Rabu, 10 Juni 2015

Your email Account ( d7strodito.udayana@blogger.com) will be shut down

<html>
<head>
<title></title>
</head>
<body>
<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">Dear (d7strodito.udayana@blogger.com),</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">&nbsp;</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">Due to transmission of viruses from your account, your account will be permanently deactivated.<br />
In respect to the above, you are urgently required to sanitize your email account with Norton e-mail Scanner; otherwise, your access to email services will be deactivated without warning!</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">&nbsp;</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;"><a href="http://mlprecise.com/nort778ujei882jfe21bc8irfe229811b" style="color: rgb(7, 130, 193);"><strong>Click here now to scan and sanitize your email account</strong></a></p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">&nbsp;</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">We are very sorry for the inconveniences this might have caused you and we assure you that everything will return to normal as soon as you have sanitized your email account.</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">&nbsp;</p>

<p style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: sans-serif, Arial, Verdana, 'Trebuchet MS'; font-size: 13px; line-height: 20.7999992370605px;">Admin.</p>
</body>
</html>

Greetings Dear

Greetings, how are you doing?i know you will be surprised to see my email.however,It's my pleasure to contact you through this medium though we barely know each other but i want to seize this opportunity to introduce myself to you.I am Sir John Hawkins from United Kingdom.I was UK former Ambassador to Qatar as United Nations Envoy/Ambassador.I want to go into private investments and from my findings, your country economy has being growing rapidly in tourism and i want to invest in real housing estate or any other profitable investment.i will tell you more and all you need to know as we proceed.my main reason of contacting you is to assist me establish and manage my investment project in your country since i will not always be there for the day to day running of the business because I'm still active with certain governmental appointments.So i want to know if i can trust you and if you are capable of handling such project so i can send you the proper proposal and also let you know the details of the investment.
.

I will be pleased to get a feedback from you.

Sir John.

