Jumat, 21 Maret 2008

Museum Kartun di Kuta


Museum Kartun pertama di Asia Tenggara kini hadir di Kuta. Jadi bagi Anda yang suka kartun dan sedang ada di Bali, tidak ada salahnya berkunjung ke museum ini.

Museum kartun pertama di Indonesia dan juga di Asia Tenggara ini terletak di Jalan Sunset Road, Kuta, bali. Menempati lahan seluas 1600 meter persegi, museum ini memajang sekitar 200 karya kartun dari puluhan kartunis Indonesia.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 20 ribu, di museum ini para pengunjung dapat melihat aneka jenis kartun karya beberapa kartunis seperti Pramono R Pramoedjo, GM Sudarta, Dwi Koendoro, Jango Paramartha, hingga beberapa kartunis muda bertalenta tinggi lainnya.

Kartun yang dipajang amat bervariasi. Tema yang dipilih pun beragam, mulai yang bertema ringan hingga bertema serius seperti pemberantasan korupsi, illegal loging, hingga kartun bom bali satu. “Kartunnya bagus-bagus dan bervariasi. Meski lucu-lucu, apa yang ingin disampaikan kartunis sudah mengena,” kata Arum, salah seorang pengunjung museum kartun.

Selain menampilkan aneka peristiwa sejarah Indonesia dalam bentuk kartun, di museum ini para pengunjung juga dapat melihat aneka kartun para tokoh di Indonesia mulai presiden pertama Indonesia Soekarno, mantan presiden Soeharto, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga tokoh perjuangan hak buruh, Marsinah.
Selain para tokoh dalam negeri, di museum ini juga dapat dilihat kartun para tokoh dunia mulai Osama Bin Laden, Aung San Su Kyi, presiden Amerika Serikat yang doyan perang George Bush, pemimpin Libya Mohamar Khadafi, hingga mantan presiden Irak Saddam Husein. “Secara umum, kartun yang dipajang di museum ini menceritakan perjalanan sejarah kartun di Indonesia dan peran kartunis serta karyanya dalam sejarah bangsa Indonesia dan juga dunia. Selain itu, karya yang ditampilkan juga menampilkan kehidupan kreatif para kartunis,” jelas Dewan Kartun Museum Kartun Indonesia, Pramono Pramoedjo. “Tujuan yang ingin kita capai dari pendirian museum ini adalah agar kartunis dan karyanya bisa sejajar dengan pelukis dan karya lukisnya. Karya kartun tidak kalah pentingnya dengan karya lukis,” tambah Pramono seperti dikutip dari sini.

Kampung Muslim Kepaon Bali

Jalan-jalan ke Bali tidak lengkap bila belum mengunjungi Kampung Islam Kepaon di Denpasar. Di sini ada beberapa kesenian yang sayang untuk dilewatkan.Begitu juga bangunan masjid Al Muhajirin yang dibangun di tengah-tengah kampung.


Kesenian yang dimaksud adalah Rodat. Di sini ada beberapa pemuda dengan pakaian mencolok. Baju lengan panjang warna biru, dilengkapi embel-embel atribut macam kepangkatan militer kerajaan Eropa. Atau kostum kerajaan Nusantara pasca penjajah Eropa. Bak kostum mayoret dalam marching band, dua orang di antaranya mengenakan seragam warna cerah menyala, merah. Lengkap dengan sebilah pedang di pinggangnya.

Nampaknya, dua orang berpakaian merah ini bertindak selaku komandan. Mirip upacara kemiliteran. Sekejap kemudian, dengan diiringi sekan kendang, pemain rodat ini mulai bergerak menyusuri jalanan, menjemput bale suji sambil mengumandangkan salawat badar.

Sang komandan terlihat gagah berjalan paling depan, dengan menghunus sebilah pedang di tanganya. Kok bawa pedang segala? "Pedang itu sebagai simbol penegakan kebenaran dan memberantas yang salah," kata Abdul Ghoni, Ketua panitia perayaan Maulid Nabi di Kampung Islam Kepaon.

