Senin, 30 November 2015

Yellow Trux Pendulang Uang

IMG_20150925_154052

Berawal dari kegemaran jalan-jalan, nongkrong, dan berwisata kuliner, Febrian Juanda memulai usaha di bidang kuliner. Hobi jalan-jalan dan bersantai menurutnya tidak boleh sia-sia.

IMG_20151020_100338

Demi menyalurkan kegemaran sekaligus mencari rejeki, ia kemudian membuka mini kafe bernama Yellow Trux di Bogor, Jawa Barat.

“Minat saya memang bisnis di bidang kuliner karena memang suka jalan-jalan, makan, dan yang enak-enak. Jadi menurut saya kalau jalan-jalan pulangnya harus menghasilkan inspirasi,” ujar Febri.

Berkonsep food truck, mini kafe yang berlokasi di Jalan Semeru, Bogor ini menyuguhkan berbagai menu makanan ringan, mulai dari aneka ice cream, milk shake, olahan mie instan, roti bakar, dan lain sebagainya.

Pelanggan pun akan dimanjakan dengan jaringan internet yang kuat dan menu yang terjangkau kantong pelajar.

IMG_20151022_133616

“Kami memang mengonsepkan tempat yang murah untuk remaja nongkrong. Dengan harga terjangkau, target pasar kami usia 15-28 tahun. Menu yang paling laris Cookies Cream dan kiwi frezz,” katanya.

Berwarna serba kuning, Yellow Trux memang sebuah gagasan yang tertuang karena kesukaan pada warna kuning. “Saya memang suka warna kuning dan kata orang kalau warna kuning bikin lahap makan. Konsep truk dibuat karena ini baru pertama kali di Bogor,” kata Febri.

Pembangunan mini kafe ini didukung investor yang berperan dalam pemberian saham pasif dengan konsep bagi hasil. Modal usaha ini mencapai Rp 70 juta. Hingga saat ini, selama tiga bulan Yellow Trux menghasilkan omzet Rp 55 juta.

“Saat ini sangat banyak anak muda yang sukses pada bisnisnya karena memang ada investor yang kerja sama,” katanya.

Menurut dia, untuk mendapatkan kepercayaan investor harus ada personal branding yang kuat. Inovasi, pencarian ide, dan berbagai riset harus dilakukan sebelum pada akhirnya mendirikan sebuah mini kafe atau restoran.

IMG_20150923_091432

“Kadang orang selisih paham dengan rekan investornya. Tapi kita harus tetapkan dari awal bagaimana sistem bagi hasilnya. Kalau memang bisa konsisten dan bertanggung jawab, investor akan tertarik,” katanya.

Laki-laki berusia 23 tahun ini memang merasa tertarik pada dunia bisnis sejak SMA. Bisnis kecil-kecilan sudah dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah. Hingga saat menimba ilmu di bangku kuliah, bisnis justru jadi prioritas.

IMG_20150908_110835

“Saya tidak selesaikan kuliah karena asik dengan dunia bisnis. Saya dua kali pindah kuliah dan keduanya tidak selesai,” ujar Ketua bidang Kewirausahaan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Jawa Barat dan Bogor ini.

Menurut dia, belajar tak hanya melalui bangku sekolah. Konsep belajar dari ahlinya bisa menjadi salah satu kunci kesuksesan. Berbagai pelatihan bisnis dan seminar pun menjadi kegiatan yang rutin ia sambangi.

“Saya orangnya suka belajar langsung dari ahlinya. Jadi sampai sekarang belajar dengan cara yang berbeda. Ikut seminar, training, dan lain-lain masih kok,” katanya.

Hingga saat ini, ada tiga bisnis yang ia kelola, yaitu Food Addict, Black and White dan Yellow Trux. Ekspansi mendatang, Febri mengaku berencana memproduksi ice cream. Pasalnya kebutuhan ice cream sangat tinggi untuk tiga kafe yang ia kelola.

