Kamis, 18 Februari 2010

Manusia Kehilangan Akal Sehat

Kerusuhan antara Satpol PP dengan warga Koja Jakarta Utara yang memerkarakan keengganan relokasi Makam Mbah Priok akhirnya berakhir ricuh. Satu anggota Satpol PP dikabarkan juga telah meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka baik aparat maupun warga.

Uniknya, kasus ini melibatkan mulai dari warga sekitar makam, satpol PP, walikota Jakarta Utara, anggota DPRD, ormas hingga wakil gubernur DKI Jakarta.

Bahkan akhirnya Presiden SBY pun angkat bicara. Beliau berpesan agar masyarakat dan aparat bersikap jernih dan mengajak semua dalam menuntaskan masalah secara sabar dan damai.

Ada 8 hal yang disampaikan oleh SBY. Di antaranya adalah menghentikan renovasi makam, merawat seluruh korban, menanggung semua biaya perawatan para korban (dalam hal ini ditanggung oleh Pemda DKI),
renovasi tempat sekitar makam, mediasi antara gubernur dengan ahli waris dan ormas tertentu serta
meminta polisi amankan situasi.

Bahkan kerusuhan ini juga harus melibatkan Kapolri, Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam untuk langsung ke TKP.

Saya tidak mau berdebat soal siapa yang benar dalam kasus ini. Apalagi ini adalah masuk kasus hukum yang perlu analisis mendalam.

Namun dalam kasus ini terlihat manusia sudah kehilangan akal sehatnya untuk menyelesaikan masalah. Manusia cenderung untuk menyelesaikan masalah secara otot.

Alhasil, bentrok pun terjadi. Kalau sampai seperti ini, kerugian pasti tidak hanya materi. Bahkan sampai jasmani dengan jatuhnya korban hingga ada yang meninggal.

Trus siapa yang salah?
Halah..semuanya tidak ada yang benar. Satpol PP sepertinya terlalu arogan menghadapi warga. Sebaliknya warga pun tetap kekeuh mempertahankan makam yang notabene sebenarnya sudah direlokasi. Lho? Berarti itu makam siapa?

Saya jadi ingat soal kasus boikot Menteri Keuangan yang datang ke Komisi XI DPR RI kemarin. Anggota dewan ini mempermasalahkan kedatangan Menkeu tanpa Menko Perekonomian. Padahal dalam amanat Presiden dua menteri andalan ini harus duduk bersama membahas APBN-P.

Lha..soal urusan begini aja ngototnya bukan main. Belum lagi debat soal asumsi pertumbuhan ekonomi tahun ini, apakah bisa 5,5 atau bahkan bisa 6%.

Memang sih..mereka belum sampai lempar sandal. Cuma di sini mereka adu mulut yang notabene tidak mendasar alias ngomong tanpa ilmu. Akan lebih baik langsung mengundang pakar dan langsung implementasi.

Ingat, rakyat Indonesia sebesar 230 juta jiwa menanti aksi riil dari kebijakan-kebijakan yang ada. Jangan sampai Indonesia malah perang lagi antarsuku.

Hahaha..
Dunia ini memang penuh sandiwara..ceritanya tidak pernah berubah karena mereka beraksi tanpa berpikir :)

Rabu, 17 Februari 2010

Were The World Mine



During the past couple of weeks, I wanted to find a few films with a good LGBT angle. I watched Eternal Summer and Brokeback Mountain last year, and I absolutely loved it. Last week, I watched Tom Gustafson's as a director which title "Were The World Mine". Here's my short reviews for both films, but I''ll tell you right now that they are wonderfully awesome.

Were the World Mine (2008)
This was a pretty good gay-themed movie. Inspired by William Shakespeare's "A Midsummer Night's Dream" and directed by Tom Gustafson, the plot focuses on a young gay boy living in a homophobic town while attending an all-boy's school.
Soon after, he''s cast in the play and turns everyone gay with the help of a magical plant. Conflicts erupts between his jock crush, his best friends, and his mother. The play is set in motion, but everyone now feels what's it's like to be gay.

The music is sort of like a musical, but meshes the song as part of the plot with the songs very sensual.
The actors are cute (Tanner Cohen and Nathaniel David Becker), and the movie ends with a surprise twist. The movie won many awards in film festivals, including Grand Jury Award for Outstanding U.S. Dramatic Feature at Outfest 2008.

Semoga kagak bingung dengan bahasa Inggris sederhana itu. Sebenarnya minggu lalu gw iseng sepulang kerja trus mampir ke toko vcd bajakan di depan Terminal Senen.
Intinya gw mo cari Ghost Writer, tapi sayang belum ada bajakannya. Kalaupun ada, gambarnya belum bagus. Alhasil, setelah bongkar-bongkar tumpukan vcd, gw menemukan sebuah film dengan gambar menggoda. Ahaaa..

Bener seperti sinopsis di atas, casting pemainnya keren (dan sampulnya bergambar cowok topless). Loh? Santai aja bos! Gw masih normal kok, cuma lagi kepingin melihat cerita dari angle lain soal LGBT (Lesbian, Gay, Bisex and Transexual).

Setelah lihat gambar, gw baca sinopsisnya. Keren juga sih!
Intinya, ada cowok bernama Timothy yang akan segera lulus SMU. Nah, sebagai tanda perpisahan ada pementasan karya Shakespeare "A Midsummer Nights Dream". Sang guru (yang menurut gw aneh) membujuk Timothy untuk ikutan casting. Kayaknya sih dia udah punya feeling pake peran Timothy.
Nah, untuk bisa menjadi tokoh utama, dia harus membaca script dan novel Shakespeare. Di situ, dia juga disuruh membuat ramuan cinta. Alhasil, ramuan itu jadi dan berbentuk bunga.