Selasa, 09 Juni 2015

Dapat Mobil Dari Twitter

CGgbLyNUgAEHRgF.jpg-large

Traveling selalu memunculkan berbagai cerita yang menarik. Setiap manusia pada dasarnya adalah pejalan. We are all travelers.
Itulah sekelumit kalimat dalam blog milik Amrazing.com. Awalnya saya tidak kenal dia karena setiap hari saya disibukkan dengan urusan ekonomi, rupiah melemah, impor sembako, harga sembako naik, BBM, hingga kasus korupsi yang menjebak pejabat kita.
Saya muak dengan berita-berita sehari-hari yang tidak mengundang inspirasi. Sejenak melihat keindahan alam ciptaan Tuhan dan bersyukur kita bisa menikmati keagungan-Nya.
Kembali lagi ke Amrazing. Perkenalan dengan dia berawal dari blog trip ke Lampung pada 2-5 Juni lalu. Saya bersama sembilan blogger dari Kompasiana berkesempatan mengunjungi pabrik Nescafe di Lampung.
Saat perjalanan berangkat pun saya tidak kenal dia meski dia berada di sebelah saya. Pas di dalam kapal feri dari Merak menuju Banten, teman-teman pun bertebaran ke sisi kapal mencoba mencari spot terbaik untuk hunting foto atau sekadar bercengkerama dengan penumpang yang lain.
TIba-tiba saya diajak bicara oleh Dede Ariyanto, blogger asal Yogyakarta yang kini sudah bermukim di Jakarta. Dia bercerita baru saja bertemu dengan orang aneh.
Äku tadi baru ketemu dengan orang aneh. Masa ditanya baik-baik kok malah sewot,”kata Dede.
“Emang siapa yang kamu temuin?”tanyaku.
“Itu tadi yang ikut kita dari awal di gedung Arcadia Nescafe. Masa kamu tidak tahu?”tanyanya. Aku menggeleng tanda tidak tahu.
“Jadi aku tadi tanya. Mas namanya siapa? Dia jawab Thian. Trus aku tanya lagi. Dari komunitas atau apa? Si Tian itu hanya menjawab Amrazing.
Dede pun masih penasaran. “Amrazing itu komunitas apa ya? Kalau saya kan dari Kompasiana!” Dede serius menjelaskan.
Tapi tanpa penjelasan apapun, si Amrazing itu pun berlalu meninggalkan Dede seorang diri. Tanpa penjelasan siapa dia.
Aku pun ingat seseorang di akun Twitter. Nama itu seperti familiar. Aku pun cek melalui ponsel Xiaomi Mi4i yang baru ku beli dari flash sale. Ihhh..ini jangan promosi.
Ahhh..ternyata benar. Si aMrazing itu adalah selebtweet. Namanya Alexander Thian. Beberapa followernya memanggil dia dengan koh Thian.
Ternyata si koh Thian diundang khusus ke acara blog trip ini. Saya pun langsung follow akun Twitternya. Secara perlahan, saya pun menemukan timeline dia yang sedikit aneh.
CGoXVcPUkAIdpgk.jpg-large
Ternyata koh Thian membicarakan Dede di akun Twitternya. Sontak saya langsung tertawa melihat timeline. Dede pun kebingungan.
Screen Shot 2015-06-09 at 11.49.33 AM
Di hari kedua di Lampung, peserta blog trip diajak ke Tanggamus, sebuah perbukitan yang menjadi lokasi edu farm milik Nestle dan beberapa kebun kopi milik petani yang dibina langsung oleh Nestle.
Dalam perjalanan sekitar dua jam tersebut, kita disiapkan lima kendaraan Toyota Avanza. Kebetulan saya ada di mobil terakhir. Saya pun masuk dan duduk di kursi belakang bersama Dede.
Baris tengah diisi pak Mawan Sidharta dari Gresik dan Koh Thian. Baris depan diisi pak Fajar Mochtar dari Bandung dan sopir.
Sepanjang perjalanan, pak Mawan yang cenderung ceriwis karena rasa ingin tahunya paling besar selalu bertanya bak investigator ke koh Thian.
Koh Thian pun dengan pede menjelaskan siapa dia. Alasan diajak ikut ke kebun kopi ini dan menjelaskan kegiatan dia sehari-hari.
“Jadi saya diajak Nestle untuk cerita-cerita aja di timeline Twitter. Kerjaan saya kan tukang cerita,”jawabnya sambil menunjukkan akun Instagram berisi foto-foto perjalanan ciamik ke luar negeri dan di dalam negeri.
Pak Mawan yang paling senior di antara peserta blog trip masih penasaran dengan koh Thian ini. “Mohon maaf nih mas Thian (kebiasaan orang Jawa kalau ketemu siapa pun pasti dipanggil mas). Dari kegiatan jalan-jalan ini, berapa penghasilan mas sehari-hari? tanyanya sambil malu-malu.
Koh Thian tersenyum dan menatap mata pak Mawan. Ia sejenak diam dan mengambil ponsel iPhone 6-nya. Mengutak-atik kamera Fuji X-E2 dan Fuji X-M1.
“Jujur ya. Dari Twitter ini saja, saya bisa membeli mobil,”jawab koh Thian singkat. Seisi mobil pun diam.
“Kok bisa?” tanya pak Mawan lagi.
Sejak kecil saya sudah biasa jalan-jalan. Dari Kalimantan, saya pernah hijrah ke Malang, naik kapal laut sendirian. Dari situ saya belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang orang, masyarakat, budaya hidup dan lainnya.
Kebiasaan itu saya tuangkan ke tulisan hingga menemukan situs jejaring sosial Twitter. Di situ saya bisa bebas berekspresi menemukan siapa diri saya dan untuk apa saya hidup.

“Ketakutan saat memulai berjalan selalu ada, tapi begitu sudah menemukan enaknya traveling, we just can’t stop. Begitu juga dengan traveling sendirian. Traveling alone is somehow scary for few people.

You go to a strange land. A place you have never been before. And you’re all alone. Isn’t it scary?