IMG_20150903_195247

Bolos Kuliah Satu Semester

JIWA muda memang sangat bergejolak, terlebih untuk mencoba hal yang baru dan lebih menantang. Febri Juanda juga mengalaminya.

Sekitar enam bulan ia berusaha mencari jati diri dan menemukan minat yang ia sukai. Ia berkeliling ke sejumlah tempat di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta, Surabaya, Kediri, hingga Bali.

“Saya sempat cuti kuliah buat jalan-jalan. Satu semester tidak kuliah. Itu orang tua saya tidak tahu. Sampai akhirnya saya menjadi pelayanan restoran di Bali selama satu bulan karena sudah tidak punya uang,” katanya.

Inspirasi menjadi pengusaha tak hanya datang dari plesiran. Pertemuannya dengan seorang laki-laki setengah baya di dalam kereta komuter Bogor-Kota juga menjadi bekalnya membuka bisnis.

Ia mengaku tidak cocok melakukan pekerjaan di perusahaan besar. Karakter pribadi yang keras tidak mendukungnya menjadi karyawan yang baik.

IMG_20150924_163132

“Saya tipe yang tidak bisa disuruh-suruh. Jadi saya tidak cocok dengan atasan. Sudah sempat kerja juga dulu di Jakarta. Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah 30 tahun bekerja tapi kesejahteraannya segitu saja. Saya berpikir apakah saya juga akan seperti itu,” katanya.

Berbekal kepercayaan, relasi, dan riset pasar, pria penyuka modifikasi mobil ini terjun ke dunia bisnis. Ia memberikan saran kepada pengusaha muda untuk tidak takut mencoba. Kegagalan memang pasti pernah terjadi tapi konsep dan perencanaan akan mematangkan bisnis.

“Gagal pasti ada, tapi konsep harus matang. Riset pasar harus dilakukan sebelum membuat usaha supaya jangan cuma buka usaha dan ramai di awal. Kualitas dan inovasi harus terus dilakukan. Prinsip saya, kalau tidak bisa jadi nomor satu harus jadi yang terbaik. Itu bisnis,” katanya.

L1470347 (2)

Nama : Febrian Juanda
Usia : 23 tahun
Hobi : jalan-jalan, makan, nongkrong, modifikasi mobil
Organisasi : Ketua Bidang Kewirausahaan HIPMI Jawa Barat dan Bogor
Perusahaan : Kuliner, Yellow Trux
Instagram : @Yellowtrux
Facebook : Yellow Trux ID



via didikpurwanto.com

Minggu, 29 November 2015

Toyota Ungguli Penjualan VW

Camry_car

Toyota Motor Corp mengungguli penjualan Volkswagen (VW) untuk bulan keempat berturut-turut pada Oktober sebagai produsen yang menjual mobil terlaris sepanjang tahun ini. Penjualan VW tertekan akibat skandal manipulasi standar emisi.

Toyota mengatakan, penjualan kendaraan pada kelompoknya mencapai 8,35 juta unit periode Januari-Oktober 2015. VW hanya mampu menjual 8,26 juta unit dalam periode yang sama. Toyota telah melampaui penjualan VW secara tahunan sejak Juli 2015.

Awal bulan ini, VW menyatakan, penjualan merek Volkswagen turun 5,3 persen (yoy) pada Oktober, pertama kalinya sejak VW terkena kasus skandal dan penjualan pertama kali ke AS sejak 2009.

Penjualan di Jepang hingga Oktober juga turun 1,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan dari kelompok VW untuk periode yang sama turun 1,7 persen tahun ini.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Murdoch Beli Tribune Publishing

tribune

Pemilik media News Corp Rupert Murdoch memiliki keinginan kuat membeli the Tribune Publishing Co. Los Angeles Times yang menjadi anak usaha Tribune akan memisahkan diri dan dibeli investor lokal, termasuk Eli Broad.

