswa.

”Dalam menggali dana, kami yang di Amerika menjual makanan khas Indonesia kepada mahasiswa. Karena harga yang ditawarkan memang murah meriah, apalagi kami memiliki misi sosial di dalamnya, barang kami pun laris manis,” jelas Cut Reza Rahmadani.

Tujuan Mulia Para Sukarelawan

BEKERJA sebagai sukarelawan JBRB tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain harus mampu melatih anak didik usia pemula agar peduli terhadap lingkungan, di JBRB para sukarelawan juga bisa menuangkan kreativitas sekaligus menyumbangkan ”sesuatu” untuk kota kelahiran mereka.

Anggie Naditha Oktanesya, salah seorang relawan JBRB, aktif di kegiatan non-profit ini sejak Maret lalu. Wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung itu tertarik pada dunia pendidikan dan misi sosial JBRB.

Selain menemukan komunitas berisikan anggota yang nyambungsaat diajak berkomunikasi, Anggie juga merasa menemukan kecocokan dengan mereka. Terutama menyangkut kepedulian terhadap masalah yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.

Mulai pendidikan, kelestarian lingkungan hidup, masalah sosial, hingga menjadi fasilitator siswa sekolah dasar. ”Rasanya asyik saat saya bisa menjadi fasilitator bagi anak SD. Saya jadi terkenang kenakalan ketika SD dulu dan merasa seru bisa menjadi guru atau lebih tepatnya teman di antara mereka. Padahal, saya tidak punya pengalaman mendidik sama sekali,” ungkap Anggie yang bekerja di sebuah lembaga advokasi masyarakat.

Saat ini Anggie menjadi koordinator tim Berburu SD yang bekerja secara sukarela. Tugasnya menetapkan sekolah mana yang bisa dijadikan proyek percontohan selanjutnya. Setelah sukses menyelenggarakan pelatihan di SDN Selong 01 Pagi, banyak SD di sekitarnya yang merasa iri, ingin mendapatkan pelatihan serupa.

Tak ayal, Anggie yang menjadi ketua tim di antara tujuh anggotanya harus bekerja lebih giat demi menyukseskan program JBRB. Minimal hingga akhir 2008, Anggie punya target bisa merangkul tiga sekolah untuk mendapatkan pelatihan berbudaya dari JBRB.

Relawan lainnya, Cut Reza Rahmadani atau akrab disapa Reza, mulai bergabung dengan JBRB pada September 2007. Wanita kelahiran Jakarta dan peraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Amerika Washington DC itu tertarik bergabung dengan JBRB berkat informasi teman kuliahnya.

Meski awalnya kagok, tidak tahu harus berbuat apa, Reza yang baru beberapa pekan terakhir kembali ke Jakarta itu tetap serius merumuskan modul pelatihan JBRB. Reza menilai orang Amerika, anak-anak hingga manula, bisa hidup teratur. Ia lalu mengadopsi tingkah laku mereka. Masalah-masalah yang terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta, diolah dan dijadikan modul bersama 11 mahasiswa Indonesia lainnya di Amerika.

Prinsip modul itu cukup sederhana. Yaitu menggabungkan atau mengombinasikan pelajaran yang sudah diterima di sekolah dengan kejadian sehari-hari di rumah. Selain dengan metode diskusi terbuka dan kelompok, modul rumusan JBRB juga memberikan pembelajaran sederhana, seperti sampah.

Reza membuat modul yang bisa dilakukan oleh fasilitator, yaitu pengenalan sampah. Membedakan sampah kering dan basah, bahaya membuang sampah di sembarang tempat, dan lain-lain. Dalam program tersebut, bukan hanya fasilitator yang bertugas sepenuhnya.

Mengingat pelatihan berbudaya ini hanya dilakukan seminggu sekali, peran orangtua yang bisa melakukan pendekatan lebih intens kepada anak harus dimaksimalkan. Caranya dengan membuat program khusus (pekerjaan rumah yang bisa dibawa pada pertemuan satu minggu kemudian) tentang sampah. Orangtua dapat menjelaskan lebih lanjut tentang sampah kering dan basah kepada anak di rumah. Hal ini dilakukan untuk memberi kesamaan pandangan antara anak dan orangtua.

sumber : http://sl-si.facebook.com/note.php?note_id=36980832575

Jumat, 25 Juli 2008

Latihan Menembak

Hari ini diajak anak AE (marketing) ke Blok M Plaza. Setelah puas muter-muter, kita liputan ke lapangan tembak di lantai 4 Plaza Blok M sekaligus mencoba main tembak dgn pistol & senapan. Kl pake pistol nilaiku ga lebih dari 6. Sementara kalo pake senapan bisa sampe 8 lebih. Gile...Padahal gw baru sekali ini pegang senapan/ pistol.