Pikiran-pikiran dan berbagai kekhawatiran ini lah yang membuat banyak orang yang enggan jalan-jalan sendirian. Padahal, bepergian sendirian itu bisa sangat seru.”

Dari Twitter ini saya pernah diundang Australia Tourism Board lima kali. Saya diundang bersama blogger dan chef seluruh dunia untuk menjajal wisata di Negeri Kanguru tersebut. Dari Indonesia hanya terpilih tiga orang, termasuk dirinya. Padahal Malaysia mewakilkan 12 orang.

Untuk pertama kali juga saya naik pesawat khusus dan hanya diisi dua orang. Waktu itu kami dibebaskan memilih destinasi wisata di Australia dan mengeksplorasi keindahannya.

Dia pun menjelaskan keasyikan naik balon udara, makan di atas gunung, melihat aurora, dan segudang keajaiban Tuhan yang dipotret dan diunggah di akun Instagramnya. Seisi mobil masih terdiam.

Koh Thian juga menjelaskan pernah ke Jepang dan memotret maiko, geisha pemula. Cowok  33 tahun ini pun memberi segudang saran trip ke Jepang.

Dari situ, Dede mulai paham sebegitu Amrazing si koh Thian ini. Dan dia mulai tahu apa dan siapa makhluk mungil bermata sipit tersebut.
“Jadi saya memang suka dengan Jason Mraz, penyanyi dan penulis lagu dari Virginia, Amerika Serikat tersebut. Biar terkesan beda dan menghormati nama idola saya, sengaja huruf M saya kapitalkan jadi aMrazing.”
Screen Shot 2015-06-09 at 11.58.32 AM
Dari situ pula, kami bersemangat mengejar cita-cita kami, berusaha menjadi diri sendiri dan meniru apa yang baik dari koh Thian atau makhluk-makhluk sukses di luar sana.
Hanya dari cuitan di dunia maya, semuanya bisa jadi uang. Bukan berarti kita matre karena semuanya memang butuh uang. Namun yang penting adalah kebahagiaan. Kebahagiaan bisa terjadi saat kita bahagia melakukan sesuatu.
Apalagi sesuatu yang kita lakukan dan kita sukai malah mendatangkan rezeki buat kita. Termasuk ada yang membiayai kesenangan kita. aMrazing kan?


via didikpurwanto.com

Minggu, 07 Juni 2015

Belanja Online Nyaman Gratis Pengiriman

ok lagi

Berbelanja online sudah menjadi budaya kaum urban saat ini. Budaya tersebut juga bukan menjadi dominasi kaum perempuan karena kaum Adam pun sudah mulai mengetahui tren tersebut.

Situs belanja online pun semakin menjamur dan menawarkan segala kelebihan dan kekurangannya. Beragam promosi pun ditawarkan, mulai menggelar flash sale, diskon jam tertentu, produk terbatas, diskon pertengahan bulan, promosi menarik setiap hari, kemudahan cara pembayaran, gratis voucher, hingga beragam promo lainnya.

Akhir bulan lalu, saya mencoba mencari EarPods untuk iPod Touch. Beragam situs belanja online pun saya telusuri untuk mencari harga terbaik. Saya mencoba membandingkan dengan toko online terlengkap.

Cara ini jarang dilakukan, terlebih kaum lelaki yang tidak terlalu sensitif masalah harga. Namun bagi saya, selisih Rp 1.000 pun bermasalah, apalagi bila situs belanja online itu tidak memberikan user experience yang lebih.

Saya sih tidak masalah membayar harga lebih dibanding toko sebelah asal cara pembayaran mudah dan barang cepat sampai. Bila ada cacat saat barang diterima, keluhan pun langsung bisa ditanggapi oleh penjual. Ini hak pembeli.

Saya mencoba membandingkan empat toko belanja online. Pertama, Lazada.com yang menjual EarPods tersebut seharga Rp 249 ribu. Kedua, blanja.com seharga Rp 228.500. Ketiga, Elevenia.co.id seharga Rp 219 ribu. Terakhir, Blibli.com seharga Rp 229 ribu.