Murdoch yang juga memiliki 21st Century Fox, kelompok hiburan dan siaran membuat komentar di Twitter.

Pada September lalu direksi Tribune mengatakan, Los Angeles Times dan San Diego Union-Tribune memiliki portofolio perusahaan dan komponen kunci yang mendasari keberhasilan di masa depan.

Murdoch dalam akun Twitternya belum memverifikasi perusahaan yang akan mengakuisisi kelompok surat kabar tersebut, termasuk waktu pembelian. Murdoch menyatakan tidak menawar dan tidak memiliki ketertarikan.

rupert-murdoch_news-corp

Seorang wakil Los Angeles Times yang merepresentasikan juru bicara Tribune Co tidak bersedia memberikan komentar.

Juru bicara Eli Broad yang tertarik membeli Los Angeles Times menolak berkomentar.

The Tribune Co pada September mengurangi biaya modal tahunan yang dikaitkan dengan tantangan di Southern California. Surat kabar yang diterbitkan the Tribune Co termasuk the Baltimore Sun, Hartford Courant, SunSentinel dan Orlando Sentinel.

Saham Tribune ditutup turun 25 persen dari US$ 12,24 pada 31 Agustus menjadi US$ 9,29 per saham pada akhir pekan lalu.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Jumat, 27 November 2015

Review Brush with Danger

efe5c7592510e8cfd3c9ff64e61853f5Danger_Poster

Tidak semua imigran gelap mampu selamat hingga negara tujuan. Ada yang tewas saat perjalanan atau justru meninggal saat tiba di tempat persinggahan.

Sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia, China melakukan imigrasi ke beberapa negara, khususnya ke Amerika Serikat. Mereka kebanyakan datang dalam jumlah banyak dan mencari penghidupan lebih baik.

Sejarah orang China yang berimigrasi ke AS pertama kali sebanyak 1.000 orang pada tahun 1820. Berdasarkan catatan Pemerintah AS, semua imigran tersebut pria.

Demam emas California pada 1848 memicu lebih banyak kedatangan orang China ingin menambang emas dan bekerja kasar.

Pada 1852, imigran China sudah mencapai 25 ribu orang lalu menjadi 105.465 orang pada 1880. Sebagian besar tinggal di Pantai Barat. Sebagian besar imigran awal adalah pria muda berpendidikan tak memadai dari Provinsi Guangdong.

Cerita perjalanan imigran China bisa dilihat di Wikipedia.

Kembali ke film Brush with Danger, film tersebut mengisahkan imigran gelap dari China ke AS. Imigran sengaja masuk melalui kontainer yang biasa digunakan untuk barang.

Anehnya, satu kontainer bisa berisi lebih dari 20 orang. Saya membayangkan, bagaimana mereka bisa hidup karena perjalanan dari China ke Seattle, Washington, AS cukup jauh.

Lepas dari itu, dua tokoh utama Alice (Livi Zheng) dan Ken (Ken Zheng) yang ikut dalam rombongan di kontainer tersebut selamat dan sampai di AS dengan selamat.

Mereka mencari ayahnya yang lebih dulu menjadi imigran di sana. Namun tanpa bekal cukup, mereka memberanikan diri menjadi imigran.

Akibat tidak memiliki rumah atau peraduan di sana, mereka kelimpungan. Beruntung Alice pintar melukis dan membawa lukisannya.

Alice menjual lukisan di sebuah pasar terbuka. Ken yang ahli bela diri pun memertontonkan kebolehannya. Keahliannya pun menghasilkan uang dan mereka pun bisa makan.

Kemampuan mereka berdua yang sekaligus bisa beladiri juga mampu menolong ibu tua pemilik sebuah restoran yang dicopet. Ibu tua tersebut menawari makan dan tempat tinggal.

Namun Alice menolak kebaikan ibu tersebut. Ia tetap berusaha mandiri sambil mencari ayahnya.