Setibanya di halaman masjid, personel rodat ini memperagakan beberapa gerakan pencak silat, yang tetap dirangkai dengan salawat badar. "Setiap salawat ada gerakannya sendiri," kata Abdullah, salah seorang personel kesenian ini. Menilik pakaian dan gerakan yang dimainkan, memang sulit dipungkiri bahwa gerakan maupun kostumnya menggambarkan pasukan perang jadul atau angkatan jaman dulu.

Ghoni mengatakan, rodat diambil dari kata rodoton atau raudatan, yang artinya taman. "Kalau ngomong taman, sudah tentu gambaran kami adalah-hal-hal yang indah. Makanya di acara Maulid Nabi ini kami ingin menonjolkan keindahan," papar Ghoni. Personel rodat sendiri diambilkan dari pemuda dan remaja masjid setempat.

Sedangkan jika dilihat dari sejarah, rodat dulunya memang jadi salah satu pasukan perang kerajaan Badung. Yang berasal dari Kampung Islam Kepaon. "Nama rodat ini dulunya pemberian Cokorda Pemecutan. Saat kami membantu bertempur melawan kerajaan Mengwi dan perang Puputan Badung," kata H. Ishak Ibrahim, salah seorang sesepuh Kampung Islam Kepaon.

Melihat dari sejarahnya, tak heran bila hubungan antara Puri Pemecutan dengan Kampung Islam Kepaon terjalin begitu harmonis, sangat erat. Bahkan, Cokorda Pemecutan sampai sekarang selalu hadir setiap kali ada kegiatan di Kampung Islam Kepaon saat peringatan Maulid Nabi. 

Beberapa tahun lalu, saat Cokorda Pemecutan tersandung kasus keluarga hingga ada yang meninggal dalam perkelahian, kesetiaan itu pun terlihat. Dan berlanjut ke persidangan. Warga Kepaon pun tak pernah absen memberi dukungan kepada rajanya.

Nah, seiring bergulirnya waktu, kesenian rodat di Kampung Islam Kepaon ini juga mulai mengalami pergeseran. Tidak lagi seperti pada awal mulanya dulu. Salah seorang tokoh masyarakat setempat, yakni H. Ahmad Jafar mengatakan, bahwa saat ini kesenian rodat sudah bercampur dengan budaya kesenian dari Padang, Sumatra Barat. "Kami di Kampung Islam Kepaon ini ada tiga suku besar yang menempati. Yaitu Bugis, Padang dan yang terakhir dari garis Puri Pemecutan," kata lelaki 61 tahun ini. Sedangkan kesenian Islam Kepaon lainnya yang hingga kini masih ada adalah kesenian hadrah.

Senin, 17 Maret 2008

Pria Metroseksual Tak Selalu Gay

Perawatan tubuh bukan hanya diminati kaum hawa. Kaum Adam yang biasa cuek terhadap penampilan pun mulai akrab dengan perawatan tubuh khas kaum wanita.

Dandan rapi, wangi, modis dan postur tubuh ideal menjadi ciri khas pria masa kini. Bahkan nongkrong di butik, fitness center dan salon bukan hal yang tabu bagi kaum Adam untuk memersolek diri.

Hal ini dialami Jo (23), mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Cowok jomblo asal Jakarta tersebut malah sering mengonsumsi kosmetik yang marak diperuntukkan untuk kaum pria. Misalnya parfum, cologne, minyak rambut, shampoo, pembersih muka dan kosmetik lain yang berlabel for men selalu laris manis diburu.

Baginya, perawatan yang kadang dianggap “nyleneh” oleh banyak orang tersebut hanya dianggap hal biasa. “Cewek-cewek sekarang malah senang dengan cowok yang rapi dan selalu merawat penampilan tubuhnya. Aku ingin menjadi salah satu di dalamnya. Tapi aku bukan gay lho,”ungkap penggemar Nagita Slavina ini.