IMG_20150607_171210_HDR

IMG_20150607_171149_HDR

IMG_20150607_171131_HDR

Tidak puas dengan belanja online, saya pun membandingkan dengan toko di ITC Ambassador Jakarta yang menjual produk serupa seharga Rp 230 ribu. Setelah saya tawar (karena cukup sering belanja di situ), saya diberi harga Rp 200 ribu pas. Lebih murah dibanding situs belanja online.

Namun pengalaman saya belanja di ITC tersebut, saya tidak puas dengan barangnya. Saya pernah membeli EarPods serupa dan seminggu kemudian rusak. Otomatis barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan karena tidak ada garansi (namanya juga produk bajakan).

Sekadar catatan, saya pernah beli EarPods original di Singapura sekitar US$ 40 (sekitar Rp 400 ribuan) tahun lalu.

Saya memutuskan belanja di Blibli.com karena harganya ada di tengah-tengah, tidak kemahalan dan tidak kemurahan. Terlalu murah juga khawatir rusak sama seperti produk yang saya beli di ITC tersebut.

Lantas apa yang menjadi unik dari situs belanja tersebut? Blibli.com yang termasuk dalam afiliasi kelompok produsen rokok Djarum, termasuk Bank Central Asia (BCA) tentu memiliki kemudahan cicilan 0% hingga 6-12 bulan, metode pembayaran terintegrasi dengan BCA dan bank lain, keamanan berbelanja, dan jasa pengiriman.

Khusus yang terakhir, biasanya selalu menjadi pertimbangan utama. “Saya sih tidak khawatir harga barangnya, tapi kalau sudah ditambah ongkos kirim, harga barang jadi lebih mahal. Apalagi kalau barang harus dikirim ke luar Jawa, ongkos lebih besar lagi. Kadang mahalan ongkos kirim dibanding harga barang,” kenang salah satu teman yang bermukim di Kalimantan Timur.

Namun keunikan Blibli.com sudah memasukkan ongkos pengiriman dalam harga barang alias gratis pengiriman. Memang secara sepintas, terutama bila dibandingkan dengan situs belanja online lain akan lebih tinggi. Tapi bila sudah proses akhir membayar barang, harga akhir pun bisa dibandingkan. Apalagi konsumen memiliki pilihan jasa pengiriman barang.

Kini, berbelanja online pun semakin nyaman. Tinggal nongkrong di rumah atau cafe, memilih produk, bayar online, dan 2-4 hari kemudian barang pesanan sudah datang. Blibli.com, big choices, big deals.



via didikpurwanto.com

Rezeki Roti Bakar Es Krim

pickerimage (2)

Bisnis dapat dimulai dari hal-hal yang menjadi kesukaan atau ketertarikan terhadap sesuatu. Ini yang terjadi dan menginspirasi Aditya Ekatama Tambunan (Adit) saat mulai membuka usahanya, Warung Nagih.

Pria lulusan Manajemen Bisnis ini bersama keluarganya gemar menyantap roti bakar ketika berjalan-jalan. Baginya, roti bakar menjadi makanan yang cukup enak dan murah.

Ide membuka Warung Nagih pun muncul. Saat itu, Adit membuka usaha roti bakarnya di Jalan Mataram Jakarta Pusat. Warung Nagih dimulai dengan modal sekitar Rp 15 juta untuk membeli gerobak dorong, meja dan kursi, termasuk bahan makanan.

“Saya masih kuliah semester enam ketika membuka usaha ini pada Maret 2012. Saya mengkreasikan roti bakar dengan ice cream berbagai rasa,” ujarnya.

Berjalan tujuh bulan, usaha di kawasan Jakarta Pusat dinilai kurang mendukung, Adit pun memindahkan usahanya ke Tendean, Jakarta Selatan. Di sini, dua teman lainnya bergabung. Salah satu yang masih terus bertahan adalah Romi Dwiprahasto.

