Selasa, 05 Oktober 2010

Semua Karena Uang

Semua yang ada di dunia ini memang bisa dibeli dengan uang. Kecuali satu yang tidak bisa dibeli yaitu kebahagiaan.

Barusan gw nonton film "Wall Street" yang diproduseri oleh Oliver Stone, Edward R. Pressman dan Michael Douglas bareng jurnalis dari Kementerian Keuangan.

Yups..biasalah, jurnalis dari Kementerian Keuangan ini memang ingin selalu menonton yang berbau tidak jauh dari tugasnya, yaitu uang.

Mengutip sinopsis dari 21cineplex.com, film yang dibintangi oleh Michael Douglas, Shia Labeouf, Josh Brolin dan Carey Mulligan ini menceritakan tentang Gordon Gekko (Michael Douglas) setelah dibebaskan dari penjara. Meskipun upayanya untuk memperingatkan Wall Street dari penurunan ekonomi di masa datang dan jatuhnya harga pasar saham, tak seorang pun di dunia keuangan percaya padanya karena kejahatan keuangan yang dilakukannya.

Gekko memutuskan untuk memusatkan perhatian untuk memperbaiki hubungan dengan putrinya, Winnie, yang menyalahkan Gekko atas kematian kakaknya, Rudy. Pada saat yang sama, pedagang saham muda di Wall Street, Jacob (Shia LaBeouf) kehilangan mentornya yang meninggal secara mendadak dan Jacob yakin keterlibatan pelaku bisnis lainnya atas kematian tersebut.

Jacob, tunangan Winnie, berusaha membalas dendam dan Gekko setuju untuk membantunya, sebagai imbalan Jacob membantu hubungan Gekko dengan Winnie.

Di sini betapa uang menjadi dewa bagi semua hal, bahkan mengalahkan kebahagiaan keluarga. Konflik memuncak saat Gekko ternyata mengincar deposito yang telah dikumpulkan untuk anaknya, sejak Winnie berusia 14 tahun. Nilainya mencapai USD100 juta.

Padahal rencananya uang ini akan dicairkan dan digunakan untuk keperluan keluarga Winnie dengan Jacob serta anak yang masih dikandungnya. Ah, telat sudah. Ternyata sang bokap malah ngembat hak milik anaknya ini dan digunakan untuk kepentingan bisnisnya.

"Uang itu bagaikan wanita sundal yang menunggumu di kamar tidur sambil memicingkan mata. Sekali kau tidak mengambilnya, maka uang itu akan lenyap."


Hmmm..Wall Street ini memang mengangkat isu yang berat. Sebagai bursa terbesar di Amerika Serikat dan mempengaruhi bursa di semua negara, Wall Street ini memang menceritakan bukan hanya uang, tapi soal permainan dengan orang, tentunya masih berkaitan dengan uang.

Selain itu, film ini juga menceritakan tentang betapa besar pengaruh isu dalam mempermainkan harga saham di pasar modal. Sedikit saja ada isu negatif maka nilai saham pun bisa anjlok. Fiuuuhhh..hal itulah yang terjadi dengan saham Bank Mandiri akhir pekan lalu yang turun 4%, hanya karena right issue-nya dilaksanakan setelah BNI.

Usai nonton Wall Street, gw pun pulang dan mulai menyalakan televisi. Biasalah, gw nonton Film Televisi (FTV) di SCTV. Judulnya, I Wanted Pacar Ganteng dan Kaya.

Ah, ceritanya tidak jauh beda dengan Wall Street, masih berkutat dengan uang. Cuma gaya berceritanya disesuaikan dengan anak muda. Intinya, ada seorang cewek yang suka dengan cowok kaya dan ganteng. Akhirnya mereka pun berpacaran.

Naasnya, keluarga cowok ini bangkrut dan cowok ini kembali miskin. Tapi, ternyata namanya sudah kepelet cinta. Hubungan mereka pun tidak terpengaruh oleh kekayaan, meski orang tua cewek ini melarang berhubungan dengan cowok kere ini dan menyuruhnya untuk mencari cowok kaya lain.

