Minggu, 15 Mei 2011

Demam Boyband

Belum sembuh demam boyband SM*SH, kali ini dunia permusikan tanah air kembali disajikan kelompok band cowok lainnya seperti NSG Star, 3in1, Max5 dan boyband lainnya.

Lantas, apakah demam boyband ini bakal sesukses SM*SH di awal kemunculannya? Ataukah ini hanya pengisi waktu luang saat masyarakat jenuh dengan suguhan musik melayu ala Kangen Band, ST12, DBagindaz atau lainnya?

Semua boyband biasanya lahir dari kontes dancing yang menekankan koreografi unik. Bukan disebut boyband, jika tidak bisa bergoyang ala street dance.

Plus, wajah ganteng, terutama bermuka oriental akan menjadi nilai tambah (value) yang bakal bikin cewek-cewek jejeritan.

Sayangnya, anggota boyband kurang dipoles soal kualitas suara. Bahkan bisa dihitung, dari seluruh anggotanya yang memiliki kualitas suara di atas rata-rata.

Boyband pengekor SM*SH antara lain NSG Star. Band ini lahir dari tangan Nutyas Surya Gumilang (NSG), pemain musik yang menimba ilmu di London,Inggris. Band yang digawangi oleh Anggara Purnama Hadiansyah (Anggara), Gregorius Garo Helan (Gege), Novriansyah (Rian) dan Surya Atmaja (Surya Lee) ini memakai masuk dapur rekaman melalui label indie Good Sign yang sebelumnya bernama NSG Music Indonesia.

Tak berbeda dengan SM*SH, NSG Star juga lahir dari Youtube yang dipoles oleh Erma, koreografer asal Belanda yang sudah berkiprak di Jakarta dan menangani street dancer PeaceMakers. Sebagai fashion stylist, NSG Star memboyong Nicholas Saputra. Woww!!!


Personil NSG Star:

Anggara
“Life must go on, bagaimanapun keadaannya”
Sempat masuk dalam 50 besar Indonesia Idol 2007, si hitam manis yang pernah bernyanyi duet dengan Miss Universe di Kampung Sampireun ini membuat NSG memilihnya berkat karakternya yang kuat, range vokalnya yang lebar, dan suaranya yang merdu. Penggemar traveling kelahiran Garut, 5 Desember 1988 ini beberapa kali bermain dalam FTV dan merupakan mantan presenter acara Orkestra di TVRI.

Gege
“Ikuti arus yang mengalir dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”
Dia adalah “the joker and bad boy” di NSG Star. Namun kemampuannya menari hip hop membuat NSG “jatuh cinta” dan memilihnya. Pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, 25 Juni 1986 ini adalah alumni IKJS – Jurusan Tari dan telah memiliki banyak pengalaman menari di berbagai panggung seni, termasuk di Singapore Art Festival, Esplanade bersama seniman tari asal Papua, Jacko Siompo. Namun sebagai penari yang handal, penggemar Michael Jackson ini juga memiliki vokal yang khas dan melengkapi karakter musik NSG Star.

Rian
“Jangan pernah berkaca di kaca yang sudah retak.”
Rian adalah anggota termuda di NSG Star. Usianya baru 19 tahun, namun talentanya sangat mengagumkan. NSG menyebutnya sebagai pemilik “soft voice and rounded tone”, dan itulah alasannya memilih Rian sebagai salah satu anggota NSG Star. Lahir di Jakarta, 14 November 1991, Fresh Boy Majalah Kawanku 2010 ini memiliki pribadi yang lucu namun lembut.

Surya Lee
“Life doesn’t always go on our way, but we should be strong to overcome it.”
Lahir di Medan, 27 Agustus 1985, pemilik wajah oriental ini pernah menjuarai ajang Let’s Dance Competition di Global TV pada tahun 2004. NSG menyukai pemuda berbakat ini karena kemampuan dance dan aktingnya. Sarjana Ekonomi dari Universitas Sanata Dharma Jogjakarta yang memiliki banyak hobi olahraga ini sangat yakin pada NSG Star yang akan bersinar di dunia musik Indonesia.