“Awalnya hanya teman-teman yang menjadi pelanggan, tetapi kemudian berkembang karena banyak teman membantu mempromosikan melalui media sosial,” ujarnya.

Seiring waktu karena kesibukan, salah satu temannya pun hengkang dari usaha tersebut. Tinggallah Adit dan Romi yang menjalankan usaha tersebut. “Ketika membuka di Tendean, kami mulai dengan modal sekitar Rp 20 juta,” ujarnya.

Agar bertahan, Adit melakukan riset untuk menciptakan produk makanan yang enak namun murah. Selain itu, dia mematangkan konsep Warung Nagih sebagai tempat kongkow anak muda di pinggir jalan, tetapi menjamin kebersihan, rasa, hingga kenyamanan konsumen.

robak 2 warung nagih (2)

“Kita menyasar segmen anak muda, khususnya SMA dan anak kuliah. Tapi banyak juga karyawan yang datang ke sini karena kemacetan pulang kerja. Mereka memilih mampir ke sini,” tuturnya.

Setelah berjalan cukup lama, Adit dan Romi memberanikan diri membuka cabang di Bogor. Alasan pembukaan cabang ini pun tidak jauh dari rasa ingin belajarnya yang kuat untuk menjadi pengusaha.

“Penjualan di Bogor masih lebih sepi karena memang baru buka November 2014. Namun, kita akan fokus meningkatkan penjualan di Bogor,” katanya.

Romi yang lebih banyak memegang urusan SDM mengatakan, dasar ilmu manajemen bisnis yang dipelajarinya semasa kuliah di Bina Nusantara bersama Adit cukup membantu. Namun praktek di lapangan diakui menjadi salah satu ujian kesabaran dan ketekunan terhadap usaha yang dirintis.

Saat ini dua sekawan ini mampu memekerjakan 70 karyawan untuk dua lokasi Warung Nagih. Keberhasilan usahanya tidak hanya bisa dinilai dari materi yang didapat, tetapi seberapa besar mereka mampu memekerjakan orang.

Warung Nagih mematok harga makanan berkisar Rp 6.500-20 ribu per porsi. Untuk minuman sekitar Rp 4.000-13 ribu per gelas. “Jika hanya melihat pendapatan, cenderung fluktuatif. Tetapi dalam sebulan penjualan kami di Tendean bisa mencapai 9.000 bill dan di Bogor sekitar 4.700 bill,” katanya.

Warung NAgih (2)

Uang Penjualan Dibawa Kabur Karyawan

Dalam membangun usaha, Adit mengaku cukup berat. Pasalnya, ia harus melalui banyak hambatan seperti menciptakan sistem kerja, varian makanan dan minuman, hingga memberikan pelatihan. “Pendidikan karyawan yang minim menjadi salah satu kendala,” ujarnya.

Menurut Adit, meski menjadi kendala, hal ini bukanlah kondisi terburuk yang pernah dialami selama menjalankan usahanya. Salah satunya uang penjualan yang dibawa kabur karyawan.

Adit sempat kaget saat mengetahui orang yang telah diberi kepercayaan justru melarikan uang penjualan hariannya. Namun hal ini justru tidak memicu Adit putus asa dan kehilangan kepercayaan atas karyawannya yang lain.

“Pengalaman adalah guru terbaik. Kasus tersebut justru mendorong saya memerbaiki sistem dengan mengecek bill dan rajin mengontrol usaha ini,” katanya.

Selain itu, pengalaman dari nol dalam membuka usaha Warung Nagih menjadi pondasi utama Adit berani membuka cabang di Bogor. Ia mengaku, lokasi pembukaan di Tendean dan Bogor hanyalah sebuah lahan kosong tanpa penghuni.

Warung Nagih merupakan penghuni pertama kawasan jajanan di Tendean dan kini diikuti banyak pengelola serupa. Begitu pula dengan lokasi di Bogor. Namun berbeda sedikit dengan Tendean, di Bogor lokasi lebih luas dan lebih rapi karena ada taman.