Anehnya, bunga berwarna ungu itu mampu menyemprotkan percikan air dan orang yang terkena percikan itu langsung menjadi Lesbi atau Gay! Wow!! Bayangkan aja, kalo lu cowok dan menyemprotkan bunga itu ke cowok juga. So, lelaki segarang apapun akan takluk dengan lu. Begitu juga dengan sesama cewek. Kayak semacam pelet lah! (tapi ini tidak bisa digunakan untuk lain jenis).

So, seluruh sekolah berubah jadi gay dan lesbi. Bahkan guru Baseball pun harus rela menunggu semalaman suntuk di depan rumah Kepala Sekolah untuk menyatakan cinta! Begitu juga dengan ibunya Timothy yang dikejar istri Kepala Sekolah tersebut.

Nah, Timothy ini sebenarnya juga sudah mengetahui kalo dirinya seorang gay. Nah, dia juga menyemprotkan ke cowok idamannya yaitu Nathaniel David. Dia juga sempat "bercinta" di bawah temaram bulan purnama di sebuah hutan yang jauh dari rumah. Romantis!!!

Endingnya sang guru casting (guru drama itu) melihat kekacauan di sekolah. Ibunya Timothy minta untuk segera mengakhiri keanehan ini. Akhirnya, suasana kembali normal. Namun, akankah Timothy dan David ini sadar dan kembali normal? Ahhh..lihat aja sendiri :)

Minggu, 24 Januari 2010

Kasih Uang Habis Perkara

Itulah yang terjadi di sistem pengadilan tanah air. Apapun bisa dibayar dengan uang. Tak terkecuali masalah hukum.

Kali ini negara sedang dihebohkan oleh kasus plesiran dari seorang tahanan tersangka mafia kasus pajak, Gayus Tambunan.Kabarnya, Gayus berhasil nonton pertandingan tenis di Pulau Dewata selepas membayar sejumlah "upeti" ke penjaga tahanan.

Hmmmm..inilah yang disebut pasal KUHP, Kasih Uang Habis Perkara. Hukum kita terlalu mudah untuk dibeli, khususnya oleh orang-orang berduit. Daripada repot menginap di hotel prodeo, mendingan bayar uang dan selesailah perkara.

Sebelumnya juga pernah terjadi kasus penyuapan Rp6 miliar kepada jaksa Urip Tri Gunawan oleh Artalyta Suryani alias Ayin. Meski sudah divonis 5 tahun di Rutan Pondok Bambu, hotel prodeo yang khusus disiapkan untuk Ayin justru bernuansa hotel mewah sungguhan.

Bagaimana tidak, penjara yang seharusnya tidak ada fasilitas apapun justru dilengkapi dengan televisi, kulkas hingga AC. Oalahhhh..lagi-lagi ini urusan uang. Bagaimana mungkin Ayin dapat fasilitas mewah tanpa ada kongkalikong dengan pejabat setempat?

Uang..alat pembayaran ini seakan menjadi hal biasa untuk membeli sesuatu, bahkan nyawa sekalipun.Ah, janganlah sampai ke urusan nyawa. Kita saja kalau terkena tilang, mendingan bayar di tempat agar segera beres. Bagaimana dengan Anda?

Saya jadi prihatin dengan kondisi bangsa ini yang seolah-olah mempermainkan negara.Bagaimana tidak, rakyat yang masih didominasi oleh kemiskinan ini telah dinodai oleh kasus segelintir pejabat. Akibatnya, rakyat yang susah bertambah susah. Dan pejabat yang kaya justru tambah kaya. Lha wong saat dia kena kasus, dia langsung menyodorkan uang untuk menyelesaikan perkara!!

Tidak perlu menyalahkan siapapun! Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa jujur dan berusaha bersih dalam menerima dan menyalurkan rejeki kita. Bagaimana pun, apapun dan dengan cara apapun kita menerima rejeki akan mempengaruhi segala pemmikiran kita. Jika kita menerima rejeki haram, maka otomatis kita makan dengan sesuatu yang haram, otomatis darah yang mengalir ke tubuh kita juga haram. Pemikiran kita pun juga sudah tidak berdasarkan akal sehat lagi, justru melebihi setan..

Selasa, 19 Januari 2010

Televisi Juga Bisa Mencerahkan

Televisi menjadi salah satu media yang dapat mempengaruhi pikiran manusia. Bahkan dengan kotak berwarna ini manusia bisa menjadi apa saja sesuai apa yang dituturkan oleh media tersebut.

Dulu, ada acara di salah satu televisi swasta yang menyiarkan pertarungan antara dua manusia. Ini bukan tinju tapi sudah menjadi pertarungan hidup mati. Seingatku nama acaranya WCW.

Setelah ada tayangan tersebut, banyak anak-anak yang meniru adegan tadi. Imbasnya, ada anak yang tewas akibat pertarungan yang disengaja tadi.

Ada juga ajang pencarian bakat yang sedang "in" dalam periode ini. Orang-orang pun berduyun-duyun menyuguhkan kemampuan terbaiknya. Bahkan meski kemampuannya cenderung lebay dan sebenarnya tidak patut untuk ditayangkan.

Ahhh..itu kayaknya kejauhan. Temanku yang ikut dalam acara reality show ternyata hanya menginginkan dia bisa eksis di media kotak itu. Alhasil, siapa tahu dewi fortuna sedang mampir ke pihaknya dan ternyata ada produser yang meliriknya jadi artis. Lha..ternyata jadi artis tidak susah kan???

Barusan, gw melihat acara "Kick Andy" di Metro TV. Ini adalah salah satu acara favorit gw. Dalam tayangan ini, Andy Noya justru didaulat jadi narasumber. Sedangkan host-nya adalah Jaya Suprana, pemrakarsa Museum Rekor Indonesia (MURI).