Tak hanya perawatan pribadi, perawatan tubuh kaum yang disebut metroseksual tersebut makin menjamur di mall maupun menjadi bisnis baru kaum metropolis. Di Denpasar telah merebak butik, fitness center bahkan salon yang mengklaim for men bukan lagi for gentle.  Meski tidak hanya menyasar kaum metroseksual, pelanggan tempat tersebut mayoritas mengaku diri sebagai kaum pesolek yang peduli penampilan. “Saya kan juga ingin diperhatikan orang lain. Dengan cara ini asal tidak kemayu semoga akan menarik lawan jenis,”tuturnya.

Muslimin (27), hair draiser Theguh Wijaya Salon di Ramayana Bali Mall cukup banyak melayani kaum metroseksual terutama masalah tatanan rambut. Jenis potongan rambut paling digemari oleh kaum ini adalah jenis Mohawk, Jepang dan Cina. Tipe modis alias klimis pun banyak dicari oleh kaum dandy ini.”Rambut sebagai mahkota manusia juga menjadi penampilan tak terpisahkan dari keseluruhan penampilan badan. Banyak juga yang melakukan keramas, creambath maupun pewarnaan di sini,”ungkapnya yang sering melayani pria dari kalangan remaja sma, mahasiswa,  maupun eksekutif.

Begitu juga dengan kegiatan facial muka yang banyak dikunjungi lelaki pada akhir pekan. Lelaki banyak yang tidak percaya diri jika wajahnya penuh dengan jerawat ataupun komedo (bintik hitam di wajah). “Namun untuk perawatan seperti pedicure, medicure dan lulur masih sangat jarang dilakukan oleh para pria di sini. Mungkin karena malu dan lebih nyaman kalau memakai sendiri di rumah,”tambahnya.

Sumitro (35), pemilik fitness center di kawasan Teuku Umar Denpasar menyatakan pelanggannya makin bertambah. Meski mereka tidak pernah mengaku pria metroseksual, ciri-ciri pria pesolek tersebut telah menunjukkan identitas kaum metroseksual atau pria dengan yang memerhatikan penampilan. “Tahun kemarin hanya puluhan saja. Kini anggota fitness ini membludak lebih dari 10 kali lipat,”katanya.

 Di pusat perbelanjaan seperti Tiara Dewata Denpasar telah menyediakan rak khusus bagi alat kosmetik pria. “Kami hanya memfasilitasi produsen yang membuat varian khusus pria. Produk tersebut akhir-akhir ini makin ramai dicari pembeli,”ungkap Bapak R. Novie Setyo Utomo, manajer Tiara Dewata Denpasar.

Minggu, 16 Maret 2008

Sejarah Islam di Bali

Sejarah masuknya Islam di Bali sebenarnya sudah berabad-abad yang lalu. Tengoklah desa-desa muslim yang ada di Bali, seperti Pegayaman (Buleleng), Palasari, Loloan dan Yeh Sumbul (Jembrana) dan Nyuling (Karangasem). Atau, kampung muslim di Kepaon di Badung.

Kehidupan di sana tak ubahnya seperti kehidupan di Bali pada umumnya. Yang membedakan hanya tempat ibadah saja. Bahkan di Desa Pegayaman, karena letaknya di pegunungan dan tergolong masih agraris, semua simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, banjar, dipelihara dengan baik. Begitu pula nama-nama anak mereka, Wayan, Nyoman, Nengah, Ketut tetap diberikan sebagai kata depan yang khas Bali.

Penduduk kampung ini konon berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam yang dibawa oleh para Raja Buleleng, Badung dan Karangasem pada zaman kerajaan Bali.

Orang-orang muslim di Kepaon adalah keturunan para prajurit asal Bugis. Kampung yang mereka tempati sekarang merupakan hadiah raja Pemecutan. Bahkan, hubungan warga muslim Kepaon dengan lingkungan puri (istana) hingga sekarang masih terjalin baik.

Konon, jika diantara warga muslim Kepaon terlibat gesekan-gesekan dengan komunitas lain, Raja Pemecutan turun tangan membela mereka. "Mereka cukup disegani. Bahkan, jika ada masalah-masalah dengan komunitas lain, Raja Pemecutan membelanya," ujar Shobib, aktivis Mesjid An Nur.