"Ahhh..kekayaan itu tidak akan menjamin kebahagiaan. Bukankah hidup itu masih bisa indah meski tidak bergelimpangan harta."

Akhirnya, Yovie and Nuno pun hanya bisa bersenandung "Manusia Biasa".

Aku memang manusia biasa..
Yang tak sempurna dan kadang salah..
Namun di hatiku hanya satu..
Cinta untukmu luar biasa..

Sabtu, 02 Oktober 2010

Perang Tarif Kartu AS VS XL

Akhir-akhir ini pemirsa tayangan iklan televisi pasti sering melihat aksi yang diperankan oleh Sule versus Baim. Sule yang notabene pemain Opera Van Java ini mewakili brand kartu AS dari Telkomsel, sementara Baim mewakili brand produk seluler dari PT Excelomindo Pratama (XL).

Awalnya, Sule dan Baim main bareng di iklan XL yang menyatakan produk XL merupakan brand dengan tarif termurah dari brand lainnya. Lambat laun, Sule digaet oleh kartu AS (segmen low end dari Telkomsel) untuk melawan produk XL.

"Jangan mau dibohongin ama anak kecil," ujar Sule dalam tayangan iklan kartu AS-nya. Atau versi terbarunya adalah ada anak kecil mirip Baim yang mengakui bahwa tarif kartu AS merupakan tarif termurahnya.

Di sini saya tidak akan membedakan tarif antara dua produk telekomunikasi tersebut. Namun dalam dunia marketing, itu merupakan adu perang tarif yang dijadikan senjata dari masing-masing operator untuk menjatuhkan lawan.

Sebenarnya, metode tersebut sudah dipakai dalam beberapa tahun lalu. Bahkan perang tarifnya tidak hanya dari dua operator.Masing-masing operator justru melakukan strategi menjatuhkan lawan lewat iklannya tersebut.

Dari kacamata CEO Virgin Groups Richard Branson, "berteman dengan salah satu musuh adalah taktik yang bagus untuk bisnis dan hidup.".

Namun cara yang digunakan itu, menurut Branson, merupakan cara yang kampungan. Seharusnya, masing-masing operator telekomunikasi ini menggunakan strategi untuk menjatuhkan lawan dengan cara lebih elegan, bukan dengan cara yang sama, hanya perang tarif semata.

Metode perang strategi ini pernah dilakukan di anak bisnisnya, yaitu ketika Sidney Airport Corporation (yang dimiliki oleh perusahaan paling sukses Macquarie Bank) memutuskan untuk menaikkan tarifnya. Lantas Branson beserta CEO Virgin Blue Brett Godfrey sepakat untuk memasang slogan di badan pesawatnya dan juga membuat sebuah papan iklan besar di tepi jalan menuju bandara,yang bertuliskan "Macquarie Dipenuhi oleh Para Bankir."

Aksi tersebut memiliki pesan yang jelas yaitu para bankir selalu mengejar keuntungan sebesar mungkin dengan biaya yang serendah mungkin. Alhasil, Macquarie setuju untuk mempertimbangkan ulang masalah tarif tersebut.

Dalam pandangan Branson, banyak perusahaan yang menginginkan agar merek dagang mereka mencerminkan gambaran ideal dan sempurnanya. Sebagai hasilnya,merek dagang mereka justru tidak terlihat nyata, tidak memperlihatkan karakter dan tidak dapat memenangkan kepercayaan publik.

Sebuah merek dagang akan menjadi identitas jatidiri kita, sehingga akan lebih baik jika kita terus mempertahankan yang sudah usang. So, kita lihat saja perkembangan iklan selanjutnya dari Sule dan Baim ini..toh, masyarakat juga sudah cerdas dengan adanya iklan-iklan tersebut.