Suatu hari ada yang berminat terhadap lukisan Alice dan menawarkan kerja sama menjadi pelukis di galeri. Justus Sullivan, pemilik galeri berani membayar tinggi atas lukisan-lukisan yang dibuat Alice.

Awalnya, Alice sempat ogah menerima tawaran tersebut karena lukisan tidak boleh ditulis namanya. Ia seakan menjadi pelukis bayangan.

Apalagi Alice sempat mendapat tawaran melukis karya Van Gogh dan dibayar tinggi oleh Justus. Konflik pun mulai beradu di sini karena ternyata ada seorang Polisi yang sedang menyelidiki kasus serupa.

Di AS, banyak kejadian pembunuhan imigran gelap, khususnya terkait lukisan dan korbannya merupakan wanita Asia.

Film berdurasi sekitar 90 menit ini mudah dipahami karena alur dibuat ringkas. Bahasa percakapan pun khas imigran Asia sehingga mudah dipahami meski tidak memakai subtitle. Tapi tenang saja, film ini memiliki subtitle Bahasa Indonesia kok.

Apa yang menarik dari film ini?

Film tersebut disutradarai Livi Zheng, warga Malang kelahiran 3 April 1989 yang menuntut ilmu ke China. Film tersebut murni diproduksi di AS dan telah dirilis di AS sejak 19 September 2014.

Ia memulai karir sebagai pemeran pengganti sejak usia 15 tahun. Pada usia 4 tahun, ia dan keluarga pindah ke Jakarta.

Zheng memiliki satu adik, Ken Zheng yang juga terlibat dalam film tersebut. Ia dan Ken pindah ke Beijing saat berusia 15 tahun dan ke AS ketika berusia 18 tahun. Ini bisa jadi semacam kisah mereka sendiri dan difiksikan menjadi seorang imigran.

Pengambilan gambar film ini dibuat selama 27 hari pada 2013 di Seattle, Washington, dan Los Angeles, California.

Masuk Nominasi Oscar

Livi Zheng merupakan satu-satunya wanita Asia pertama yang filmnya sukses di dunia perfilman di AS. Hasil karyanya sempat terpilih masuk seleksi Piala Oscar dan tayang di AS selama hampir dua bulan.

Awalnya, menurut pengakuan Livi, ia sempat tak percaya filmnya masuk nominasi, apalagi Oscar. Ia sempat mengacuhkan surat elektronik dari panitia yang mengabarkan film Brush with Danger masuk seleksi nominasi Oscar.

“Bayangkan sekitar 40 ribu film masuk seleksi penghargaan Piala Oscar dan film Brush with Danger bisa menyisihkan mereka untuk kategori Best Picture,”katanya saat ditemui di XXI Episentrum, Sabtu (21/11).

Film Brush with Danger selanjutnya masuk 300 besar dan bersaing dengan film-film Hollywood lainnya. Harapannya film ini bisa menginspirasi generasi muda di seluruh dunia.

Film ini sudah resmi masuk Indonesia sejak 26 November 2016

Review:

Film ini memiliki sinematografi yang lumayan apik dengan sentuhan efek yang minim sehingga terkesan natural.

Aksi bela diri pun dibuat lebih natural karena kedua pemain telah mahir beladiri meski beladiri yang digunakan bukan wushu seperti kemahiran Livi dan Ken. Livi juga sempat menjadi juara Wushu.

Dengan cerita yang ringan dan aksi beladiri yang kurang ekstrem memicu film drama thriller ini menjadi kurang menegangkan. Padahal bila memberi efek khusus dan tambahan cerita sejarah bangsa China yang menjadi imigran di AS mungkin bisa sedikit lebih apik. Apalagi bila dibumbui serangan invasi masyarakat China yang mulai menyerbu AS.

Tapi Livi tampaknya ingin menyajikan sajian film yang ringan, menghibur dan ingin memberi pesan kebaikan kepada penontonnya.