# Twitter : Follow @pangeran229 @GegeNSGstar @suryaleeNSGstar @RyanNSGstar @AnggaraNSGstar @nsgstarmusic
# udahenry di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4745152
# EMAIL – nsgstarmusic@gmail.com
# MYSPACE – http://www.myspace.com/nsgstarmusic
# BLOGGER – http://nsgstar.blogspot.com/
# FACEBOOK – http://www.facebook.com/nsgstar
# nsgmusic untuk http://www.youtube.com/

Ada lagi boyband MAX5 yang digawangi oleh Ficky, Bayu, Fendi, Reggie dan Taufik. Beda dengan NSG Star, Max5 melibatkan salah satu pentolan grup Pasto sebagai pembina kualitas vokalnya.


Ingin berbeda lagi, ada boyband 3in1 yang mencoba menyatukan 3 komunitas dalam 1 visi dan misi bermusik. Band ini diisi oleh Volland Humonggio dengan basic Martial Arts yang dalam hal ini adalah Capoera sehingga ketika mereka ngedance nampak banget kayak orang lagi bela diri, ada lagi Kris Hasibuan yang mempunyai latar belakang Bboy'in atau breakdance, serta Stenley Mambrasar dengan basic Hip Hop Dance.


Yang unik adalah Volland Humanggio yang berhasil menyabet penghargaan sebagai Aktor Pendatang Baru Terfavorit versi Indonesian Movie Award 2008 (IMA 2008). Cowok yang lahir 23 Juli 1981 ini pernah berperan dalam film Sang Dewi pada 2007 lalu.


Selain sebagai seorang model, penyanyi R&B, dia juga dikenal sebagai atlet beladiri taekwondo dan capoera. Bahkan karirnya ini dimulai dari hanya sebagai pelayan di sebuah hotel di Mangga Dua Jakarta.

Di dunia maya, ketiga band ini juga ramai diperbincangkan. Tapi saya tidak akan menambah rusuh perbincangan itu karena ini adalah opini pribadi. Mereka pun sah-sah saja mencoba peruntungan di dunia musik dengan gaya masing-masing.

Cuma, kunci sukses menurut Motivator Termuda Asia Bong Chandra adalah harus menjadi yang Ter...(entah terunik, terganteng, tergila, tergokil dst). Kalau tidak bisa harus menjadi yang pertama, atau paling tidak menjadi yang terunik dari yang pernah ada. Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan dan tumbang!!

Sabtu, 14 Mei 2011

Menggugah Semangat Belajar Mahasiswa

"Berikan aku 10 pemuda maka akan ku ajak mengguncang dunia." Begitulah pesan Presiden Bung Karno menyemangati pemuda dalam membela bangsa.

Hanya dengan 10 orang saja, orang nomor satu di tanah air ini berharap bisa mendidiknya hingga mampu menggerakkan seluruh bangsa di tanah air.

Bung Karno melontarkan pernyataan tersebut hanyalah sebuah perumpaan. Untuk membangun sebuah bangsa diperlukan ketangguhan dari masing-masing individu dulu, baru akan mengubah masyarakat sekitarnya.

Memang untuk kondisi saat ini, mahasiswa tidak perlu pergi berperang melawan penjahat. Tapi yang diperlukan adalah membangun kompetensi diri agar bisa bersaing dengan lainnya. Kalau perlu, bisa bersaing dengan mahasiswa dari negara lain.

Begitu juga mahasiswa yang sampai saat ini masih dianggap sebagai agen perubahan di masyarakat. Tentunya agen perubahan menuju masyarakat yang lebih baik.

Sayangnya, mahasiswa saat ini mulai kehilangan ketangguhannya. Menjadi mahasiswa hanya dijadikan status di masyarakat bahwa ia bisa melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi, bukan mencari ilmu demi kehidupannya lebih baik.

Ada media yang menangkap tindakan mahasiswa sedang tawuran antarkampus hingga hura-hura di pusat perbelanjaan atau tempat hiburan malam. Belum lagi kabar pembunuhan, jual beli skripsi hingga tindakan asusila yang mengakibatkan kehilangan nyawa. Tragis.

Memang tindakan itu tidak dilakukan oleh mayoritas mahasiswa saat ini. Tapi itulah bukti bahwa sistem pendidikan di tingkat mahasiswa belum menyentuh pendidikan nurani yang mengharuskan mahasiswa bisa melihat sebab akibat dari segala sesuatu yang dilakukannya.

Bahkan Presiden Direktur Entrepreneur College Khoirussalim* pernah bilang sangat prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan nasional hanya menyiapkan lulusannya siap bekerja sebagai karyawan, bukan sebagai wirausaha.