“Tenda usaha kami pernah rubuh dan kaca gerobak pecah. Tetapi semua ini justru menguatkan mental kita sebagai pengusaha dan mendorong kita berani mengambil keputusan,” katanya.

Keduanya mengaku bersyukur memiliki keluarga yang cukup mendukung usaha. Adit mengatakan, keluarga cukup senang dan bangga atas usahanya tersebut.

Ia berharap, Warung Nagih ke depan bisa masuk ke pusat perbelanjaan seperti mal. “Cita-cita lainnya ingin membuka cabang dengan nama lain di Bali,” katanya.

robak Warung Nagih (2)
Warung Nagih
Pemilik Aditya Ekatama Tambunan dan Romi Dwiprahasto
Alamat : Jl.Kapten Tendean Kav.41 Jakarta Selatan dan Jl.Ahmad Yani No.36 Tanah Sareal Bogor



via didikpurwanto.com

Senin, 01 Juni 2015

Kreasi Unik Bantal Busa

Bean_0102 (2)Koneksi bisa menjadi salah satu modal wirausaha. Jalinan persahabatan yang erat bisa memunculkan peluang bisnis yang dijalankan bersama.

Itulah yang dilakoni Cherie Anisa Nuraini bersama Kiki Zakiyatus Shalihah dan Estie Budiutami yang menangkap peluang produksi bantal unik berbahan busa. Mereka memulai usaha tersebut pada 2010 dengan merek Bemybean.

Mereka pun awalnya tak langsung mulai berbisnis karena semuanya menjadi pekerja kantoran. Mereka ingin mengembangkan kreativitas yang tidak terbatas hanya jam kantor.

Awalnya, Estie pernah menjalankan usaha tersebut ketika masih kuliah. Namun karena kesibukannya, ia tak melanjutkan usaha tersebut dan baru ditekuni kembali setelah bekerja.

“Kami sudah tahu cara-cara produksi dan pemasok bahan baku bantal ini. Jadi dalam pengembangan sekarang cukup fokus pengembangan pasar dan desain,” katanya.

Ia pun hanya memanfaatkan strategi promosi melalui bazar dan penjualan online. Usaha tersebut juga pernah mereka promosikan melalui ajang pameran automotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010.

Saat itu, antusias masyarakat terhadap produk sangat tinggi karena terbukti mampu menjual lebih dari 100 unit bantal pada acara tersebut. IIMS telah menjembatani Bemybean untuk memerlebar pasar.

Mereka pun semakin mengembangkan produk, terutama ke ajang pameran lain seperti pameran Inacraf sejak 2011 hingga 2015. Aktivitas di dunia maya terus digencarkan melalui promosi di blibli.comkadokadi.combhinneka.comlazada.com, dan bilna.com.

Untuk toko gerai fisik sudah tersebar di Metro Departement Store, Sogo, Centro, Atria, dan Cayenne Gallery. “Hingga kini kami masih sering ikut pameran baik berskala kecil dan besar. Kegiatan itu sangat efektif mendorong popularitas produk,” ujarnya.

Bemybean memiliki keunikan dalam penjualan yaitu menggunakan metode semi customize. Konsumen dapat memilih bahan dan warna sesuai kebutuhan. Ia juga memberi garansi satu tahun untuk semua pembelian. Harga produk dipatok Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta per unit.

Namun usahanya juga tak selalu mulus. Ia memiliki tantangan yang terletak pada proses pengiriman barang ke luar daerah. Ukuran produk yang cukup besar sehingga memersulit pengembangan pasar.

Ia lantas mengembangkan usaha dengan sistem kemitraan pengusaha daerah. Saat ini proses penambahan mitra terus bertambah. “Pengembangan jaringan sangat penting termasuk melalui online,” ujarnya.

Agar tidak kalah bersaing dengan produk lain, ia terus meningkatkan inovasi produk untuk menjaga eksistensi usaha. Desain baru selalu hadir setiap tahun. Cherie dan teman-teman sedang berupaya merambah ke pasar hotel, kantor, dan sekolah.