Di Denpasar, komunitas muslim juga dapat dijumpai di Kampung Kepaon, Pulau Serangan dan Kampung Jawa. Kampung Kepaon dan Serangan dihuni warga keturunan Bugis.

Konon, nenek moyang mereka adalah para nelayan yang terdampar di Bali. Ketika terjadi perang antara Kerajaan Badung dengan Mengwi, mereka dijadikan prajurit. Setelah mendapat kemenangan, kemudian diberi tanah.

Di Pegayaman, sebagian warga muslim menambahkan nama Bali Wayan, Made, Nyoman dan Ketut pada nama-nama Islam mereka, seperti Wayan Abdullah, misalnya.

Tetapi ini hanya dalam tataran budaya. Untuk idiom-idiom yang menyangkut agama, mereka tidak mau kompromi dan ini membuat mereka tetap hidup.

Keturunan mereka yang menghuni kampung-kampung ini dengan damai, dan tetap menjaga nilai-nilai tradisi keislaman mereka secara utuh.

Keberadan komunitas muslim di Bali, ditandai adanya mesjid di lingkungan kampung mereka. Selain itu, rumah-rumah warga muslim tidak dilengkapi tempat untuk sesaji di depan rumah.

Beberapa kampung itu hanya contoh kecil bagaimana dulu, masyarakat Hindu dan Muslim serta agama lain bisa hidup berdampingan di Pulau Bali.

Orang Bali sendiri secara umum menyebut warga muslim dengan istilah selam. Istilah selam ini sudah sangat umum di Bali untuk menjelaskan tentang umat Islam.

Sama sekali tak ada konotasi negatif, apalagi penghinaan. Justru istilah ini mempertegas kerukunan karena dikaitkan dengan ikatan persaudaraan yang di Bali dikenal dengan istilah manyama-braya. Dalam kaitan manyama-braya ini umat Hindu melahirkan istilah nyama selam (saudara Islam) dan nyama Kristen (saudara Kristen).

Ketika Ramadhan datang, umat Hindu menghormati orang Islam yang berpuasa, dan pada saat berbuka puasa umat Hindu ada yang ngejot (memberikan dengan ikhlas) ketupat.

Apalagi saat Idul Fitri datang. Umat Hindu memberi buah-buahan kepada saudaranya yang muslim, sementara pada saat Galungan, umat Islam memberikan ketupat (minimal anyaman ketupat).

Rabu, 12 Maret 2008

Orang Baik di Jakarta

Hari-hari melelahkan mulai kujalani saat pertama kali di Jakarta... Kebetulan hari ini ada jadwal liputan ke Hotel Shangri-La di jalan Sudirman. Maklum karena ga tahu, jd pusing di depan gedung Bimantara. Mau cari taxi, ojek, angkot, bajaj atau jalan kaki??

Karena dah telat 1/2 jam, akhirnya aku naik ojek. Sempat gontok2an dgn tukang ojek di depan kantor, dbwh jembatan kereta api. "10rb, Bang,"jawabku ketus sambil menunjukkan ke jalan Sudirman.

Akhirnya sang ojek minta 13rb. Jalan dah. Aku melintas jalan Wahid Hasyim dan seterusnya, ga sempat ngeliat plang jalan. Pokoknya sempat lewat kolong jembatan jg termasuk gedung2 pencakar langit. Wuaaaahhh, panaaaaaaaaaaaaasss.

Sampe depan Shangri-La, aku menyodorkan uang 100rb."Ada kembalian, Bang??"tanyaku.
"Wah..kenapa Mas tadi ga tukar di warung dekat kantor??keluh tukang ojek yg mengaku bernama Bang Kumis.
Aku mencoba mencari di sekitar hotel, sampe satpam pun kuminta tukar uang. Nihil. Nyerah deh.
"Trus gmn, Bang??jawabku bingung.
"Gini aja, Mas aku kasih uang 50rb. Sisanya bisa diambil di depan kantor. Pan Mas kerja di SINDO kan?? apalagi saya adalah pemilik lahan parkir di depan kantor Mas,"sergah Bang Kumis.