Segala sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tentu saja niat baik akan mendatangkan kebahagiaan, tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga masyarakat sekitar.



via didikpurwanto.com

Xiaomi Gagal Ungguli Huawei

xiaomi (1)

Xiaomi diperkirakan gagal mengungguli penjualan Huawei karena diperkirakan hanya mampu menjual ponsel di bawah 80 juta unit sepanjang 2015. Penjualan tersebut sudah direvisi dari target sebelumnya menjual 100 juta unit ponsel.

Lembaga riset Canalys menyatakan, pengiriman ponsel Xiaomi secara domestik, termasuk Mi4 dan seri Redmi turun delapan persen pada kuartal III dibanding periode sama tahun lalu.

IHS, perusahaan riset lainnya memerkirakan pengiriman Xiaomi turun 3,9 persen, hampir tak mampu menggoyahkan penjualan Huawei Technologies Co.

Hingga sembilan bulan pertama di 2015, Xiaomi hanya mampu menjual 53 juta unit ponsel, setengah dari target penjualan semula. Meski mendapat pendanaan dari GIC Pte, All-Stars Investment Ltd dan DST, Xiaomi masih sulit menyaingi produsen lokal, khususnya Huawei yang kini sudah mendapatkan pangsa pasar ketiga di bawah Apple dan Samsung.

“Dengan tambahan modal dari investor, Xiaomi ingin seperti Apple dan mereka tumbuh sangat cepat. Tapi sekarang mereka tidak lagi tumbuh cepat dan tidak sebagus Apple,” kata analis di Sanford C Bernstein di Hong Kong, Alberto Moel.

Untuk mendongkrak penjualan, Xiaomi merilis Redmi Note 3 dengan fitur pemindai sidik jari dan bahan ponsel berupa logam. Harga Redmi Note 2 juga langsung dipangkas.

Pertumbuhan mungkin terjadi di kuartal IV seiring perilisan Redmi Note 3 dan rencana peluncuran Mi5 serta Hari Belanja di China yang biasa terjadi di akhir tahun. “Tapi kami tidak khawatir dengan valuasi. Dari waktu ke waktu, penjualan masih substansial,” kata Managing Partner Investor Xiaomi, GGV Capital di Menlo Park, California, Hans Tung.

“Selama setahun ke depan, itu akan menjadi jelas apa yang Xiaomi lakukan di rumah pintar dan layanan ruang.”

Wakil Presiden Xiaomi Hugo Barra menolak mengomentari target pengiriman atau valuasi aset perusahaan.

Sumber: Bloomberg



via didikpurwanto.com

SCMP Akui Didekati Alibaba

scmp-6-oct-2014b

South China Morning Post (SCMP) mengakui telah didekati Alibaba Group Holding Ltd untuk membahas membeli aset media.

SCMP menempati posisi penting di kalangan elite berbahasa Inggris yang masih mendominasi bekas koloni Inggris. Harian berbahasa China mungkin lebih berpengaruh dibanding SCMP namun perubahan arah editorial dipandang sebagai barometer kebebasan pers di bawah pemerintah China.

Senin lalu, Bloomberg melaporkan CEO Alibaba Jack Ma sedang dalam pembicaraan lanjutan mengambil saham di SCMP. Sumber itu mengatakan kepada Reuters, pembicaraan yang melibatkan Alibaba merupakan investasi swasta. Perusahaan berbasis di Hangzhou ini telah ekspansi ke sektor media.

Beberapa wartawan di SCMP menyambut berita itu dan mengatakan Jack Ma memiliki reputasi penurunan bisnis yang terjadi di surat kabar tertua di China itu.

Namun tak sedikit wartawan yang berhati-hati atas rencana aksi korporasi tersebut. “Hati-hati terhadap apa yang Anda inginkan,” kata editor yang enggan disebut namanya.

Dia mengatakan, beberapa wartawan waspada atas hubungan Jack Ma, seorang warga China daratan dan kepemimpinan di Beijing. SCMP menolak berkomentar.