Kamis, 09 September 2010

Berdakwah Lewat Musik

Orang yang beriman adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya.Untuk bisa bermanfaat bagi sesamanya tidaklah perlu untuk menjadi terkenal dulu.

Tapi kalau bisa terkenal lebih dulu akan lebih bagus lagi. Hal itu membuktikan kalau kita disukai oleh orang. Otomatis, saat kita menyampaikan sesuatu pesan akan mudah diterima oleh orang lain.

Salah satu yang dilakukan adalah bermusik. Dan pesan yang akan disampaikan bisa melalui lirik lagu yang disampaikannya. Itulah yang ingin disampaikan oleh grup Band Wali.

Beberapa kali lagu ciptaannya menjadi tren setter kawula muda ibukota dan seantero negeri. Bahkan ke negeri tetangga dan dialihbahasakan ke bahasa asing. Mantabbbsss!! Beberapa lagu ciptaannya antara lain sholawatan, tobat maksiat (tomat) dan sederet lagu lainnya.

Tidak banyak grup band yang memilih jalur mainstreem seperti ini. Apalagi bergenre melayu yang kebanyakan orang masih mencibir kualitasnya. Padahal kalau ditilik lebih jauh rumpun musik kita justru lebih ke melayu.
Aku prediksi lagu-lagu yang diciptakan oleh lulusan pesantren ini akan mengulang kesuksesa Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Lirik-lirik lagunya benar-benar berisi sebuah ajakan menuju kebaikan. Coba aja tengok lagu Mirasantika, Begadang, Judi, Wanita Sholihah dan sederet lagu ngetop lainnya. Sayangnya, karya-karya model seperti ini kurang banyak diambil oleh musisi kita. Mayoritas mereka menulis lagu cengeng alias kisah cinta muda-mudi yang sebenarnya tidak ada isinya sama sekali.

Semoga saja, musik bisa menjadi alternatif berdakwah dan bisa menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk menjadi lebih baik.

Dan kita sebagai penikmat musik, mendingan menyanyikan lagu berisi dakwah tersebut. Selain bisa berdakwah dan mengingatkan diri sendiri, kita juga bisa mengingatkan orang lain, walau hanya bisa menyanyi di kamar mandi.

Kamis, 02 September 2010

Cek Cok Pernikahan

Berulang kali gw mendapat curhatan dari seorang cewek yang mengalami cek-cok menjelang pernikahannya. Mulai dari masalah persiapan pernikahan hingga masalah ketidakpahaman antarpasangan.

Konflik kecil ini,jika tidak bisa diatur dan diminimalisir akan berpotensi menjadi masalah besar dan bisa saja akan menggoyahkan pernikahan yang sudah di depan mata.

Barusan gw dapat ocehan (tweet) dari motivator Mario Teguh. Isinya "Rusaknya banyak pernikahan dimulai dari kecenderungan untuk menyalahkan satu sama lain."

Ya, begitulah konflik menjelang rumah tangga. Biasanya, pasangan saling menyalahkan atas kejadian-kejadian kecil yang dialaminya. Yang dibutuhkan di saat kondisi tersebut adalah saling mengerti antarpasangan. Biasanya pula, harus ada yang mengalah dan bisa memadamkan situasi saat tegang begitu.

Membawa hubungan cinta Anda ke jenjang yang lebih serius memang tidak mudah. Anda harus membuat pondasi kuat sejak dini, agar pernikahan yang akan dijalani sukses. Berikut beberapa tips yang bisa menguatkan pondasi hubungan sejak dini.

1. Jujur
Awalilah hubungan dengan kejujuran. Sesuatu yang dimulai dengan hal yang benar, maka akan berjalan dengan baik pula. Sebaliknya, jika pondasi yang Anda bangun diawali dengan kebohongan, maka pernikahan Anda akan rapuh dan mudah runtuh saat diterpa badai.

2. Bersabar
Memojokkan pasangan untuk buru-buru menikahi Anda juga bukan hal yang disarankan. Jalankan hubungan dengan santai. Gunakan waktu Anda untuk mengenal pasangan. Jangan sampai target menikah yang telah ditentukan justru mendorong Anda memilih pasangan yang tidak tepat.