Di sini tayangan tersebut menyebutkan episode-episode terbaik dan kebanyakan malah tidak ditayangkan alias dibuang sayang. Maka dalam tayangan ini tayangan tersebut kembali dimunculkan.

Ada episode yang memertemukan Aa Gym dan Aa Jimmy, kolektor barang berharga, orang bule yang cinta mati terhadap Indonesia, cerita kasih sayang anak yang sudah 34 tahun tidak ketemu ibunya, orang dengan keterbatasan fisik tapi punya visi besar dan sebagainya.

Uniknya, (kata Andy Noya), acara tersebut memiliki 3 produser. Keinginan Andy adalah memberikan tayangan berbeda bagi pemirsa. Tidak hanya baru, tapi bisa menggugah dan memberikan inspirasi bagi semua.

Sebenarnya ada acara serupa di TV One, yaitu Tatap Muka. Acara yang digawangi Farhan ini juga menyuguhkan narasumber berkompeten untuk membagi ilmunya.

Kalo tadi, acara tersebut mengundang Sandiaga Uno. Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan wakil Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) ini memiliki visi untuk mencetak pengusaha baru sebesar 5% dari total penduduk Indonesia sekarang.

Mau tahu jumlah pengusaha Indonesia saat ini??? "Hanya ada 0,18% dari total jumlah penduduk Indonesia," kata Sandiaga.

Sayang, visi tersebut belum tahu kapan akan diraih. Itu adalah kesalahan saya, karena saya telat menontonnya.

Ah, aku juga senang ama Laptop si Unyil. Acara ini membawaku ke masa anak-anak dan dituturkan dengan gaya anak-anak pula. Ternyata..gw udah tua ya..tapi masih layak kok nonton acara ini.

Ini terbukti masih banyak acara televisi yang memberikan pencerahan dan inspirasi. Sometime, gw pingin juga memiliki acara sendiri. Kayak Oprah Winfrey, Kick Andy, Just Alvin, Rossi Show, Dorce Show, Pagi Asri, Bukan Empat Mata dan sederet acara lainnya.

Nah, dengan tayangan selama 24 jam setiap hari ini, manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, mana tontonan yang bisa menjadi tuntunan. Dan mana tuntunan yang bisa memberikan pencerahan, menatap dunia penuh inspirasi.

Semoga nanti gw punya televisi sendiri dan punya acara sendiri. Atau minimal, gw bisa berceloteh bebas di sini :)

Minggu, 22 November 2009

Ada Jepang di Indonesia


Irasshaimase...Selamat datang

Tak harus pergi ke Jepang untuk bisa menikmati budaya negeri matahari terbit itu. Selama hampir seminggu di awal November kemarin, ada Festival Indonesia Japan Expo di Arena PRJ Kemayoran Jakarta. Yah, walau belum bisa menikmati semua arena, maklum hari terakhir, tapi setidaknya aku bisa merasakan aura Jepang itu di Indonesia.

Acara yang digelar untuk memeringati 50 tahun kerjasama Indonesia-Jepang itu digelar dengan beragam acara. Mulai dari pagelaran seni dua negara, cosplay, pameran industri Jepang (otomotif dan manufaktur), makanan, teh Jepang (cha), demo ikebana, kimono, shinkansen dan lain-lain. Pokoknya worthed banget.

Festival Costume Play (cosplay) merebut pasar remaja yang gandrung dengan tokoh anime Jepang.
Dapat durian runtuhhhh...

Obake (rumah hantu Jepang), belum tahu isinya sih. Karena waktu mau nonton, antriannya kayak ular (hampir 1/2 km lebih). Capek deh!!

Pena Emas, Inspirasi Cerdas...Sesuai ama motto Panasonic, Ideas For Life
Bukannya gw ga setia ama almamater sendiri (SINDO) tapi narsis di depan koran pesaing, boleh kan?
Sakura ala Indonesia (bunga plastik maksudnya)

Omikuji (kayak permintaan pada selembar kertas) lantas digantungkan pada sebuah pohon kecil. Acara ini biasanya ada pada festival Bon Odori atau Nihon Matsuri (perayaan musim panas khas Jepang) gitu..

Oh ya, bisa baca tulisan itu? kira-kira bunyinya Nihon ni ikitai yo (Ingin pergi ke Jepang)....Kalo menurutku partikel "ni" setelah Nihon kurang tepat, karena artinya "di", menurutku lebih tepat pake "e" artinya "ke". Watashi mo nihon e ikitai yo... (Saya juga ingin pergi ke Jepang)



Mainan masa kecil ama Doraemon..


Acara di Japan Foundation Sudirman, menikmati es dari kutub selatan!!segerrrrr...oh y, bongkahan batu es -nya bisa bunyi seperti "ssssssss" gt deh!! kodomo (anak-anak Jepang) ini begitu antusias dan berebutan ingin memegang dan meminumnya!!

Dingin yaaa...

Selasa, 08 September 2009

Ingin Cetak 1 Juta Miliarder Sebelum 2020


RAPBN 2010 menjanjikan lapangan kerja baru bagi 1,87 juta tenaga kerja dengan target pertumbuhan 5%. Dari target ini,pengangguran bisa ditekan 8%. Terkait hal ini, Bank Dunia memprediksi bahwa kinerja perekonomian Indonesia tahun 2009 akan lebih baik, meski target pertumbuhannya melambat.

Di sisi lain, perekonomian tahun 2009 masih akan terbebani oleh kemiskinan dan pengangguran. Karena itu, sangat penting bagi pemerintah menumbuhkembangkan etos kewirausahaan di kalangan generasi muda agar mereka tumbuh menjadi wirausahawan baru.