Aku menggaruk kepala. Gmn ya?? Aq sempat ragu harus memberikan uang 100rb & hanya kembali 50rb. Ini berarti aku bayar ojek 50rb. Haaa???
"Tenang, Mas. Percaya deh ama Abang. Pokoknya ga akan gue bawa lari tuh duit," jawabnya dengan logat Betawi pinggiran. (emang tahu logat Betawi pedalaman???)

Bang Kumis menyodorkan uang 68rb. Karena acara dah mulai & daripada telat, mendingan aku terima tawaran itu. Jika uang sisa tidak kembali, aku niatkan sebagai infaq aja. Bismilah. Aq menerima uang itu & lantas masuk ke dalam hotel.
Sepulang dari liputan pukul empat sore, aku langsung ketemu Bang Kumis di bawah jembatan layang. Akhirnya Datang Juga......

"Kehujanan Bang," seru Bang Kumis sambil menyodorkan uang 15rb. Ini berarti aku bayar ojek seharga 17rb. Ya udah ga apalah, daripada susah. Itung2 bantu orang.

Ternyata masih banyak orang baik di Jakarta ini. Akankah aku menemukan orang baik lainnya di Jakarta ini??

Selasa, 11 Maret 2008

Tahun Baru Islam di Bali

Tinggal di Bali malah membuatku nyaman, tadi aku datang ke Kampung Bugis di Pulau Serangan. Iseng saja, karena habis dari Pantai Sanur, liputan tentang puzzle 3 dimensi.

Pas memasuki masjid Asy-Syuhada Kampung Muslim Bugis, suasana begitu tenang. Tidak ada kebisingan. Saat itu jam 2 siang wita. Karena aku menunggu temanku yang ada di sana, aku tilawah sebentar.

Setelah ku hubungi ternyata dia ada di rumahnya dan aku disuruh datang ke Banjar (Desa) Ponjok. Sebuah banjar yang ada di ujung Pulau Serangan. Di Serangan ada pembagian menjadi Banjar Kaja (selatan), banjar Tengah dan banjar Ponjok (pojok sebelah utara). Kampung Muslim Bugis ada di Banjar Tengah.

Akhirnya aku bertemu dengan temanku di masjid saja, daripada jauh-jauh dan bikin bingung. Kami ngobrol tentang apapun. Kami terpisah sudah hampir setahun lalu. Dia namanya Hanif. Asalnya Lamongan Jawa Timur. Karena sudah lama tinggal di Bali & sekaligus memboyong keluarganya ke sini.

Dulu Pulau Serangan sempat dibeli oleh Tommy Suharto. Bahkan keluarga cendana ini membeli setengah pulau tersebut. Karena Tommy terkena kasus, proyeknya mangkrak. Baru dua tahun ini, proyek tersebut kembali berjalan. Tommy ingin membuat Pulau dengan kota mini seperti Las Vegas di Amerika lengkap dengan pelabuhan yang bisa disinggahi kapal pesiar atau kapal Fery. Bayangkan saja, investasi sebesar itu ternyata akan mendatangkan keuntungan luar biasa bagi kantong Tommy. Itupun kalau laku & kemungkinan besar juga laku.

Dunia properti di Bali sudah gila-gilaan. Harganya sudah melebihi kota Jakarta. Aku sih cuma kepikiran bagaimana nasib Kampung Bugis yang hanya sekitar 100 KK. Panjang wilayahnya pun kurang dari 1/2 km. Dari ujung ke ujung bisa dilakukan dengan jalan kaki. Selebihnya ada;ah penduduk asli Bali yang beragama Hindu.

Tahun baru ini tidak ada aktivitas apapun. Sempat ada jalan santai di kampung setempat setelah saya sholat Ashar tadi. Karena harus balik kantor, akupun langsung meninggalkan aktivitas tersebut. Next time aja aku cerita tentang AlQuran mini yang akan diarak keliling kampung Bugis saat Hari Maulid Nabi nanti.

Di Kampung Islam Kepaon juga cuma menggelar khataman AlQuran di masjid Muhajirin  jalan Pemogan Denpasar.Belum ada aktivitas menyambut pergantian tahun Hijriyah tersebut.