"Mentalnya hanya dididik sebagai buruh, bukan menjadi seorang pemimpin," ujarnya.

Padahal, sarjana-sarjana ini diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja agar ikut andil dalam menekan pengangguran. Misalnya, bisa dimulai dengan wirausaha bermodal kecil seperti reparasi komputer, jasa pengetikan, jual beli perangkat keras (hardware) dan lunak (software) atau apapun sesuai minatnya. Atau bisa dimulai dari seminar-seminar bisnis, motivasi atau pelatihan yang memungkinkan naluri bisnis mahasiswa terasah.

Dalam penelitiannya di tahun lalu, sekitar 89,3% dari lulusan D3 dan 83,1% lulusan S1 seluruh Indonesia memilih untuk menjadi karyawan. Hanya sekitar 5% saja yang berminat berwirausaha.

Khoirussalim justru bangga terhadap sekitar 21% lulusan jenjang pendidikan SLTP yang lebih berminat menjadi wirausaha.

Motivator termuda nomor satu di Asia Bong Chandra** juga menekankan pentingnya menjadi wirausaha. Masalahnya, sekitar 95% orang yang memilih menjadi karyawan akan hidup bagaikan dalam penjara. Lho??

Bagaimana tidak, mereka akan terpenjara oleh rutinitas pekerjaan mereka. Bangun pukul 6 pagi, berangkat pukul 7 pagi, pulang pukul 5 sore, belum lagi kalau ada lembur hingga harus menembus kemacetan kota. Mereka akan menekuni rutinitas itu setiap hari, kecuali hari libur kerja.

Bong menyebut orang yang dalam kondisi itu menjadi golongan 13 P (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan, Pantat Pegal-pegal, Pala pusing-pusing). Ahh..nasib!!

Hidup itu pilihan. Makanya Bung Karno hanya memilih orang-orang terpilih untuk bisa berjuang dengannya. Namun perjuangannya tersebut bukan melawan penjajahan lagi, tapi lebih kepada bisa menjadi manusia yang bebas menentukan kekayaannya sendiri.

Dan kekayaan itu bisa dimulai dari sekarang, dari hal kecil dan dari diri sendiri!!

Sumber:
* Harian Warta Kota,Rabu 13 April 2011
** Chandra, Bong. 2011. Unlimited Wealth. Jakarta:Elex Media Komputindo

Kamis, 05 Mei 2011

Cinta Ala Gnomeo Juliet

Apakah kalian sudah pernah membaca roman "Romeo & Juliet" karya sastrawan dunia William Shakespeare? Atau minimal kalian sudah pernah melihat filmnya yang sudah diadaptasi di berbagai negara?

Ya, roman tersebut mengisahkan perjalanan cinta antara dua manusia yang terhalang oleh restu orang tua. Daripada menikah dengan orang yang tidak dicintai,Juliet sampai rela minum racun hingga mati. Akhirnya Romeo pun mengikuti langkah yang sama dengan Juliet.

Tak jauh beda dengan versi aslinya, film animasi Gnomeo Juliet juga mengisahkan tema yang sama. Cuma tokoh yang dimainkan berganti dengan gnomeo (patung keramik) dan dibikin secara animasi.
Uniknya, akhir cerita film ini dibikin happy ending yaitu Gnomeo dan Juliet bisa menikah.

Sebenarnya, film ini biasa aja,hanya mengubah ending cerita yang selalu sama dari yang empunya cerita. Lepas dari itu, film ini sebenarnya menceritakan tentang pentingnya persahabatan antar tetangga (masalahnya di film ini ada permusuhan antara keramik merah dan biru), ketulusan cinta dan pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua.

Biar tambah segar, film ini dikasih lelucon ringan. Seperti laptop merk Apple yang diganti dengan logo pisang. Lalu tingkah boneka keramik dan seluruh isi taman yang selalu mengocok perut.

Akhir pekan lalu, ketiga temanku curhat tentang masalah cintanya. Ada yang Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK), gemes dengan teror sms seorang cowok (tampaknya lagi kasmaran dan ingin menembak cewek) hingga konflik cinta segitiga plus pacaran beda agama.

Ah, cinta memang warna-warni. Membuat pelakunya selalu salah tingkah dan bingung mengambil sikap.
Belajar dari Gnomeo dan Juliet, kita harus mengejar cinta kita dengan cara-cara positif dan menghindari hal ceroboh agar pasangan tidak ilfeel.