Mencoba menawarkan sebuah solusi, ActionCoach memberikan bantuan kepada calon wirausahawan baru maupun pemilik bisnis bahkan CEO perusahaan kecil maupun besar yang menginginkan perusahaannya lebih maju melalui sebuah cara konsultasi bisnis dan dukungan dana dari pihak ketiga.

Berikut petikan wawancara dengan Herman Susanto, pemilik bisnis ActionCoach dan satu-satunya pemegang lisensi ActionCoach di Indonesia.

Apa yang melatarbelakangi Anda mengembangkan bisnis Coach (pelatih bisnis) tersebut?
Saya melihat pertumbuhan penduduk di Indonesia yang begitu pesat. Namun tidak diimbangi oleh populasi pengusaha sukses, hingga yang terjadi justru tumbuh suburnya
pengangguran dan terjadi penutupan usaha dimana-mana. Hal tersebut mulai terpikirkan sejak krisis ekonomi tahun 1998 yang menjadi tonggak bersejarah kemerosotan roda
ekonomi. Sejak tahun itu laporan keuangan kas negara makin diwarnai dengan
raport merah, termasuk kestabilan keamanan dan kenyamanan.

Latar belakang bisnis saya berawal dari meneruskan usaha orang tua, yaitu bisnis pelayaran. Tahun 2002 saya memutuskan untuk meninggalkan usaha warisan orang tua dan mendirikan pelatihan bisnis agar bisa membantu orang mencari uang dengan baik dan halal.

Hingga pada tahun 2002, saya menemukan motivator sekaligus pemilik bisnis Brad Sugar. Saya sangat terinspirasi dengan bisnis franchise ActionCOACH, karena
melihat kesuksesan Brad Sugars dalam membantu pebisnis di berbagai negara menjadi sukses. Saya melihat begitu banyak pemilik bisnis membuka usaha, namun tak banyak yang bisa bertahan di lima tahun pertama. Tapi Brad sangat luar biasa, itulah sebabnya saya membawa bisnis ini ke Indonesia. Dan di tahun tersebut, saya berkeyakinan membeli franchisee ActionCoach dan mengembangkan virus wirausahawan tersebut di sini. Dan di tahun tersebut pula menjadi tonggak sejarah industri pelatih bisnis di tanah air.


Apa yang membuat Anda yakin dengan bisnis yang ditawarkan Brad Sugar? Sebenarnya siapa dia?
Brad Sugar adalah orang biasa asal Brisbane Australia. Sejak usia 15 tahun, dia sudah memiliki bisnis dengan bekerja sebagai pekerja lepas. Seiring dengan waktu, ia mencoba mengembangkan insting bisnisnya itu ke berbagai bisnis lainnya, dan selalu berhasil.
Bagi anak muda berusia belia ini, bisnis adalah passion. Ketika anak lain seusia dirinya masih menikmati masa remaja, bocah yang suka mempekerjakan teman-temannya sebagai pengantar koran ini selalu berpikir bagaimana cara mencari pembeli yang kemudian menjual kembali kepada yang lain dengan harga yang lebih tinggi. Itulah mind set Bradley J Sugars kecil, pendiri ActionCOACH 16 tahun lalu.

Sejak meninggalkan bangku kuliah jurusan akuntansi, yang saat itu ia berusia 21 tahun, Brad mulai berinvestasi kepada dirinya sendiri. Ia mulai belajar bagaimana membangun bisnis. Hasil uang dari usaha kecil-kecilan itu ia kumpulkan dan ia belanjakan untuk mendapat ilmu yang lebih baik.

Seiring dengan waktu, Brad mulai menerapkan ilmu bisnisnya itu yang ia peroleh sejak kecil secara otodidak. Dan uniknya, setiap bisnis yang ia tangani selalu berhasil. Mulai dari bisnis salon, industry pizza, toko retail, usaha fotocopy dan banyak lagi.

Seiring dengan proses membangun bisnis sendiri yang jumlahnya cukup banyak, Brad juga menyempatkan diri sebagai seorang konsultan bisnis. Dimulai dari membantu usaha kecil disekitar rumahnya, nama Brad mulai dikenal. Bahkan berkat kepandaiannya membantu klien, Brad sering diundang ke berbagai seminar, temanya bagaimana membangun bisnis yang sukses.

Tahun 1993, Bradley J Sugars resmi mendirikan usaha bergerak di bidang pelatih bisnis yang ia beri nama Action International. Usaha ini berbentuk franchise. Dari waktu ke waktu, bisnis franchise dibawah bendera Action International ini mulai bertumbuh pesat di kota asalnya, Brisbane Australia.

Tahun 1994 sekitar 350 pemilik bisnis dan tujuh trainer di seluruh dunia menggunakan jasa Brad Sugars. Dalam waktu yang cukup singkat 15 tahun lamanya, ia kini berhasil
membangun perkantoran yang cukup besar di beberapa negara selain di Australian itu sendiri, misalnya di New Zealand, USA, Inggris, Singapura, Irlandia, Wales, Malaysia, China, Canada, Mexico dan banyak lagi. Kini ActionCOACH telah memiliki lebih dari 1000 pelatih bisnis (coach) di 47 negara dunia.

Apa beda “Coach” dengan “Motivator” yang selama ini mendominasi bisnis di tanah air?
Kata “pelatih bisnis” sangat akrab di telinga dunia olahraga. Mulai olahraga bulu tangkis, golf hingga sepak bola. Namun “Coach” tak asing lagi di dunia maju, seperti Amerika, Singapura, Inggris hingga China misalnya. Kendati demikian, industri pelatih bisnis tetap saja menjadi hal yang pada awalnya asing bagi banyak pengusaha Indonesia.