Ini gara2 seharian belum makan, cuma minum air  putih doank. Jadi pas megang pistol, jadi gemetaran. Grogi deh & akhirnya meleset terus.Lain kali mo cobain lagi ahhhh...

Kenapa aku semangat banget??

Kata Rasulullah,di suatu zaman nanti, kita akan kembali ke zaman baheula. Ke zaman yg tak ada teknologi sama sekali. Nah, aku lupa apakah itu hadits atau apa, bahwa kita harus bisa berenang, menembak/ memanah & berkuda. Kita akan berperang dengan orang kafir seperti jaman perang Rasulullah dulu

Sabtu, 21 Juni 2008

Komunitas Penulis Lepas

BERAWAL dari diskusi di sebuah milis,Komunitas PenulisLepas berusaha memfasilitasi para anggotanya agar mampu mengembangkan keahlian menulis.

Komunitas bermoto ”Situsnya Penulis!” itu lalu membuat website yang bisa mengakomodasi kepentingan anggota, mulai proses kirim karya, diskusi, hingga pengembangan jaringan penulis. Sejarah awal milis PenulisLepas berdiri tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin tiga sahabat,yakni Jonru,Rini Nurul Badariah, dan Subhan Afifi.

Three musketeers ini memosisikan milis PenulisLepas sebagai media komunikasi sejumlah orang yang berprofesi sebagai penulis lepas. Itu sebabnya, milis yang berdiri 15 Februari 2001 itu diberi nama PenulisLepas.Komunitas tersebut semula bersifat tertutup dan hanya orang tertentu yang diundang. Lambat laun komunitas ini berkembang dan anggotanya membludak hingga 5.200 orang.

Susah untuk mengatur orang sebanyak itu dari seluruh Indonesia. Milis ini sempat vakum karena kekurangan pengelola.Beruntung,masih ada sekitar 10% dari jumlah tersebut yang bersemangat untuk tetap melanjutkan diskusi online maupun melakukan kopi darat,sambil membuat sebuah acara. Tahun 2005 komunitas semakin solid dan memutuskan membuat sebuah kepengurusan.

Namun,dalam perkembangannya, para anggota sepakat tidak membentuk kepengurusan, melainkan jadi komunitas saja. Jonru, sebagai penggagas milis ini, bertanggung jawab melanjutkan keberadaan komunitas PenulisLepas. Setelah itu,komunitas ini semakin serius menggarap kemampuan atau keahlian masing-masing anggota, sekaligus memperluas jaringan dengan enam orang sebagai moderator.

Diskusi online tentang kegiatan tulis-menulis pun semakin terarah. ”Selain milis, kami juga membangun situs www.penulislepas. com.Awalnya,situs ini berisi info seputar penawaran jasa di bidang penulisan dan murni bertujuan bisnis,” ungkap Jonru. Namun, setelah berjalan beberapa lama, bisnis itu belum juga menampakkan profit. Jonru yang bekerja sebagai content editor di CBN, perusahaan penyedia layanan internet, tidak bisa berdiam diri.

Dia lalu mengubah www.penulislepas. com menjadi situs komunitas, dengan harapan suatu saat situs ini bisa menjadi basis bisnis baru bagi para penulis. Saat itu Jonru dibantu sahabatnya, Bambang Trim, yang mengelola penerbitan MQS Publishing dan wakil ketua IKAPI Jawa Barat.Komunikasi intensif mereka membuahkan hasil,yakni perubahan format situs menjadi komunitas penulis di dunia maya.

Sejak saat itu, komunitas ini terus menggeliat dan sering mengadakan pertemuan. Pertemuan perdana terjadi pada 16 Oktober 2005, yang ditandai dengan antusiasme anggota untuk berkiprah di milis dan situs penulis lepas. ”Saya tidak mengira PenulisLepas bisa menjadi komunitas yang sangat berharga dan potensial.