Kata motivator Mario Teguh,"Jodoh itu memang di tangan Tuhan. Tapi jodoh itu tetap akan di tangan Tuhan,jika kita tidak mengambil dan menjemputnya."

Lalu bagaimana caranya?? Cukup tiga langkah saja: Ikhtiar (dicari sendiri,minta dikenalkan teman,ikut biro jodoh dsb), Doa (memohon petunjuk keyakinan hati terhadap calon yang dipilih) dan akhirnya Pasrah (kepada Tuhan).

Minggu, 24 April 2011

Just in Bibir

Kemarin, penyanyi yang ngetop via akun media sosial Justin Bieber datang ke Jakarta untuk memuaskan penggemarnya di Indonesia.

Pelantun "Baby", "One Time", "Pray" hingga "Never Say Never" ini bisa membuat para ABG histeris, bahkan di bandara Soekarno Hatta sekalipun, walau konser ada di Sentul Internasional Convention Center (SICC).

Saya tidak akan membahas siapa Justin Bieber dan bagaimana kiprahnya di dunia permusikan dunia. Kalau kalian tidak tahu, ya kebangetan. Tapi kalau pun tidak tahu, ya tidak usah perlu tahu kalau tidak mau tahu. Hehehe..

Akhir-akhir ini banyak bintang baru bermunculan melalui media sosial. Sebut saja, duet Shinta-Jojo yang melakukan lip sing Keong Racun, Udin Sedunia dengan lagu kocaknya atau Briptu Norman dengan goyang Chaiya Chaiya.

Lantas, apa yang dilakukan masyarakat dengan memuja-muja "artis dadakan" itu?? Dalam konser Justin Bieber kemarin, para ABG (yang kebetulan tidak bisa beli tiket konser) sampai rela menunggu dari pagi hanya untuk bisa bertemu (walau dari jauh) idolanya itu. Bahkan dalam pengakuannya, ada yang rela tidak makan agar tidak kelewatan si idola ngacir.

Ternyata benar, petugas keamanan bandara mengecoh artis untuk keluar melalui pintu yang lain. Otomatis, ABG labil ini histeris karena merasa dibohongi. Duh!

Apakah untuk memuja sang artis harus bertindak demikian? Kok saya merasa, ribet banget jadi penggemar (fans) "artis" itu artis-artis lainnya. Kita tidak mendapat apa-apa, malah rela "menyiksa diri" dengan tidak makan, menunggu dari pagi, lari pontang panting atau apa lah itu.

Padahal untuk menjadi penggemar, bukankah kita "seharusnya" meneladani (terutama) hal yang positif dari yang diidolakan itu.


Untuk kalian penggemar siapapun, idola tentunya akan ikut membentuk karakter kita terutama gaya hidup. Idola seharusnya bisa menjadi penuntun ke jalan yang lurus, pengingat dari alpa (kesalahan), penyemangat di saat lesu atau bahkan menjadi motivator yang bisa memacu untuk sukses.

Lantas, apakah idola kalian sudah termasuk kategori tadi? Jangan-jangan, Anda hanya mengidolakan Just in Bibir (hanya di bibir) dan ujung-ujungnya malah Anda harus mengeluarkan kocek besar hanya untuk mengikuti gaya hidupnya.

So, jadilah diri sendiri. Optimalkan kemampuan, bukan hanya menjadi seperti idola, tapi jadikan ia sebagai gambaran, panutan atau teladan untuk bisa maju.

Senin, 18 April 2011

Ibuku Kartiniku

Ibuku bukan orang terkenal. Ibuku juga tidak memiliki harta seperti Malinda Dee senilai Rp 17 miliar. Namun Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga di sebuah kampung di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Selain mengurus suami, di usianya yang kini 45 tahun tetap bekerja mengurus sawah milik keluarga, peninggalan nenek tercinta yang telah meninggal 14 tahun lalu.

Sebenarnya sawah kami ada dua petak yang berukuran kurang dari seperempat hektare. Namun, pada tahun 2002 setengah dari ukuran sawah tersebut terpaksa dijual untuk membiayai kuliahku.

Yang membuat aku sedih, orang tuaku menjual sawah warisan itu tanpa sepengetahuanku. Padahal, aku dulu dilarang kuliah karena tidak memiliki biaya sepeserpun. Kalau bisa, anak-anak langsung bekerja sehingga tidak membebani orang tua. Tapi orang tuaku saat itu berprinsip kedua anaknya kelak harus lebih baik dari orang tuanya.