Jika “Motivator” hanyalah seorang pembicara yang mendorong atau membangkitkan kesadaran seseorang terhadap pikirannya. Namun yang digerakkan di sini hanya sebatas pikirannya saja, hanya membuka wawasannya saja untuk bergerak lebih lanjut.

Nah, jika tidak ada bimbingan lebih lanjut, bisa saja setelah acara usai, peserta motivasi ini bakal kehilangan momentum untuk bergairah lagi. Di sini mereka (motivator) yang ada hanyalah individu yang mengklaim dirinya adalah seorang coach.

Beda dengan “Coach” yang memang berarti seorang pelatih. Hal tersebut bisa dianalogikan dengan permainan catur. Yang satu belajar otodidak, dan yang lainnya dibimbing oleh seorang ahli di bidangnya. Hasilnya, tentu akan lebih baik yang memakai pelatih.

Apakah Anda yakin sukses dengan bisnis tersebut?
Kita harus yakin. Seorang Tiger Woods (pegolf) yang sudah handal saja masih memerlukan pelatih. Meski dia sudah memiliki keahlian khusus di dunia pe-golf-an, tapi saat bermain di lapangan dia tidak yakin menang, maka ada kemungkinan besar dia akan kalah. Nah apalagi kalau kita tidak yakin, makin besar peluangnya untuk kalah. Dan hal tersebut adalah suatu prinsip yang bisa diterapkan di semua hal. Saya yakin bisnis ini akan menjadi bisnis terdepan di masa kini dan masa depan.

Bagaimana Anda mengembangkan bisnis ini pertama kali di tanah air?

Pada awalnya mengembangkan bisnis franchise ini, hal tersebut bukan pekerjaan mudah. Ibarat hidup di tengah masyarakat yang tak memiliki budaya “pakai sandal”, saya berusaha untuk mengubah pola pikir, bagaimana memasyarakatakan sandal sebagai satu budaya baru.

Dari 100 hingga 300 pengusaha yang mengikuti seminar saya tentang pelatihan bisnis, tak satu pun yang tertarik dengan penawaran saya. Bahwa pemilik usaha seharusnya memakai jasa pelatih bisnis untuk mengembangkan bisnis mereka lebih sukses dan mandiri.

Saya hanya berkeyakinan dengan apa yang saya yakin benar adanya. Contohnya saja, 100 tahun lalu ketika Hendry Ford ingin menciptakan sistim transportasi modern kepada
masyarakat jaman dulu yang semuanya adalah pedestarian (pejalan kaki). Ide
Hendry dianggap “gila”. Masyarakat dulu merasa aneh melihat seorang memakai kendaraan berteknologi mesin di tengah para berkendaraan kuda.

Namun kini justru terbalik, sangat aneh orang memakai kendaraan kuda di tengah kendaraan bermesin bensin. Pun pada industri pelatih bisnis. Saya optimis, ketika
jaman sudah makin modern, justru pemilik bisnis yang tak memiliki “Coach”
yang akan terlihat aneh”.

Bagaimana prospek usaha ini?
Saya merasa sangat optimis dengan prospek industri pelatihan bisnis ini, dan itu sudah terbukti di tahun 2009 ini, yaitu sudah memiliki lebih dari 300 klien, 28 pelatih bisnis dan sudah mengembangkan kantor hingga ke Surabaya. Untuk bisnis seperti ini di tanah air, saya merasa bisa dihitung dengan jari.


Apa kendala yang Anda hadapi?

Delapan tahun lalu (saat usaha ini dirintis) saya masih berusia 31 tahun. Sementara saya harus berbicara tentang pentingnya memiliki pelatih bisnis bagi para pemilik usaha. Tak mudah memang, karena kebanyakan peserta adalah pengusaha senior yang sudah makan asam garam di bisnis.

Berbekal pengalaman organisasi di Persatuan Mahasiswa Indonesia (Permias) yang beranggota 250 mahasiswa di Amerika, saya hanya yakin saja. Justru tantangan ini menjadi sesuatu yang fun.

Namun perlahan, keengganan pengusaha 8 tahun lalu mungkin sangat beralasan, karena memang industri pelatih bisnis belum menunjukkan trennya. Namun kini, pemilik
bisnis sudah mulai berpikir dua kali jika tak punya coach, seolah memiliki
coach itu seperti punya handphone. “Hari gini gak punya handphone, apa kata
dunia”??

Para pemilik bisnis yang memiliki pola pikir konservatif (kolot) selalu berkeyakinan bahwa membangun bisnis tak perlu seorang pelatih. Bisnis bisa berkembang dengan
kerja keras dan semangat pantang menyerah. Pada kenyataanya, apa yang mereka yakini itu tak sepenuhnya benar.

Mereka boleh berpikir bahwa bisnis bisa berkembang tanpa pelatih bisnis. Namun jika dianalogikan, mana yang lebih baik antara atlit yang memiliki pelatih dengan yang tidak? Tentu atlit yang punya pelatih jauh lebih baik. Pun pebisnis, selalu yang punya pelatih bisnis jauh lebih baik dari sisi kualitas dibanding yang belum punya pelatih.

Apakah bisnis seperti ini sudah diakui secara internasional maupun nasional?
Masa keemasan industri pelatihan bisnis sebenarnya mulai mencapai titik terang sejak tahun 2007, bertepatan dengan pergantian nama dari Action International menjadi ActionCOACH. Di tahun itu pula ActionCOACH mendapat beberapa penghargaan.

Di antaranya penghargaan ISMBEA dari Suryadharma Ali Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI atas jasanya membantu bisnis para usaha keci (UMKM) pada tahun2007. Tahun 2008 mendapat penghargaan sebagai Best of the Best Franchise 2008 berdasarkan survey Franchisee Satisfaction Survey (FSS) yang diselenggarakan oleh
Majalah Info Franchise Indonesia dan The Bridge Consultant.