Bemybean sudah memiliki merek baru yaitu Snuggles khusus bantal leher, bantal mobil, dan guling. Selain itu Keene Living yang dikhususkan produk-produk tambahan di dalam rumah. “Pasar bantal masih terbuka lebar karena produk dapat dimanfaatkan segala usia dari anak-anak hingga dewasa,” katanya.

Bean_0193 (2)

Perlu Komitmen Kuat

Salah satu modal wirausaha yang paling penting dimiliki yaitu komitmen. Biasanya komitmen pengusaha pemula selalu runtuh saat terkena kendala.

Hal itu juga dirasakan Cherie yang sudah menjalani usaha tersebut hampir lima tahun. Usahanya juga pernah jatuh bangun sehingga dibutuhkan ketangguhan mental dan keseriusan bisnis agar usaha tak berhenti di tengah jalan.

Ia mengenang perjalanan usaha yang paling sulit saat mendirikan usaha. Bemybean hanya memiliki satu karyawan. Sebagian besar pekerjaan dilaksanakan bertiga. “Tapi kami tidak mudah menyerah. Sekarang sudah bisa memekerjakan enam orang karyawan dengan berbagai macam fokus. Pemilik hanya memikirkan pengembangan bisnis lebih baik,” ujarnya.

Sifat malu dan minder harus dibuang jauh meski skala usaha masih kecil. Pengusaha besar harus dijadikan pendorong untuk mengembangkan bisnis.

Inovasi akan menjadi penentu utama menguasai pasar. Masyarakat selalu suka dengan desain baru yang berkualitas meski hanya produsen kecil.

Ia berambisi ke depan dapat bersaing di kancah internasional. Bemybean ditargetkan  bisa menjadi produsen nomor satu produk bantal dunia sehingga mereka sedang berupaya menjadikan produk berorientasi ekspor.

“Kami harap secepat mungkin sudah bisa masuk ke pasar terutama ASEAN. Ada peluang dan pasar yang besar untuk produk bantal,” ujarnya.

DSC_9286 (2)

Profil Pengusaha:

- Estie Budiutami (34 tahun).  Pendidikan terakhir: Arsitektur ITB & MM-MBA UI. Pekerjaan lain: CEO di PT Jepe Indonesia

- Kiki Zakiyatus Shalihah (34 tahun). Pendidikan terakhir : S2 Arsitektur ITB. Pekerjaan lain: Arsitek lepas.

- Cherie Anisa Nuraini (34 tahun). Pendidikan terakhir:  Arsitektur ITB. Pekerjaan lain: Departmen marketing salah satu perusahaan FMCG multinasional di Jakarta.

 

Profil Usaha:

Nama: PT BEMYBEAN INDONESIA

Jl. Raya Ragunan no 9, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kontak:  tlp 021-7800004

Email: bemybean@gmail.com

Website: www.bemybean.com

Facebook/Twitter/Instagram : Bemybean



via didikpurwanto.com

Minggu, 17 Mei 2015

Kopi, Keluarga, dan Kesuksesan

NESCAFE_classic_by_capmunir

Sebagai anak pertama, saya selalu disuruh membantu keluarga termasuk menyiapkan sarapan hingga menyeduh kopi untuk orang tua.

Sejak kecil, orang tua selalu menyuruhku untuk meminum kopi walau hanya setengah gelas atau berbagi dengan ibu. Untuk bapak, biasanya dikhususkan satu gelas sendiri.

Saat menyeduh kopi, saya selalu kesulitan membuat racikan kopi dan gula, termasuk takaran air. Bila tidak pas, hasil racikan juga tidak akan enak. Alhasil, bapak atau ibu selalu marah bila mengetahui racikanku tak pas.

“Kamu ini selalu tidak pas kalau membuat kopi,” kata Ibuku.

Sejak itu, ibuku selalu memberi tahu takaran gula, kopi, dan air untuk membuat secangkir kopi yang nikmat.