"Bapak dan ibu dulu tidak lulus Sekolah Dasar (SD). Tapi kamu harus lebih baik dari kami," itulah wejangan Ibu yang selalu diberikan kepada kedua anak tercintanya.

Di sela mengurus sawah yang cuma sepetak, Ibu pun membantu tugas bapak sebagai abdi negara, seorang Kepala Rukun Tetangga (RT). Meski tidak mendapat gaji, ibu pun mengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari hanya 30 ibu rumah tangga yang ada di RT kami.

Setiap hari ibuku datang ke masing-masing rumah untuk memberikan kabar terbaru program pemerintah dan mengajak ibu-ibu lainnya datang ke Balai Desa. Meski sudah memasuki era milenium (era tahun 2000-an), penduduk di desa kami belum memiliki pesawat telepon. Yang punya saat itu, hanya kepala desa. Itupun ditaruh di kantor balai desa. Kalau ada kabar apapun, pengumuman akan langsung disiarkan melalui speaker di masjid desa. Untungnya, jumlah warganya sedikit, kurang dari 1.000 warga dan bisa mendengar pengumuman ala masjid itu.

Saat ku berada di Bali untuk melanjutkan kuliah, aku sempatkan bekerja untuk menutup biaya sehari-hari. Waktu itu, tahun 2002 Bali sedang diguncang oleh bom. Keluarga di rumah pun kaget dan bingung harus bagaimana.

Yang ku ingat, orang tuaku lari ke Balai Desa dan meminjam pesawat telepon untuk menelponku, menanyakan tentang kabarku. Untungnya, jarak dari rumah ke Balai Desa hanya sekitar 1 km, jadi tidak repot. Untuk menyiasati agar tidak tekor, untuk menelpon itu dilakukan jam lima shubuh, saat pulsa menelpon masih murah. Dan mereka hanya menelpon sekitar 10 menit, karena uangnya kurang.

Aku berpikir, orang tuaku akan terus kesulitan untuk menghubungiku. Baru sekitar tahun 2004, aku bisa membelikan mereka sebuah telepon seluler seharga Rp 750 ribu. Itu sebuah telepon seluler termahal yang pernah kubeli karena aku hanya memakai telepon seluler seharga Rp 350 ribu. Itupun bekas. Tapi tak apalah, yang penting bisa komunikasi dengan keluarga.

Biar sama-sama murah, aku pun memaksa ibuku untuk memakai kartu telepon yang sama denganku. Hehehe..

Saat aku menyelesaikan tugas kuliahku tahun 2007, aku pun sempat pulang kampung untuk menengok keadaan keluarga. Saat ini ibu sudah tidak perlu repot lagi datang ke rumah-rumah menghubungi ibu rumah tangga yang lain untuk ikut kegiatan di Balai Desa.

Ibuku bisa seketika menelpon atau hanya mengirim pesan singkat, walau masih salah pencet huruf, ke masing-masing ibu lainnya. Tapi karena masih ada yang belum memiliki telepon seluler, ibuku tetap mengunjungi rumah-rumah sekalian silaturahmi.

Aku bangga pada ibuku. Walau bukan setenar Inul Daratista, sekaya Malinda Dee, secantik Luna Maya atau sebahenol Julia Perez, ibuku adalah Kartiniku.

Aku sadar, menjadi wanita memang tidak gampang. Banyak peran yang harus dijalankan untuk dirinya maupun untuk suaminya. Bagiku, #KartiniDigital bukan selalu wanita yang memanjakan dengan perangkat gadget terbaru. Tapi, #KartiniDigital adalah wanita yang mampu memanfaatkan perangkat digital untuk kemaslahatan sekitarnya,baik untuk diri, keluarga ataupun bangsa.

Ibuku terus memberikan semangat kepada satu anaknya yang kini bekerja di Jakarta dan satu lagi sedang kuliah di Jember, Jawa Timur. Dalam setiap panggilan teleponnya tiap Minggu, ibuku selalu berpesan kepada dua anaknya ini untuk selalu ingat kepada Tuhan dalam setiap tindakan, bersedekah dan membantu sesama. Itu saja cukup.
(Hadiah lomba dari XL berupa HP Nokia dan kaos khusus XL Kartini Digital 2011)

Tulisan ini telah memenangkan lomba dari XL. Aku berhasil mendapat juara terpilih. Semoga ke depan bisa meningkat lagi. 