Apa fokus bisnis ini?

Saya mengutip cita-cita Brad Sugars membuat ActionCOACH adalah menciptakan
dunia berkelimpahan lewat re-edukasi bisnis. Bahwa bisnis seharusnya seperti mesin uang yang bisa mendatangkan banyak keuntungan tanpa memerlukan keterlibatan pemilik usaha di dalamnya. Dan itulah tujuan ActionCOACH kepada pada pemilik bisnis di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

ActionCOACH lebih fokus pada bagaimana membantu pengusaha (maupun calon pengusaha) untuk membangun sistim bisnis hingga bisnis bisa ditinggalkan, namun tetap profitable dan komersil serta bersifat enterprise.

Inilah bedanya antara pengusaha dengan entrepreneur. Satu sisi pengusaha adalah just profit oriented, namun pola ActionCOACH adalah profit dan system oriented.


Bagaimana ActionCOACH membantu pemilik bisnis dan seberapa efektifkan
peran pelatih bisnis?

ActionCOACH dapat membantu para pemilik bisnis dari banyak hal. Bantuan terbesar pelatih kepada anak didiknya adalah berupa “mindset sukses”. Dari sanalah semuanya dimulai. Jika mindset pengusaha berubah menjadi lebih positif, maka segala hal juga berubah menjadi positif, termasuk arah perusahaan dan kondisi cashflow pada akhirnya.

Bantuan lain berupa dukungan motivasi, monitoring, pelatihan dan bahkan transfer ilmu bisnis. Ibarat pemain sepakbola, peran pelatih menjadi sangat mutlak dan bahkan bersifat strategis. Seberapa baik pola penyerangan di lapangan, seberapa tangguh dan kompak tim, semuanya berasal dari peran pelatih. Tak heran, beberapa tim sepakbola dunia berani membayar pelatih jutaan dolar hanya untuk mendidik para pemainnya.

Bicara masalah keefektifan, ada beberapa faktor. Pertama adalah kualitas pelatih itu sendiri. Di Action, semua pelatih sudah terseleksi dengan sangat baik. Dan mereka baru dikatakan layak terbang jika sudah lulus uji. Pengujinya pun langsung dari Las Vegas Amerika. Dengan kata lain, bicara kualitas para pelatih Action tak diragukan lagi.

Faktor kedua dari pemain itu sendiri. Dalam hal ini adalah pemilik usaha. Walau bagaimana pun, peran pelatih selalu di luar lapangan. Mereka tak ikut main. Namun pemain itu sendiri yang paling banyak menentukan kearah mana kemenangan menuju.

Pelatih tidak ikut terlibat 100% namun sangat menentukan kemenangan pemain melebihi partisipasi pemain itu sendiri. Karena apa ? Karena pelatih justru memberi aneka strategi, formula, teknik dan juga alat ungkit hingga usaha yang dilakukan relatif minim namun berdampak maksimal. Bayangkan, berapa banyak usaha yang dilakukan tanpa
alat ungkit?

Kapan waktu yang tepat untuk memulai coaching program?
Pertama, atur pertemuan dengan team Action Coach (Pelatih) bisnis dan Anda sudah memulai jalan Anda. Anda harus investasi waktu untuk bertemu dengan pelatih (coach) bisnis dan menjelaskan lebih lanjut tentang bisnis Anda. Bersama pelatih, Anda mulai melakukan perencanaan bisnis dan melaksanakannya. Perlu diingat, seperti melakukan pekerjaan berat di awalnya, tapi dengan Action Coach, Anda berbagi dan bersama-sama akan meraih hal-hal yang besar dan luar biasa.

Bagaimana metode dalam pelatihan coaching ini dan berapa biayanya?
Untuk besar fee akan sangat tergantung dari skala perusahaannya. Hal tersebut berlaku pula bagi calon wirausahawan yang ingin mandiri dan memiliki usaha sendiri. Khusus untuk skala menengah ke atas, fee yang dibebankan adalah sekitar Rp50-100 juta per tahun. Intensitas pertemuannya akan dilakukan dua minggu sekali, minimal 12 bulan.

Tidak hanya itu saja, saya (bersama ActionCoach Indonesia) pun telah bekerjasama dengan salah satu bank swasta Indonesia untuk memberikan pinjaman lunak kepada calon wirausaha.

Intinya, dengan adanya pelatih bisnis ini, kita selaku calon wirausahawan baru maupun pemilik bisnis lama akan dibuka wawasannya tentang bisnis hingga ada bantuan pinjaman dana lunak untuk modal kerja. Pelatih bisnis pun akan memonitor pekerjaan kita selama masa kontrak kerjasama.

Perusahaan-perusahaan yang sudah menjadi klien ActionCoach adalah Sinotif Bimbingan Belajar, Prudential, Bank Mandiri, Bank BPR Sisibahari Dana, James Gwee Motivator, Yomart Mini Market dan lain-lain.

Lantas, apakah bisnis ini cocok diterapkan di tanah air tatkala kondisi sedang krisis?
Sebenarnya krisis adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Misalkan saja, saat kondisi sedang hujan, kita akan langsung mencari payung atau minimal berteduh. Nah, saat krisis datang, apakah lantas kita tidak menyiapkan sebelum semuanya bangkrut?

Apa yang Anda harapkan dari usaha ini?
Saya ingin mencetak 1 juta miliarder sebelum tahun 2020. Hingga saat ini, saya sudah menikmati hasilnya. Memang sejak saya lulus SMA, saya dididik tidak bekerja dengan orang lain, namun berbisnis sendiri. Mulai dari melanjutkan bisnis warisan keluarga di bidang pelayaran (masih eksis hingga sekarang) dan mulai menggeluti bisnis pelatihan coach ini sejak 2001 hingga sekarang.