3. Mementingkan kepuasan pribadi
Di awal hubungan, biasanya seseorang akan fokus pada kepentingan pasangan ketimbang kepentingannya sendiri. Hingga secara tidak sadar, ia tak lagi mengerti apa yang menjadi kesenangannya. Alhasil, saat hubungan mulai berjalan lama, kebosanan mulai datang. Anda tak lagi merasakan kebahagiaan. Yang terasa hanya rasa hambar.

Oleh karena itu, dalam setiap hubungan, Anda juga perlu menemukan kebahagiaan pribadi. Terus eksplorasi hal-hal dalam hubungan dan pasangan yang bisa membahagiakan Anda.


4. Menjaga keintiman
Lamanya umur hubungan bukan alasan bagi Anda dan pasangan untuk kehilangan keintiman. Jaga terus kebersamaan, dan keharmonisan Anda demi pondasi rumah tangga yang utuh. Jangan sampai hilangnya keintiman menjadi titik awal keruntuhan hubungan yang telah dibangun.

5. Jadikan pasangan sebagai teman baik
Pasangan bukan hanya berperan sebagai kekasih semata. Jadiakan juga ia teman baik Anda. Tempat mencurahkan isi hati atau berbagi pengalaman baru. Ingat, jika Anda memang ingin menjadikannya suami, maka Anda harus siap menjalankan seluruh hidup dengannya. Pasangan yang berperan sebagai teman baik akan menjadi pasangan yang paling pas untuk menemani Anda seumur hidup.

Minggu, 29 Agustus 2010

Rejeki Tetangga Lebih Hijau

Peribahasa rumput tetangga lebih hijau memang fenomenal, terutama untuk menyebut keadaan tingkat kesejahteraan orang lain. Hal itulah yang melatarbelakangi beberapa temanku untuk curhat barusan.

Dalam perjalanan karirnya selama tiga tahun, ternyata tidak ada perubahan berarti terutama dalam peningkatan status hingga urusan duit alias gaji.

Alhasil, dalam pembicaraan tadi cuma mengeluh mau pindah kemana dan mau cari kerjaan apa lagi. Belum lagi kita juga ngobrolin status teman yang udah married, sampe ada promosi hingga liputan ke luar negeri. Trus kita kapan ya?

Mendengar percakapan "mengeluh" dari mereka, gw ingat pernyataan Mario Teguh Ahad kemarin. Rumput Tetangga Memang lebih hijau. Dan setiap tingkah laku tetangga kita, kita pasti iri. Yang pasti lagi soal materi.

"Ah..ternyata kita tidak pernah melihat tetangga di sekeliling kita, yang mungkin keadaannya jauh di bawah kita. Kita lupa bersyukur," kata motivator ulung itu.

Kita yang sudah mengecap kesuksesan (walau masih minimal), selalu melihat keadaan orang di atas kita. Sehingga kita selalu kekurangan. Padahal kita diajarkan untuk melihat tetangga yang kesusahan, bukan mengejar materi sebanyak-banyaknya tapi itu malah tidak berguna bagi kita.

Mario juga bilang, mendingan kita sedikit harta daripada banyak harta tapi tidak membuat bahagia. Walaupun kita juga sebenarnya dituntut untuk kaya agar bisa bermanfaat untuk tetangga kita.

Dalam doa yang selalu kita panjatkan, kita selalu meminta untuk menutupi apa yang ada di kekurangan kita. Misalnya tambah gaji, tambah cantik atau ganteng, punya mobil baru dan segala macam materi lainnya. Emangnya Tuhan akan langsung menjatuhkan rejekinya langsung? mending tanya aja ama pak Tarno, bin salabin jadi apa..prok..prok..prok!!!