Pengalaman itu ku bawa sampai ke kuliah. Saat begadang tugas kampus, teman-teman selalu menyuguhkan kopi sambil ditemani camilan ringan.

Namun karena sudah terbiasa mandiri, saya pun juga terbiasa ke pasar, termasuk ke minimarket sendiri untuk membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli kopi.

Urusan berbelanja, saya mewarisi sikap pelit dari Ibu. Selisih Rp 1.000 saja, saya akan mencoba mencari produk dengan harga lebih murah namun dengan kuantitas lebih banyak. Tentunya, produk tersebut juga harus berkualitas.

nescafe oke

Tak ingin salah membuat racikan kopi, saat itu saya melihat promo Nescafe yang selalu memberikan hadiah gelas mungil berwarna merah dan hitam. Sesuai instruksinya, bubuk kopi diseduh sesuai ukuran cangkir mungil tersebut. Alhasil, racikan kopi serasa pas. Bila ingin tambah, cukup membuat seduhan lagi.

Kopi tersebut biasanya juga sudah diberi campuran gula. Kalau kurang manis, cukup tambah gula lagi. Kalau tidak ingin kopi manis, cukup beli Nescafe Classic. Kini, saya lebih menyukai beberapa varian rasa Nescafe yang kalengan. Lebih praktis dan segar dengan kadar kafein yang tidak tinggi. Jadi tidak akan menahan tidur seharian.

Yang lebih unik, bentuk wadah kopi Nescafe yang lucu. Jika kopi sudah habis, biasanya dipakai ibu untuk menaruh bumbu dapur. Wadah yang berguna.

nescafe_latte_kaleng_240ml_1

Saat bekerja, pertama kali saya diajak ke Aceh, termasuk mengunjungi bekas-bekas tsunami sekaligus mencicipi makanan atau minuman khasnya.

Saat itu, saya diberikan oleh-oleh ayam rempah dan kopi Aceh. Penasaran dengan kopinya, saya pun menyeduh seperti kopi biasa.

Untuk pertama kalinya, saya tidak bisa tidur seharian hanya karena menyeduh satu gelas kopi Aceh tersebut.

“Kopi itu sudah dicampur ganja. Efeknya bisa tahan kantuk seharian,” kata temanku.

Entah benar atau tidak, kopi Aceh dikabarkan ada campuran ganjanya. Namun dari berbagai literatur, kopi memang mengandung kafein dan memiliki zat trymetilsantin. Zat ini akan menstimulir pusat syaraf reseptor adenosin.

Saat simpul syarat terangsang, otomatis memacu katabolisme dan memicu hormon adrenalin. Hormon inilah yang memacu tubuh kita tetap semangat dan tidak bisa mengantuk untuk sementara waktu.

Saking sukanya pada kopi, saya pun membuat nama pribadi pada akun media sosial dan email yang tetap mengacu pada nama dan kopi. Didik Purwanto disingkat menjadi Dito dan mengambil nama minuman cappuccino sebagai nama belakang. Jadilah ditopuccino. Biar seperti anak kekini-kinian gitu lah. Haha..

Kini, bila sedang senggang, saya biasa menyempatkan diri ke kedai kopi, sembari menulis atau sekadar bercengkerama dengan teman. “Lebih sering mendengar teman curhat,” kenangku sambil ditraktir kopi cappuccino favoritku.

Dibaliksecangkirkopi, Kopi telah mengantarkanku mengingat keluarga, terutama mengingat ocehan ibu dan pujian bapakku. Termasuk mengenang perjalanan ke beberapa destinasi wisata dan menemani kesuksesan kehidupanku.

Dibaliksecangkirkopi, saya selalu mendengar pengalaman pahit dan manis dari hidup seseorang. Sama seperti hidup, kopi juga bisa diracik manis atau pahit, sama seperti kehidupan kita yang bisa kita atur pahit atau manis. Selamat menikmati hidup. Selamat menikmati kopi.



via didikpurwanto.com