Dulu, saya menginvestasikan sekitar Rp300 juta untuk investasi di bisnis ini dengan royalty ke ActionCoach pusat sebesar 5% per bulan. Hasilnya, saya merasakan dampak positif mulai dari pemikiran, kepribadian bahkan pendapatan (hingga 30 kali lipat daripada bisnis yang dulu).

Biodata Pribadi:
Nama Lengkap : Herman Susanto
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 28 Desember 1969
Status : Anak sulung dari tiga bersaudara
Hobi : Main Golf, Baca Buku, Petualangan di alam terbuka dan sepeda
Pendidikan Terakhir : Bachelor of Science of Southern California, Amerika Serikat
Karir :
1. Founder and Master Franchise ActionCOACH Indonesia (2001 hingga sekarang)
2. Pengusaha dibidang perkapalan Organisasi : Ketua Permias di Kampus University of Southern, California AS
Visi : Pengusaha yang punya tujuan ingin mencetak 1 juta milyarder baru sebelum tahun 2020

Sekilas Tentang Brad Sugar
ActionCOAH adalah perusahaan waralaba yang bergerak dibidang pelatihan bisnis. Perusahaan ini selain bergerak di bidang edukasi bisnis juga di franchise-kan secara internasional. ActionCOACH didirikan oleh seorang entrepreuner brilian, Bradley J Sugars di Australia tahun 1993, sekarang berpusat di Las Vegas. Pada awalnya, pelatihan bisnis ini bernama Action International dan berubah nama menjadi ActionCOACH ditahun 2007.

Kini Bradley J. Sugars menjadi tokoh bisnis yang paling dikagumi oleh para pemilik bisnis. Usianya masih muda, namun kesuksesannya mencetak “milyarder” lewat ActionCOACH telah mengangkat namanya dijajaran tokoh paling berpengaruh dunia, seperti Rupert Murdoch, Henry Ford, Richard Branson, Anita Roddick dan banyak lagi. Bahkan ia sangat dihormati para pembaca e-Spy Magazine (majalah online yang mengupas seputar aktivitas rahasia cyber) karena prestasinya membantu para pemilik bisnis, terutama dalam hal reformasi sistem bisnis.

Selain seorang pengusaha sukses, Brad juga seorang penulis dan pelatih bisnis yang hebat. Karya-karya bukunya memberi banyak inspirasi sukses bagi para business owner. Mulai dari Instan Cashflow, Instan Advertising, Instan Profit, Action Speaks Louder Than Word, Billionaire in Training, Sales Rich DVD hingga Leverage Game. Semua buku, DVD dan alat permainan itu diciptakan oleh pakar francise sistim bisnis itu sendiri.

Pada tanggal 25-26 November 2009, Brad Sugar datang ke Indonesia dalam seminar bertemakan Brad Sugar Billionare in Training.

(berdasarkan wawancara pribadi tgl 8 Agustus 2009)

Rabu, 05 Agustus 2009

Berpetualang Sambil Membangun Pertemanan

JIKA Anda hobi berpetualang,komunitas ini sanggup menuntaskan dahaga untuk berkeliling gunung,gua,sungai,dan menaklukkan tantangan alam lainnya. Tidak hanya itu,jutaan teman dengan hobi yang sama juga siap menebar rasa kebersamaan sebagai pelengkap sukaduka kehidupan. Banyak sekali komunitas petualang di dunia maya ataupun yang bersifat offline.Salah satunya adalah komunitas Gabungan Pencinta dan Penggiat Alam Terbuka(Gappala).



Sebenarnya, komunitas ini sudah terbentuk sejak 1991 yang dikomandani Yanweka dan empat orang kawannya. Hanya, kegiatan baru dilakukan sebatas pertemuan langsung. Di awal 2008,komunitas ini sempat terpecah menjadi dua, yaitu yang bersifat memberikan informasi saja (www.- gappala.or.id) dan komunitas (www.gappala.com). Hingga saat ini, Gappala masih aktif dengan anggota fanatik masing- masing.

Di tahun yang sama, seiring dengan adanya akses internet yang kian mudah, komunitas ini (gappala. com) mampumenjaringjumlah anggota yang lebih banyak. Tercatat ada 1.112 anggota Gappala yang bergabung lewat milisdansekitar300orangyang aktif melakukan kegiatan secara langsung di lapangan.

Tak melulu soal adventure, komunitas Gappala atau akrab disebut Gappala Adventures Community juga memiliki variasi kegiatan yang beda dengan komunitas lain.Di antaranya adalah mendaki gunung, susur gua (caving), panjat tebing, arung jeram (rafting), navigasi, hingga fotografi dan baktisosial.

Bahkan,yanglebih menantang, kita akan mengetahui sifat masing-masing anggota saat pendakian.Tak ketinggalan bakal diajarkan pula strategi mempertahankan diri (dari makanan dan binatang buas), strategi membawa barang bawaan (carrier), dan strategi berkelompok.

”Kami menekankan rasa kebersamaan di setiap kegiatan yang langsung dikelola oleh masing-masing humas wilayah.Variasi kegiatan itu biasanya muncul dari masingmasing anggota dan langsung di-follow up di website,” kata Yanweka,salah seorang koordinator Gappala Adventures Community.

Untuk menghindari senioritas, Om Yan,sapaan akrabnya, hanya membuat sistem koordinasi di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, dan Bali. Tugas para koordinator wilayah hanya memonitor kegiatan masing-masing humas di wilayah itu. Kegiatan travelling Gappala rupanya tak hanya menarik minat para pelajar, juga karyawan swasta yang notabene sudah memiliki kecukupan dana untuk bisa berlibur ke luar kota.