Padahal seharusnya kita meminta kepada Tuhan untuk bisa melebihkan apa yang kita punya (tapi bukan materi). Misalnya tambahan kemampuan kecerdasan, sehingga bisa menciptakan rejeki baru.

Ah..rasanya kita emang susah untuk belajar ikhlas. Apalagi menerima kekurangan kita. Padahal Tuhan telah memberikan rejeki kita sendiri, hanya kita saja yang dituntut untuk berjuang menjemputnya. Seberapa keras usaha kita menjemput rejeki yang sudah dijanjikan.

Ingat, bisa saja Tuhan langsung mengabulkan untuk memberi rejeki kepada orang yang tidak baik. Namun sebenarnya itu hanya hukuman yang ditangguhkan padanya. Maksud TUhan adalah seberapa bersyukur dia atas rejeki yang sudah dilimpahkan kepadanya?

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim:7)

Selasa, 17 Agustus 2010

Menjadi Wartawan Itu Pilihan

Saya tersenyum setelah melihat status teman di Facebook yang menyatakan bahwa untuk menjadi wartawan masih diperlukan surat ijin dari orang tua. Ahhh..ini medianya yang tidak percaya dengan pelamar kerja atau medianya tidak mau bertanggung jawab saat ada masalah di kemudian hari?

Mengutip status dari Mas Satrio Arismunandar,"Saya tersenyum membaca iklan di Harian Republika hari Senin (4 Oktober 2010), tentang lowongan menjadi reporter/fotografer. Pasalnya, ada klausul yang menyaratkan adanya "surat izin dari orangtua/wali untuk menjadi reporter/fotografer."

Wartawan kok diperlakukan seperti "anak-anak?" Bukankah mereka seharusnya diperlakuikan sebagai orang dewasa, yang berani memilih profesi dan bertanggung jawab atas pilihannya itu?

Hahahaha..pertanyaan menggelitik dan sampai saat ini saya belum bisa menjawabnya. Sepertinya hanya Republika yang mensyaratkan surat ijin dari ortu tersebut. Atau mungkin ada media lain yang masih memakai cara seperti ini?

Hmmm..selama empat tahun di media dan sudah berada di dua media massa berbeda baik nama media maupun lokasi, ternyata saya belum pernah mengalaminya. Ahhh..biar saja. Mungkin profesi ini memang bukan impian dan harapan dari orang tua kepada anaknya.

Orang tua ini berkeinginan agar anaknya bisa menjadi PNS, bergaji tetap, berangkat pagi dan pulang sore serta mendapat gaji ke-13. Kalau wartawan? siapa yang dapat menjamin? itu justru kebalikannya...

Bahkan Mas Satrio ini juga menulis status lanjutan..

"Anda WARTAWAN? Jika istri Anda suka cemberut atau melarang Anda pulang malam, dan menghambat pelaksanaan tugas kantor, suruh dia baca ini: "Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan tugas wartawan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000 (alias Rp500 juta)."

Oalaahhhh..gaji setahun aja kalau dikumpulin ga sampai segitu kok...hehehe..

Rabu, 07 Juli 2010

Ketika Cinta Harus Memilih


Ketika cinta datang, tak ada yang dapat menolaknya. Apalagi cinta yang datang tidak hanya satu, tapi dua. So, itulah cinta segitiga yang mau tak mau harus dipilih salah satu agar tidak menyakiti lainnya.

Itulah pesan sekilas dari kisah novel "Eclipse" dari Trilogi Twillight. Dalam film ketiga hasil karangan Stephanie Meyer ini tampaknya ingin mengulangi kesuksesan dua film sebelumnya yaitu Twillight dan New Moon.

Saking penasarannya, gw selalu menyempatkan nonton film ini tanpa menyentuh satu bukunya sekalipun. Jadi, gw ingin bebas melihat penafsiran dari sang sutradara dalam alih dunia tulisan ke dunia gambar.

Alhasil, dalam penilaian sementara setelah menonton film tersebut, gw merasa kecewa. Memang, film ketiga ini berbeda sutradara dibandingkan film pendahulunya.