Ini adalah aset yang tak terlihat dan merupakan harta karun,”ujar Jonru, yang menggelar pertemuan kedua lewat seminar bertajuk Kiat Sukses Menerbitkan Bukupada 2 Juli 2006. Kegiatan para anggota komunitas terus berlanjut hingga 13 Agustus 2006 meski hanya berupa diskusi internal yang dihadiri tujuh peserta. Lantas, pada 24 November 2006 diadakan pula diskusi online via konferensi di Yahoo! Messenger,dihadiri sekitar 50 peserta.

Alhasil, milis dan situs penulis lepas kini menjadi milis dan situs penulisan terbesar di Indonesia.Namanya pun semakin diperhitungkan dan banyak orang penting di bidang penulisan yang bergabung di sini.Ada Bambang Trim,Yanusa Nugroho, Damhuri Muhammad, Kinoysan, Akmal Nasery Basral,Femmy Syahrani, Beni Jusuf, Arul Khan,dan masih banyak lagi.

Maret 2007, Jonru memutuskan keluar dari perusahaan dan memfokuskan diri pada bisnis penulisan,termasuk mengurus milis dan situs penulis lepas.Jonru menangkap peluang, komunitas ini bisa menjadi sebuah ladang wirausaha di bidang tulis-menulis.

Beragam paradigma lama, seperti menulis sebagai sampingan dan hanya mengandalkan honor tulisan yang dimuat di media atau royalti penjualan buku, langsung diubah oleh founder PenulisLepas tersebut. Masih menurut Jonru, kegiatan menulis pun dapat menjadi sumber penghasilan dan kita bisa kaya karenanya. Contoh nyata bisa dilihat dari penulis buku best seller Ayat Ayat Cintaatau Laskar Pelangi.

Meski untuk meraih keberhasilan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berwirausaha lewat produk tulisan jangan hanya dilihat dari royalti sebagai sumber kekayaan. Buku, misalnya, sebagai sebuah produk, bisa memperlihatkan kredibilitas seseorang,dan sumber kekayaan biasanya muncul di luar produk itu sendiri. Seperti diundang berbicara di depan forum, menerima proyek tulisan dari seseorang, dan sebagainya.

Dengan langkah mantap, Jonru lantas mengibarkan Sekolah Menulis Online (www.sekolahmenulisonline. com) pada Juli 2007, sebuah sekolah menulis di dunia maya.Tentu saja sekolah ini memiliki modul, bedah karya, hingga pertemuan online rutin dua kali seminggu. Layanan konsultasi via online pun dilakukan untuk mempermudah komunikasi jarak jauh apabila ada siswa yang kesulitan selama proses pembelajaran. Sekolah yang diadakan tiga bulan sekali dan sudah memasuki angkatan ketiga itu bisa meluluskan minimal 30 orang per angkatan.

Bagi Jonru,menulis bukan sekadar mencari materi, tapi lebih pada pengungkapan segala pemikiran dan idealisme kita. Salurkan segala ide liar positif itu dan tetap konsisten. Uang hanya efek samping.

Jonru semakin mengibarkan bisnis penulisan dengan menerbitkan buku secara self publishing (dalam bentuk ebook) berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang! melalui situs www.naskahoke.com,mendirikan lembaga pelatihan penulisan, seperti yang sedang dirintis lewat situs www.belajarmenulis. com, dan masih banyak cita-cita tentang kepenulisan yang akan ditanganinya lagi.

Salah seorang yang sukses berwirausaha di bidang ini adalah Ariyanto MB. Sejak 2007, Ariyanto telah mampu menulis 24 buku nonfiksi populer. Bahkan,dia berani memantapkan langkah untuk menjadikan menulis sebagai sumber kekayaan. Penemu danpengembangmetode”menulis tanpa harus berpikir”itu juga merupakan owner sekaligus founder MR Pen Indonesia (pabrik tulisan pertama di Indonesia), sekretaris jenderal pengurus pusat Aliansi Penulis Indonesia (API), dan penulis entrepreneur.

”Modal utama yang Anda butuhkan sebenarnya hanyalah keberanian untuk percaya dan yakin bahwa Anda bisa. Di dunia ini banyak sekali orang yang sebenarnya bisa, tapi mereka merasa tidak bisa.Mereka telah membatasi diri sendiri, padahal Tuhan telah memberi mereka potensi yang amat luar biasa,” tuturnya.

SINDO Minggu,29 Juni 2008 halaman 41