Bahkan,mayoritas anggota komunitas ini adalah para karyawan swasta itu. ”Segala kegiatan diusulkan dan disetujui oleh anggota. Masalah dana pun akan ditanggung bersama. Bahkan, jika sampai ada anggota yang ingin ikut tapi dananya terbatas, akan dicoba untuk dicarikan solusinya bersama. Intinya bagaimana kami bisa menjalani suka dan duka bersama-sama,” timpal Aal Arsya Alamsyah, humas Gappala wilayah Jakarta.

Di Jakarta sendiri,Gappala Adventures Community mematok target untuk kopi darat satu bulan sekali di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Tepatnya tiap minggu pertama setiap bulannya. Sedangkan di level tiga bulanan bakal diusahakan agar dilakukan kopi darat bersama semua wilayah.

Pada Desember mendatang, Gappala Adventures Community dijadwalkan melakukan kopi darat di Jawa Timur. Yang seru, kalau biasanya anak muda zaman sekarang kerap apel ke rumah pacar tiap malam minggu,komunitas ini tak mau ketinggalan dengan menggelar acara nyaris serupa. Hanya, kegiatannya adalah chatting di dunia maya mulai pukul 19.00 WIB.

Gappala Adventures Community juga memberlakukan aturan ketat bagi tiap anggotanya. Meski terkadang aneh,namun hal kecil itu cukup mempengaruhi kondisi alam sekitar. Hal-hal kecil yang sifatnya merusak itu antara lain suka membuang sisa makanan di area pendakian,suka menebang ranting atau dahan seenaknya, bahkan suka memetik bunga edelweis. Ini yang dilarang keras oleh Gappala.

Menurut Aal, mahasiswa jurusan Akuntansi semester lima Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan, orang yang mendaki gunung belum tentu pencinta alam. Orang yang mencintai alam seharusnya tidak merusak ekosistem yang ada, meski itu hanya memetik bunga edelweis.

Terpeleset, Pingsan, hingga Bertemu Pocong

NAMANYA saja kegiatan petualangan bersama alam, tentu akan banyak ditemukan pengalaman seru, menggelitik, lucu,ataupun mengharukan. Ade Siti Fatimah, karyawati di sebuah travel agent di Jakarta misalnya.

Ia mengaku pernah pingsan saat mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur.Sebenarnya gadis jombloasli Jakarta ini sudah satu tahun mengidam-idamkan untuk bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Keinginan tersebut kerap kali tertunda lantaran status Semeru kadang aktif dan kadang mati. Lantas, bersama empat temannya, mahasiswi Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Manajemen Transportasi Angkutan Udara yang telah bergabung selama dua tahun di Gappala Adventures Community ini nekat mendaki Semeru.

Berhubung satu orang rekannya keseleo dan tak bisa ikut pendakian,Ade menitipkan tas ransel berisi bekal makanan kepada sang rekan, dengan alasan agar dirinya dapat lebih cepat sampai ke puncak Semeru karena tidak memanggul beban.Namun, 100 meter menjelang puncak, badan Ade malah lemas dan akhirnya jatuh pingsan.

”Saya sempat dipapah selama sembilan jam untuk turun ke bawah.Padahal,saya hanya kurang 100 meter lagi untuk sampai puncak.Namun, mau bagaimana lagi? Badan saya sudah tidak kuat. Sempat pula ada teman yang berbahasa Jawa nyeletuk,saya dianggap terlalu egois dan nekat,terlalu memaksakan diri untuk naik padahal tanpa persiapan makanan.Apalagi saat itu saya sedang datang bulan,”cerita Ade, yang masih terobsesi untuk naik kembali ke puncak Semeru.

Cerita berbeda datang dari Yanweka.Tahun 2000, saat pendakian ke Gunung Sumbing, Jawa Tengah, bapak satu anak ini sempat terpeleset ke tebing hingga tiga meter. Waktu itu Yanweka sedang mendirikan tenda dan harus menarik tali di masing-masing sudutnya agar tenda tegak. Namun nahas,salah seorang temannya melepaskan tali dan Yanweka harus terpental ke tebing.

Awalnya tidak terasa sakit apa-apa.Namun,saat perjalanan pulang hingga tiba di rumah, kondisi fisiknya malah semakin menurun. Setelah dicek di UGD rumah sakit, ternyata Yanweka mengalami infeksi pada lambung. Sebagai bentuk solidaritas, seluruh teman dari komunitas datang menjenguknya.

”Saya tidak terobsesi untuk naik gunung tertinggi, tapi bagaimana menikmati alam di sekitar gunung yang kita daki,”ujar Yanweka,yang masih terpesona akan keindahan panorama Gunung Cikurai,Lawu,dan Merbabu. Kejadian paling aneh ditemui oleh Aal Arsya. Humas Gappala Adventures Community wilayah Jakarta ini harus menerima kedatangan makhluk halus saat pendakian ke Gunung Ciremai,Jawa Barat,awal tahun lalu.

Memang saat pendakian terjadi hujan lebat dan para pendaki harus membuat tenda.Saat sedang ganti pakaian di dalam tenda sembari iseng memperhatikan hutan sekeliling, pria Betawi ini melihat pocong.Aal sempat menyampaikan ihwal keberadaan makhluk halus itu kepada seorang teman, namun sang teman mengaku tidak melihatnya.

”Karena berada di alam bebas, kita akan melihat berbagai hal, termasuk makhluk halus.Namun, saat ditemui oleh mereka, biasakan untuk tidak panik, histeris, dan berpikir positif saja.Yang penting adalah berdoa,”pungkas Aal,yang mengaku takut juga pada lintah.(didik purwanto)

SOURCE:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/180954/

cek juga di :
http://yanweka.wordpress.com/2009/08/05/berpetualang-sambil-membangun-pertemanan/