Ketua Konsultasi Teknologi BDA China Duncan Clark mengatakan, Jack Ma tidak mungkin mengubah SCMP menjadi alat propaganda, baik untuk Beijing maupun Alibaba. “Mereka lebih canggih dari itu,” katanya.

SCMP Group menyatakan, pertimbangan proposal investasi masih dalam tahap awal dan syarat tunduk pada diskusi lebih lanjut dan persetujuan peraturan.

“Ada laporan di luar sana yang mengatakan penandatangan kerja sama sudah dekat. Kami tidak melihat itu,” kata Direktur Pemasaran dan Acara di SCMP Group Michael Chu.

“Seperti halnya diskusi bisnis, saya akan mengatakan ada tingkat ketidakpastian. Apa pun masih bisa berubah.” Juru bicara Alibaba Rachel Chan menolak berkomentar.

Selain surat kabar, SCMP Group juga memiliki lisensi beberapa publikasi, termasuk Cosmopolitan, Harper Bazaar, dan Majalah The Peak. Oktober lalu SCMP bekerja sama dengan e-commerce di Hong Kong, MyDress.com.

Pada 2013, seorang wartawan SCMP mengundurkan diri setelah menulis Jack Ma yang menyatakan mendukung tindakan keras demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing pada 1989. Jack Ma membantah telah membuat pernyataan tersebut.

Awal bulan ini, SCMP menunjuk Wakil Editor Tammy Tam menggantikan Wang Xiangwei menjadi Pemimpin Redaksi mulai 1 Januari 2016.

Sumber: Reuters



via didikpurwanto.com

Selasa, 24 November 2015

Alibaba akan Beli SCMP

scmp-6-oct-2014b

Pendiri Alibaba Group Holding Ltd Jack Ma sedang dalam pembicaraan membeli saham di penerbit surat kabar South China Morning Post (SCMP). Rencana pembelian bisa membantu bisnis perusahaan karena selama ini banyak yang mulai meninggalkan media tradisional dan beralih ke media online.

Dua sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan, negosiasi sudah berada pada stadium lanjut. Namun tidak mau diidentifikasi karena negosiasi pribadi.

Salah satu sumber lain menyebut, penandatanganan kerja sama akan diumumkan segera meski nilai kesepakatan belum diketahui.

SCMP semula dimiliki taipan media Rupert Murdoch namun pada 1993 menjual sebagian besar sahamnya ke miliarder Malaysia Robert Kuok. SCMP dan Alibaba menolak berkomentar.

Namun ketika Jack Ma ditanya apakah tertarik membeli SCMP dalam sebuah wawancara bulan ini, dia mengatakan sedang melihat banyak perusahaan sekarang. Upaya untuk menghubungi kelompok Kuok pun belum berhasil.

Alibaba tampaknya mengikuti jejak Amazon.com Inc. CEO Amazon Jeff Bezos membeli Washington Post pada 2013. Di antara serbuan masif media online, Bezos justru mengakuisisi media tradisional.

Langkah serupa dilakukan salah satu pendiri Facebook Inc, Chris Hughes. Dia membeli saham mayoritas di Majalah New Republic pada 2012.

SCMP Group Ltd telah mengalami penurunan laba tiga tahun terakhir dan perdagangan di bursa saham Hong Kong dihentikan sejak Februari 2013 setelah perusahaan gagal memiliki setidaknya 25 persen saham untuk investor minoritas.

Surat kabar berbahasa Inggris ini telah berusia 112 tahun dan menjadi aset yang paling terlihat. Kelompok perusahaan juga bergerak pada bisnis mulai dari perekrutan di majalah dan percetakan.

China Daily melaporkan awal bulan ini bahwa rumor yang beredar menyatakan Alibaba sedang dalam pembicaraan untuk berinvestasi di SCMP Group.

Sumber: Bloomberg



via didikpurwanto.com