Rabu, 13 April 2011

Kasih Ibu Terhadap Anak

Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga. Si ibu bertanya,”Itu burung apa yang berdiri di sana ??”

“Bangau mama,” anaknya menjawab dengan sopan.
Tak lama kemudian si mama bertanya lagi..
“Itu yang warna putih burung apa?”
Sedikit kesal anaknya menjawab,”Ya bangau mama?…”

Kemudian ibunya kembali bertanya,”Lantas itu burung apa ?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbang…
Dengan nada kesal si anak menjawab,”Ya bangau mama. Kan sama saja!..Emangnya mama gak lihat dia terbang!”

Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan..”Dulu 28 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 kali,..sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tp kau membentakku 2 kali..”

Si anak terdiam…dan memeluk mamanya.

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita? Sayangilah Mama/Ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena surga berada di telapak kaki Ibu.
Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati Ibumu.
*Pernah kita ngomelin dia ?
*Pernah kita cuekin dia ?
*Pernah kita memikirkan apa yang dia pikirkan?’
*Sebenarnya apa yang dia fikirkan ?
‘Takut’:( ??
-takut ga bisa lihat kita senyum , nangis atau ketawa lagi.
- takut ga bisa ngajar kita lagi

Semua itu karena waktu dia singkat..
Saat mama/papa menutup mata , Ga akan lagi ada yang cerewet.:(
Saat kita menangis memanggil-manggil dia , apa yg dia balas?
‘Dia cuma diam’:(
Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata,”Anakku jangan menangis,mama/papa masih di sini. Mama/papa masih sayang kamu.”:(
Sayangilah mereka sebelum waktunya habis.
Thanks bagi yang sudah mengirimkan cerita ini lewat BBM saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda!!!

Selasa, 12 April 2011

Mahar Nikah Itu Ringan

Beberapa hari lalu gw diminta menemani sohib untuk membeli mahar pernikahannya. Rencananya dia ingin membelikan emas buat calon istrinya tersebut. Sebelumnya, dia juga tanya ke teman-teman yang lain, di mana membeli emas yang murah. Maklumlah, duit yang disiapkannya terbatas, sementara emas yang akan dibelinya cukup banyak dan unik,sekitar 15,7 gram. Anehnya, untuk membeli mahar ini, dia sampe pinjem duit ke orang tua, untungnya bukan rentenir!

Sebelum gw ke TKP, gw juga tanya-tanya ke teman gw yang sudah nikah, di mana tempat membeli emas tersebut. Teman-teman gw ini menyarankan untuk membeli emas dengan kadar yang rendah, namun beratnya ditambah. Misalnya membeli emas dengan berat 20 gram, tapi dengan kadar hanya 20 atau 22 karat saja.
Dengan perbedaan kadar emas tersebut, akan berpengaruh pula terhadap harga emas tadi. Apalagi saat ijab kabul kan yang dibilang bukan kadarnya, tapi beratnya kan?

Nah, tibalah saat perburuan emas tadi. Akhirnya gw memilih berburu ke kawasan Pasar Minggu, dekat stasiun Pasar Minggu. Di sana, teman gw kebingungan untuk menimbang berat emas tadi, karena sangat sulit mencari angka emas yang pas berberat 15,7 gram. Setelah 1 jam menimbang, akhirnya dia menyerah juga dengan hasil akhir 15,8 gram.

“Nanti ditulis aja 15,7 gram. Kan beres bang,” ujar penjual emasnya.

Sebenarnya dalam Islam, kita diberikan kemudahan dala menjalankan perintah-Nya. Untuk urusan mahar ini Islam mengajarkan kepada umat muslimah untuk tidak meninggikan atau mensyaratkan mahar yang bernilai tinggi, yang akan berakibat menyulitkan pihak laki-laki atau pernikahan itu sendiri. Berikut sabda Rasulullah saw mengenai perintah untuk merendahkan nilai mahar kepada wanita.

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

Dalam hal ini, Allah swt juga telah berfirman, yang artinya:
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

Tapi, bila sang calon mempelai pria sanggup untuk membelikan keinginan berupa mahar mahal dari calon istri maka sah-sah saja. Toh, yang nikah kan sampeyan, bukan saya!!Hehe…