Ialah David Slave (yang telah menyutradarai 30 Days of Night) yang berusaha memvisualkan drama cinta segitiga antara Kristen Steward, Robert Pattinson dan Taylor Lautner. Kisah cinta segitiga inilah yang berusaha mengaduk emosi para penonton.



Sayangnya, gw merasa "ilfill" saat harus menyaksikan adegan "cipokan" berulang-ulang. Bukannya gw ga suka adegan itu, tapi karena terlalu sering, justru filmnya terasa hambar. Gw ke bioskop bukan cari adegan ciuman mulu coyyy..

Gw di sini mungkin tidak akan memberikan sinopsis seluruhnya, karena gw yakin kalian sudah tahu terhadap cerita novel itu. Beberapa yang gw catat dari film ini adalah gw salut ama pesan dari Robert Pattinson yang ogah memerawani (halah, bahasanya kok ribet amat yak) Kristen Steward alias Bella.

Si Vampire ganteng ini bakal hanya menyetubuhi (vulgar banget ya) si Bella setelah menikah. Hmmmm..ternyata Vampire ini masih punya hati nurani. Di tengah pemberitaan yang lagi seru, soal kasus video hot Ariel Peterporn dan Luna Maya sekaligus Cut Tari yang menyebabkan kasus ini banyak ditiru oleh anak sekolahan, ternyata film ini menyiratkan hal penting.

Ah, semoga yang menonton film itu mau mengambil hikmah yang ini, bukan adegan cipokan yang sering banget itu. Maklum, tadi pas nonton di bioskop rata-rata ditonton bersama pasangannya.Naasnya, pasangan ini selalu bergelayut mesra saat menonton. Apalagi saat adegan Bella dipeluk ama Jacob yang bertelanjang dana, wowwwww...."kenapa kamu tidak melepaskan bajumu biar hangat sekalian," ajak Jacob.

Waduuuhh..nih anak bandel banget ya..orang lagi kedinginan malah nekat mau ******* (sensor). Padahal, di situ juga ada Edward yang notabene adalah pacar si Bella. Tentu aja, membuat Vampire ini berang. Tapi karena Edward orangnya cool and charming, maka dia mengatasi dan menenangkan suasananya.

Sayang, adegan perang antara Vampire melawan serigala atau vampire jadi-jadian itu tidak seseru di film yang pertama. Memang ada sih sekilas adegan yang memperlihatkan pertarungan itu. Namun tidak banyak. Film sepanjang hampir dua jam ini terlalu dipenuhi oleh dialog percintaan antara Edward, Jacob dan Bella. Atau menceritakan sejarah saudara-saudara Edward yang dahulu sebelum menjadi vampire, atau sejarah keluarga serigala versi ayah Jacob.

Alurnya pun dibuat naik turun. Kisah puncak hanyalah kematian Victoria yang akan balas dendam terhadap kematian pacarnya dulu (di film New Moon dan Twilight). Itupun juga dikalahkan dengan mudah oleh Edward. Yaaahhh..mungkin ini soal pertarungan antargender kali ya..so, cewek harus kalah.

Nah, ending story ini pun sudah bisa ditebak karena sejak awal Bella sudah meyakinkan kepada Edward untuk mau menjadi pasangan hidupnya kelak, meski berbeda dunia (antara vampire dan manusia). Dan senangnya, kelompok serigala dan vampire dalam film ini bisa bersatu dan hidup damai karena muncul tokoh antagonis lain yang akan menyerang dua kubu ini.



Selebihnya, Anda boleh jejeritan melihat bodi Jacob yang super seksi (always bertelanjang dada dengan sixpack pada otot perutnya) atau si vampire ganteng yang makin cute dan super charming. Tapi, gw juga agak ilfill terhadap Bella yang kelihatannya nafsu banget ama Edward untuk mengajak ML. Fiuuuhhhh..kenapa film ini berbau ranjang semua sih???? jadi muak..